Monday, 29 April 2019

AYAT 14 SHAFF


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARU
JILIK 2 AYAT 14 SHAFF

BISS MILLAH HIR RAHMAN NIR RAHIM.,
14. yaa ayyuhaa alladziina aamanuu kuunuu anshaara allaahi kamaa qaala ‘iisaa ibnu maryama lilhawaariyyiina man anshaarii ilaa allaahi qaala alhawaariyyuuna nahnu anshaaru allaahi faaamanat thaa-ifatun min banii israa-iila wakafarat thaa-ifatun fa-ayyadnaa alladziina aamanuu ‘alaa ‘aduwwihim fa-ashbahuu zhaahiriina.

                {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا أَنْصَارَ اللَّهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوَارِيِّينَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ فَآمَنَتْ طَائِفَةٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَكَفَرَتْ طَائِفَةٌ فَأَيَّدْنَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَى عَدُوِّهِمْ فَأَصْبَحُوا ظَاهِرِينَ (14) }

 Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia, "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata, 'Kamilah penolong-penolong agama Allah, "

lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang. Allah Swt. berfirman, memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, bahwa hendaklah mereka menjadi penolong-penolong agama Allah dalam semua keadaan mereka dengan lisan, perbuatan, serta dengan mengurbankan jiwa dan harta benda mereka. Dan hendaklah mereka memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana kaum Hawariyyin memenuhi seruan Isa ketika ia berkata: {مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ} Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah? (Ash-Shaff: 14)

Yakni siapakah yang akan menolongku dalam menyampaikan seruan untuk menyembah Allah Swt.? {قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ} Pengikut-pengikut yang setia itu menjawab, "Kamilah penolong penolong agama Allah, " (Ash-Shaff: 14)
Kaum Hawariyyin adalah pengikut setia Nabi Isa a.s. Yakni kamilah orang-orang yang akan menolongmu dalam menyampaikan apa yang engkau diutus untuknya, dan kami akan mendukungmu dalam hal tersebut. Karena itulah maka Nabi Isa mengutus mereka guna menyeru manusia di negeri Syam dan di kalangan orang-orang
Bani Israil dan orang-orang Yunani. Hal yang sama telah dikatakan oleh Rasulullah Saw. di musim-musim haji: "مَنْ رَجُلٌ يُؤويني حَتَّى أُبَلِّغَ رِسَالَةَ رَبِّي، فَإِنَّ قُرَيْشًا قَدْ مَنَعُونِي أَنْ أُبَلِّغَ رِسَالَةَ رَبِّي" Siapakah orangnya yang mau memberiku tempat hingga aku dapat menyampaikan risalah Tuhanku, karena sesungguhnya orang-orang Quraisy telah mencegahku untuk dapat menyampaikan risalah Tuhanku. Hingga pada akhirnya Allah Swt. menetapkan baginya orang-orang Aus dan orang-orang Khazraj dari kalangan penduduk Madinah.

Maka mereka membaiatnya, menolongnya, dan mengikat janji setia dengannya, bahwa mereka bersedia membelanya dari gangguan orang-orang berkulit hitam dan orang-orang berkulit merah jika dia berhijrah kepada mereka. Dan ketika beliau Saw. berhijrah kepada mereka dengan para sahabatnya, mereka memenuhi apa yang telah mereka janjikan kepada Allah Swt. melalui Rasul-Nya. Karena itulah maka Allah dan Rasul-Nya menamai mereka dengan sebutan kaum Ansar, dan akhirnya nama tersebut menjadi gelar bagi mereka, semoga Allah melimpahkan rida-Nya bagi mereka dan membuat mereka puas. Firman Allah Swt.: {فَآمَنَتْ طَائِفَةٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَكَفَرَتْ طَائِفَةٌ} lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir. (Ash-Shaff: 14) Yaitu setelah Isa putra Maryam a.s. menyampaikan risalah Tuhannya kepada kaumnya, dan ia mendapat dukungan dari orang-orang yang mendukungnya, yaitu dari kalangan kaum Hawariyyin; maka segolongan dari Bani Israil ada yang mendapat hidayah dari apa yang disampaikannya kepada mereka.

Dan segolongan yang lainnya sesat, lalu menyimpang dari apa yang disampaikannya kepada mereka, bahkan mereka mengingkari kenabiannya dan menuduh dia dan ibunya dengan tuduhan-tuduhan yang tidak senonoh. Mereka adalah orang-orang Yahudi, semoga laknat Allah terus-menerus ditimpakan kepada mereka sampai hari kiamat. Ada pula segolongan dari para pengikutnya yang berpendapat ekstrem hingga mereka meninggikannya lebih dari apa yang diberikan oleh Allah kepadanya, yaitu kenabian; dan mereka menjadi berpecah belah terdiri dari berbagai macam aliran dan sekte. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa Isa adalah anak Allah, ada yang mengatakan bahwa dia adalah salah satu dari yang tiga, yaitu tuhan ayah, tuhan anak, dan Ruhul Qudus. Ada pula yang mengatakan bahwa Isa itu tuhan. Rincian mengenai hal ini telah diterangkan di dalam tafsir surat An-Nisa.
Firman Allah Swt.: {فَأَيَّدْنَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَى عَدُوِّهِمْ} maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka. (Ash-Shaff: 14)

       Yakni Kami berikan pertolongan kepada mereka dalam menghadapi orang-orang yang memusuhi mereka dari kalangan sekte-sekte Nasrani. {فَأَصْبَحُوا ظَاهِرِينَ} lalu mereka menjadi orang-orang yang menang. (Ash-Shaff: 14) atas musuh-musuh mereka, yang demikian itu terealisasikan bagi mereka setelah diutusnya Nabi Muhammad Saw.

       Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Abu Ja'far ibnu Jarir rahimahullah. Dia mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abus Sa-ib, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, dari Al-A'masy, dari Al-Minhal ibnu Amr, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa ketika Allah Swt. hendak mengangkat Isa ke langit, terlebih dahulu Isa menemui sahabat-sahabatnya yang semuanya berada di dalam rumah yang sama; jumlah mereka ada dua belas orang. Saat itu Nabi Isa baru keluar dari mata air yang ada di dalam rumah itu, sedangkan dari rambut kepalanya masih menetes air bekas mandinya. Maka Isa berkata, "Sesungguhnya di antara kalian akan ada orang yang kafir kepadaku sebanyak dua belas kali sesudah ia beriman kepadaku." Selanjutnya Isa a.s. bertanya, "Siapakah yang rela mau menjadi orang yang mirip denganku, lalu ia akan dibunuh sebagai penggantiku, maka kelak dia akan mendapatkan derajat pahala yang sama denganku?" Lalu berdirilah seorang pemuda yang paling muda usianya di antara mereka, "Aku bersedia." Tetapi Nabi Isa menjawab, "Duduklah kamu!" Kemudian Isa a.s. mengulangi perkataannya kepada mereka. Maka pemuda itu bangkit lagi dan berkata, "Aku bersedia." Tetapi Isa a.s. berkata, "Duduklah kamu!" Kemudian Isa a.s. mengulangi perkataannya kepada mereka, dan ternyata pemuda itu berdiri kembali dan berkata, "Aku bersedia." Akhirnya Isa a.s. berkata, "Baiklah, engkaulah orangnya." Maka dijadikanlah dia mirip dengan Isa, sedangkan Isa a.s. sesudah itu diangkat ke langit dari atap rumah itu (sebuah lubang yang ada di atas rumah itu). Kemudian datanglah orang-orang Yahudi yang mengejarnya, lalu. mereka menangkap orang yang serupa Isa itu dan membunuhnya serta menyalibnya. Sebagian dari mereka kafir kepada Isa sebanyak dua belas kali sesudah mereka beriman kepadanya. Pada akhirnya mereka berpecah belah menjadi tiga golongan; suatu golongan mengatakan, "Tadi tuhan bersama kita selama masa yang dikehendaki-Nya, kemudian ia naik ke langit," mereka adalah golongan Ya'qubiyah. Golongan yang lain mengatakan, "Tadi anak Allah ada bersama kita selama masa yang dikehendaki-Nya, kemudian Dia mengangkatnya ke sisi-Nya," mereka adalah golongan Nasturiyah. Dan golongan yang terakhir mengatakan, "Tadi hamba Allah dan Rasul-Nya ada bersama kita selama masa yang dikehendaki Allah, kemudian Allah mengangkatnya ke sisi-Nya," mereka adalah orang-orang yang Islam. Maka kedua golongan yang kafir itu memerangi golongan yang muslim dan membunuhi mereka, dan Islam sejak saat itu tidak disebut-sebut lagi hingga Allah Swt. mengutus Nabi Muhammad Saw. lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir. (Ash-Shaff: 14)

          Yakni segolongan dari kaum Bani Israil di masa Isa ada yang kafir, dan segolongan yang lainnya ada yang beriman. maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang. (Ash-Shaff: 14) Yaitu dengan kemenangan Nabi Muhammad Saw. dan agamanya atas agama orang-orang kafir. Demikianlah bunyi teks riwayat ini di dalam kitab tafsirnya (Ibnu Jarir) dalam tafsir ayat yang mulia ini. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Nasai dalam tafsir ayat ini di dalam kitab sunannya, dari Abu Kuraib, dari Muhammad ibnul Ala, dari Abu Muawiyah dengan lafaz yang sama. Maka umat Nabi Muhammad Saw. masih tetap membela perkara yang hak hingga datanglah perintah Allah, sedangkan mereka dalam keadaan demikian, dan hingga orang-orang yang terakhir dari mereka memerangi Dajjal bersama-sama dengan Al-Masih Isa putra Maryam a.s., sebagaimana yang telah disebutkan di dalam hadis-hadis sahih. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui. Demikianlah akhir dari tafsir surat Ash-Shaff, segala puji dan karunia adalah milik Allah.

Saturday, 27 April 2019

AYAT 7-13 SURAH SHAFF

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
      JILIK 2 AYAT 7-13 SURAH SHAFF

         BISS-MILLAH-
HIR-RAHMAN-NIR-RAHIM.,
         7. Waman azhlamu mimmani iftaraa ‘alaa allaahi alkadziba wahuwa yud’aa ilaa al-islaami waallaahu laa yahdii alqawma alzhzhaalimiina 8. Yuriiduuna liyuthfi-uu nuura allaahi bi-afwaahihim waallaahu mutimmu nuurihi walaw kariha alkaafiruuna 9. Huwa alladzii arsala rasuulahu bialhudaa wadiini alhaqqi liyuzhhirahu ‘alaa alddiini kullihi walaw kariha almusyrikuuna 10. Yaa ayyuhaa alladziina aamanuu hal adullukum ‘alaa tijaaratin tunjiikum min ‘adzaabin aliimin 11. Tu'minuuna biallaahi warasuulihi watujaahiduuna fii sabiili allaahi bi-amwaalikum wa-anfusikum dzaalikum khayrun lakum in kuntum ta’lamuuna 12. Yaghfir lakum dzunuubakum wayudkhilkum jannaatin tajrii min tahtihaa al-anhaaru wamasaakina thayyibatan fii jannaati ‘adnin dzaalika alfawzu al’azhiimu 13. Waukhraa tuhibbuunahaa nashrun mina allaahi wafathun qarriibun wabasysyiri almu/miniina
                               
      {وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُوَ يُدْعَى إِلَى الإسْلامِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (7) يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ (8) هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ (9) } {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (10) تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (11) يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (12) وَأُخْرَى تُحِبُّونَهَا نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ (13) }

        Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah, sedangkan dia diajak kepada agama Islam ? Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama, meskipun orang-orang musyrik benci.Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga 'Adn. Itulah kemenangan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.
         Firman Allah Swt.: {وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُوَ يُدْعَى إِلَى الإسْلامِ} Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah, sedangkan dia diajak kepada agama Islam? (Ash-Shaff: 7)

        Yakni tiada seorang pun yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah dan mengadakan bagi-Nya tandingan-tandingan dan sekutu-sekutu, padahal dia diajak kepada agama tauhid dan memurnikan ketaatan hanya kepada Allah Swt. Karena itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya: {وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ} Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Ash-Shaff: 7) Kemudian disebutkan dalam firman berikutnya: {يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ} Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka. (Ash-Shaff: 8)

           Maksudnya, mereka berupaya menolak perkara yang hak dengan perkara yang batil. Perumpamaan mereka dalam hal ini sama dengan seseorang yang ingin memadamkan sinar mentari dengan mulutnya. Maka sebagaimana hal ini mustahil, begitu pula memadamkan cahaya (agama) Allah merupakan hal yang mustahil pula. Karena itulah dalam firman berikutnya disebutkan: {وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ} dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya, meskipun orang-orang kafir benci. Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama, meskipun orang-orang musyrik benci. (Ash-Shaff: 8-9)

