TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK,.
JILIK 2 AYAT 84-87.,
BISS-MILLAHIR-RAHMAN-NIR-RAHIM.,
Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 84
Fa qa_til fi sabililla_h(i), la_ tukallafu illa_ nafsaka wa harridil mu'minin(a),'asalla_hu ay yakuffa ba'sal lazina kafaru_, walla_hu asyaddu ba'saw wa asyaddu tankila_(n).
4:85
Ayat 85
Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 85
Wa may yasyfa' syafa_'tan hasanatay yakul lahu_ nasibum minha_, wa may yasyfa' syafa_'atan sayyi'atay yakul lahu_ kiflum minha_, wa ka_nalla_hu 'ala_ kulli syai'im muqita_(n).
4:86
Ayat 86
Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 86
Wa iza_ huyyitum bi tahiyyatin fa hayyu_ bi ahsana minha_ au ruddu_ha_, innalla_ha 'ala_ kulli syai'in hasiba_(n).
4:87
Ayat 87
Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 87
Alla_hu la_ ila_ha illa_ huw(a), layajma'annakum ila_ yaumil qiya_mati la_ raiba fih(i), wa man asdaqu minalla_hi hadisa_(n).
فَقاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا تُكَلَّفُ إِلاَّ نَفْسَكَ وَحَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَكُفَّ بَأْسَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَاللَّهُ أَشَدُّ بَأْساً وَأَشَدُّ تَنْكِيلاً (84) مَنْ يَشْفَعْ شَفاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْها وَمَنْ يَشْفَعْ شَفاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْها وَكانَ اللَّهُ عَلى كُلِّ شَيْءٍ مُقِيتاً (85) وَإِذا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْها أَوْ رُدُّوها إِنَّ اللَّهَ كانَ عَلى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيباً (86) اللَّهُ لَا إِلهَ إِلاَّ هُوَ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلى يَوْمِ الْقِيامَةِ لَا رَيْبَ فِيهِ وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثاً (87)
Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat orang-orang mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan-{Nya). Barang siapa yang memberikan syafaat yang baik, niscaya ia akan memperoleh bagian (pahala) darinya. Dan barang siapa yang memberi syafaat yang buruk, niscaya ia akan memikul bagian (dosa) darinya. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Apabila kalian diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik darinya. atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah selalu membuat perhitungan atas tiap-tiap sesuatu. Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. Sesungguhnya Dia akan mengumpulkan kalian di hari kiamat, yang tidak ada keraguan padanya. Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan(nya) daripada Allah?
Allah Swt. memerintahkan kepada hamba dan Rasul-Nya (yaitu Nabi Muhammad Saw.) untuk ikut terjun ke dalam kancah peperangan, berjihad di jalan Allah. Barang siapa yang menolak, tidak ikut berperang, maka tiada paksaan atas dirinya untuk mengikuti peperangan. Karena itulah disebutkan di dalam firman-Nya:
{لَا تُكَلَّفُ إِلا نَفْسَكَ}
tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajibanmu sendiri. (An-Nisa: 84)
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Anir ibnu Nabih, telah menceritakan kepada kami Hakkam, telah menceritakan kepada kami Al-Jarrah Al-Kindi, dari Abu Ishaq yang menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Al-Barra ibnu Azib tentang seorang lelaki yang menghadapi musuh sebanyak seratus orang, tetapi ia tetap berperang melawan mereka, yang pada akhirnya dia termasuk orang yang disebut di dalam firman-Nya: dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan. (Al-Baqarah: 195) Maka Al-Barra ibnu Azib menjawab bahwa Allah Swt. telah berfirman pula kepada Nabi-Nya, yaitu: Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat orang-orang mukmin (untuk berperang). (An-Nisa: 84) Dengan kata Lain, lelaki tersebut tidak termasuk ke dalam larangan yang disebutkan ayat di atas.
Imam Ahmad meriwayatkannya melalui Sulaiman ibnu Daud, dari Abu Bakar ibnu Ayyasy, dari Abu Ishaq yang menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Al-Barra mengenai seorang lelaki yang maju sendirian melawan orang-orang musyrik yang jumlahnya banyak, apakah dia termasuk orang yang menjatuhkan dirinya ke dalam kebinasaan?
Al-Barra menjawabnya tidak, karena sesungguhnya Allah mengutus Rasul-Nya dan berfirman kepadanya: Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. (An-Nisa: 84) Sesungguhnya hal yang kamu sebutkan hanyalah menyangkut masalah nafkah.
Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Murdawaih melalui jalur Abu Bakar ibnu Ayyasy dan Ali ibnu Abu Saleh, dari Abu Ishaq, dari Al-Barra dengan lafaz yang sama.
Kemudian Ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Ahmad, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Nadr Al-Askari, telah menceritakan kepada kami Muslim ibnu Abdur Rahman Al-Harsi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Himyar, telah menceritakan kepada kami Sufyan As'-Sauri, dari Abu Ishaq, dari Al-Barra yang menceritakan bahwa ketika diturunkan kepada Nabi Saw. ayat berikut, yaitu firman-Nya: Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat orang-orang mukmin (untuk berperang). (An-Nisa: 84), hingga akhir ayat. Lalu Nabi Saw. bersabda kepada sahabat-sahabatnya:Menurut Ibnu Abbas, Ata, Atiyyah, Qatadah, dan Matar Al-Warraq, yang dimaksud dengan {مُقِيتًا} ialah Yang Maha Memelihara.
Menurut Mujahid, lafaz {مُقِيتًا} artinya Maha Menyaksikan. Menurut riwayat yang lain darinya, makna yang dimaksud ialah Maha Menghitung.
Sa'id ibnu Jubair, As-Saddi, dan Ibnu Zaid mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah Yang Mahakuasa.
Menurut Abdullah ibnu Kasir, makna yang dimaksud ialah Yang Maha Mengawasi.
Menurut Ad-Dahhak, al-muqit artinya Yang Maha Memberi Rezeki.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahim ibnu Mutarrif, telah menceritakan kepada kami Isa ibnu Yunus, dari Ismail, dari seorang lelaki, dari Abdullah ibnu Rawwahah, bahwa ia pernah ditanya oleh seorang lelaki tentang makna firman-Nya: Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (An-Nisa: 85)
Maka ia menjawab bahwa Allah membalas setiap orang sesuai dengan amal perbuatannya.
*******************
Firman Allah Swt.:
وَإِذا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْها أَوْ رُدُّوها
Apabila kalian diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik darinya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). (An-Nisa: 86)
Apabila seorang muslim mengucapkan salam kepada kalian, maka balaslah salamnya itu dengan salam yang lebih baik darinya, atau balaslah ia dengan salam yang sama. Salam lebihan hukumnya sunat, dan salam yang semisal hukumnya fardu.
قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنِي مُوسَى بْنُ سَهْلٍ الرَّمْلِيُّ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ السَّري الْأَنْطَاكِيُّ، حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ لَاحِقٍ، عَنْ عَاصِمٍ الْأَحْوَلِ، عَنْ أَبِي عُثْمَانَ النَّهْدي، عَنْ سَلْمَانَ الْفَارِسِيِّ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ. فَقَالَ: "وَعَلَيْكَ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ". ثُمَّ أَتَى آخر فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَرَحْمَةُ اللَّهِ. فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "وَعَلَيْكَ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ". ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ فَقَالَ لَهُ: "وَعَلَيْكَ" فَقَالَ لَهُ الرَّجُلُ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي، أَتَاكَ فُلَانٌ وَفُلَانٌ فَسَلَّمَا عَلَيْكَ فَرَدَدْتَ عَلَيْهِمَا أَكْثَرَ مِمَّا رَدَدْتَ عَلَيَّ. فَقَالَ: "إِنَّكَ لَمْ تَدَعْ لَنَا شَيْئًا، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا} فَرَدَدْنَاهَا عَلَيْكَ".
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Sahl Ar-Ramli, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnus Sirri Al-Intaki, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Lahiq, dari Asim Al-Ahwal, dari Abu Usman An-Nahdi, dari Salman Al-Farisi yang menceritakan bahwa ada seorang lelaki datang kepada Nabi Saw., lalu ia mengucapkan, "Assalamu 'alaika, ya Rasulullah (semoga keselamatan terlimpahkan kepadamu, wahai Rasulullah)." Maka Rasulullah Saw. menjawab: Semoga keselamatan dan rahmat Allah terlimpahkan atas dirimu. Kemudian datang pula lelaki yang lain dan mengucapkan, "Assalamu 'alaika, ya Rasulullah, warahmatullahi (semoga keselamatan dan rahmat Allah terlimpahkan kepadamu, wahai Rasulullah)." Maka beliau Saw. menjawab: Semoga keselamatan dan rahmat serta berkah Allah terlimpahkan atas dirimu. Lalu datang lagi lelaki yang lain dan mengucapkan, "Assalamu 'alaika, ya Rasulullah, warahmatullahi wabarakatuh (semoga keselamatan, rahmat Allah, dan berkah-Nya terlimpahkan kepadamu, wahai Rasulullah)." Maka Rasulullah Saw. menjawab: Hal yang sama semoga terlimpahkan kepadamu. Maka lelaki yang terakhir ini bertanya, "Wahai Nabi Allah, demi ayah dan ibuku yang menjadi tebusanmu, telah datang kepadamu si anu dan si anu, lalu keduanya mengucapkan salam kepadamu dan engkau menjawab keduanya dengan jawaban yang lebih banyak dari apa yang engkau jawabkan kepadaku." Maka Rasulullah Saw. bersabda: Karena sesungguhnya engkau tidak menyisakannya buatku barang sedikit pun, Allah Swt. telah berfirman, "Apabila kalian diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik darinya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). (An-Nisa: 86)," maka aku menjawabmu dengan salam yang serupa.
Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim secara mu'allaq. Untuk itu ia mengatakan, telah diriwayatkan dari Ahmad ibnul Hasan dan Imam Turmuzi, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnus Sirri Abu Muhammad Al-Intaki, bahwa Abul Hasan (seorang lelaki yang saleh) mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Lahiq, lalu ia mengetengahkan berikut sanadnya dengan lafaz yang semisal.
Abu Bakar ibnu Murdawaih meriwayatkan pula, telah menceritakan kepada kami Abdul Baqi ibnu Qani', telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Ahmad ibnu Hambal, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Lahiq Abu Usman, lalu ia mengetengahkan hadis yang semisal, tetapi aku tidak melihatnya di dalam kitab musnad.
Hadis ini mengandung makna yang menunjukkan bahwa tidak ada tambahan dalam jawaban salam yang bunyinya mengatakan, "Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Seandainya disyariatkan salam yang lebih banyak dari itu, niscaya Rasulullah Saw. menambahkannya.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ -أَخُو سُلَيْمَانَ بْنِ كَثِيرٍ -حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ عَوْفٍ، عَنْ أَبِي رَجَاءٍ العُطَاردي، عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَين؛ أَنَّ رَجُلًا جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ فَرَدَّ عَلَيْهِ ثُمَّ جَلَسَ، فَقَالَ: "عَشْرٌ". ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: "السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ. فَرَدَّ عَلَيْهِ، ثُمَّ جَلَسَ، فَقَالَ: "عِشْرُونَ". ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ. فَرَدَّ عَلَيْهِ، ثُمَّ جَلَسَ، فَقَالَ: "ثَلَاثُونَ".
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Kasir (saudara lelaki Sulaiman ibnu Kasir), telah menceritakan kepada kami Ja'far ibnu Sulaiman, dari Auf, dari Abu Raja Al-Utaridi, dari Imran ibnul Husain yang menceritakan bahwa ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah Saw., lalu mengucapkan, "Assalamu 'al'aikum, ya Rasulullah," lalu Rasulullah Saw. menjawabnya dengan jawaban yang sama, kemudian beliau duduk dan bersabda, "Sepuluh." Kemudian datang lelaki lainnya dan mengucapkan, "Assalamu 'alaikum warahmatullahi, ya Rasulullah," lalu Rasulullah Saw. menjawabnya dengan jawaban yang sama, kemudian duduk dan bersabda, "Dua puluh." Lalu datang lelaki lainnya dan bersalam, "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," maka Nabi Saw. membalasnya dengan salam yang serupa, kemudian duduk dan bersabda, "Tiga puluh."
Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, dari Muhammad ibnu Kasir. Imam Turmuzi mengetengahkannya, begitu pula Imam Nasai dan Al-Bazzar yang juga melalui hadis Muhammad ibnu Kasir. Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini berpredikat garib bila ditinjau dari sanadnya.
Dalam bab yang sama diriwayatkan pula hadis dari Abu Sa'id, Ali, dan Sahl ibnu Hanif. Al-Bazzar mengatakan bahwa hal ini telah diriwayatkan pula dari Nabi Saw. melalui berbagai jalur, dan hadis ini merupakan hadis yang paling baik sanadnya.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Harb Al-Mausuli, telah menceritakan kepada kami Humaid ibnu Abdur Rahman Ar-Rawasi, dari Al-Hasan ibnu Saleh, dari Sammak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan, "Barang siapa yang mengucapkan salam kepadamu dari kalangan makhluk Allah, jawablah salamnya, sekalipun dia adalah seorang Majusi." Demikian itu karena Allah Swt. telah berfirman: maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik darinya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). (An-Nisa: 86)
Qatadah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik darinya. (An-Nisa: 86) Yakni kepada orang-orang muslim (yang bersalam kepadamu). atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). (An-Nisa: 86) ditujukan kepada kafir zimmi.
Akan tetapi, takwil ini masih perlu dipertimbangkan, atas dasar hadis di atas tadi yang menyatakan bahwa makna yang dimaksud ialah membalas salam penghormatan dengan yang lebih baik. Apabila seorang muslim mengucapkan salam penghormatan dengan lafaz salam yang maksimal dari apa yang disyariatkan, maka balasannya adalah salam yang serupa. Terhadap ahli zimmah (kafir zimmi), mereka tidak boleh dimulai dengan salam; dan jawaban terhadap mereka tidak boleh dilebihkan, melainkan hanya dibalas dengan yang singkat, seperti yang disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمُ الْيَهُودُ فَإِنَّمَا يَقُولُ أَحَدُهُمْ: السَّامُّ عَلَيْكَ فَقُلْ: وَعَلَيْكَ"
Apabila orang Yahudi mengucapkan salam kepada kalian, maka sebenarnya yang diucapkan seseorang dari mereka adalah, "As-Samu'alaikum (kebinasaan semoga menimpa kamu), maka katakanlah, "Wa'alaika (dan semoga kamu pun mendapat yang serupa)."
Di dalam Sahih Muslim disebut melalui Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:
«لَا تبدأوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى بِالسَّلَامِ وَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فِي طَرِيقٍ فَاضْطَرُّوهُمْ إِلَى أَضْيَقِهِ»
Janganlah kalian memulai salam kepada orang Yahudi dan orang Nasrani, dan apabila kalian bersua dengan mereka di jalan, maka desaklah mereka ke tempat yang paling sempit.
Sufyan As-Sauri meriwayatkan dari seorang laki-laki, dari Al-Hasan Al-Basri yang mengatakan bahwa salam hukumnya sunat, sedangkan menjawabnya adalah wajib.
Pendapat yang dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri ini juga dikatakan oleh semua ulama, bahwa menjawab salam hukumnya wajib bagi orang yang ditujukan salam kepadanya. Maka berdosalah dia jika tidak melakukannya, karena dengan begitu berarti dia telah melanggar perintah Allah yang ada di dalam firman-Nya: maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik darinya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). (An-Nisa: 86)
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud berikut sanadnya yang sampai kepada Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أفلا أَدُلُّكُمْ عَلَى أمر إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ »
Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, kalian tidak dapat masuk surga sebelum beriman, dan kalian belum beriman sebelum saling mengasihi. Maukah aku tunjukkan kalian kepada suatu perkara; apabila kalian melakukannya, niscaya kalian akan saling mengasihi, yaitu: "Tebarkanlah salam di antara kalian."
*******************
Firman Allah Swt.:
اللَّهُ لَا إِلهَ إِلَّا هُوَ
Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. (An-Nisa: 87)
merupakan pemberitahuan tentang keesaan-Nya dan hanya Dialah Tuhan semua makhluk. Ungkapan ini mengandung qasam (sumpah) bagi firman selanjutnya, yaitu:
{لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيْبَ فِيهِ}
Sesungguhnya Dia akan mengumpulkan kalian di hari kiamat, yang tidak ada keraguan padanya. (An-Nisa: 87)
Huruf lam yang terdapat pada lafaz لَيَجْمَعَنَّكُمْ merupakan pendahuluan bagi qasam. Dengan demikian, maka firman-Nya: Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. (An-Nisa: 87) merupakan kalimat berita dan sekaligus sebagai sumpah yang menyatakan bahwa Dia kelak akan menghimpun semua manusia dari yang awal hingga yang terakhir di suatu padang (mahsyar), yakni pada hari kiamat nanti. Lalu Dia memberikan balasan kepada setiap orang yang beramal sesuai dengan amalnya masing-masing.
*******************
Firman Allah Swt.:
وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثاً
Dan siapakah yang lebih benar perkataan(nya) daripada Allah? (An-Nisa: 87)
Yakni tiada seorang pun yang lebih benar daripada Allah dalam perkataan, berita, janji, dan ancaman-Nya. Maka tidak ada Tuhan selain Dia, dan tidak ada Penguasa selain Dia.
Wednesday, 27 February 2019
Tuesday, 26 February 2019
AYAT 82-83 AN NISAA
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
JILIK 2 AYAT 82-83 AN NISAA,
BISS,MILLAHIR,RAHMAN,NIRRAHIM,.
Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 82 Afala_ yatadabbaru_nal qur'a_n(a), wa lau ka_na min'indi gairilla_hi lawajadu_ fihikhtila_fan kasira_(n). 4:83 Ayat 83 Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 83 Wa iza_ ja_'ahum amrum minal amni awil khaufi aza_'u_ bih(i), wa lau raddu_hu ilar rasu_li wa ila_ ulil amri minhum la'alimahul lazina yastambitu_nahu_ minhum, wa lau la_ fadlulla_hi 'alaikum wa rahmatuhu_ lattaba'tumusy syaita_na illa_ qalila_(n).
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an? Kalau kiranya al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS. 4:82) Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepadamu, tentulah kamu mengikuti syaitan, kecuali sebagian kecil saja (di antaramu). (QS. 4:83)”
(an-Nisaa’: 82-83) Allah berfirman, memerintahkan kepada mereka untuk merenungi al-Qur’an, serta melarang mereka berpaling darinya dan dari memahami makna-nya yang muhkam (jelas) serta lafazh-lafazh-Nya yang mencapai makna yang dimaksud. Dan Allah mengabarkan pula kepada mereka, bahwa di dalam al-Qur’an itu tidak ada hal yang bertentangan, kerancuan dan kontradiksi, karena ia diturunkan dari Rabb yang Mahabijaksana lagi Mahaterpuji. Maka al-Qur’an ini adalah kebenaran dari Allah yang Mahabenar. Untuk itu Allah berfirman yang artinya: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an, ataukah hati mereka terkunci?”
(QS. Muhammad: 24). Untuk itu mereka mengembalikan ayat-ayat yang mutasyabih kepada yang muhkam, sehingga mereka memperoleh hidayah. Sedangkan orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penyimpangan, mereka mengembalikan yang muhkam kepada yang mutasyabih, sehingga mereka sesat. Oleh karena itu Allah memuji orang-orang yang kokoh dalamnya dan mencela orang-orang yang menyimpang. Imam Ahmad meriwayatkan dari `Abdullah bin `Amr, ia berkata: “Suatu kali, aku mendatangi Rasulullah saw, lalu kami duduk-duduk. Tiba-tiba ada orang yang sedang berdebat tentang sebuah ayat, sehingga suaranya sangat keras, beliau bersabda: “Sesungguhnya binasanya umat-umat sebelum kalian disebabkan perselisihan mereka di dalam al-Kitab.”
(Diriwayatkan pula oleh Muslim dan an-Nasa’i). Imam Muslim berkata dalam mukadimah kitab Shahihnya, dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi saw. bersabda: “Cukuplah seseorang itu berdusta, jika ia selalu menceritakan setiap hal yang didengarnya.” (Juga diriwayatkan oleh Abu Dawud) Di dalam kitab ash-Shahihain, dari al-Mughirah bin Syu’bah, bahwasanya Rasulullah saw. melarang untuk berkata; “Katanya, katanya.” Yaitu, orang yang banyak bicara tentang perkataan orang lain, tanpa meneliti kebenarannya, tanpa memperhatikannya (terlebih dahulu) dan tanpa mencari kejelasan (tentang kebenarannya).
Di dalam Sunan Abi Dawud, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Seburuk-buruk tunggangan seseorang adalah (menyatakan) bahwa mereka menduga (begini, begini).” Di dalam shahih Bukhari: “Barangsiapa yang menceritakan sebuah cerita atau berita dan dia tahu bahwa itu dusta, maka dia termasuk salah seorang pendusta.” Di sini akan kami sebutkan hadits `Umar bin al-Khaththab yang disepakati keshahihannya ketika sampai berita kepadanya, bahwa Rasulullah saw. telah menceraikan isteri-isterinya, lalu dia mendatangi rumah beliau, hingga masuk ke dalam masjid. Di sana banyak orang yang juga mengatakan demikian. Dia tidak sabar hingga meminta izin kepada Nabi saw, lalu bertanya kepada beliau: “Apakah, engkau menceraikan isteri-isterimu?” Beliau saw. menjawab: “Tidak.” Aku pun berkata: “Allahu Akbar”. Dan dia menyebutkan terusan hadits itu. Sedangkan di dalam Shahih Muslim, aku bertanya: “Apakah engkau ceraikan mereka?” Beliau menjawab: “Tidak.” Lalu aku berdiri di pintu masjid dan berteriak sekeras-kerasnya: “Rasulullah saw. tidak menceraikan isteri-isterinya.” Dan turunlah ayat ini: wa idzaa jaa-aHum amru minal amni awil khaufi adzaa’uu biHii wa lau radduuHu ilar rasuuli wa ilaa ulil amri minHum la’alimaHul ladziina yastanbithuunaHuu minHum (“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya.
Dan kalau mereka menyerahkannya ke-pada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya [akan dapat] mengetahuinya dari mereka [Rasul dan Ulil Amri]).” Maka akulah yang mengistinbatkan (ingin mengetahui kebenaran) perkara itu. Makna mereka mengistinbatkannya, yaitu mereka mengeluarkannya dari sumber-sumbernya. Dalam bahasa Arab dikatakan: istanbathar rajulul ‘aina (“seorang mengistinbatkan mata air,”) apabila ia menggali dan mengeluarkannya dari dasarnya.
JILIK 2 AYAT 82-83 AN NISAA,
BISS,MILLAHIR,RAHMAN,NIRRAHIM,.
Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 82 Afala_ yatadabbaru_nal qur'a_n(a), wa lau ka_na min'indi gairilla_hi lawajadu_ fihikhtila_fan kasira_(n). 4:83 Ayat 83 Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 83 Wa iza_ ja_'ahum amrum minal amni awil khaufi aza_'u_ bih(i), wa lau raddu_hu ilar rasu_li wa ila_ ulil amri minhum la'alimahul lazina yastambitu_nahu_ minhum, wa lau la_ fadlulla_hi 'alaikum wa rahmatuhu_ lattaba'tumusy syaita_na illa_ qalila_(n).
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an? Kalau kiranya al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS. 4:82) Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepadamu, tentulah kamu mengikuti syaitan, kecuali sebagian kecil saja (di antaramu). (QS. 4:83)”
(an-Nisaa’: 82-83) Allah berfirman, memerintahkan kepada mereka untuk merenungi al-Qur’an, serta melarang mereka berpaling darinya dan dari memahami makna-nya yang muhkam (jelas) serta lafazh-lafazh-Nya yang mencapai makna yang dimaksud. Dan Allah mengabarkan pula kepada mereka, bahwa di dalam al-Qur’an itu tidak ada hal yang bertentangan, kerancuan dan kontradiksi, karena ia diturunkan dari Rabb yang Mahabijaksana lagi Mahaterpuji. Maka al-Qur’an ini adalah kebenaran dari Allah yang Mahabenar. Untuk itu Allah berfirman yang artinya: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an, ataukah hati mereka terkunci?”
(QS. Muhammad: 24). Untuk itu mereka mengembalikan ayat-ayat yang mutasyabih kepada yang muhkam, sehingga mereka memperoleh hidayah. Sedangkan orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penyimpangan, mereka mengembalikan yang muhkam kepada yang mutasyabih, sehingga mereka sesat. Oleh karena itu Allah memuji orang-orang yang kokoh dalamnya dan mencela orang-orang yang menyimpang. Imam Ahmad meriwayatkan dari `Abdullah bin `Amr, ia berkata: “Suatu kali, aku mendatangi Rasulullah saw, lalu kami duduk-duduk. Tiba-tiba ada orang yang sedang berdebat tentang sebuah ayat, sehingga suaranya sangat keras, beliau bersabda: “Sesungguhnya binasanya umat-umat sebelum kalian disebabkan perselisihan mereka di dalam al-Kitab.”
(Diriwayatkan pula oleh Muslim dan an-Nasa’i). Imam Muslim berkata dalam mukadimah kitab Shahihnya, dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi saw. bersabda: “Cukuplah seseorang itu berdusta, jika ia selalu menceritakan setiap hal yang didengarnya.” (Juga diriwayatkan oleh Abu Dawud) Di dalam kitab ash-Shahihain, dari al-Mughirah bin Syu’bah, bahwasanya Rasulullah saw. melarang untuk berkata; “Katanya, katanya.” Yaitu, orang yang banyak bicara tentang perkataan orang lain, tanpa meneliti kebenarannya, tanpa memperhatikannya (terlebih dahulu) dan tanpa mencari kejelasan (tentang kebenarannya).
