Friday, 6 September 2019

AYAT 113-114 AT-TAUBAH

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
JILIK 2 AT-TAUBAH
Surat At-Taubah Ayat 113-114
BIISS MILLAHIR RAHMAN NIRRAHIM,.
 مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ Arab-Latin: Mā kāna lin-nabiyyi wallażīna āmanū ay yastagfirụ lil-musyrikīna walau kānū ulī qurbā mim ba'di mā tabayyana lahum annahum aṣ-ḥābul-jaḥīm

وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَنْ مَوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ ۚ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ
Arab-Latin: Wa mā kānastigfāru ibrāhīma li`abīhi illā 'am mau'idatiw wa'adahā iyyāh, fa lammā tabayyana lahū annahụ 'aduwwul lillāhi tabarra`a min-h, inna ibrāhīma la`awwāhun ḥalīm

Terjemah Arti: Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.
 Terjemah Arti: Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.
           Para ulama sepakat bahwa memohon ampunan dan rahmat bagi orang kafir sepeninggal mereka merupakan hal yang dilarang, larangan ini berdasarkan dalil-dalil sharih (jelas) dari al-Qur’an, Sunnah dan ijma’.“Aku telah meminta izin kepada Rabb-ku untuk memohonkan ampunan bagi ibuku, namun Dia tidak mengizinkan. Dan aku meminta izin untuk menziarahi (mengunjungi) kuburnya, maka Dia mengizinkan untukku. (HR. Muslim).

          Imam an-Nawawi menyebutkan ijma’ ulama akan keharaman bagi seorang muslim untuk memohon ampunan bagi orang kafir. (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzab, Imam An-Nawawi: 5/120). Oleh karena itu, tidak boleh bagi orang muslim untuk memohonkan ampunan, rahmat, keberkahan dan segala bentuk doa yang bersifat kebaikan akhirat, sebab do’a ini hanya diperuntukkan bagi orang beriman.

          Ayat ini turun karena permohonan ampunan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam untuk pamannya Abi Thalib dan permohonan ampunan sebagian sahabat untuk kedua ibu bapaknya yang musyrik. Imam Bukhari meriwayatkan dari Sa’id bin Al Musayyib dari bapaknya, bahwa bapaknya memberitahukan kepadanya, “Ketika Abu Thalib akan wafat, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam datang, dan Beliau mendapatkan di dekatnya ada Abu Jahal bin Hisyam dan Abdullah bin Abu Umayyah bin Al Mughirah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Abu Thalib, “Wahai pamanku, katakan “Laailaahaillallah” sebagai suatu kalimat yang aku akan menjadi saksi bagimu di hadapan Allah.” Abu Jahal dan Abu Umayyah pun berkata, “Wahai Abu Thalib, apakah kamu benci agama Abdul Muththalib?” Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak henti-hentinya menawarkan kepadanya, sedangkan keduanya juga mengulangi kata-kata tadi, sehingga kata-kata Abu Thalib yang terakhir kepada mereka adalah bahwa dia di atas agama Abdul Muththalib, ia menolak mengucapkan, “Laailaahaillallah.” Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan untukmu selama aku tidak dilarang.” Maka Allah Ta’ala menurunkan ayat tentangnya tersebut. Hal itu, karena memohonkan ampunan dalam keadaan seperti ini tidak bermanfaat, karena mereka mati di atas syirk atau diketahui bahwa mereka mati di atasnya, di mana ketetapan azab sudah pasti bagi mereka dan mereka mesti kekal di neraka. Syafaat maupun permohonan ampun tidaklah bermanfaat. Di samping itu, Nabi dan orang-orang yang beriman seharusnya mengikuti Tuhan mereka dalam hal ridha dan bencinya, berwala’ (mencintai) kepada mereka yang dicintai Allah dan berbara’ (membenci) mereka yang dimusuhi Allah, sedangkan memintakan ampunan kepada orang yang telah jelas sebagai penghuni neraka adalah bertentangan dengan hal itu. Kalau pun pernah dilakukan oleh kekasih Allah, yaitu Nabi Ibrahim ‘alaihis salam maka hal itu karena janji yang telah diikrarkan kepada bapaknya, dan hal itu ketika ia belum mengetahui akhir hidup bapaknya. Ketika Ibrahim mengetahui bahwa bapaknya dalah musuh Allah, ia akan mati di atas kekafiran, dan manfaat maupun peringatan tidak bermanfaat baginya, maka ia berlepas diri darinya karena mengikuti Tuhannya dan beradab terhadap-Nya. Dengan mati di atas kekafiran.

No comments:

Post a Comment