          Mengenai tafsir kedua ayat ini telah dikemukakan dalam tafsir surat At-Taubah dengan keterangan yang cukup. telah disebutkan hadis Abdullah ibnu Salam bahwa para sahabat berkeinginan untuk menanyakan kepada Rasulullah Saw. tentang amal perbuatan yang paling disukai oleh Allah Swt. untuk mereka kerjakan.
           Dari Abdullah Ibnu Mas’ud ra berkata, ‘Aku bertanya kepada Nabi Muhammad Saw tentang amalan yang paling disukai Allah Swt? beliau menjawab, Shalat pada waktunya. Kemudian apa? Kataku, beliau menjawab, “berbuat baik kepada kedua orangtua”. Kemudian apa? Kataku lagi. Beliau menjawab, “jihad fi sabilillah”. (HR. Bukhari&Muslim)
       Amalan-amalan yang dibahas dalam hadis ini adalah khusus tentang amal badaniyah atau yang dikerjakan anggota badan kita dan terlihat secara kasat mata. Sebab amalan hati yang paling disukai Allah tentu adalah iman kepada Allah Swt dan Rasul-Nya. Ibnu Daqiq al-‘Id menjelaskan dalam kitab Ihkamu al-Ahkam mengenai makna tentang tiga amalan yang paling disukai Allah Swt dalam hadis ini. Amalan pertama yang sangat dicintai Allah adalah Shalat. Berdasarkan hadis ini para ahli Fiqih mengatakan bahwa ibadah yang paling utama adalah shalat. Maksud Shalat pada waktunya bukan mengacu pada ketentuan awal waktu atau akhir waktu shalat. Akan tetapi yang ditekankan adalah menjaga agar jangan sampai shalat di luar waktunya dan jangan sampai meninggalkannya. Sebab Shalat merupakan amalan pertama yang akan dipertanyakan pertanggungjawabannya di padang mahsyar.
        Maka Allah menurunkan surat ini, yang antara lain ialah firman Allah Swt.: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ} Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Ash-Shaff: 10)

         Kemudian perniagaan yang besar lagi tidak akan mengalami kerugian dan dapat menghantarkan untuk meraih tujuan dan melenyapkan semua halangan ditafsirkan oleh firman Allah Swt. berikutnya: {تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ} (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya. (Ash-Shaff: 11)

      Yakni lebih baik bagimu daripada perniagaan dunia, bersusah payah untuknya dan menyibukkan diri hanya dengan perniagaan dunia semata. Kemudian disebutkan dalam firman selanjutnya: {يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ} niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu. (Ash-Shaff: 12)

       Jika kamu mengerjakan apa yang Kuperintahkan kepadamu dan apa yang telah Kutunjukkan kepadamu, niscaya Aku akan mengampuni semua kesalahan kamu dan memasukkan kamu ke dalam surga-surga yang penuh dengan tempat-tempat tinggal yang baik-baik serta derajat-derajat yang tinggi.
       Untuk itulah maka disebutkan oleh firman-Nya: {وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ} dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar. (Ash-Shaff: 12)

MENURUT RIWAYAT HADIS
 TENTANG SYURGA YANG DI GAMBARKAN RASULULLAH SAW.,
        Imam Ahmad meriwayatkan daripada Sahl bin Saad, Rasulullah SAW bersabda, “Ahli-ahli syurga ini, apabila dia masuk sahaja ke dalam syurga dan ke bilik-biliknya, bagaikan ahli dunia yang melihat bintang-bintang yang bertaburan di langit.” Imam Ahmad juga pernah meriwayatkan, Abu Hurairah bertanya kepada Baginda,“Ya Rasulullah, jika kami boleh melihat kamu maka tenanglah hati kami dan menjadi ahli-ahli akhirat, tetapi saat kami berpisah denganmu maka kami hanyut dengan dunia yang menyebabkan kami lena dengan anak-anak dan isteri kami yang sering meracuni kami. Lalu Baginda menjawab, “Kalian ini tetap seperti ketika bersamaku walau dalam keadaan apa sekalipun. Malaikat akan berjabat tangan dengan kalian dan tangan-tangan mereka dan menziarahi kalian di rumah-rumah kalian. Jika kalian duduk denganku dan boleh ingat kepada Allah, mengapa apabila duduk bersama keluarga kalian tidak boleh mengingati Allah? Kerana nanti para malaikat akan datang merahmati dan mendoakan kalian, walaupun kalian berada di rumah. Seandainya kalian tidak pernah berdosa, Allah akan datangkan kaum yang melakukan dosa supaya Allah dapat mengampuni mereka.” Kemudian para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, ceritakanlah kepada kami tentang syurga, bagaimana bentuk bangunan-bangunannya?” Baginda menceritakan batu-batanya diperbuat daripada emas dan perak, campuran simennya daripada minyak kasturi, kerikilnya daripada mutiara dan yakut. Tanahnya daripada za’faran dan sesiapa yang memasuki syurga akan bersenang-senang dan tidak akan susah, kekal dan tidak mati. Pakaian penghuni syurga tidak akan lusuh dan usia menjadi muda dan tidak akan punah ranah. Seterusnya Rasulullah berkata, tiga kelompok manusia yang doanya tidak pernah ditolak ialah pemerintah yang adil, orang yang berpuasa hingga tiba waktu berbuka dan doa orang-orang yang teraniaya. Doa itu dibawa awan lalu dibuka pintu-pintu langit dan Rabb tabaraka wataala menyebut, “Demi kehormatan-Ku, aku akan menolong walaupun tertunda doa kamu dimustajabkan oleh Allah. Aku akan menjawab setiap doa yang kamu pohon itu, akan sampai kepada-Ku. Adapun firman Allah sungai-sungai yang mengalir dibawahnya itu tanpa ada lubang-lubang di dalamnya.” Rasulullah sering menceritakan kepada para sahabat betapa indahnya syurga untuk memberi rangsangan kepada mereka. Pernah seorang tua Arab Badawi berkata kepada Baginda, “Ya Rasulullah, cerita-cerita kamu tentang bilik-bilik di dalam syurga ini, milik siapakah ya Rasulullah?” Baginda menjawab bahawa semuanya milik orang yang baik perkataannya, dan menjaga tutur katanya. Oleh itu elakkan menyebut perkataan yang tidak baik, jangan biasakan mulut dengan menyebut kalimah-kalimah yang boleh menyakiti hati orang yang mendengarnya dan jangan suka menulis perkara-perkara yang buruk dan caci-maki hingga menyebabkan akhirnya kita tidak melayakkan diri untuk menghuni syurga Allah. Selain itu orang yang suka memberi makan orang lain berhak memasuki syurga. Begitu juga golongan manusia yang solat pada waktu malam sedangkan manusia lain sedang nyenyak tidur. Saidina Ali pernah meriwayatkan Rasulullah menceritakan bahawa cantiknya syurga sehinggakan orang yang di luar boleh melihat orang di dalam dan orang di dalam boleh melihat orang di luar. Allah menyediakan syurga yang cantik sehingga jelas kelihatan butiran-butiran di dalamnya untuk manusia yang suka mengajak orang lain makan, orang yang lembut tutur katanya, orang yang sentiasa menjaga puasanya dan orang yang rajin berjaga malam di saat orang lain sedang tidur. Hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Qais, Rasulullah SAW bersabda, bagi orang mukmin Allah sediakan bilik-bilik yang indah di dalam syurga dalam keadaan mutiara yang menjulang tinggi, jaraknya sepanjang 60 hasta dan ia memiliki keluarga-keluarga yang bergilir-gilir memasuki bilik itu tanpa dapat dilihat oleh orang lain. Ummu Habibah meriwayatkan Rasulullah pernah bersabda, “Sesiapa yang rajin mengerjakan solat sunat 12 rakaat sehari semalam, Allah akan binakan istana yang indah untuknya di dalam syurga.” Manakala Uthman bin Affan menyebut Rasulullah bersabda, “Sesiapa yang telah membina masjid di atas dunia untuk mengharapkan keredaan Allah, Allah akan bina secantik itulah istana untuknya di dalam syurga.” Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu". Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya. QS. Al-Baqarah [2] : 25 Selanjutnya disebutkan oleh firman-Nya: {وَأُخْرَى تُحِبُّونَهَا} Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai.

(Ash-Shaff: 13) Maksudnya, dan Aku tambahkan kepada kalian selain dari itu hal yang kamu sukai, yaitu: {نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ} pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). (Ash-Shaff: 13)

         Yaitu apabila kamu berperang di jalan Allah dan menolong agama-Nya, maka Allah akan menjamin menolongmu dan menjadikanmu menang. Seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ} Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Muhammad: 7) {وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ} Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa. (Al-Hajj: 40) Adapun firman Allah Swt.: {وَفَتْحٌ قَرِيبٌ} dan kemenangan yang dekat. (Ash-Shaff: 13) Yakni dekat waktunya dan segera kejadiannya. Tambahan ini merupakan kebaikan dunia yang disambung dengan nikmat di hari akhirat bagi orang-orang yang taat kepada Allah, Rasul-Nya, serta menolong Allah dan agama-Nya. Karena itulah maka disebutkan dalam firman selanjutnya: {وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ} Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman. (Ash-Shaff: 13)

Friday, 26 April 2019

AYAT 5-6 SURAH SHAFF

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
JILIK 2,AYAT 5-6 SURAH SHAFF.,

BIS MILLAH
HIR RAHMAN NIR RAHIM 5. wa-idz qaala muusaa liqawmihi yaa qawmi lima tu/dzuunanii waqad ta’lamuuna annii rasuulu allaahi ilaykum falammaa zaaghuu azaagha allaahu quluubahum waallaahu laa yahdii alqawma alfaasiqiina 6. wa-idz qaala ‘iisaa ibnu maryama yaa banii israa-iila innii rasuulu allaahi ilaykum mushaddiqan limaa bayna yadayya mina alttawraati wamubasysyiran birasuulin ya/tii min ba’dii ismuhu ahmadu falammaa jaa-ahum bialbayyinaati qaaluu haadzaa sihrun mubiinun

{وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ لِمَ تُؤْذُونَنِي وَقَدْ تَعْلَمُونَ أَنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ (5) وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ (6) }

 Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, "Hai kaumku, mengapa kamu menyakitiku, sedangkan kamu mengetahui bahwa sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu.” Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, "Ini adalah sihir yang nyata.”

            Allah Swt. berfirman, menceritakan perihal hamba-Nya, utusan-Nya, yang pernah diajak bicara langsung oleh-Nya, yaitu Musa ibnu Imran a.s. Bahwa Musa pernah berkata kepada kaumnya, yang disitir oleh firman-Nya: {لِمَ تُؤْذُونَنِي وَقَدْ تَعْلَمُونَ أَنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ} mengapa kamu menyakitiku, sedangkan kamu mengetahui bahwa sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu? (Ash-Shaff: 5) Maksudnya, mengapa kamu menyakitiku, padahal kamu mengetahui kejujuranku dalam menyampaikan risalah Allah kepadamu. Dalam hal ini terkandung hiburan bagi Rasulullah Saw. dalam menanggung apa yang ditimpakan oleh kaum kuffar terhadap dirinya, dari kalangan kaumnya dan kaum kuffar lainnya. Sekaligus mengandung perintah untuk bersabar dalam menghadapinya. Karena itulah beliau Saw. dalam salah satu sabdanya mengatakan: "رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَى مُوسَى: لَقَدْ أُوذِيَ بِأَكْثَرَ مِنْ هَذَا فَصَبَرَ" Semoga Allah merahmati Musa, sesungguhnya dia telah disakiti lebih dari ini dan dia tetap bersabar.

          Dalam ayat ini terkandung pula makna larangan bagi kaum mukmin menyakiti Nabi Saw. atau mendiskreditkannya, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ آذَوْا مُوسَى فَبَرَّأَهُ اللَّهُ مِمَّا قَالُوا وَكَانَ عِنْدَ اللَّهِ وَجِيهًا} Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa; maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan adalah dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah. (Al-Ahzab: 69)

         Adapun firman Allah Swt.: {فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ} Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka. (Ash-Shaff: 5) Yakni ketika mereka menyimpang dari jalan kebenaran, padahal mereka mengetahuinya, maka Allah memalingkan hati mereka dari hidayah dan menempatkan di hati mereka keraguan, kebimbangan, dan kehinaan. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: {وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ} Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Qur'an) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat. (Al-An'am: 110)

       Dan firman Allah Swt.: {وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا} Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukanjalan orang-orang mukmin. Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatanyang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali. (An-Nisa: 115) Karena itulah maka disebutkan dalam surat ini oleh firman-Nya: {وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ} dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. (Ash-Shaff: 5) ******************* Adapun firman Allah Swt.: {وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ}

        Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” (Ash-Shaff: 6) Yakni kitab Taurat telah menyampaikan berita gembira kedatanganku, dan akulah orangnya yang diberitakan oleh Taurat itu, dan aku menyampaikan berita gembira akan kedatangan rasul yang sesudahku, dia adalah Rasul yang Ummy Arabiy Makki bernama Ahmad alias Muhammad. Isa a.s. adalah penutup nabi-nabi Bani Israil, dia berada di tengah-tengah kaum Bani Israil menyampaikan berita gembira akan kedatangan Muhammad, yaitu Ahmad sebagai penutup para nabi dan para rasul. Tiada rasul dan nabi lagi sesudahnya. Alangkah baiknya apa yang diketengahkan oleh Imam Bukhari,

         yaitu bahwa: حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ، حَدَّثَنَا شُعَيْبٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ قَالَ: أَخْبَرَنِي مُحَمَّدِ بْنِ جُبَير بْنِ مُطعم، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: "إِنَّ لِي أَسْمَاءٌ: أَنَا مُحَمَّدٌ، وَأَنَا أَحْمَدُ، وَأَنَا الْمَاحِي الَّذِي يَمحُو اللَّهُ بِهِ الْكُفْرَ، وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى قَدَمِي، وَأَنَا الْعَاقِبُ". telah menceritakan kepada kami Abul Yaman, telah menceritakan kepada kami Syu'aib, dari Az-Zuhri yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Jubair ibnu Mut'im, dari ayahnya yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya aku mempunyai banyak nama, akulah Muhammad, akulah Ahmad, akulah Penghapus yang melaluiku Allah menghapus kekufuran, dan akulah Penggiring yang semua umat manusia digiring di atas kakiku, dan akulah Penggiring.