Di dalam Sunan Abi Dawud, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Seburuk-buruk tunggangan seseorang adalah (menyatakan) bahwa mereka menduga (begini, begini).” Di dalam shahih Bukhari: “Barangsiapa yang menceritakan sebuah cerita atau berita dan dia tahu bahwa itu dusta, maka dia termasuk salah seorang pendusta.” Di sini akan kami sebutkan hadits `Umar bin al-Khaththab yang disepakati keshahihannya ketika sampai berita kepadanya, bahwa Rasulullah saw. telah menceraikan isteri-isterinya, lalu dia mendatangi rumah beliau, hingga masuk ke dalam masjid. Di sana banyak orang yang juga mengatakan demikian. Dia tidak sabar hingga meminta izin kepada Nabi saw, lalu bertanya kepada beliau: “Apakah, engkau menceraikan isteri-isterimu?” Beliau saw. menjawab: “Tidak.” Aku pun berkata: “Allahu Akbar”. Dan dia menyebutkan terusan hadits itu. Sedangkan di dalam Shahih Muslim, aku bertanya: “Apakah engkau ceraikan mereka?” Beliau menjawab: “Tidak.” Lalu aku berdiri di pintu masjid dan berteriak sekeras-kerasnya: “Rasulullah saw. tidak menceraikan isteri-isterinya.” Dan turunlah ayat ini: wa idzaa jaa-aHum amru minal amni awil khaufi adzaa’uu biHii wa lau radduuHu ilar rasuuli wa ilaa ulil amri minHum la’alimaHul ladziina yastanbithuunaHuu minHum (“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya.
Dan kalau mereka menyerahkannya ke-pada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya [akan dapat] mengetahuinya dari mereka [Rasul dan Ulil Amri]).” Maka akulah yang mengistinbatkan (ingin mengetahui kebenaran) perkara itu. Makna mereka mengistinbatkannya, yaitu mereka mengeluarkannya dari sumber-sumbernya. Dalam bahasa Arab dikatakan: istanbathar rajulul ‘aina (“seorang mengistinbatkan mata air,”) apabila ia menggali dan mengeluarkannya dari dasarnya.
Monday, 25 February 2019
AYAT 80-81 AN-NISAA
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK,
JILIK,2 AN,NISAA 80.81
-----------------------------------------------------
BISS-MILLAHIR-RAHMAN-NIRRAHIM,
-----------------------------------------------------------------
Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 80 May yuti'ir rasu_la fa qad ata_'alla_h(a), wa man tawalla_ fama_ arsalna_ka 'alaihim hafiza_(n). 4:81 Ayat 81 Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 81 Wa yaqu_lu_na ta_'ah(tun), fa iza_ barazu_ min 'indika bayyata ta_'ifatum minhum gairal lazi taqu_l(u), walla_hu yaktubu ma_ yubayyitu_n(a), fa a'rid'anhum wa tawakkal'alalla_h(i), wa kafa_ billa_hi wakila_(n).
“Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (QS. 4:80) Dan mereka (orang-orang munafik) mengatakan: ‘(Kewajiban kami hanyalah) taat.’ Tetapi apabila mereka telah pergi dari sisimu, sebahagian dari mereka mengatur siasat di malam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah mereka katakan tadi. Allah menulis siasat yang mereka atur di malam hari itu, maka berpalinglah kamu dari mereka dan bertawakkallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi Pelindung. (QS. 4:81)”
-----------------------------------------------------------------------
(an-Nisaa’: 80-81)
Allah mengabarkan tentang hamba dan Rasul-Nya, Muhammad saw, bahwa barangsiapa yang taat kepadanya, berarti ia taat kepada Allah. Dan barangsiapa yang maksiat kepadanya, maka berarti ia maksiat kepada Allah. Hal itu tiada lain karena beliau tidak berkata dari hawa nafsunya, melainkandari wahyu yang diwahyukan oleh-Nya. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullahsaw. bersabda: “Barangsiapa yang taat kepadaku, maka berarti ia taat kepada Allah. Dan barangsiapa yang maksiat kepadaku, maka berarti ia maksiat kepada Allah.
--------------------------------------------------------------------------------------------
Barangsiapa yang taat kepada amir, maka berarti ia taat kepadaku dan barangsiapa yang maksiat kepada amir, maka berarti ia maksiat kepadaku.” (Hadits ini tercantum dalam kitab ash-Shahihain dari al-A’masy). Firman-Nya: wa man tawallaa famaa arsalnaaka ‘alaiHim hafiidhan (“Dan barangsiapa yang berpaling, maka kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.”) Yaitu tidak dibebankan kepadamu. Sesungguhnya kewajibanmu hanyalah menyampaikan. Maka barangsiapa yang mengikutimu, pasti ia akan bahagia dan selamat.
--------------------------------------------------------------------------------------
Dan engkau akan mendapatkan pahala sebesar yang dihasilkan oleh orang yang mengikuti. Sedangkan barangsiapa yang berpaling darimu, maka ia akan celaka dan rugi, serta tidak ada bagimu urusan dengan mereka sedikitpun. Firman-Nya: wa yaquuluuna thaa’atun (“Dan mereka mengatakan: ‘Kewajiban kami hanyalah taat.”) Allah mengabarkan tentang orang-orang munafik, bahwa mereka menampakkan kesepakatan dan ketaatan; fa idzaa barazuu min ‘indika (“Dan jika mereka telah pergi dari sisimu.”) Yaitu apabila mereka keluar dan tersembunyi darimu, Bayyata thaa-ifum minHum ghairal ladzii taquul (“Sebagian dari mereka mengatur siasat di malam hari, lain dari yang telah mereka katakan tadi.”)
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Yaitu mereka mengadakan pertemuan rahasia di waktu malam tentang apa yang ada di antara mereka, berbeda dengan apa yang mereka nampakkan kepadamu. Maka Allah berfirman: wallaaHu yaktubu maa yubayyituun (“Allah menulis siasat yang mereka atur di malam hari itu,”) yakni Allah mengetahuinya dan mencatatnya sesuai dengan perintah yang diberikan-Nya kepada para Malaikat penjaga yang mewakili hamba-hamba-Nya. Makna ancaman ini adalah, Allah mengabarkan, bahwa Allah Mahamengetahui terhadap apa yang mereka sembunyikan dan rahasiakan di antara mereka, serta apa yang mereka lakukan di waktu malam dari penentangan dan kedurhakaan kepada Rasulullah saw, sekalipun mereka benar-benar menampakkan ketaatan dan kesepakatan terhadap beliau.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Dan Allah akan membalas mereka atas semua itu. Sebagaimana firman Allah yang artinya: “Dan mereka berkata: ‘Kami telah beriman kepada Allah dan Rasul, dan kami mentaati (keduanya).’” (QS. An-Nuur: 47) Dan firman-Nya: fa a’ridl ‘anHum (“Maka berpalinglah kamu dari mereka”) Yaitu maafkanlah, bersabarlah atas mereka dan jangan membalasnya. Janganlah engkau sebarkan perkara mereka atas orang lain dan jangan takut kepada mereka. Wa tawakkal ‘alallaaHi wa kafaa billaaHi wakiilan (“Dan bertawakkallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi pelindung.”) Yaitu, cukuplah Allah sebagai pelindung, penolong dan pendukung bagi orang yang bertawakkal dan berserah diri serta orang yang kembali kepada-Nya.
JILIK,2 AN,NISAA 80.81
-----------------------------------------------------
BISS-MILLAHIR-RAHMAN-NIRRAHIM,
-----------------------------------------------------------------
Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 80 May yuti'ir rasu_la fa qad ata_'alla_h(a), wa man tawalla_ fama_ arsalna_ka 'alaihim hafiza_(n). 4:81 Ayat 81 Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 81 Wa yaqu_lu_na ta_'ah(tun), fa iza_ barazu_ min 'indika bayyata ta_'ifatum minhum gairal lazi taqu_l(u), walla_hu yaktubu ma_ yubayyitu_n(a), fa a'rid'anhum wa tawakkal'alalla_h(i), wa kafa_ billa_hi wakila_(n).
“Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (QS. 4:80) Dan mereka (orang-orang munafik) mengatakan: ‘(Kewajiban kami hanyalah) taat.’ Tetapi apabila mereka telah pergi dari sisimu, sebahagian dari mereka mengatur siasat di malam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah mereka katakan tadi. Allah menulis siasat yang mereka atur di malam hari itu, maka berpalinglah kamu dari mereka dan bertawakkallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi Pelindung. (QS. 4:81)”
-----------------------------------------------------------------------
(an-Nisaa’: 80-81)
Allah mengabarkan tentang hamba dan Rasul-Nya, Muhammad saw, bahwa barangsiapa yang taat kepadanya, berarti ia taat kepada Allah. Dan barangsiapa yang maksiat kepadanya, maka berarti ia maksiat kepada Allah. Hal itu tiada lain karena beliau tidak berkata dari hawa nafsunya, melainkandari wahyu yang diwahyukan oleh-Nya. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullahsaw. bersabda: “Barangsiapa yang taat kepadaku, maka berarti ia taat kepada Allah. Dan barangsiapa yang maksiat kepadaku, maka berarti ia maksiat kepada Allah.
--------------------------------------------------------------------------------------------
Barangsiapa yang taat kepada amir, maka berarti ia taat kepadaku dan barangsiapa yang maksiat kepada amir, maka berarti ia maksiat kepadaku.” (Hadits ini tercantum dalam kitab ash-Shahihain dari al-A’masy). Firman-Nya: wa man tawallaa famaa arsalnaaka ‘alaiHim hafiidhan (“Dan barangsiapa yang berpaling, maka kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.”) Yaitu tidak dibebankan kepadamu. Sesungguhnya kewajibanmu hanyalah menyampaikan. Maka barangsiapa yang mengikutimu, pasti ia akan bahagia dan selamat.
