Thursday, 12 September 2019

AYAT 120 AT-TAUBAH,.


TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK,.
Surat At-Taubah Ayat 120
BIISS MILLAH HJIRRAHMAN NIRRAHIM,.
 مَا كَانَ لِأَهْلِ الْمَدِينَةِ وَمَنْ حَوْلَهُمْ مِنَ الْأَعْرَابِ أَنْ يَتَخَلَّفُوا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ وَلَا يَرْغَبُوا بِأَنْفُسِهِمْ عَنْ نَفْسِهِ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ لَا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلَا نَصَبٌ وَلَا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

Arab-Latin: Mā kāna li`ahlil-madīnati wa man ḥaulahum minal-a'rābi ay yatakhallafụ 'ar rasụlillāhi wa lā yargabụ bi`anfusihim 'an nafsih, żālika bi`annahum lā yuṣībuhum ẓama`uw wa lā naṣabuw wa lā makhmaṣatun fī sabīlillāhi wa lā yaṭa`ụna mauṭi`ay yagīẓul-kuffāra wa lā yanalụna min 'aduwwin nailan illā kutiba lahum bihī 'amalun ṣāliḥ, innallāha lā yuḍī'u ajral-muḥsinīn

 Ayat ini berisi kecaman terhadap orang-orang yang tidak ikut berperang dan memilih bersenang-senang di rumah mereka. Tidak pantas bagi penduduk madinah dan orang-orang arab badui yang berdiam di sekitar mereka, yaitu di sekitar kota madinah, tidak turut menyertai rasulullah pergi berperang, dan tidak pantas pula bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri rasul. Yang demikian itu tidak wajar, karena mereka tidak ditimpa kehausan karena panas terik dan sulitnya mendapatkan air, tidak kepayahan dan kelaparan karena terbatasnya makanan ketika berjuang di jalan Allah, dan tidak pula menginjak atau menduduki suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir lantaran keberanian dalam menegakkan kalimat Allah, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, yakni menyebabkan musuh terluka atau terbunuh, kecuali semua itu akan dituliskan oleh malaikat bagi mereka sebagai suatu amal kebajikan yang layak mendapatkan pahala dari Allah. Sungguh,
Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik dan tidaklah mereka memberikan infak, baik yang kecil maupun yang besar dan tidak pula melintasi suatu lembah dalam rangka pengabdian kepada Allah, kecuali akan dituliskan bagi mereka sebagai amal kebajikan, untuk diberi balasan oleh Allah dengan yang lebih baik dan berlipatganda daripada apa yang telah mereka kerjakan.

        DALAM beberapa riwayat tampak bahwa orang-orang badui sering menampilkan etika yang kurang baik serta kurang serius dalam agamanya. Satu riwayat dari Jabir al-Salami menyebutkan adanya seorang badui yang masuk Islam dan berbaiat pada Nabi, tapi kemudian terkena demam di Madinah. Ia datang lagi pada Nabi minta baiatnya dibatalkan, sampai tiga kali, dan tiga kali pula nabi menolaknya. Orang Arab badui itu akhirnya pergi meninggalkan Madinah. Berkenaan dengan ini Nabi berkata bahwa Madinah “menolak kotorannya dan membersihkan yang baik-baiknya” (HR Bukhari). Pada kesempatan lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang duduk makan bersama enam orang sahabatnya, kemudian masuk seorang Arab badui dan menghabiskan makanan yang ada hanya dalam dua kali suapan. “Kalau saja ia menyebut nama Allah (membaca bismillah),” ujar Nabi, “tentu makanan ini akan cukup buat kalian semua.” (HR Tirmidzi, sebagaimana disebutkan dalam Riyadh al-Shalihin). Pernah ada seorang Arab badui mendatangi rumah Nabi dan mengintip pada celah pintu beliau. Nabi mengambil anak panah atau tongkat yang tajam dan mengarahkannya pada orang badui itu seolah-olah hendak mencungkil matanya. Si badui pun pergi dari tempat itu.” (HR Bukhari dalam Adab al-Mufrad). “Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui yang berdiam di sekitar mereka tidak turut menyertai Rasulullah (untuk pergi berperang), dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan, dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (At-Taubah ayat 120)  SEDEMIKIAN LAH MENURUT ULAMAK TENTANG ARAB BADUI.,.,.,

     Allah Swt. mencela orang-orang dari kalangan penduduk Madinah dan sekitarnya —yang terdiri atas orang-orang Arab Badui— yang tidak ikut perang bersama Rasulullah Saw. dalam Perang Tabuk. Mereka di­cela pula karena lebih mementingkan diri mereka sendiri daripada membantu perjuangan Rasulullah Saw. dengan alasan masyaqqat yang akan dialaminya

No comments:

Post a Comment