          Imam Muslim meriwayatkannya melalui hadis Az-Zuhri dengan sanad dan lafaz yang semisal. قَالَ أَبُو دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ: حَدَّثَنَا الْمَسْعُودِيُّ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرّة، عَنْ أَبِي عُبَيدة، عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ: سَمَّى لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَفسه أسماءً، منها ما حفظنا فقال: "أَنَا مُحَمَّدٌ، وَأَنَا أَحْمَدُ، وَالْحَاشِرُ، وَالْمُقَفِّي، وَنَبِيُّ الرَّحْمَةِ، وَالتَّوْبَةِ، وَالْمَلْحَمَةِ". Abu Daud At-Tayalisi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Mas'udi, dari Amr ibnu Murrah, dari Abu Ubaidah, dari Abu Musa yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. menyebutkan nama-nama lain bagi dirinya. Di antaranya ada yang kami hafal, yaitu:

         Akulah Muhammad, akulah Ahmad, akulah orang yang menggiring, akulah yang diikuti, nabi rahmat, nabi tobat, dan nabi Malhamah (peperangan). Imam Muslim meriwayatkannya melalui hadis Al-A'masy;dari Amr ibnu Murrah dengan sanad yang sama. Allah Swt. telah berfirman: {الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ} (Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummiyang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka. (Al-A'raf: 157), hingga akhir ayat. Dan firman Allah Swt.: {وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُوا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ} Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.”Allah berfirman, "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab, "Kami mengakui.” Allah berfirman, "Kalau begitu, saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu.” (Ali Imran: 81)

        Ibnu Abbas mengatakan bahwa tidak sekali-kali Allah mengutus seorang nabi melainkan mengambil janji darinya, bahwa sesungguhnya jika Muhammad diutus sedang dia masih hidup, maka dia benar-benar akan mengikutinya. Dan mengambil janji pula bahwa hendaknya dia mengambil janji dari umatnya, bahwajika Muhammad diutus, sedangkan mereka masih hidup, benar-benar mereka akan mengikutinya dan menolongnya. قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ: حَدَّثَنِي ثَوْرُ بْنُ يَزيد، عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ، عَنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُمْ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَخْبِرْنَا عَنْ نَفْسِكَ. قَالَ: "دَعْوَةُ أَبِي إِبْرَاهِيمَ، وبُشْرَى عِيسَى، وَرَأَتْ أُمِّي حِينَ حَمَلَتْ بِي كَأَنَّهُ خَرَجَ مِنْهَا نُورٌ أَضَاءَتْ لَهُ قُصُورُ بُصْرَى مِنْ أَرْضِ الشَّامِ" Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Saur ibnu Yazid, dari Khalid ibnu Ma'dan, dari sahabat-sahabat Rasulullah Saw., bahwa mereka pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepada kami tentang dirimu." Rasulullah Saw. menjawab: Aku adalah doa ayahku Ibrahim, dan berita gembira yang disampaikan Isa. Ibuku ketika mengandungku melihat seakan-akan dari tubuhnya keluar nur (cahaya) yang dapat menerangi semua gedung kota Basrah yang ada di negeri Syam.

        Sanad hadis ini jayyid (baik), dan telah diriwayatkan pula hal yang sama melalui jalur-jalur lain yang menguatkannya. قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ، حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ سُوَيد الْكَلْبِيِّ، عَنْ عَبْدِ الْأَعْلَى بْنِ هِلَالٍ السُّلَمِيِّ، عَنِ العِرْباض بْنِ سَارِيَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنِّي عِنْدَ اللَّهِ لَخَاتَمُ النَّبِيِّينَ، وَإِنَّ آدَمَ لمنجَدلٌ فِي طِينَتِهِ، وَسَأُنْبِئُكُمْ بِأَوَّلِ ذَلِكَ دَعْوة أَبِي إِبْرَاهِيمَ، وَبِشَارَةُ عِيسَى بِي، وَرُؤْيَا أُمِّي الَّتِي رَأَتْ، وَكَذَلِكَ أُمَّهَاتُ النَّبِيِّينَ يَرَين" Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Mahdi, telah menceritakan kepada kami Mu'awiyah ibnuSaleh, dari Sa'id ibnu Suwaid Al-Kalbi, dari Abdul A'la ibnu Hilal As-Sulami, dari Al-Irbad ibnu Sariyah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Sesungguhnya aku di sisi Allah (telah tercatat) benar-benar sebagai penutup para nabi, dan sesungguhnya Adam masih benar-benar berupa tanah liatnya (saat itu). Dan aku akan menceritakan kepada kalian permulaan dari hal tersebut yaitu doa ayahku Ibrahim, berita gembira Isa mengenai kedatanganku, dan mimpi yang dilihat oleh ibuku, dan hal yang sama dialami pula oleh para ibu nabi-nabi lain. Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Abun Nadr, telah menceritakan kepada kami Al-Farj ibnu Fudalah, telah menceritakan kepada kami Luqman ibnu Amir yang mengatakan bahwa aku mendengar Abu Umamah mengatakan bahwa ia pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah mula-mulanya perkaramu?"Nabi Saw. menjawab: Doa ayahku Ibrahim, berita gembira Isa, dan ibuku melihat dalam mimpinya bahwa keluar dari tubuhnya cahaya yang menerangi gedung-gedung negeri Syam.

          Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Hasan ibnu Musa, ia pernah mendengar Khadij saudara lelaki Zuhair ibnu Mu'awiyah menceritakan hadis berikut dari Abu Ishaq, dari Abdullah ibnu Atabah, dari Abdullah ibnu Mas'ud yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. mengirimkan kami kepada Raja Najasyi (Negus). Jumlah kami waktu itu kurang lebih delapan puluh orang, di antaranya Abdullah ibnu Mas'ud, Ja'far, Abdullah ibnu Rawwahah, Usman ibnu Maz'un, dan Abu Musa. Maka kami datang menghadap kepada Raja Najasyi. Kemudian orang-orang Quraisy mengirimkan Amr ibnul As dan Imarah ibnul Walid dengan membawa hadiah untuk Raja Najasyi. Ketika keduanya telah masuk ke istana Raja Najasyi, lalu keduanya bersujud kepadanya dan segera mengambil tempat di sebelah kanan dan sebelah kirinya. Kemudian keduanya mengatakan kepada Raja Najasyi, "Sesungguhnya ada serombongan orang dari kalangan anak-anak paman kami yang tinggal di negerimu, mereka membenci kami dan juga membenci agama kami." Raja Najasyi bertanya, "Di manakah mereka?" Keduanya menjawab, "Mereka telah berada di negerimu, maka undanglah mereka," lalu Raja Najasyi mengundang mereka. Ja'far berkata, "Akulah yang akan menjadi juru bicara kalian pada hari ini," mereka mengikutinya, dan Ja'far hanya mengucapkan salam kepada Raja Najasyi, ia tidak bersujud. Maka mereka bertanya kepadanya, "Mengapa kamu tidak bersujud kepada sang raja?" Ja'far menjawab, "Sesungguhnya kami tidak akan sujud selain kepada Allah Swt." Raja Najasyi bertanya, "Bagaimanakah ajaran agamamu?" Ja'far menjawab, "Sesungguhnya Allah telah mengutus Rasul-Nya kepada kami, maka dia memerintahkan kepada kami untuk tidak bersujud kepada seorang pun kecuali kepada Allah Swt. Dan dia memerintahkan kepada kami untuk salat dan menunaikan zakat." Maka Amr ibnul As berkata, "Sesungguhnya mereka mempunyai pandangan yang berbeda dengan engkau tentang Isa putra Maryam." Raja Najasyi bertanya, "Bagaimanakah menurut kalian tentang Isa putra Maryam dan ibunya?" Ja'far menjawab, "Kami akan mengatakan seperti apa yang difirmankan oleh Allah Swt. bahwa dia adalah (yang diciptakan oleh) kalimah Allah (perintah-Nya) dan (dengan tiupan) roh dari-Nya yang disampaikan-Nya kepada seorang perawan yang suci yang belum pernah disentuh oleh seorang manusia pun dan belum pernah beranak." Maka Raja Najasyi memungut sebuah kayu dari tanah, kemudian berkata, "Hai orang-orang Habsyah dan para pendeta serta para rahib, demi Allah, apa yang dikatakan oleh mereka tidaklah melampaui apa yang dikatakan oleh kita mengenainya.

     Selamat datang untukmu dan orang-orang yang datang bersamamu dari sisinya. Aku bersaksi bahwa dia (Nabi Saw.) adalah utusan Allah, dan bahwa dialah orang yang kami jumpai beritanya dalam kitab Injil, dan dialah orangnya yang diberitakan oleh Isa putra Maryam. Sekarang tinggallah kalian di mana pun kalian sukai di negeri ini. Demi Allah, seandainya aku bukan dalam keadaan seperti sekarang sebagai raja, niscaya aku akan datang kepadanya dan aku rela menjadi pelayannya yang membawa terompahnya dan mengambilkan air wudunya." Kemudian Raja Najasyi memerintahkan agar hadiah yang dibawa oleh kedua utusan Quraisy itu dikembalikan, maka hadiah itu dikembalikan kepada keduanya. Selanjutnya Ibnu Mas'ud bersegera menyusul Rasulullah Saw. ke Madinah untuk ikut dalam Perang Badar. Dan Ibnu Mas'ud mengatakan bahwa Nabi Saw. memohonkan ampunan bagi Raja Najasyi ketika beliau mendengar berita kewafatannya. Kisah ini telah diriwayatkan oleh Ja'far r.a. dan Ummu Salamah r.a., dan pembahasannya didapat di dalam kitab Sirah.

             Tujuan pengetengahan kisah ini ialah bahwa para nabi itu terus-menerus menyebutkan sifat Nabi Muhammad Saw. dan menceritakannya kepada umatnya masing-masing yang dituangkan dalam kitab-kitab mereka, lalu memerintahkan kepada umatnya masing-masing agar mengikutinya, menolongnya, dan mendukungnya jika Nabi Muhammad diutus. Dan permulaan dari tenarnya hal ini di kalangan penduduk bumi diutarakan oleh Nabi Ibrahim a.s. kekasih Allah dan bapak para nabi, ketika ia berdoa untuk penduduk Mekah, bahwasanya semoga Allah mengutus seorang rasul di kalangan mereka dari kalangan mereka sendiri. Hal yang sama diberitakan pula melalui lisan Isa Putra Maryam. Untuk itulah ketika para sahabat bertanya, "Ceritakanlah kepada kami permulaan perkaramu, yakni di bumi ini." Maka Nabi Saw. menjawab: "دَعْوَةُ أَبِي إِبْرَاهِيمَ، وَبِشَارَةُ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ، وَرُؤْيَا أُمِّي الَّتِي رَأَتْ" Doa ayahku Nabi Ibrahim, dan berita gembira yang disampaikan oleh Isa Putra Maryam, serta mimpi yang pernah dilihat oleh ibuku (saat mengandungku). Yakni seorang rasul yang akan muncul dari kalangan penduduk Mekah sesudah masa Ibrahim a.s. yang kemunculannya diawali dengan tanda-tanda kenabian. Oleh karena itulah maka Nabi Saw. menyebutkan Nabi Ibrahim a.s. *******************

        Firman Allah Swt.: {فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ} Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, "Ini adalah sihir yang nyata." (Ash-Shaff: 6) Ibnu Juraij dan Ibnu Jarir mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Maka tatkala datang kepada mereka rasul itu. (Ash-Shaff: 6) Yaitu Ahmad (Muhammad) yang telah diberitakan sejak masa-masa terdahulu dan telah dikenal sebutannya di kalangan umat-umat terdahulu. Maka ketika dia telah diangkat menjadi rasul dan datang dengan membawa bukti-bukti yang nyata, berkatalah orang-orang kafir dan orang-orang yang menentangnya: Ini adalah sihir yang nyata. (Ash-Shaff: 6)

Thursday, 25 April 2019

AYAT 1-4 SURAH SHAAFF

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
  JILIK 2 AYAT 1-4 SURAH SHAFF
   BIS MILLAH HIR RAHMAN NIR RAHIM.,
     Ash Shaff – الصف 1. Sabbaha lillaahi maa fii alssamaawaati wamaa fii al-ardhi wahuwa al’aziizu alhakiimu 2. yaa ayyuhaa alladziina aamanuu lima taquuluuna maa laa taf’aluuna 3. kabura maqtan ‘inda allaahi an taquuluu maa laa taf’aluuna 4. inna allaaha yuhibbu alladziina yuqaatiluuna fii sabiilihi shaffan ka-annahum bunyaanun marshuushun

 {سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (1) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ (3) إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ (4) }

        Bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan bumi, dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tiada kamu kerjakan. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. Dalam pembahasan terdahulu telah disebutkan tafsir firman Allah Swt. yang mengawali surat ini dan bukan hanya sekali sehingga tidak perlu diulangi lagi. Yang dimaksud adalah firman Allah Swt.: {سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ} Bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan bumi; dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (Ash-Shaff: l)

       Adapun firman Allah Swt.: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ} Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tiada kamu kerjakan. (Ash-Shaff: 2) Ini merupakan pengingkaran terhadap orang yang menjanjikan sesuatu janji atau mengatakan sesuatu, lalu ia tidak memenuhinya. Oleh karena itulah maka ada sebagian dari ulama Salaf yang berpendapat atas dalil ayat ini bahwa diwajibkan bagi seseorang menunaikan apa yang telah dijanjikannya secara mutlak tanpa memandang apakah yang dijanjikannya itu berkaitan dengan kewajiban ataukah tidak. Mereka beralasan pula dengan hadis yang disebutkan di dalam kitab Sahihain, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: "آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّث كَذَبَ، إِذَا وَعَد أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ" Pertanda orang munafik ada tiga, yaitu apabila berjanji ingkar, apabila berbicara dusta dan apabila dipercaya khianat.