--------------------------------------------------------------------------------------
Dan engkau akan mendapatkan pahala sebesar yang dihasilkan oleh orang yang mengikuti. Sedangkan barangsiapa yang berpaling darimu, maka ia akan celaka dan rugi, serta tidak ada bagimu urusan dengan mereka sedikitpun. Firman-Nya: wa yaquuluuna thaa’atun (“Dan mereka mengatakan: ‘Kewajiban kami hanyalah taat.”) Allah mengabarkan tentang orang-orang munafik, bahwa mereka menampakkan kesepakatan dan ketaatan; fa idzaa barazuu min ‘indika (“Dan jika mereka telah pergi dari sisimu.”) Yaitu apabila mereka keluar dan tersembunyi darimu, Bayyata thaa-ifum minHum ghairal ladzii taquul (“Sebagian dari mereka mengatur siasat di malam hari, lain dari yang telah mereka katakan tadi.”)
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Yaitu mereka mengadakan pertemuan rahasia di waktu malam tentang apa yang ada di antara mereka, berbeda dengan apa yang mereka nampakkan kepadamu. Maka Allah berfirman: wallaaHu yaktubu maa yubayyituun (“Allah menulis siasat yang mereka atur di malam hari itu,”) yakni Allah mengetahuinya dan mencatatnya sesuai dengan perintah yang diberikan-Nya kepada para Malaikat penjaga yang mewakili hamba-hamba-Nya. Makna ancaman ini adalah, Allah mengabarkan, bahwa Allah Mahamengetahui terhadap apa yang mereka sembunyikan dan rahasiakan di antara mereka, serta apa yang mereka lakukan di waktu malam dari penentangan dan kedurhakaan kepada Rasulullah saw, sekalipun mereka benar-benar menampakkan ketaatan dan kesepakatan terhadap beliau.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Dan Allah akan membalas mereka atas semua itu. Sebagaimana firman Allah yang artinya: “Dan mereka berkata: ‘Kami telah beriman kepada Allah dan Rasul, dan kami mentaati (keduanya).’” (QS. An-Nuur: 47) Dan firman-Nya: fa a’ridl ‘anHum (“Maka berpalinglah kamu dari mereka”) Yaitu maafkanlah, bersabarlah atas mereka dan jangan membalasnya. Janganlah engkau sebarkan perkara mereka atas orang lain dan jangan takut kepada mereka. Wa tawakkal ‘alallaaHi wa kafaa billaaHi wakiilan (“Dan bertawakkallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi pelindung.”) Yaitu, cukuplah Allah sebagai pelindung, penolong dan pendukung bagi orang yang bertawakkal dan berserah diri serta orang yang kembali kepada-Nya.
Sunday, 24 February 2019
AYAT 77-79 AN-NISAA
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK'
JILIK'2 AN NISAA., AYAT 77-79'
----------------------------------------------------------
BISS-MILLAHHIR-RAHMAN-NIR-RAHIM'
---------------------------------------------------------------
Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 77 Alam tara ilal lazina qila lahum kuffu_ aidiyakum wa aqimus sala_ta wa a_tuz zaka_h(ta), falamma_ kutiba'alaihimul qita_lu iza_ fariqum minhum yakhsyaunan na_sa ka khasyyatilla_hi au asyadda khasyyah(ti), wa qa_lu_ rabbana_ lima katabta'alainal qita_l(a), lau la_ akhkhartana_ ila_ ajalin qarib(in), qul mata_'ud dunya_ qalil(un), wal a_khiratu khairul limanittaqa_, wa la_ tuzlamu_na fatila_(n). 4:78 Ayat 78 Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 78 Ainama_ taku_nu_ yudrikkumul mautu wa lau kuntum fi buru_jim musyayyadah(tin), wa in tusibhum hasanatuy yaqu_lu_ ha_zihi min 'indilla_h(i), wa in tusibhum sayyi'atuy yaqu_lu_ ha_zihi min 'indik(a), qul kullum min 'indilla_h(i), fama_li ha_'ula_'il qaumi la_ yaka_du_na yafqahu_na hadisa_(n). 4:79 Ayat 79 Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 79 Ma_ asa_baka min hasanatin faminalla_h(i), wa ma_ asa_baka min sayyi'atin famin nafsik(a), wa arsalna_ka linna_si rasu_la_(n), wa kafa_ billa_hi syahida_(n).
“ Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: ‘Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat!’ Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: ‘Ya Rabb kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami, mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi?.’ Katakanlah: ‘Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.’ (QS. 4:77) Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkanmu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. Dan jika memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: ‘Iniadalah dari sisi Allah,’ dan kalau mereka ditimpa suatu bencana, mereka mengatakan: ‘Ini (datangnya) dari sisimu (Muhammad).’ Katakanlah: ‘Semuanya (datang) dari sisi Allah.’ Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun. (QS.4:78) Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi. (QS. 4:79)”
----------------------------------------------------------------------------
(an-Nisaa’: 77-79) Ibnu Abi Hakim mengatakan, dari Ibnu `Abbas bahwa `Abdurahmanbin `Auf dan para sahabatnya mendatangi Rasulullah saw. di Makkah, mereka berkata: “Ya, Nabi Allah! Dahulu kami berada dalam kemuliaan, padahal kami orang-orang musyrik. Akan tetapi tatkala kami telah beriman kami menjadi orang-orang hina.” Beliau menjawab: “Sesungguhnya aku diperintahkan untuk memaafkan, maka janganlah kalian memerangi kaum itu.” Lalu tatkala Allah memindahkan beliau ke kota Madinah, lalu beliau diperintahkan untuk berperang, tetapi mereka enggan untuk berangkat. Dahulu kaum mukminin di masa permulaan Islam saat di kota Makkah, diperintahkan untuk shalat dan zakat, walaupun tanpa batasan tertentu. Mereka diperintahkan untuk melindungi orang-orang fakir, diperintahkan untuk memaafkan dan membiarkan kaum musyrikin, dan sabar hingga batas waktu yang ditentukan. Padahal semangat mereka amat membara dan amat senang seandainya mereka diperintahkan berperang melawan musuh-musuh mereka. Akan tetapi, kondisi saat itu tidak memungkinkan dikarenakan banyak sebab. Di antaranya ialah, minimnya jumlah mereka dibandingkan banyaknya jumlah musuh-musuh mereka, serta keberadaan mereka yang masih berada di kota mereka sendiri, yaitu tanah haram dan tempat yang paling mulia. Sehingga belum pernah terjadi peperangan sebelumnya di tempat itu, sebagaimana dikatakan: “Oleh karena itu tidak diperintahkan jihad kecuali di Madinah ketika mereka telah memiliki negeri, benteng dan dukungan. Tapi walaupun begitu, ketika mereka diperintahkan melakukan hal yang mereka inginkan (untuk berperang), sebagian mereka ada yang kaget dan takut sekali berhadapan dengan pihak lawan, Ini adalah suatu hiburan bagi mereka di dalam dunia, dorongan mereka untuk akhirat dan anjuran bagi mereka untuk berjihad.
--------------------------------------------------------------------------------
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan, dari Hisyam, ia berkata: “Al-Hasan membaca tentang: qul mataa’ud dun-yaa qaliilun (“Katakanlah: ‘Kesenangan di dunia hanya sebentar.’”) Ia berkata: “Semoga Allah memberi rahmat kepada hamba yang menyikapi dunia sesuai dengan hal itu. Dunia itu seluruhnya awal dan akhirnya tidak lain kecuali seperti seseorang yang tidur, lalu bermimpi yang dicintainya, akan tetapi tiba-tiba ia sadar.” Ibnu Ma’in berkata, bahwa Abu Mish-har bersyair: “Tidak ada kebaikan di dunia bagi orang-orang yang tidak memiliki bagian di akhirat dari Allah.” “Sekalipun dunia menakjubkan banyak orang. Akan tetapi ia merupakan harta benda yang sedikit dan akan cepat sirna.” Sebagaimana Allah berfirman: kulla man ‘alaiHaa faan (“Semua yang ada di bumi itu akan binasa.”) (QS.Rahmaan:’26). Maksudnya, bahwa setiap orang pasti menuju kematian, hal yang pasti dan tidak ada sesuatu pun yang menyelamatkan darinya, baik ia berjihad ataupun tidak. Karena ia memiliki batas yang telah ditetapkan tempat yang telah dibagi-bagi.
