Sunday, 31 March 2019

AYAT 110-113 AN NISAAK

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK.,
JILIK 2 AYAT 110-113 AN-NISAAK

BIS-MILLAHIR-RAHMAN-NIR-RAHIM,
Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 110 Wa may ya'mal su_'an au yazlim nafsahu_ summa yastagfirilla_ha yajidilla_ha gafu_rar rahima_(n). 4:111 Ayat 111 Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 111 Wa may yaksib isman fa innama_ yaksibuhu_ 'ala_ nafsih(i), wa ka_nalla_hu 'aliman hakima_(n). 4:112 Ayat 112 Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 112 Wa may yaksib khati'atan au isman summa yarmi bihi bari'an fa qadihtamala buhta_naw wa ismam mubina_(n). 4:113 Ayat 113 Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 113 Wa lau la_ fadlulla_hi 'alaika wa rahmatuhu_ lahammat taa_'ifatum minhum ay yudillu_k(a), wa ma_ yudilla_na illa_ anfusahum wa ma_ yadurru_naka min syai'(in), wa anzalalla_hu 'alaikan kita_ba wal hikmata wa 'allamaka ma_ lam takun ta'lam, wa ka_na fadlulla_hi 'alaika 'azima_(n).

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang. (QS. 4:110) Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Dan Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana.(QS. 4:111) Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkan kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata. (QS. 4:112) Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat Nya kepadamu, tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu. Tetapi mereka tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri dan mereka tidak dapat membahayakan sedikit pun kepadamu. Dan (juga karena) Allah telah menurunkan al-Kitab dan al-Hikmah kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu. (QS. 4:113)”

   (an-Nisaa’: 110-113) Allah mengabarkan tentang kemuliaan dan kedermawanan-Nya, bahwa setiap orang yang bertaubat niscaya akan diterima, sebesar apapun dosa yang ada padanya. Allah berfirman: wa may ya’mal suu-an, au yadhlim nafsaHuu tsumma yastaghfirillaaHa yajidillaaHa ghafuurar rahiiman (“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”)

      Pada ayat ini allah menjelaskan tentang taubat insan yang iklas adalah sebaik baik permohonan insan dalamperjalanan hidup nya .,., sebagai mana kebanyakkan ulamak tafsir menerangkan fadilat pada bulan rejab yang mana banyak amalan amalan yang mana pada insan yang ingin kembali pada allah dengan kesucian dan keampunan allah sehingga mana bagai mana bayi baru di lahirkan.,., sebagai mana rasulullah berpesan.,.,“Ketahuilah bahawa bulan Rajab itu adalah bulan ALLAH, maka barangsipa yang berpuasa satu hari dalam bulan Rajab dengan ikhlas, maka pasti ia mendapat keredhaan yang besar dari ALLAH SWT. Barang siapa berpuasa 15 hari dalam bulan ini, maka ALLAH SWT akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan menggantikan kesemua kejahatannya dengan kebaikan, dan barang siapa yang menambah (hari-hari puasa) maka ALLAH SWT akan menambahkan pahalanya."
      Ibnu Jarir meriwayatkan pula, dari Abu Wa-il, bahwa `Abdullah berkata: “Dahulu, jika salah seorang Bani Israil melakukan suatu dosa, maka di pagi, penghapusan dosa itu tertulis di atas pintunya. Dan jika air seninya mengenai sesuatu, maka (sesuatu itu) akan diguntingnya. Lalu seseorang (muslim) berkata: ‘Sungguh, Allah telah memberikan kebaikan pada Bani Israil.’ Maka Abdullah ra. berkata: ‘Apa yang telah Allah berikan kepada kalian (muslimin) lebih baik dari apa yang diberikan kepada mereka (Bari Israil). Allah menjadikan air sebagai alat bersuci untuk kalian’. Allah berfirman: “Dan [juga] orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka.” (QS. Ali Imran: 135)