       Di dalam hadis lain yang juga dalam kitab sahih disebutkan pula: "أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ وَاحِدَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَة مِنْ نِفَاقٍ حَتَّى يَدَعها" Ada empat pekerti yang barang siapa menyandang keempat-empatnya, maka dia adalah munafik militan; dan barang siapa yang menyandang salah satunya, berarti dalam dirinya terdapat suatu pekerti orang yang munafik sampai dia meninggalkannya. Lalu disebutkan yang antara lainnya ialah mengingkari janji. Kami telah menjelaskan dengan rinci kedua hadis ini di dalam permulaan syarah kitab Imam Bukhari. Untuk itulah maka Allah mengukuhkan pengingkaran-Nya terhadap sikap mereka yang demikian itu melalui firman berikutnya: {كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ} Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (Ash-Shaff: 3)

          Imam Ahmad dan Imam Abu Daud telah meriwayatkan melalui Abdullah ibnu Amir ibnu Rabi'ah, yang telah menceritakan bahwa Rasulullah Saw. datang kepada keluarganya yang saat itu ia masih anak-anak. Lalu ia pergi untuk bermain-main, tetapi ibunya memanggilnya, "Hai Abdullah, kemarilah, aku akan memberimu sesuatu." Rasulullah Saw. bertanya kepada ibunya, "Apakah yang hendak engkau berikan kepadanya?" Ibunya menjawab, "Kurma," Rasulullah Saw. bersabda: "أَمَا إِنَّكِ لَوْ لَمْ تَفْعَلِي كُتِبت عَلَيْكِ كِذْبة" Ketahuilah, sesungguhnya andaikata engkau tidak memberinya, tentulah akan dicatat atas dirimu sebagai suatu kedustaan.

        Imam Malik rahimahullah berpendapat bahwa apabila janji itu berkaitan dengan kewajiban terhadap yang dijanjikan, maka sudah menjadi keharusan penunaiannya. Misalnya ialah seperti seseorang berkata kepada lelaki lain, "Kawinlah kamu, maka aku akan memberikan nafkah sebanyak anu padamu setiap harinya!" Kemudian lelaki yang diperintahnya itu kawin, maka orang yang berjanji demikian kepadanya diwajibkan memberinya apa yang telah ia janjikan kepadanya selama lelaki itu dalam ikatan perkawinannya. Mengingat masalah ini berkaitan dengan hak Adami dan berlandaskan pada prinsip mudayaqah. Jumhur ulama berpendapat bahwa masalah tersebut di atas penunaiannya bersifat tidak wajib secara mutlak. Dan mereka menakwilkan makna ayat dengan pengertian bahwa ayat ini diturunkan ketika mereka mengharapkan jihad difardukan atas diri mereka. Tetapi setelah jihad diwajibkan atas mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka berpaling darinya, Dahulu sebelum jihad difardukan, ada segolongan kaum mukmin yang mengatakan bahwa kami sangat menginginkan sekiranya Allah Swt. menunjukkan kepada kami amal perbuatan yang paling disukai-Nya, maka kami akan mengerjakannya. Maka Allah Swt. memberitahukan kepada Nabi-Nya, bahwa amal perbuatan yang paling disukai ialah beriman kepada-Nya tanpa keraguan, dan berjihad melawan orang-orang yang mendurhakai-Nya, yaitu mereka yang menentang keimanan dan tidak mau mengakuinya. Ketika diturunkan perintah berjihad, sebagian dari kaum mukmin tidak senang dengan perintah ini dan terasa berat olehnya. Untuk itulah maka Allah Swt. berfirman: Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tiada kamu kerjakan? (Ash-Shaff: 2)

        Demikianlah menurut apa yang dipilih oleh Ibnu Jarir. Muqatil ibnu Hayyan mengatakan bahwa orang-orang mukmin mengatakan, "Seandainya kami mengetahui amal yang paling disukai Allah, tentulah kami akan mengerjakannya." Maka Allah memberikan petunjuk kepada mereka tentang amal yang paling disukai oleh-Nya melalui firman-Nya: Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan­-Nya dalam barisan yang teratur. (Ash-Shaff: 4) Maka Allah menjelaskan kepada mereka amal tersebut, lalu mereka diuji dalam Perang Uhud dengan hal tersebut, dan ternyata pada akhirnya mereka lari ke belakang meninggalkan Nabi Saw. Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? (Ash-Shaff: 2) Allah Swt. berfirman bahwa orang yang paling Aku sukai di antara kamu adalah orang yang berperang di jalan Allah. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan masalah perang; seseorang lelaki mengatakan, "Aku telah berperang," padahal ia tidak ikut perang, dan ia mengatakan, "Aku telah menusukkan tombakku," padahal ia tidak menggunakannya. Dan ia mengatakan, "Aku telah memukulkan pedangku," padahal ia tidak menggunakannya. Dan ia mengatakan, "Aku tetap bertahan dalam medan perang," padahal ia tidak bertahan alias melarikan diri. Qatadah dan Ad-Dahhak mengatakan, ayat ini diturunkan untuk mencemoohkan suatu kaum yang mengatakan bahwa diri mereka telah berperang, memukulkan pedang mereka dan menusukkan tombak mereka, serta melakukan hal-hal lainnya, padahal kenyataannya mereka tidak melakukan sesuatu pun dari apa yang telah dikatakannya itu.

        Ibnu Zaid mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan suatu kaum dari orang-orang munafik. Mereka menjanjikan kepada kaum muslim bahwa mereka akan membantunya, tetapi ternyata mereka tidak memenuhi apa yang mereka janjikan. Malik telah meriwayatkan dari Zaid ibnu Aslam sehubungan dengan makna firman Allah Swt.: mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? (Ash-Shaff: 2) Bahwa yang dimaksud ialah berjihad. Demikianlah hadis ini diketengahkan melalui jalur ini dengan teks seperti yang disebutkan di atas, tetapi yang dikemukakan di atas adalah ringkasannya. Imam Turmuzi dan Imam Nasai telah mengetengahkannya melalui hadis Syu'bah, dari Mansur ibnul Mu'tamir, dari Rib'i ibnu Hirasy, dari Zaid Ibnu Zabyan, dari Abu Zar dengan teks yang lebih panjang daripada hadis di atas lagi lebih lengkap. Kami telah mengetengahkannya di tempat yang lain. Diriwayatkan dari Ka'bul Ahbar. Ia mengatakan bahwa Allah Swt. berfirman berkenaan dengan berita gembira kedatangan Nabi Muhammad Saw., "Hamba-Ku yang bertawakal lagi terpilih, bukanlah orang yang keras, bukan pula orang yang kasar, serta bukan pula orang yang bersuara gaduh di pasar-pasar; dan dia tidak membalas keburukan dengan keburukan lainnya, tetapi dia memaaf dan mengampuni. Kelahirannya di Mekah, dan tempat hijrahnya ialah di Tabah (Madinah); kerajaannya di negeri Syam. Umatnya adalah orang-orang yang banyak memuji Allah, mereka memuji Allah dalam keadaan apa pun. Dan pada setiap rumah mereka terdengar suara dengungan seperti dengungan lebah di udara di waktu sahur (karena membaca Al-Qur'an). Mereka membasuh anggota-anggota tubuhnya (berwudu) dan gemar mengenakan kain separo badan mereka; saf mereka dalam pertempuran sama dengan saf mereka dalam salat." Kemudian Ka'bul Ahbar membacakan firman-Nya: Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (Ash-Shaff: 4)

        Mereka adalah kaum yang selalu memperhatikan matahari (untuk waktu salat mereka), mereka selalu mengerjakan salat di mana pun waktu salat mereka jumpai sekalipun mereka berada di atas punggung hewan kendaraan. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim. Sa'id ibnu Jubair mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur. (Ash-Shaff: 4) Bahwa Rasulullah Saw. tidak sekali-kali berperang melawan musuh melainkan terlebih dahulu mengatur barisan pasukannya membentuk saf, dan ini merupakan strategi yang diajarkan oleh Allah Swt. kepada orang-orang mukmin. Dan firman Allah Swt.: seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (Ash-Shaff: 4) Yaitu sebagian darinya menempel dengan sebagian lainnya dalam saf peperangan. Muqatil ibnu Hayyan mengatakan bahwa sebagiannya menempel ketat dengan sebagian yang lain. Ibnu Abbas mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (Ash-Shaff: 4) Yakni kokoh dan tidak rapuh, sebagiannya menempel ketat dengan sebagian yang lain dalam barisan safnya. Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (Ash-Shaff: 4) Tidakkah Anda melihat para pekerja bangunan? Mereka tidak suka bila bangunan yang dikerjakannya acak-acakan.

           Demikian pula Allah Swt. tidak suka bila perintah-Nya diacak-acak. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kaum mukmin untuk berbaris dengan rapi dalam peperangan mereka dan juga dalam salat mereka, maka peganglah oleh kalian perintah Allah Swt. ini, karena sesungguhnya perintah ini akan menjadi pemelihara diri bagi orang yang mengamalkannya. Semua pendapat di atas di kemukakan oleh Ibnu Abu Hatim. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Sa'id ibnu Amr As-Sukuni, telah menceritakan kepada kamj Baqiyyah ibnul Walid, dari Abu Bakar ibnu Abu Maryam, dari Yahya ibnu Jabir At-Ta'ir, dari Abu Bahriyyah yang mengatakan bahwa dahulu mereka tidak suka berperang dengan mengendarai kuda dan mereka lebih suka berperang dengan jalan kaki karena ada firman Allah Swt. yang mengatakan: Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh. (Ash-Shaff: 4) Dan tersebutlah bahwa Abu Bahriyyah sering mengatakan, "Apabila kalian melihatku menoleh dalam safku, maka pukullah daguku."

PENERANGGAN AYAT SURAH SHAFF.,.,

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
JILIK 2 SURAH SHAFF.,
PENERANGGAN AYAT..
BIS MILLAH HIR RAHMAN NIR RAHIM.,
Ash Shaff – الصف 1.
            Sabbaha lillaahi maa fii alssamaawaati wamaa fii al-ardhi wahuwa al’aziizu alhakiimu 2. yaa ayyuhaa alladziina aamanuu lima taquuluuna maa laa taf’aluuna 3. kabura maqtan ‘inda allaahi an taquuluu maa laa taf’aluuna 4. inna allaaha yuhibbu alladziina yuqaatiluuna fii sabiilihi shaffan ka-annahum bunyaanun marshuushun 5. wa-idz qaala muusaa liqawmihi yaa qawmi lima tu/dzuunanii waqad ta’lamuuna annii rasuulu allaahi ilaykum falammaa zaaghuu azaagha allaahu quluubahum waallaahu laa yahdii alqawma alfaasiqiina 6. wa-idz qaala ‘iisaa ibnu maryama yaa banii israa-iila innii rasuulu allaahi ilaykum mushaddiqan limaa bayna yadayya mina alttawraati wamubasysyiran birasuulin ya/tii min ba’dii ismuhu ahmadu falammaa jaa-ahum bialbayyinaati qaaluu haadzaa sihrun mubiinun 7. waman azhlamu mimmani iftaraa ‘alaa allaahi alkadziba wahuwa yud’aa ilaa al-islaami waallaahu laa yahdii alqawma alzhzhaalimiina 8. yuriiduuna liyuthfi-uu nuura allaahi bi-afwaahihim waallaahu mutimmu nuurihi walaw kariha alkaafiruuna 9. huwa alladzii arsala rasuulahu bialhudaa wadiini alhaqqi liyuzhhirahu ‘alaa alddiini kullihi walaw kariha almusyrikuuna 10. yaa ayyuhaa alladziina aamanuu hal adullukum ‘alaa tijaaratin tunjiikum min ‘adzaabin aliimin 11. tu/minuuna biallaahi warasuulihi watujaahiduuna fii sabiili allaahi bi-amwaalikum wa-anfusikum dzaalikum khayrun lakum in kuntum ta’lamuuna 12. yaghfir lakum dzunuubakum wayudkhilkum jannaatin tajrii min tahtihaa al-anhaaru wamasaakina thayyibatan fii jannaati ‘adnin dzaalika alfawzu al’azhiimu 13. waukhraa tuhibbuunahaa nashrun mina allaahi wafathun qarriibun wabasysyiri almu/miniina 14. yaa ayyuhaa alladziina aamanuu kuunuu anshaara allaahi kamaa qaala ‘iisaa ibnu maryama lilhawaariyyiina man anshaarii ilaa allaahi qaala alhawaariyyuuna nahnu anshaaru allaahi faaamanat thaa-ifatun min banii israa-iila wakafarat thaa-ifatun fa-ayyadnaa alladziina aamanuu ‘alaa ‘aduwwihim fa-ashbahuu zhaahiriina

Surah As-Saff (سورة الصف)
      (Barisan) merupakan surah ke-61 dalam al-Quran. Surah ini tergolong surah Madaniyah dan terdiri atas 14 ayat. Dinamakan Ash Shaff, kerana pada ayat 4 surat ini terdapat kata Shaffan yang bererti satu barisan. Ayat ini menerangkan apa yang diredhai Allah sesudah menerangkan apa yang dimurkai-Nya. Pada ayat 3 diterangkan bahawa Allah murka kepada orang yang hanya pandai berkata saja tetapi tidak melaksanakan apa yang diucapkannya. Dan pada ayat 4 diterangkan bahawa Allah menyukai orang yang mengamalkan apa yang diucapkannya iaitu orang-orang yang berperang pada jalan Allah dalam satu barisan. Isi Kandungan Semua yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya Anjuran berjihad pada jalan Allah. Pengikut-pengikut Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa a.s. pernah mengingkari ajaran-ajaran nabi mereka. Demikian pula kaum musyrik Mekkah ingin hendak memadamkan cahaya Allah (agama Islam). Ampunan Allah dan syurga dapat dicapai dengan iman dan berjuang menegakkan kalimat Allah dengan harta dan jiwa.