--------------------------------------------------------------------------------
Sebagaimana Khalid bin al-Walid di saat datang kematian di pembaringannya, ia berkata: “Aku telah mengikuti perang ini dan perang itu, tidak ada satu anggota tubuhku, kecuali terdapat luka karena tusukan, atau anak panah. Kini aku mati dalam pembaringanku. Maka tidaklah dapat tidur mata para pengecut.” Barangsiapa yang takut dari sebab-sebab kematian. la tetap akan diterkamnya, sekalipun ia naik ke atas langit dengan tangga. Ada pendapat yang mengatakan bahwa “al musyayyadatu” adalah sama dengan “al masyiidatu” sebagaimana firman-Nya, “Dan istana yang tinggi.” (QS. Al Hajj: 45). Namun ada pula pendapat yang mengatakan bahwa ada perbedaan arti di antara kedua kata tersebut, kata musyayyadah dengan memakai tasydid, artinya yang ditinggikan, sedang masyidah dibaca dengan takhfif (tanpa tasydid), berarti yang dihiasi (dicat) dengan kapur. Sebagaimana firman Allah tentang kaum Fir’aun yang artinya: “Apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: ‘Ini adalah karena (usaha) kami.’ Dan Jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya.” (QS. Al-A’raaf: 131) Demikianlah perkataan orang-orang munafik yang masuk ke dalam Islam secara dhahir, padahal mereka benci padanya (Islam). Untuk itu jika mereka ditimpa suatu keburukan, mereka menisbatkan (menyandarkan) hal itu dengan sebab mereka mengikuti Nabi saw. Maka Allah menurunkan: qul kullum min ‘indillaaHi (“Katakanlah: ‘Semua datang dari sisi Allah.’”) Firman-Nya, qul kullum min ‘indillaaHi (“Katakanlah: ‘Semua datang dari sisi Allah.’”)
Yaitu seluruhnya dengan qadha (putusan) dan qadar (ketentuan) Allah. Allah-lah yang menentukan seseorang itu baik atau jahat, mukmin atau kafir. `Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu `Abbas: “Katakanlah, semuanya itu adalah datang dari sisi Allah. “Yaitu kebaikan dan keburukan. Demikian pula perkataan al-Hasan al-Bashri. Kemudian Allah berfirman mengingkari orang-orang yang mengucapkan kata-kata yang muncul dari keraguan dan kebimbangan, kurang faham dan kurang berilmu, serta bertumpuknya kejahilan dan kedhaliman: famaali Haa-ulaa-il qaumi laa yakaaduuna yafqaHuuna hadiitsan (“Maka mengapa orang-orang itu hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun.”) As-Suddi, al-Hasan al-Bashri, Ibnu Juraij dan Ibnu Zaid berkata: fa min nafsika (“Dari dirimu sendiri”.) Yaitu dengan sebab dosamu. Qatadah berkata tentang ayat ini: fa min nafsika (“Dari dirimu sendiri”.) sebagai sangsi bagimu hai anak Adam, disebabkan dosa-dosamu. Diriwayatkan secara bersambung di dalam ash-Shahih: “Demi Rabb yang jiwaku ada di tangan-Nya. Tidaklah mengenai seorang mukmin, baik kesedihan, duka cita, ataupun kelelahan, hingga terkena duri, melainkan Allah akan hapuskan kesalahan-kesalahannya dengan sebab tersebut.”
Abu Shalih berkata: Wa maa ashaabaka min sayyi-atin fa min nafsika (“Dan apa-apa bencana yang menimpamu, maka dari dirimu sendiri.”) Yaitu dengan sebab dosamu dan Aku yang menakdirkannya atasmu. (HR. Ibnu Jarir). Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Mutharrif bin `Abdillah, ia berkata: “Apa yang kalian maksudkan dengan qadar. Apakah tidak cukup bagi kalian ayat yang terdapat dalam surat an-Nisaa’: “Dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: ‘Ini adalah dari sisi Allah.’ Dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana, mereka mengatakan: ‘Ini (datangnya)dari sisi kamu (Muhammad).’” (QS. An-Nisaa’: 78). Yaitu dari dirimu sendiri. Demi Allah, mereka tidak diserahkan sepenuhnya kepada takdir. Mereka telah diperintah dan sesuai takdirlah akhirnya urusan mereka.” Ini merupakan kalimat kokoh dan kuat yang menolak pendapat Qada-riyyah dan Jabariyyah. Untuk memperluasnya akan dibahas pada tempat yang lain. Firman Allah: wa arsalnaaka lin naasi rasuulan (“Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia.”) Yaitu engkau sampaikan kepada mereka syari’at-syari’at Allah, apa yang dicintai dan diridhai-Nya, serta apa yang dibenci dan tidak disenangi-Nya. Wa kafaa billaaHi syaHiidan (“Dan cukuplah Allah sebagal saksi.”) Yaitu,bahwa Allah telah mengutusmu, dan Allah pula yang menjadi saksi antara kamu dan mereka. Allah Mahamengetahui tentang apa yang telah engkau sampaikan kepada mereka, serta tentang penolakan mereka terhadap kebenaran yang berasal darimu, karena kufur dan pembangkangan.
JILIK'2 AN NISAA., AYAT 77-79'
----------------------------------------------------------
BISS-MILLAHHIR-RAHMAN-NIR-RAHIM'
---------------------------------------------------------------
Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 77 Alam tara ilal lazina qila lahum kuffu_ aidiyakum wa aqimus sala_ta wa a_tuz zaka_h(ta), falamma_ kutiba'alaihimul qita_lu iza_ fariqum minhum yakhsyaunan na_sa ka khasyyatilla_hi au asyadda khasyyah(ti), wa qa_lu_ rabbana_ lima katabta'alainal qita_l(a), lau la_ akhkhartana_ ila_ ajalin qarib(in), qul mata_'ud dunya_ qalil(un), wal a_khiratu khairul limanittaqa_, wa la_ tuzlamu_na fatila_(n). 4:78 Ayat 78 Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 78 Ainama_ taku_nu_ yudrikkumul mautu wa lau kuntum fi buru_jim musyayyadah(tin), wa in tusibhum hasanatuy yaqu_lu_ ha_zihi min 'indilla_h(i), wa in tusibhum sayyi'atuy yaqu_lu_ ha_zihi min 'indik(a), qul kullum min 'indilla_h(i), fama_li ha_'ula_'il qaumi la_ yaka_du_na yafqahu_na hadisa_(n). 4:79 Ayat 79 Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 79 Ma_ asa_baka min hasanatin faminalla_h(i), wa ma_ asa_baka min sayyi'atin famin nafsik(a), wa arsalna_ka linna_si rasu_la_(n), wa kafa_ billa_hi syahida_(n).
“ Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: ‘Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat!’ Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: ‘Ya Rabb kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami, mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi?.’ Katakanlah: ‘Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.’ (QS. 4:77) Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkanmu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. Dan jika memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: ‘Iniadalah dari sisi Allah,’ dan kalau mereka ditimpa suatu bencana, mereka mengatakan: ‘Ini (datangnya) dari sisimu (Muhammad).’ Katakanlah: ‘Semuanya (datang) dari sisi Allah.’ Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun. (QS.4:78) Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi. (QS. 4:79)”
----------------------------------------------------------------------------
(an-Nisaa’: 77-79) Ibnu Abi Hakim mengatakan, dari Ibnu `Abbas bahwa `Abdurahmanbin `Auf dan para sahabatnya mendatangi Rasulullah saw. di Makkah, mereka berkata: “Ya, Nabi Allah! Dahulu kami berada dalam kemuliaan, padahal kami orang-orang musyrik. Akan tetapi tatkala kami telah beriman kami menjadi orang-orang hina.” Beliau menjawab: “Sesungguhnya aku diperintahkan untuk memaafkan, maka janganlah kalian memerangi kaum itu.” Lalu tatkala Allah memindahkan beliau ke kota Madinah, lalu beliau diperintahkan untuk berperang, tetapi mereka enggan untuk berangkat. Dahulu kaum mukminin di masa permulaan Islam saat di kota Makkah, diperintahkan untuk shalat dan zakat, walaupun tanpa batasan tertentu. Mereka diperintahkan untuk melindungi orang-orang fakir, diperintahkan untuk memaafkan dan membiarkan kaum musyrikin, dan sabar hingga batas waktu yang ditentukan. Padahal semangat mereka amat membara dan amat senang seandainya mereka diperintahkan berperang melawan musuh-musuh mereka. Akan tetapi, kondisi saat itu tidak memungkinkan dikarenakan banyak sebab. Di antaranya ialah, minimnya jumlah mereka dibandingkan banyaknya jumlah musuh-musuh mereka, serta keberadaan mereka yang masih berada di kota mereka sendiri, yaitu tanah haram dan tempat yang paling mulia. Sehingga belum pernah terjadi peperangan sebelumnya di tempat itu, sebagaimana dikatakan: “Oleh karena itu tidak diperintahkan jihad kecuali di Madinah ketika mereka telah memiliki negeri, benteng dan dukungan. Tapi walaupun begitu, ketika mereka diperintahkan melakukan hal yang mereka inginkan (untuk berperang), sebagian mereka ada yang kaget dan takut sekali berhadapan dengan pihak lawan, Ini adalah suatu hiburan bagi mereka di dalam dunia, dorongan mereka untuk akhirat dan anjuran bagi mereka untuk berjihad.