    Dan Allah berfirman: wa may ya’mal suu-an, au yadhlim nafsaHuu tsumma yastaghfirillaaHa yajidillaaHa ghafuurar rahiiman (“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”) Imam Ahmad meriwayatkan dari Asma’ atau Ibnu Asma’ dari Bani Fazzarah bahwa `Ali berkata: “Dahulu, jika aku mendengar sesuatu dari Rasulullah saw. maka Allah memberiku manfaat sesuai kehendak-Nya. Abu Bakar menceritakan kepadaku dan Abu Bakar itu jujur, ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada seorang muslim pun yang melakukan satu dosa, kemudian berwudhu, lalu shalat dua raka’at, lalu meminta ampun kepada Allah dari dosa tersebut, kecuali Allah pasti mengampuninya.” Kemudian beliau membaca dua ayat ini: wa may ya’mal suu-an, au yadhlim nafsaHuu (“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya”) “Dan [juga] orang-orang yang apabila dan perbuatan keji atau menganiaya diri-sendiri”. (QS. Ali-‘Imran: 135) Firman-Nya: wa may yaksib itsman fa innamaa yaksibuHuu ‘alaa nafsiHi (“Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk [kemudharatannya] sendiri.”)

        Seperti firman Allah yang artinya: “Dan seorang yang berdosa, tidak akan memikul dosa orang lain”. (QS Al-An’aam: 164). Yaitu tidak ada seorang pun yang dapat mencukupi (menolong) orang lain. Setiap jiwa hanya akan bertanggung jawab terhadap apa yang diamalkannya, serta orang lain tidak dapat menanggung beban orang lain itu. Untuk itu Allah berfirman: wa kaanallaaHu ‘aliiman hakiiman (“Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana,”) antara ilmu dan kebijaksanaan-Nya serta keadilan dan kasih sayang-Nya. Kemudian Allah berfirman: wa may yaksib khathii-atan au itsman tsumma yarmi biHii barii-an (“Barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkan kepada orang yang tidak bersalah”) Sebagaimana tuduhan yang dilakukan Bani Ubairiq, tentang perilaku busuk mereka kepada laki-laki shalih yaitu Labid bin Sahl seperti pada hadits yang telah lalu, atau Zaid bin Samin orang Yahudi, menurut pendapat yang lainnya, padahal dia bebas atau bersih. Mereka adalah orang-orang zhalim lagi penghianat seperti yang ditunjukkan oleh Allah kepada Rasul-Nya. Kemudian cacian dan celaan ini berlaku umum untuk mereka dan siapa pun selain mereka yang memiliki sifat seperti mereka, lalu melakukan tindakan kesalahan seperti mereka, maka mereka akan mendapatkan hukuman yang sama dengan mereka. Firman-Nya: walau laa fadl-lullaaHi ‘alaika wa rahmatauHuu laHammat thaa-ifatum minHum ay yu-dlilluuka wa maa yu-dlilluuna illaa anfusaHum wamaa ya-dlurruunaka min syai-in (“Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu, tetapi mereka tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri dan mereka tidak dapat membahayakan sedikit pun kepadamu.”)

       Imam Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ashim bin `Umar bin Qatadah al-Anshari dari ayahnya dari kakeknya, Qatadah bin an-Nu’man, yang menceritakan kisah Bani Ubairiq, lalu Allah menurunkan: laHammat thaa-ifatum minHum ay yu-dlilluuka wa maa yu-dlilluuna illaa anfusaHum wamaa ya-dlurruunaka min syai-in (“tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu, tetapi mereka tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri dan mereka tidak dapat membahayakan sedikit pun kepadamu.”) Yaitu Usaid bin `Urwah dan para sahabatnya, ketika mereka memuji Bani Ubairiq dan mencela Qatadah bin an-Nu’man karena ia menuduh mereka, sedangkan mereka orang-orang yang shalih dan tidak bersalah, padahal duduk perkara, tidak seperti yang mereka laporkan kepada Rasulullah saw. Untuk itu Allah menurunkan suatu keputusan ketegasan hukum kepada Rasulullah. Kemudian dikaruniakan kepadanya dengan dukungan-Nya dalam seluruh keadaan serta pemeliharaan-Nya dan yang diturunkan kepadanya yang berupa Kitab dan Hikmah, yaitu as-Sunnah. Wa ‘allamaka maa lam takun ta’lamu (“Dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahul.”) Yaitu, sebelum turunnya hal tersebut kepadamu. Untuk itu Allah berfirman: wa kaana fadl-lullaaHi ‘alaika ‘adhiiman (“Dan karunia Allah sangat besar kepadamu.”)

No comments:

Post a Comment