Terjemahan Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih,
Maha Penyayang. Mempermuliakan Allah,
       segala hal yang berada di langit maupun di bumi, serta Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Ayat:1) Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan hal yang tidak kalian kerjakan? betapa besar kebencian Allah bahwa kalian mengatakan hal-hal yang tiada kalian kerjakan. Sungguh Allah mengasihi orang-orang yang berperang untuk KetetuanNya, orang-orang yang berbaris secara teratur seakan-akan suatu bangunan yang kokoh. (Ayat:2-4) Dan ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Wahai kaumku, mengapakah kalian menyakiti diriku sementara kalian mengetahui bahwa aku merupakan seorang Rasul Allah untuk kalian?" tatkala mereka mengabaikan, Allah memalingkan kalbu mereka. Dan Allah tidaklah membimbing kaum yang fasik. (Ayat:5) Dan ketika Isa putra Maryam berkata: "Wahai Bani Israel, sungguh aku adalah seorang Rasul Allah untuk kalian, supaya menggenapi hal-hal yang sebelumku, sebagian isi Taurat, serta menghiburkan kalian tentang seorang Rasul yang akan tiba setelahku, yang bernama Ahmad" maka tatkala ia sampai kepada mereka bersama keterangan-keterangan jelas, mereka mengatakan: "Dusta belaka". (Ayat:6) Dan siapa yang lebih zalim daripada orang yang mengadakan dusta tentang Allah sementara ia diajak supaya berserah diri? Dan Allah tidak membimbing kaum yang zalim, mereka itu berkeinginan mempergunakan mulut mereka untuk memadamkan Pengajaran Allah, tetapi Allah yang menyempurnakan PengajaranNya, meski golongan kafir membenci itu, Dialah yang mengutus RasulNya beserta Bimbingan dengan agama kebenaran supaya Dia memenangkan hal demikian terhadap agama apapun, meski golongan musyrik membenci perkara tersebut. (Ayat:7-9) Wahai orang-orang yang beriman, bersediakah kalian kuarahkan pada suatu usaha yang dapat meluputkan kalian terhadap Azab pedih?, kalian beriman kepada Allah beserta RasulNya, serta kalian rela berkorban untuk Allah, mempergunakan harta benda kalian maupun nyawa kalian. Demikianlah hal terbaik bagi kalian, sekiranya kalian mengetahui. kelak Dia akan mengampuni dosa-dosa kalian serta memasukkan kalian ke dalam Surga yang dialiri sungai-sungai dibawahnya; serta kediaman yang indah dalam Surga 'Adn. Demikianlah keberhasilan sejati, juga hal lain yang kalian dambakan, keselamatan dari Allah serta pencapaian yang dekat. Dan sampaikanlah kabar gembira untuk golongan yang beriman. (Ayat:10-13) Wahai orang-orang beriman, jadilah kalian pembela-pembela Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada para sahabat setianya: "Siapa yang membelaku untuk Allah?" para sahabat setia berkata: "Kamilah pembela-pembela Allah", lalu sebagian Bani Israel mengimani sementara sebagian lain mengingkar; maka Kamilah yang menolong orang-orang beriman terhadap musuh-musuh mereka, kemudian mereka itulah golongan yang menang. (Ayat:14)
 
     DALAM SURAH SHAFF INI ALLAH MENJELASKAN TENTANG APA YANG DI REDHOI ALLAH SEBAGAI MANA RIWAYAT HADIS DI BAWAH DARI IMAM AHMAD.,DAN KITAB SOHEH HADIS,.., WALLAHUAKLAM.,

    Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Salam, ia menuturkan: kami pernah bermusyawarah, siapakah di antara kalian yang bersedia datang kepada Rasulullah saw. untuk menanyakan kepada beliau tentang amal apakah yang paling disukai Allah. Namun tidak ada satu orang pun dari kami yang beranjak bangun. Kemudian Rasulullah saw. mengutus seseorang kepada kami. Lalu utusan itu mengumpulkan kami dan membacakan surah ini kepada kami. Yakni surah ash-Shaff secara keseluruhan.”
       Demikian hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Dan dalam hadits yang lainnya juga masih dalam kitab shahih disebutkan: “Ada empat perkara yang barangsiapa pada dirinya terdapat keempat perkara tersebut, maka ia termasuk munafik murni. Dan barangsiapa yang pada dirinya terdapat salah satu dari keempat itu, maka padanya telah terdapat salah satu ciri kemunafikan sampai ia meninggalkannya.” Kemudian beliau menyebutkan diantaranya, yaitu tidak menepati janji.

Wednesday, 24 April 2019

AYAT 1-15 SURAH SYAMS

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK,.
JILIK 2 AYAT 1-15 SURAH SYAMS,.

 BIS MILLAH HIR RAHMAN NIR RAHIM,.
Asy Syams – الشمس 1. waalsysyamsi wadhuhaahaa 2. waalqamari idzaa talaahaa 3. waalnnahaari idzaa jallaahaa 4. waallayli idzaa yaghsyaahaa 5. waalssamaa-i wamaa banaahaa 6. waal-ardhi wamaa thahaahaa 7. wanafsin wamaa sawwaahaa 8. fa-alhamahaa fujuurahaa wataqwaahaa 9. qad aflaha man zakkaahaa 10. waqad khaaba man dassaahaa 11. kadzdzabat tsamuudu bithaghwaahaa 12. idzi inba’atsa asyqaahaa 13. faqaala lahum rasuulu allaahi naaqata allaahi wasuqyaahaa 14. fakadzdzabuuhu fa’aqaruuhaa fadamdama ‘alayhim rabbuhum bidzanbihim fasawwaahaa 15. walaa yakhaafu ‘uqbaahaa

“1. demi matahari dan cahayanya di pagi hari, 2. dan bulan apabila mengiringinya, 3. dan siang apabila menampakkannya, 4. dan malam apabila menutupinya, 5. dan langit serta pembinaannya, 6. dan bumi serta penghamparannya, 7. dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), 8. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. 9. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, 10. dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” “11. (kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas, 12. ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, 13. lalu Rasul Allah (Saleh) berkata kepada mereka: (“Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya”. 14. lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, Maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah), 15. dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu.” (asy-Syams: 1-15)

        PADA AYAT 1-10 INI ALLAH INGGIN MENJELASKAN TENTANG KEKLUASAAN NYA TERHADAP UFUK SEBAGAI MANA PERMULAAN AYAT YANG MENYATAKAN SUMPAH TUHAN KEATAS ALAM DENGAN MENGGUNAKAN MATAHARI SEBAGAI MANA KEBANYAKKAN AYAT SUMPAH YANG LAIN., Mujahid mengatakan: bahwa, wasy syamsi wa dluhaaHaa (“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari.”) yakni sinarnya. Sedangkan Qatadah mengatakan: wadluhaaHaa (“Pada pagi hari”) yakni siang secara keseluruhan. Ibu Jarir mengatakan bahwa yang benar adalah dengan mengatakan: “Allah bersumpah dengan matahari dan siangnya, karena sinar matahari yang paling tampak jelas adalah pada siang hari.” Wal qamari idzaa tallaaHaa (“Dan bulan apabila mengiringinya.”) Mujahid mengatakan: “Yakni mengikutinya.” Sedangkan Qatadah mengatakan: “Yakni jika mengikutinya pada malam bulan purnama, jika matahari tenggelam maka rembulan akan muncul. Ibnu Zaid mengatakan: “Bulan mengikutinya pada pertengahan pertama pertama setiap bulan. Kemudian matahari mengikutinya, dimana bulan mendahuluinya pada pertengahan terakhir setiap bulan.” Sedangkan ibnu Jarir lebih memilih untuk mengembalikan dlamir (kata ganti) dalam semuanya itu kepada matahari, karena arus penyebutannya.

         Dan mengenai firman Allah: wal laili idzaa yaghsyaa (“Dan malam apabila menutupinya.”) mereka mengatakan: “Yakni jika malam menutupi matahari, yaitu saat matahari terbenam sehingga seluruh ufuk menjadi gelap. Firman Allah: was samaa-i wamaa banaaHaa (“Dan langit serta pembinaannya.”) kata “maa” dalam ayat ini mencakup kemungkinan sebagai mashdar dengan pengertian, “Dan langit dan pembangunannya.” Yang demikian itu merupakan pendapat Qatadah. Dan mungkin juga kata “maa” tersebut berarti “man”(siapa), dengan pengertian: “Langit yang membangunnya.”. dan yang terakhir ini merupakan pendapat Mujahid. Kedua pengertian tersebut saling berhubungan. Dengan kata al-binaa’ berarti peninggian. Demikian pula firman Allah: wal ardli wamaa thahaaHaa (“Dan bumi serta penghamparannya.”) Mujahid, Qatadah, adl-Dlahhak, as-Suddi, ats-Tsauri, Abu Shalih dan Ibnu Zaid mengatakan: thahaaHaa berarti menghamparkannya.” Dan itulah yang paling populer. Pengertian itu pula yang diberikan oleh mayoritas ahli tafsir dan yang dikenal oleh para ahli bahasa. Firman Allah: Wa nafsiw wamaa sawwaaHaa (“Dan jiwa serta penyempurnaannya.”) yakni penciptaan yang sempurna lagi tegak pada fitrah yang lurus. Sedangkan firman-Nya: fa alHamaHaa fujuuraHaa wa taqwaaHaa (“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu [jalan] kefasikan dan ketakwaan.”) yakni Dia mengarahkan kepada kekejian dan ketakwaan. Artinya, Dia menjelaskan kepadanya seraya menunjukkan apa yang ditakdirkan untuknya. Mengenai firman-Nya: fa alHamaHaa fujuuraHaa wa taqwaaHaa (“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu [jalan] kefasikan dan ketakwaan.”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Dia menjelaskan yang baik dan yang buruk kepadanya.” Demikian pula yang disampaikan oleh Mujahid, Qatadah, adl-Dlahhak, dan ats-Tsauri. Ibnu Jarir menceritakan dari Abul Aswad ad-Daili, dia berkata:
                ‘Imran bin al-Husain pernah berkata kepadaku, “Tahukah engkau apa yang dikerjakan dan diupayakan oleh umat manusia di sana maka akan diberi keputusan kepada mereka dan diberlakukan pula ketetapan bagi mereka, baik ketetapan yang telah berlalu maupun yang akan mereka terima dari apa yang dibawa oleh Nabi mereka, Muhammad saw. dan ditegaskan pula hujjah bagi mereka?” Aku katakan: “Tetapi ada sesuatu yang telah ditetapkan bagi mereka.” Dia bertanya: “Apakah yang demikian itu berupa kedzaliman?” –Dia berkata, maka aku benar-benar terkejut mendengarnya. Dia berkata, lalu aku katakan kepadanya: “Tidak ada sesuatupun melainkan Dia yang menciptakan dan menguasainya, dia tidak akan dimintai tanggung jawab atas apa yang Dia kerjakan tetapi mereka akan dimintai tanggung jawab.” Dia berkata: “Mudah-mudahan Allah meluruskanmu, sesungguhnya aku bertanya kepadamu hanya untuk menguji akalmu bahwasannya ada seseorang dari Muzinah atau Juhainah datang kepada Rasulullah saw. seraya bertanya: “Wahai Rasulallah, bagaimana menurut pendapatmu tentang apa yang dikerjakan dan diusahakan umat manusia di sana, adakah sesuatu yang ditetapkan atas mereka dan berlaku bagi mereka ketetapan yang telah lebih dulu ataukan sesuatu yang mereka terima dari apa yang dibawa oleh Nabi mereka, serta ditegaskan hujjah atas mereka?”
              Beliau menjawab: “Tetapi sesuatu sudah ditetapkan atas mereka.” Orang itu bertanya: “Lalu untuk apa salah satu dari kedua kedua kedudukan yang disediakan untuknya. Dan yang membenarkan hal tersebut terdapat di dalam kitabullah: wa nafsiw wamaa sawwaaHaa fa alHamaHaa fujuuraHaa wa taqwaaHaa (“Dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu [jalan] kefasikan dan ketakwaan.” Diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim. Firman Allah: qad aflaha mangzakkaaHaa. Wa qad khaaba man dassaaHaa (“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”) Ada kemungkinan hal itu berarti beruntunglah orang yang mensucikan dirinya, yakni dengan menaati Allah, sebagaimana yang dikemukakan oleh Qatadah, dan membersihkannya dari aklak tercela dan berbagai hal yang hina. Hal senada juga diriwayatkan dari Mujahid, ‘Ikrimah, dan Sa’id bin Jubair. Dan seperti firman-Nya: qad aflaha man tazakkaa. Wa dzakaras marabbiHii fashallaa (“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri [dengan beriman], dan dia ingat Nama Rabb-nya, lalu dia shalat.”) (al-A’laa: 14-15)
           Wa qad khaaba man dassaaHaa (“Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”) yakni mengotorinya, dengan membawa dan meletakkannya pada posisi menghinakan dan menjauhkan dari petunjuk sehingga dia berbuat maksiat dan meninggalkan ketaatan kepada Allah. Dan mungkin juga mempunyai pengertian; beruntunglah orang yang disucikan jiwanya oleh Allah dan merugilah orang-orang yang jiwanya dibuat kotor oleh-Nya. Sebagaimana yang disampaikan oleh al-‘Aufi dan ‘Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu ‘Abbas. Imam Ahmad meriwayatkan dari Zaid bin Argam, dia berkata: “Rasulullah saw. telah bersabda: ‘Ya Alla, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dan juga ketuaan, pengecut, kikir dan adzab kubur.
            Ya Allah, berikanlah ketakwaan pada jiwaku dan sucikanlah, sesungguhnya Engkau sebaik-baik Rabb yang menyucikan, Engkau pelindung sekaligus Penguasanya. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak pernah khusyu’ dan dari jiwa yang tidak pernah merasa puas, dan juga ilmu yang tidak bermanfaat serta doa yang tidak dikabulkan.” Zaid berkata: “Rasulullah saw. pernah mengajarkan doa itu kepada kami dan kamipun mempelajarinya.” Diriwayatkan oleh Muslim.