--------------------------------------------------------------------------------
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan, dari Hisyam, ia berkata: “Al-Hasan membaca tentang: qul mataa’ud dun-yaa qaliilun (“Katakanlah: ‘Kesenangan di dunia hanya sebentar.’”) Ia berkata: “Semoga Allah memberi rahmat kepada hamba yang menyikapi dunia sesuai dengan hal itu. Dunia itu seluruhnya awal dan akhirnya tidak lain kecuali seperti seseorang yang tidur, lalu bermimpi yang dicintainya, akan tetapi tiba-tiba ia sadar.” Ibnu Ma’in berkata, bahwa Abu Mish-har bersyair: “Tidak ada kebaikan di dunia bagi orang-orang yang tidak memiliki bagian di akhirat dari Allah.” “Sekalipun dunia menakjubkan banyak orang. Akan tetapi ia merupakan harta benda yang sedikit dan akan cepat sirna.” Sebagaimana Allah berfirman: kulla man ‘alaiHaa faan (“Semua yang ada di bumi itu akan binasa.”) (QS.Rahmaan:’26). Maksudnya, bahwa setiap orang pasti menuju kematian, hal yang pasti dan tidak ada sesuatu pun yang menyelamatkan darinya, baik ia berjihad ataupun tidak. Karena ia memiliki batas yang telah ditetapkan tempat yang telah dibagi-bagi.
--------------------------------------------------------------------------------
Sebagaimana Khalid bin al-Walid di saat datang kematian di pembaringannya, ia berkata: “Aku telah mengikuti perang ini dan perang itu, tidak ada satu anggota tubuhku, kecuali terdapat luka karena tusukan, atau anak panah. Kini aku mati dalam pembaringanku. Maka tidaklah dapat tidur mata para pengecut.” Barangsiapa yang takut dari sebab-sebab kematian. la tetap akan diterkamnya, sekalipun ia naik ke atas langit dengan tangga. Ada pendapat yang mengatakan bahwa “al musyayyadatu” adalah sama dengan “al masyiidatu” sebagaimana firman-Nya, “Dan istana yang tinggi.” (QS. Al Hajj: 45). Namun ada pula pendapat yang mengatakan bahwa ada perbedaan arti di antara kedua kata tersebut, kata musyayyadah dengan memakai tasydid, artinya yang ditinggikan, sedang masyidah dibaca dengan takhfif (tanpa tasydid), berarti yang dihiasi (dicat) dengan kapur. Sebagaimana firman Allah tentang kaum Fir’aun yang artinya: “Apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: ‘Ini adalah karena (usaha) kami.’ Dan Jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya.” (QS. Al-A’raaf: 131) Demikianlah perkataan orang-orang munafik yang masuk ke dalam Islam secara dhahir, padahal mereka benci padanya (Islam). Untuk itu jika mereka ditimpa suatu keburukan, mereka menisbatkan (menyandarkan) hal itu dengan sebab mereka mengikuti Nabi saw. Maka Allah menurunkan: qul kullum min ‘indillaaHi (“Katakanlah: ‘Semua datang dari sisi Allah.’”) Firman-Nya, qul kullum min ‘indillaaHi (“Katakanlah: ‘Semua datang dari sisi Allah.’”)
Yaitu seluruhnya dengan qadha (putusan) dan qadar (ketentuan) Allah. Allah-lah yang menentukan seseorang itu baik atau jahat, mukmin atau kafir. `Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu `Abbas: “Katakanlah, semuanya itu adalah datang dari sisi Allah. “Yaitu kebaikan dan keburukan. Demikian pula perkataan al-Hasan al-Bashri. Kemudian Allah berfirman mengingkari orang-orang yang mengucapkan kata-kata yang muncul dari keraguan dan kebimbangan, kurang faham dan kurang berilmu, serta bertumpuknya kejahilan dan kedhaliman: famaali Haa-ulaa-il qaumi laa yakaaduuna yafqaHuuna hadiitsan (“Maka mengapa orang-orang itu hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun.”) As-Suddi, al-Hasan al-Bashri, Ibnu Juraij dan Ibnu Zaid berkata: fa min nafsika (“Dari dirimu sendiri”.) Yaitu dengan sebab dosamu. Qatadah berkata tentang ayat ini: fa min nafsika (“Dari dirimu sendiri”.) sebagai sangsi bagimu hai anak Adam, disebabkan dosa-dosamu. Diriwayatkan secara bersambung di dalam ash-Shahih: “Demi Rabb yang jiwaku ada di tangan-Nya. Tidaklah mengenai seorang mukmin, baik kesedihan, duka cita, ataupun kelelahan, hingga terkena duri, melainkan Allah akan hapuskan kesalahan-kesalahannya dengan sebab tersebut.”
Abu Shalih berkata: Wa maa ashaabaka min sayyi-atin fa min nafsika (“Dan apa-apa bencana yang menimpamu, maka dari dirimu sendiri.”) Yaitu dengan sebab dosamu dan Aku yang menakdirkannya atasmu. (HR. Ibnu Jarir). Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Mutharrif bin `Abdillah, ia berkata: “Apa yang kalian maksudkan dengan qadar. Apakah tidak cukup bagi kalian ayat yang terdapat dalam surat an-Nisaa’: “Dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: ‘Ini adalah dari sisi Allah.’ Dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana, mereka mengatakan: ‘Ini (datangnya)dari sisi kamu (Muhammad).’” (QS. An-Nisaa’: 78). Yaitu dari dirimu sendiri. Demi Allah, mereka tidak diserahkan sepenuhnya kepada takdir. Mereka telah diperintah dan sesuai takdirlah akhirnya urusan mereka.” Ini merupakan kalimat kokoh dan kuat yang menolak pendapat Qada-riyyah dan Jabariyyah. Untuk memperluasnya akan dibahas pada tempat yang lain. Firman Allah: wa arsalnaaka lin naasi rasuulan (“Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia.”) Yaitu engkau sampaikan kepada mereka syari’at-syari’at Allah, apa yang dicintai dan diridhai-Nya, serta apa yang dibenci dan tidak disenangi-Nya. Wa kafaa billaaHi syaHiidan (“Dan cukuplah Allah sebagal saksi.”) Yaitu,bahwa Allah telah mengutusmu, dan Allah pula yang menjadi saksi antara kamu dan mereka. Allah Mahamengetahui tentang apa yang telah engkau sampaikan kepada mereka, serta tentang penolakan mereka terhadap kebenaran yang berasal darimu, karena kufur dan pembangkangan.
Saturday, 23 February 2019
AYAT 75-76 AN-NISAA
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
JILIK 2 AN NISAA , 75 -76
BISS'MILLAH'HIR'RAHMAN'NIR'RAHIM,.
Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 75 Wa ma_ lakum la_ tuqa_tilu_na fi sabililla_hi wal mustad'afina minar rija_li wan nisa_'i walwilda_nil lazina yaqu_lu_na rabbana_ akhrijna_ min ha_zihil qaryatiz za_limi ahluha_, waj'al lana_ mil ladunkawaliyya_(n), waj'al lana_ mil ladunka nasira_(n). 4:76 Ayat 76 Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 76 Allazina a_manu_ yuqa_tilu_na fi sabililla_h(i), wallazina kafaru_ yuqa_tilu_na fi sabilit ta_gu_ti fa qa_tilu_ auliya_'asy syaita_n(i), inna kaidasy syaita_ni ka_na da'ifa_(n).
“Mengapa kamu tidak mau berperang dijalan Allah dan (membela) yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita, maupun anak-anak, yang semuanyaya berdo’a: ‘Ya Rabb kami, keluarkanlah kami dari negeri ini,’ yang dhalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau berilah kami penolong dari sisi Engkau.’ (QS. 4:75) Orang-orang yang beriman herperang di jalan Allah dan orang-orang yang kafir berperang dijalan tbaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. (QS. 4:76)”
(an-Nisaa’: 75-76)Ayat 75-79 masih menjelaskan tentang sebab dan tujuan berperang dalam Islam dan hubungan antara perang dan kematian. Adapun di antara sebab berperang dalam Islam ialah karena terjadi penindasan oleh orang-orang kafir terhadap kaum muslim sehingga terjadi kezaliman di mana-mana dan penindasan terhadap manusia. Adapun tujuan berperang dalam Islam tidak lain adalah di jalan Allah dalam rangka menumpas kezaliman dan menegakkan agama Allah yang adil, yakni Islam. Adapun orang-orang kafir, mereka berperang di jalan ṭaghut (sistem jahiliyah), baik yang datang dari setan maupun hawa nafsu duniawi.
Sebab itu, sebelum berperang di jalan Allah maka kaum muslimin harus terlebih dulu menyiapkan diri dan mental melalui salat, zakat dan berbagai ibadah lain, karena berperang itu adalah kewajiban yang amat berat dan di dalamnya terdapat godaan yang amat besar pula, baik dari dalam diri maupun dari luar diri. Karenanya, jangan meminta-minta berperang sebelum skenario Allah tiba. Perang dan kematian tidak ada hubungannya.