       PADA AYAT 11-15 ALLAH MENJELASKAN TENTANG KAUM TSAMUD, dimana mereka mendustakan Rasul-rasul mereka yang disebabkan karena kesewenang-wenangan dan melampaui batas dalam diri mereka. Oleh karena itu Allah menimpakan kedustaan dalam diri mereka terhadap petunjuk dan keyakinan yang dibawa oleh rasul mereka. Idzim ba’atsa asyqaaHaa (“Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka.”) yakni kabilah yang paling celaka, yaitu Qadar bin Salif yang telah membunuh unta, yang tidak lain dia adalah Uhaimar Tsamud. Dialah yang pernah difirmankan Allah: fanaadaw shaahibaHum fata’aathaa fa’aqara (“Kemudian mereka memanggil kawan mereka, lalu diapun datang lalu menyembelihnya.”) dan ayat seterusnya. (al-Qamar: 29). Orang ini sangat mulia dan dihormati oleh kaumnya sekaligus sebagai pemimpin yang ditaati. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari ‘Abdullah bin Zam’ah, dia berkata: “Rasulullah saw. pernah berkhutbah, lalu beliau menyinggung masalah unta (unta Nabi Shalih) dan menyebutkan orang yang menyembelihnya, dimana beliau bersabda: ‘Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka.

              Bangkitlah seorang yang besar, yang paling disegani di tengah-tengah kaumnya, seperti Abu Zam’ah.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari di dalam kitab at-Tafsiir dan juga Muslim di dalam kitab Shifatun Naar. Juga at-Tirmidzi dan an-Nasa-i dalam kitab at-Tafsir pada kitab Sunan keduanya. Firman Allah: faqaala laHum rasuulullaaHi (“Lalu Rasul Allah berkata kepada mereka”) yakni Nabi Shalih. NaaqatallaaHi (“Unta betina Allah.”) maksudnya, jauhkan diri kalian dari unta Allah dan janganlah kalian mengganggunya, wa suqyaaHaa (“Dan minumannya.”) maksudnya, janganlah kalian berlebihan dalam meminumnya, karena ia mempunyai jatah minum satu hari dan kalianpun mempunyai jatah minum satu hari tertentu. Allah berfirman: fakadzdzabuuHu fa’aqaruuHaa (“lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu”) yaitu mereka mendustakan apa yang dibawa oleh Rasul kepada mereka, sehingga sikap mereka itu dibalas dengan hukuman berupa penyembelihan unta betina yang dikeluarkan oleh Allah dari bebatuan sebagai tanda kekuasaan bagi mereka sekaligus sebagai hujjah atas mereka. Fadamdama ‘alaiHim rabbuHum bidzambiHim (“Maka Rabb mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka.”) yakni kemurkaan Allah atas mereka dan menimpakan kebinasaan atas mereka. fasawwaaHaa (“Lalu Allah menyamaratakan mereka [dengan tanah]”) yakni Dia menjadikan hukuman itu turun kepada mereka secara merata.

          Qatadah mengatakan: “Kami pernah mendengar bahwa Uhaimir Tsamud tidak menyembelih unta betina itu melainkan [pasti] diikuti oleh anak-anak dan orang-orang dewasa di antara mereka, laki-laki maupun perempuan di antara mereka. Setelah kaumnya ikut menyembelihnya maka Allah menyamaratakan mereka dengan tanah atas dosa mereka yang telah mereka lakukan.” Firman Allah: wa laa yakhaafu (“Dan Allah tidak takut.”) dan juga dibaca dengan falaa yakhaafu ‘uqbaaHaa (“Terhadap akibat tindakan-Nya itu”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Allah tidak takut terhadap tuntutan dari siapapun juga.”

Monday, 22 April 2019

PENERANGAN SURAH ASY SYAMS

TAFSIR QURAN DAN HAFDIS TABARUK
JILIK 2 BIS MILLAH HIR RAHMAN NIR RAHIM.,
Surat Asy-Syams (سورة الشمس)
adalah surat ke-91
 dalam Al Quran, terdiri atas 15 ayat,
 termasuk golongan surat-surat Makkiyah,
 diturunkan sesudah Surah Al-Qadr.
Dinamai Asy Syams (matahari) diambil dari perkataan
Asy Syams yang terdapat pada ayat permulaan surat ini.

    Isi kandungan 1 Isi Kandungan 2 Hubungan dengan surat Al Lail 3 Terjemahan Ayat 4 Pautan Luar Isi Kandungan Kaum Tsamud telah dihancurkan Allah kerana kederhakaannya. Tuhan memberi bayangan bahawa hal ini adalah mudah bagi-Nya, sebagaimana mudahnya menciptakan benda-benda alam, siang dan malam, dan menciptakan jiwa yang tersebut dalam sumpah-Nya; Allah memberitahukan kepada manusia jalan ketakwaan dan jalan kekafiran; manusia mempunyai kebebasan memilih antara kedua jalan itu.
      Surat Asy Syams berisi dorongan kepada manusia untuk membersihkan jiwanya agar mendapat keberuntungan di dunia dan di akhirat dan menyatakan bahawa Allah akan menimpakan azab kepada orang-orang yang mengotori jiwanya seperti halnya kaum Tsamud. Hubungan dengan surat Al Lail Surat Asy Syams menerangkan bahawa orang yang mensucikan jiwanya akan memperoleh keberuntungan dan orang yang mengotori jiwanya akan diazab Allah, sedang surat Al Lail menerangkan perbuatan yang mensucikan jiwa itu sehingga menghasilkan keuntungan dan perbuatan yang mengotorkan jiwa sehingga menghasilkan kerugian. 

Terjemahan Ayat
 وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا
Demi matahari dan cahayanya di pagi hari,
(QS. 91:1) وَالْقَمَرِ إِذَا تَلاهَا dan bulan apabila mengiringinya, (QS. 91:2) وَالنَّهَارِ إِذَا جَلاهَا dan siang apabila menampakkannya, (QS. 91:3) وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا dan malam apabila menutupinya, (QS. 91:4) وَالسَّمَاءِ وَمَا بَنَاهَا dan langit serta pembinaannya, (QS. 91:5) وَالأرْضِ وَمَا طَحَاهَا dan bumi serta penghamparannya, (QS. 91:6) وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya) (QS. 91:7) فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan, (QS. 91:8) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, (QS. 91:9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS. 91:10) كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِطَغْوَاهَا (Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena melampaui batas, (QS. 91:11) إِذِ انْبَعَثَ أَشْقَاهَا ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, (QS. 91:12) فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ نَاقَةَ اللَّهِ وَسُقْيَاهَا lalu Rasul Allah (Saleh) berkata kepada mereka: (Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya. (QS. 91:13) فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُمْ بِذَنْبِهِمْ فَسَوَّاهَا Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Rabb mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah) (QS. 91:14) وَلا يَخَافُ عُقْبَاهَا dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu. (QS. 91:15)

Friday, 19 April 2019

AYAT 176 ANNISAAK

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
JILIK 2 AN-NISAAK AYAT 176
BIS MILLAH HIR RAHMAN NIR RAHIM,.
Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 176 Yastaftu_nak(a), qulilla_hu yuftikum fil kala_lah(ti), inimru'un halaka laisa lahu_ waladuw wa lahu_ ukhtun falaha_ nisfu ma_ tarak(a), wa huwa yarisuha_ illam yakul laha_ walad(un), fa in ka_natasnataini fa lahumas sulusa_ni mimma_ tarak(a), wa in ka_nu_ ikhwatar rija_law wa nisa_'an fa liz zakari mislu hazzil unsayain(i), yubayyinulla_hu lakum an tadilla_, walla_hu bi kulli syai'in 'alim(un).

“Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah, ‘Allah memberi fatwa kepada kalian tentang kalalah (yaitu); Jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan sau­daranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara pe­rempuan) jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri atas) saudara-saudara laki-laki dan perem­puan, maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepada kalian supaya kalian tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (An-Nisaa’ ayat 176)

 قَالَ الْبُخَارِيُّ: حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ قَالَ: سَمِعْتُ الْبَرَاءَ قَالَ: آخِرُ سُورَةٍ نَزَلَتْ: “بَرَاءَةٌ”، وَآخِرُ آيَةٍ نَزَلَتْ: {يَسْتَفْتُونَكَ}

 Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Su­laiman ibnu Harb, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Abu Ishaq yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Al-Barra (Ibnu Azib r.a.) berkata, “Surat yang paling akhir diturunkan adalah surat Al-Bara’ah (At-Taubah), dan ayat yang paling akhir diturunkan ada­lah firman-Nya: ‘Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah)’ (An-Nisa: 176). hingga akhir ayat.” وَقَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ قَالَ: سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: دَخَلَ عَلَيّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَنَا مَرِيضٌ لَا أَعْقِل، قَالَ: فَتَوَضَّأَ، ثُمَّ صَبَّ عَلَيّ -أَوْ قَالَ صُبُّوا عَلَيْهِ -فَعَقَلْتُ فَقُلت: إِنَّهُ لَا يَرِثُنِي إِلَّا كَلَالَةٌ، فَكَيْفَ الْمِيرَاثُ؟ قَالَ: فَنَزَلَتْ آيَةُ الْفَرَائِضِ. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muham­mad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Mu­hammad ibnul Munkadir yang menceritakan bahwa ia pernah mende­ngar Jabir ibnu Abdullah mengatakan: “Rasulullah Saw. masuk ke dalam rumahku ketika aku sedang sakit dan dalam keadaan tidak sadar.”

Jabir melanjutkan kisah­nya, “Lalu Rasulullah Saw. berwudu, kemudian mengucurkan bekasnya kepadaku; atau perawi mengatakan bahwa mereka (yang hadir) menyiramkan (bekas air wudu)nya kepada Jabir. Karena itu aku sadar, lalu aku bertanya, ‘Sesungguhnya tidak ada yang mewarisiku kecuali kalalah. Bagaimanakah cara pem­bagiannya?’.” Lalu Allah menurunkan ayat faraid. Hadis diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim di dalam kitab Sahihain melalui Syu’bah. Jama’ah meriwayatkannya melalui jalur Sufyan ibnu Uyaynah, dari Muhammad ibnul Munkadir, dari Jabir dengan lafaz yang sama. Sedangkan dalam lafaz yang lainnya disebutkan bahwa lalu turunlah ayatmiras, yaitu firman-Nya: {يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلالَةِ} Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah, “Allah memberi fatwa kepada kalian tentang kalalah.” (An-Nisa: 176), hingga akhir ayat. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mu­hammad ibnu Abdullah ibnu Yazid, telah menceritakan kepada kami Sufyan, bahwa Abu Zubair (yakni Jabir) mengatakan bahwa ayat ber­ikut diturunkan berkenaan dengan diriku, yaitu firman-Nya: {يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلالَةِ} Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah).

Katakanlah, “Allah memberi fatwa kepada kalian tentang katalah.” (An-Nisa: 176) Seakan-akan makna ayat —hanya Allah Yang lebih mengetahui— bahwa mereka meminta fatwa kepadamu tentang kalalah. ******* {يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلالَةِ} Katakanlah, “Allah memberi fatwa kepada kalian tentang kala­lah.” (An-Nisa: 176) Yakni perihal mewaris secara kalalah. Lafaz yang disebutkan ini me­nunjukkan adanya lafaz yang tidak disebutkan. Dalam pembahasan yang lalu telah diterangkan makna lafaz ka­lalah dan akar katanya, bahwa kalalah itu diambil dari pengertian un­taian bunga yang dikalungkan di atas kepala sekelilingnya.

Karena itulah mayoritas ulama menafsirkannya dengan pengertian orang yang meninggal dunia dalam keadaan tidak mempunyai anak, tidak pula orang tua. Menurut salinan yang lain, tidak mempunyai anak, tidak pula cucu. Sebagian ulama mengatakan bahwa kalalah ialah orang yang tidak mempunyai anak. Seperti yang ditunjukkan oleh pengertian ayat ini, yaitu firman-Nya: {إِنِ امْرُؤٌ هَلَكَ} {لَيْسَ لَهُ وَلَدٌ} jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak, (An-Nisa: 176) Sesungguhnya hukum masalah kalalah ini sulit dipecahkan oleh Amirul Mu’minin Umar ibnul Khattab r.a.. seperti yang disebutkan di da­lam kitab Ash-Shahihain darinya, bahwa ia telah mengatakan: ثَلَاثٌ وَدِدْتُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلم كان عَهِدَ إِلَيْنَا فِيهِنَّ عَهْدًا نَنْتَهِي إِلَيْهِ: الْجَدُّ، وَالْكَلَالَةُ، وَأَبْوَابٌ مِنْ أَبْوَابِ الرِّبَا. Ada tiga perkara yang sejak semula aku sangat menginginkan bi­la Rasulullah Saw. memberikan keterangan kepada kami tentang­nya dengan keterangan yang sangat memuaskan kami, yaitu ma­salah kakek, masalah kalalah, dan salah satu bab mengenai masalah riba. قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي عَرُوبة، عَنْ قَتَادة، عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الجَعْد، عَنْ مَعْدان بْنِ أَبِي طَلْحَةَ قَالَ: قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ: مَا سألتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ شَيْءٍ أَكْثَرَ مِمَّا سَأَلْتُهُ عَنِ الْكَلَالَةِ، حَتَّى طَعَنَ بأُصْبُعِه فِي صَدْرِي وَقَالَ: ” يَكْفِيكَ آيَةُ الصَّيْفِ الَّتِي فِي آخِرِ سُورَةِ النِّسَاءِ”.

        Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail, dari Sa’id ibnu Abu Arubah, dari Qatadah, dari Salim ibnu Abul Ja’d, dari Ma’dan ibnu Abu Talhah yang menceritakan bahwa Umar ibnul Khattab pernah mengatakan bahwa ia belum pernah menanyakan ke­pada Rasulullah Saw. suatu masalah pun yang lebih banyak dari per­tanyaannya tentang masalah kalalah, sehingga Rasulullah Saw. menotok dada Umar dengan jari telunjuknya seraya bersabda: Cukuplah bagimu ayat saif (ayat yang diturunkan di musim pa­nas) yang terdapat di akhir surat An-Nisa. Demikianlah riwayat Imam Ahmad secara singkat. Imam Muslim mengetengahkannya dengan lafaz yang panjang dan lebih banyak daripada riwayat Imam Ahmad. Jalur lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad. قَالَ [الْإِمَامُ] أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيم، حَدَّثَنَا مالك -يعني ابن مِغْل-سَمِعْتُ الْفَضْلَ بْنَ عَمْرٍو، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ عُمَرَ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْكَلَالَةِ، فَقَالَ: ” يَكْفِيكَ آيَةُ الصَّيْفِ “. فَقَالَ: لَأَنْ أَكُونَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْهَا أحبَّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ يكونَ لِي حُمْر النَّعم.

       Disebutkan bahwa te­lah menceritakan kepada kami Abu Na’im, telah menceritakan kepada kami Malik (yakni Ibnu Magul) yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Al-Fadl ibnu Amr, dari Ibrahim, dari Umar yang menga­takan, Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang masalah kalalah. Maka beliau Saw. menjawab: “Cukuplah bagimu ayat saif.” Umar mengatakan, “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang kalalah lebih aku sukai daripada aku mempunyai ternak unta yang merah.” Sanad hadis ini jayyid, hanya di dalamnya terdapat inqita’ (mata rantai sanad yang terputus) antara Ibrahim dan Umar, karena sesungguhnya Ibrahim tidak menjumpai masa Umar r.a. قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ، حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنِ البَراءِ بْنِ عازبٍ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَهُ عَنِ الْكَلَالَةِ، فَقَالَ: ” يَكْفِيكَ آيَةُ الصَّيْفِ “. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Adam, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar, dari Abu Ishaq, dari Al-Barra ibnu Azib yang menceritakan bahwa se­orang lelaki datang kepada Nabi Saw. dan menanyakan kepadanya tentang masalah kalalah. Maka Nabi Saw. menjawab:
       Cukuplah bagimu ayat saif. Sanad hadis ini jayyid, diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Imam Turmuzi melalui Abu Bakar ibnu Ayyasy dengan lafaz yang sama. Seakan-akan yang dimaksud dengan ayat saif ialah ayat yang diturun­kan pada musim panas. Mengingat Nabi Saw. memberikan petunjuk kepadanya untuk memahami ayat tersebut, hal ini berarti di dalam ayat terkandung ke­cukupan yang nisbi untuk tidak menanyakannya kepada Nabi Saw. tentang maknanya. Karena itulah maka Khalifah Umar r.a. mengata­kan, “Sesungguhnya jika aku menanyakan kepada Rasulullah Saw. tentang masalah kalalah ini, lebih aku sukai daripada aku mempunyai ternak unta yang merah.” قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنَا ابْنُ وَكِيعٍ، حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنِ الشَّيْبَانِيِّ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرة، عَنْ سَعِيدِ بْنِ المسيَّب قَالَ: سَأَلَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْكَلَالَةِ، فَقَالَ: ” أَلَيْسَ قَدْ بَيَّنَ اللَّهُ ذَلِكَ؟ ” فَنَزَلَتْ: {يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللهُ يُفْتِيكُمْ فِي الكَلالَةِ]} الْآيَةَ. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Waki’. telah menceritakan kepada kami Jarir. telah menceritakan ke­pada kami Asy-Syaibani, dari Amr ibnu Murrah, dari Sa’id ibnul Musayyab yang menceritakan bahwa Umar r.a. pernah bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang masalah kalalah. Maka Nabi Saw. men­jawab: Bukankah Allah telah menjelaskan hal tersebut?

        Lalu turunlah firman-Nya: Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). (An-Nisa: 176), hingga akhir ayat. Qatadah mengatakan, telah diceritakan kepada kami bahwa Khalifah Abu Bakar As-Siddiq mengatakan di dalam khotbahnya: Ingatlah, sesungguhnya ayat yang diturunkan pada permulaan surat An-Nisa berkenaan dengan masalah faraid, Allah menurun­kannya untuk menjelaskan warisan anak dan orang tua. Ayat yang kedua diturunkan oleh Allah untuk menjelaskan warisan suami, istri, dan saudara-saudara lelaki seibu. Ayat yang meng­akhiri surat An-Nisa diturunkan oleh Allah untuk menjelaskan warisan saudara-saudara laki-laki dan perempuan yang seibu seayah (sekandung). Dan ayat yang mengakhiri surat Al-Anfal diturunkan berkenaan dengan masalah orang-orang yang mem­punyai hubungan darah satu sama lain yang lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitabullah sesuai dengan ketentuan asabah dari hubungan darah.

AYAT 174-175 AN NISAK

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
JILIK 2 AYAT 174-175 AN NISAK
BIS MILLAH HIR RAHMAN NIR RAHIM,.
Ayat 174 Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 174 Ya_ ayyuhan na_su qad ja_'akum burha_num mir rabbikum wa anzalna_ ilaikum nu_ram mubina_(n). 4:175 Ayat 175 Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 175 Fa ammal lazina a_manu_ billa_hi wa'tasamu_ bihi fa sayudkhiluhum fi rahmatim minhu wa fadli(w), wa yahdihim ilaihi sira_tam mustaqima_(n).

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian bukti ke­benaran dari Tuhan kalian, (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepada kalian cahaya yang terang ben­derang (Al-Qur’an). Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepa­da jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.” (An-Nisaa’ ayat 174-175)

      Allah Swt. berfirman, ditujukan kepada semua umat manusia dan se­bagai pemberitahuan kepada mereka, bahwa sesungguhnya telah datang kepada mereka bukti kebenaran yang besar dari Allah Swt., yaitu dalil yang pasti yang membantah semua alasan, dan hujah yang mele­nyapkan semua kerumitan. Karena itulah disebutkan pada permulaan ayat melalui firman-Nya: {وَأَنزلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا} dan telah Kami turunkan kepada kalian cahaya yang terang ben­derang. (An-Nisa: 174) Yaitu cahaya yang terang dan jelas menunjukkan perkara yang hak.

      Menurut Ibnu Juraij dan lain-lainnya, makna yang dimaksud ialah Al-Qur’an. {فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَاعْتَصَمُوا بِهِ} Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya (An-Nisa: 175) Yakni memadukan antara ibadah dan bertawakal kepada Allah dalam semua urusan mereka. Ibnu Juraij mengatakan bahwa makna yang di­maksud ialah “orang-orang yang beriman dan berpegang teguh ke­pada Al-Qur’an”. Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir. {فَسَيُدْخِلُهُمْ فِي رَحْمَةٍ مِنْهُ وَفَضْلٍ} niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya dan limpahan karunia-Nya. (An-Nisa: 175)

       Allah belas kasihan kepada mereka, maka Dia memasukkan mereka ke dalam surga dan menambahkan kepada mereka pahala yang berlipat ganda; derajat mereka ditinggikan berkat karunia Allah kepada mereka dan kebaikan-Nya. {وَيَهْدِيهِمْ إِلَيْهِ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا} Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya. (An-Nisa: 175) Yaitu jalan yang jelas, tujuan yang lurus, tidak ada bengkoknya dan tidak ada penyimpangan. Demikianlah gambaran tentang orang-orang mukmin di dunia dan akhirat. Di dunia mereka berada pada tuntunan yang lurus dan ja­lan keselamatan dalam semua akidah dan amaliyahnya, sedangkan di akhirat berada pada jalan Allah yang lurus yang menghantarkan me­reka ke taman-taman surga-Nya.

     Di dalam hadis Al-Haris Al-A’war, dari Ali ibnu Abu Talib r.a., dari Nabi Saw. disebutkan bahwa Nabi Saw. pernah bersabda: ” الْقُرْآنُ صراطُ اللهِ المستقيمُ وحبلُ اللَّهِ الْمَتِينُ ” Al-Qur’an adalah jalan Allah yang lurus dan tali Allah yang kuat. Hadis ini secara lengkap telah disebutkan pada permulaan kitab tafsir ini, hanya milik Allah-lah segala puji dan karunia.

AYAT 171-173 AN NISAAK

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK,.
JILIK 2 AYAT 171-173 AN NISAAK,.
BIS MILLAH HIR RAHMAN NIR RAHIM,.
Ayat 171 Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 171 Ya_ ahlal kita_bi la_ taglu_ fi dinikum wa la_ taqu_lu_'alallu_hi illal haqq(a), innamal masihu 'isabnu maryama rasu_lulla_hi wa kalimatuh(a_), alqa_ha_ ila_ maryama wa ru_hum minh(u), fa a_minu_ billa_hi warusulih(i), wa la_ taqu_lu_ sala_sah(tun), intahu_ khairal lakum, innamalla_hu ila_huw wa_hid(un), subha_nahu_ an taka_na lahu_ walad(un), lahu_ ma_ fis sama_wa_ti wa ma_ fil ard(i), wa kafa_ billa_hi wakila_(n). 4:172 Ayat 172 Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 172 Lay yastankifal masihu ay yaku_na 'abdala lilla_hi wa lal mala_'ikatul muqarrabu_n(a), wa may yastankif 'an 'iba_datihi wa yastakbir fa sayahsyuruhum ilaihi jami'a_(n). 4:173 Ayat 173 Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 173 Fa ammal lazina a_manu_ wa'amilus sa_liha_ti fa yuwaffihim uju_rahum wa yaziduhum min fadlih(i), wa ammal lazinastankafu_ wastakbaru_ fa yu'azzibuhum'aza_ban alima_(w), wa la_ yajidu_na lahum min du_nilla_hi waliyyaw wa la_ nasira_(n).
“Wahai Ahli Kitab, janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian, dan janganlah kalian mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al-Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang terjadi dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kalian kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kalian mengatakan, ‘(Tuhan itu) tiga,’ berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagi kalian. Sesung­guhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Mahasuci Allah dari mem­punyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah untuk menjadi Pemelihara.”“Al-Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah). Barang siapa yang enggan dari menyembah-Nya dan me­nyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya. Adapun orang-orang yang beriman dan ber­buat amal saleh, maka Allah akan menyempurnakan pahala me­reka dan menambah untuk mereka sebagian dari karunia-Nya. Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih, dan mereka tidak akan memperoleh bagi diri mereka pelindung dan penolong selain dari Allah.” (An-Nisaa’ ayat 171-173)
     
       Allah Swt. melarang Ahli Kitab bersikap melampaui batas dan me­nyanjung secara berlebihan. Hal ini banyak dilakukan oleh orang-orang Nasrani, karena sesungguhnya mereka melampaui batas sehu­bungan dengan Isa. Mereka mengangkatnya di atas kedudukan yang telah diberikan oleh Allah kepadanya, lalu memindahkannya dari tingkat kenabian sampai menjadikannya sebagai tuhan selain Allah yang mereka sembah sebagaimana mereka menyembah Dia. Bahkan pengikut dan golongannya —yaitu dari kalangan orang-orang yang mengakui bahwa dirinya berada dalam agamanya (Isa)— bersikap berlebihan pula, lalu mereka mengakui dirinya terpelihara dari kesalahan. Akhirnya para pengikut mereka mengikuti semua yang dikatakannya, baik hak atau batil, baik sesat atau benar, baik jujur ataupun dusta. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya: اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mere­ka sebagai tuhan selain Allah. (Ai-Taubah: 31), hingga akhir ayat. قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا هُشَيم قَالَ: زَعَمَ الزُّهْرِي، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبة بْنِ مَسْعُودٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنْ عُمَرَ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم قال: “لَا تُطْرُوني كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ”.

        Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasyim yang mengatakan bahwa Az-Zuhri menduga dari Ubaidillah ibnu Ab­dullah ibnu Atabah ibnu Mas’ud, dari Ibnu Abbas, dari Umar, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:Janganlah kalian menyanjung-nyanjung diriku sebagaimana orang-orang Nasrani menyanjung-nyanjung Isa putra Maryam. Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang hamba, maka katakan­lah, “Hamba dan utusan Allah.” Ali ibnul Madini mengatakan bahwa predikat hadis ini sahih lagi musnad. Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Al-Humaidi. dari Sufyan ibnu Uyaynah, dari Az-Zuhri yang lafaznya berbunyi seperti berikut: “فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُولُوا: عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ” Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah, “Hamba Allah dan Rasul-Nya.” قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ مُوسَى، حَدَّثَنَا حمَّاد بْنِ سَلَمَة، عَنْ ثَابِتٍ البُناني، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ: أَنَّ رَجُلًا قَالَ: مُحَمَّدٌ يَا سَيِّدَنَا وَابْنَ سَيِّدِنَا، وَخَيْرَنَا وَابْنَ خَيْرِنَا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “يَا أَيُّهَا النَّاسُ، عَلَيْكُمْ بِقَوْلِكُمْ، وَلَا يَسْتَهْويَنَّكُمُ الشيطانُ، أَنَا محمدُ بنُ عَبْدِ اللَّهِ، عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، وَاللَّهِ مَا أُحِبُّ أَنْ تَرْفَعُونِي فَوْقَ مَنْزِلَتِي الَّتِي أَنْزَلَنِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ”

         Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Sabit Al-Bannani, dari Anas ibnu Malik, bahwa seorang lelaki pernah mengatakan, “Ya Muhammad, ya tuan kami, anak tuan kami yang paling baik dari kami, dan anak orang yang paling baik dari kami.” Maka Rasulullah Saw. bersabda: Hai manusia, peliharalah ucapan kalian, dan jangan sekali-kali setan menjerumuskan kalian. Aku adalah Muhammad ibnu Ab­dullah, hamba Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah, aku tidak suka bila kalian mengangkatku di atas kedudukanku yang telah diberi­kan oleh Allah Swt. kepadaku. Dalam ayat Selanjutnya disebutkan: {إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ} Sesungguhnya Al-Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan(yang terjadi dengan) kalimat-Nya yang disampaikan­Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. (An-Nisa: 171) Sesungguhnya Isa itu hanyalah seorang hamba Allah dan makhluk yang diciptakan-Nya. Allah berfirman kepadanya, “Jadilah kamu,” maka jadilah dia. Dia (Isa) hanyalah utusan-Nya dan kalimat-Nya yang Allah sampaikan kepada Maryam. Dengan kata lain, Allah menciptakan Isa melalui kalimat perintah yang disampaikan oleh Malaikat Jibril a.s. dari Allah Swt. kepada Maryam. Lalu Malaikat Jibril me­niupkan roh ciptaan-Nya ke dalam tubuh Maryam dengan seizin Allah. Maka jadilah Isa dengan seizin Allah. Embusan itu ditiupkan oleh Malaikat Jibril ke dalam baju kurung Maryam, lalu tiupan itu turun hingga masuk ke dalam farjinya, sama kedudukannya dengan pembuahan yang dilakukan oleh seorang lelaki kepada istrinya: semuanya adalah makhluk Allah Swt. Karena itu, di­katakan bahwa Isa adalah kalimat Allah dan roh dari ciptaan-Nya, mengingat kejadiannya tanpa melalui proses seorang ayah. Sesung­guhnya ia timbul dari kalimah yang diucapkan oleh Allah melalui Jib­ril kepada Maryam, yaitu kalimat kun (Jadilah), maka jadilah Isa, dan roh yang dikirimkan oleh Allah kepada Maryam melalui Jibril. Allah Swt berfirman: {مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ كَانَا يَأْكُلانِ الطَّعَامَ} Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang rasul yang sesung­guhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya se­orang yang sangat benar, keduanya biasa memakan makanan. (Al-Maidah: 75) Dalam Surat Al-Maidah pada ayat lainnya Allah Swt. berfirman: {لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ} Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, “Se­sungguhnya Allah itu ialah Al-Masih putra Maryam.” (Al-Maidah: 17 dan 72), hingga akhir ayat. Orang-orang Nasrani —la’natullahi ‘alaihim— karena kebodohan mereka, maka mereka tidak ada pegangan; kekufuran mereka tidak terbatas, bahkan ucapan dan kesesatannya sudah parah. Ada yang beranggapan bahwa Isa putra maryam adalah Tuhan, ada yang menganggapnya sebagai sekutu, dan ada yang menganggapnya sebagai anak.

           Mereka terdiri atas berbagai macam sekte yang cukup banyak jumlahnya; masing-masing mempunyai pendapat yang berbeda, dan penda­pat mereka tidak ada yang sesuai, semuanya bertentangan. Salah seorang ahli ilmu kalam (Tauhid) mengatakan suatu penda­pat yang tepat, bahwa seandainya ada sepuluh orang Nasrani berkum­pul, niscaya pendapat mereka berpecah-belah menjadi sebelas penda­pat. Salah seorang ulama Nasrani yang terkenal di kalangan mereka (yaitu Sa’id ibnu Patrik yang tinggal di Iskandaria pada sekitar tahun empat ratus Hijriah) menyebutkan bahwa mereka mengadakan suatu pertemuan besar yang di dalamnya mereka melakukan suatu misa be­sar. Padahal sesungguhnya hal tersebut tiada lain hanyalah suatu pengkhianatan yang hina lagi rendah. Hal ini terjadi pada masa Kon­stantinopel, pembangun kota yang terkenal itu. Lalu mereka berselisih pendapat dalam pertemuan tersebut dengan perselisihan yang tidak terkendali dan tidak terhitung banyaknya pendapat yang ada. Jumlah mereka lebih dari dua ribu uskup. Mereka menjadi golongan yang banyak lagi berpecah belah. Setiap lima puluh orang dari mereka mem­punyai pendapat sendiri, dan setiap dua puluh orang dari mereka mempunyai pendapat sendiri, setiap seratus orang dari mereka ada yang mempunyai pendapatnya sendiri, dan setiap tujuh puluh orang mem­punyai pendapatnya sendiri, ada pula yang lebih dan kurang dari jumlah tersebut mempunyai pendapat yang berbeda.

       Karena itu, dalam ayat ini disebutkan melalui firman-Nya: {انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ} berhentilah kalian (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagi kalian. (An-Nisa: 171) Maksudnya, akan lebih baik bagi kalian. {إِنَّمَا اللَّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ} Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Mahasuci Allah da­ri mempunyai anak. (An-Nisa: 171) Yakni Mahasuci lagi Mahatinggi Allah dari hal tersebut dengan ke­tinggian yang setinggi-tingginya. {لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلا} Segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cu­kuplah Allah untuk menjadi Pemelihara. (An-Nisa: 171) Artinya, semuanya adalah makhluk dan milik Allah, dan semua yang ada di antara keduanya adalah hamba-hamba-Nya, mereka berada da­lam pengaturan dan kekuasaan-Nya. Dialah Yang memelihara segala sesuatu, mana mungkin bila dikatakan bahwa Dia mempunyai istri dan anak dari kalangan mereka. Dalam ayat yang lain disebutkan me­lalui firman-Nya: {بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ أَنَّى يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ} Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak. (Al-An’am: 101), hingga akhir ayat. Allah Swt. telah berfirman dalam ayat yang lain, yaitu: وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا. لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا Dan mereka berkata, “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak” Sesungguhnya kalian telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. (Maryam: 88-89)

    HINGGA sampai dengan firman-Nya: فَرْدًا dengan sendiri-sendiri. (Maryam: 95)Menurut pendapat yang lain, sesungguhnya para malaikat dise­butkan dalam ayat ini tiada lain karena mereka dijadikan sebagai tu­han-tuhan selain Allah, sebagaimana Al-Masih dijadikan tuhan. Maka Allah Swt. memberitahukan bahwa mereka semuanya adalah hamba-hamba-Nya dan makhluk-Nya, seperti yang disebutkan di dalam fir­man-Nya: وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ Dan mereka berkata, “Tuhan Yang Maha Pemurah telah meng­ambil(mempunyai) anak,” Mahasuci Allah. Sebenarnya (malai­kat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan. (Al-Anbiya: 26)

        hingga beberapa ayat selanjutnya. Karena itu. dalam firman selanjut­nya dari ayat ini disebutkan: {وَمَنْ يَسْتَنْكِفْ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيَسْتَكْبِرْ فَسَيَحْشُرُهُمْ إِلَيْهِ جَمِيعًا} Barang siapa yang enggan dari menyembah-Nya dan menyom­bongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua ke­pada-Nya. (An-Nisa: 172) Yaitu kelak Allah Swt. akan mengumpulkan semuanya di hari kiamat, dan Dia akan memutuskan di antara mereka dengan hukum-Nya yang adil lagi tidak aniaya dan tidak ada penyimpangan (berat sebelah). Dalam ayat berikutnya disebutkan: {فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَيُوَفِّيهِمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدُهُمْ مِنْ فَضْلِهِ} Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh, ma­ka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambah untuk mereka sebagian dari karunia-Nya. (An-Nisa: 173)
         Artinya, Allah akan memberi mereka pahala yang sesuai dengan amal salehnya, dan memberikan tambahan kepada mereka atas hal tersebut dari karunia, kebaikan, anugerah, rahmat, dan keluasan-Nya. وَقَدْ رَوَى ابْنُ مَرْدُوَيه مِنْ طَرِيقِ بَقِيَّة، عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْكِنْدِيِّ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ سُفْيَانَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ {فَيُوَفِّيهِمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدُهُمْ مِنْ فَضْلِهِ} قال: أُجُورُهُمْ: أَدْخَلَهُمُ الْجَنَّةَ”. {وَيَزِيدُهُمْ مِنْ فَضْلِهِ} قَالَ: “الشَّفَاعَةُ فِيمَنْ وَجَبَتْ لَهُ النَّارُ مِمَّنْ صَنَعَ إِلَيْهِمُ الْمَعْرُوفَ فِي دُنْيَاهُمْ”. Ibnu Murdawaih meriwayatkan dari jalur Baqiyyah, dari Ismail ibnu Abdullah Al-Kindi, dari Al-A’masy, dari Sufyan, dari Abdullah secara marfu’, bahwa Rasulullah Saw membaca firman-Nya: maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menam­bah untuk mereka sebagian dari karunia-Nya. (An-Nisa: 173)

        Yakni pahala mereka sepenuhnya. Lalu Rasulullah Saw. bersabda menafsirkannya: Allah memasukkan mereka ke dalam surga. Adapun untuk firman Allah Swt. berikut ini: dan menambah untuk mereka sebagian dari karunia-Nya. (An-Nisa: 173) Nabi Saw. bersabda menafsirkan pengertian tambahan itu, yaitu: (Diizinkan oleh Allah memberi) syafaat terhadap orang yang telah dipastikan baginya masuk neraka, dari kalangan orang-orang yang pernah berbuat kebaikan kepada mereka ketika di dunianya. Akan tetapi, sanad hadis ini tidak kuat; dan apabila memang benar di­riwayatkan dari Abdullah ibnu Mas’ud secara mauquf, maka predikat­nya jayyid (baik). * {وَأَمَّا الَّذِينَ اسْتَنْكَفُوا وَاسْتَكْبَرُوا} Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri. (An-Nisa: 173) Yakni tidak mau taat kepada Allah dan tidak mau menyembah-Nya serta menyombongkan dirinya dari hal itu. Maka dalam firman selan­jutnya disebutkan balasan mereka, yaitu: {فَيُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَلا يَجِدُونَ لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلا نَصِيرًا} maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih, dan mereka tidak akan memperoleh bagi diri mereka pelindung dan penolong selain dari Allah. (An-Nisa: 173) Ayat ini semakna dengan ayat lainnya, yaitu firman-Nya: {إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ} Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina. (Al-Mu-min: 60) Yakni dalam keadaan hina dina dan tertunduk, sebagaimana mereka congkak dan sombong ketika di dunianya.