Di mana saja kita pasti mati, karena kematian itu kaitannya dengan ajal. Kalau ajal sudah tiba, kematian pun terjadi. Yang baik ataupun buruk terjadi dengan izin Allah. Yang buruk disebabkan kesalahan diri sendiri. Yang baik murni dari Allah. Rasul saw. sudah menjelaskan semua itu. Allah adalah saksinya. Allah memberikan dorongan kepada hambanya yang beriman untuk berjihad di jalan-Nya, serta berupaya menyelamatkan orang-orang yang tertindas di kota Makkah, baik laki-laki, wanita, maupun anak-anak yang sudah sangat jenuh untuk tinggal di sana. Untuk itu Allah berfirman: Alladziina yaquuluuna rabbanaa akhrijnaa min HaadziHil qaryati (“Yang semuanya berdo’a: ‘Ya Rabb kami, keluarkanlah kami dari negeri ini.”) Yaitu Makkah, seperti firman Allah yang yang artinya: “Dan betapa banyak negeri-negeri yang [pendudukinya] lebih kuat dari [penduduk] negerimu [Muhammad] yang telah mengusirmu itu.” (QS. Muhammad: 13)
Kemudian, disifati dengan firman-Nya: Adh-dhaalimi aHluHaa waj’al lanaa mil ladunka waliyyaw waj’al lanaa mil ladunka nashiiran (“Yang dhalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau dan berilah kami penolong dari sisi Engkau.”) Yaitu, jadikanlah untuk kami pelindung dan penolong dari sisi-Mu. Al-Bukhari meriwayatkan dari Ubaidillah, ia berkata: “Aku mendengar Ibnu ‘Abbas berkata: `Dahulu aku dan ibuku termasuk orang-orang yang tertindas.”‘ Kemudian Allah berfirman: alladziina aamanuu yuqaatiluuna fii sabiilillaaHi wal ladziina kafaruu yuqaatiluuna fii sabiilith thaaghuuti (“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut.”) Yaitu orang-orang yang beriman, mereka berperang dalam taat kepada Allah dan mencari keridhaan-Nya. Sedangkan orang-orang kafir berperang dalam rangka taat kepada syaitan. Kemudian Allah mendorong kaum mukminin untuk memerangi musuh dengan firman-Nya: faqaatiluu auliyaa-usy syaithaani inna kaidasy syaithaani kaana dla’iifan (“Sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.”) &
JILIK 2 AN NISAA , 75 -76
BISS'MILLAH'HIR'RAHMAN'NIR'RAHIM,.
Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 75 Wa ma_ lakum la_ tuqa_tilu_na fi sabililla_hi wal mustad'afina minar rija_li wan nisa_'i walwilda_nil lazina yaqu_lu_na rabbana_ akhrijna_ min ha_zihil qaryatiz za_limi ahluha_, waj'al lana_ mil ladunkawaliyya_(n), waj'al lana_ mil ladunka nasira_(n). 4:76 Ayat 76 Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 76 Allazina a_manu_ yuqa_tilu_na fi sabililla_h(i), wallazina kafaru_ yuqa_tilu_na fi sabilit ta_gu_ti fa qa_tilu_ auliya_'asy syaita_n(i), inna kaidasy syaita_ni ka_na da'ifa_(n).
“Mengapa kamu tidak mau berperang dijalan Allah dan (membela) yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita, maupun anak-anak, yang semuanyaya berdo’a: ‘Ya Rabb kami, keluarkanlah kami dari negeri ini,’ yang dhalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau berilah kami penolong dari sisi Engkau.’ (QS. 4:75) Orang-orang yang beriman herperang di jalan Allah dan orang-orang yang kafir berperang dijalan tbaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. (QS. 4:76)”
(an-Nisaa’: 75-76)Ayat 75-79 masih menjelaskan tentang sebab dan tujuan berperang dalam Islam dan hubungan antara perang dan kematian. Adapun di antara sebab berperang dalam Islam ialah karena terjadi penindasan oleh orang-orang kafir terhadap kaum muslim sehingga terjadi kezaliman di mana-mana dan penindasan terhadap manusia. Adapun tujuan berperang dalam Islam tidak lain adalah di jalan Allah dalam rangka menumpas kezaliman dan menegakkan agama Allah yang adil, yakni Islam. Adapun orang-orang kafir, mereka berperang di jalan ṭaghut (sistem jahiliyah), baik yang datang dari setan maupun hawa nafsu duniawi.
Sebab itu, sebelum berperang di jalan Allah maka kaum muslimin harus terlebih dulu menyiapkan diri dan mental melalui salat, zakat dan berbagai ibadah lain, karena berperang itu adalah kewajiban yang amat berat dan di dalamnya terdapat godaan yang amat besar pula, baik dari dalam diri maupun dari luar diri. Karenanya, jangan meminta-minta berperang sebelum skenario Allah tiba. Perang dan kematian tidak ada hubungannya.
Di mana saja kita pasti mati, karena kematian itu kaitannya dengan ajal. Kalau ajal sudah tiba, kematian pun terjadi. Yang baik ataupun buruk terjadi dengan izin Allah. Yang buruk disebabkan kesalahan diri sendiri. Yang baik murni dari Allah. Rasul saw. sudah menjelaskan semua itu. Allah adalah saksinya. Allah memberikan dorongan kepada hambanya yang beriman untuk berjihad di jalan-Nya, serta berupaya menyelamatkan orang-orang yang tertindas di kota Makkah, baik laki-laki, wanita, maupun anak-anak yang sudah sangat jenuh untuk tinggal di sana. Untuk itu Allah berfirman: Alladziina yaquuluuna rabbanaa akhrijnaa min HaadziHil qaryati (“Yang semuanya berdo’a: ‘Ya Rabb kami, keluarkanlah kami dari negeri ini.”) Yaitu Makkah, seperti firman Allah yang yang artinya: “Dan betapa banyak negeri-negeri yang [pendudukinya] lebih kuat dari [penduduk] negerimu [Muhammad] yang telah mengusirmu itu.” (QS. Muhammad: 13)
Kemudian, disifati dengan firman-Nya: Adh-dhaalimi aHluHaa waj’al lanaa mil ladunka waliyyaw waj’al lanaa mil ladunka nashiiran (“Yang dhalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau dan berilah kami penolong dari sisi Engkau.”) Yaitu, jadikanlah untuk kami pelindung dan penolong dari sisi-Mu. Al-Bukhari meriwayatkan dari Ubaidillah, ia berkata: “Aku mendengar Ibnu ‘Abbas berkata: `Dahulu aku dan ibuku termasuk orang-orang yang tertindas.”‘ Kemudian Allah berfirman: alladziina aamanuu yuqaatiluuna fii sabiilillaaHi wal ladziina kafaruu yuqaatiluuna fii sabiilith thaaghuuti (“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut.”) Yaitu orang-orang yang beriman, mereka berperang dalam taat kepada Allah dan mencari keridhaan-Nya. Sedangkan orang-orang kafir berperang dalam rangka taat kepada syaitan. Kemudian Allah mendorong kaum mukminin untuk memerangi musuh dengan firman-Nya: faqaatiluu auliyaa-usy syaithaani inna kaidasy syaithaani kaana dla’iifan (“Sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.”) &
Friday, 22 February 2019
AYAT 71-74 AN NISAA
TAFSIR QURANB DANB HADIS TABARUK;
JILIK 2 AN NISAA 71-74
“Hai orang-orang yang beriman, bersiap-siagalah kamu dan majulah (ke Medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama! (QS.4:71) Dan sesungguhnya di antara kamu ada orang-orang yang sangat berlambat-lambat (ke medan pertempuran). Maka jika kamu ditimpa musibah, ia berkata: ‘Sesungguhnya Allah telah menganugerahkan nikmat kepadaku, karena aku tidak ikut berperang bersama mereka.’ (QS. 4:72) Dan sungguh, jika kamu beroleh karunia (kemenangan) dari Allah, tentulah dia mengatakan seolah-olah belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dengan-nya: ‘Wahai, kiranya aku ada bersama-sama mereka, tentu aku mendapat kemenangan yang besar (pula).’ (QS. 4:73) Karena itu, hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat, berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan, maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar. (QS. 4:74)”
(an-Nisaa’: 71-74) DENGAN NAMA ALLAH YG MAHA PEMURAH LAGI PENGASIH,.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ فَانْفِرُوا ثُباتٍ أَوِ انْفِرُوا جَمِيعاً (71) وَإِنَّ مِنْكُمْ لَمَنْ لَيُبَطِّئَنَّ فَإِنْ أَصابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قالَ قَدْ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيَّ إِذْ لَمْ أَكُنْ مَعَهُمْ شَهِيداً (72) وَلَئِنْ أَصابَكُمْ فَضْلٌ مِنَ اللَّهِ لَيَقُولَنَّ كَأَنْ لَمْ تَكُنْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ مَوَدَّةٌ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ مَعَهُمْ فَأَفُوزَ فَوْزاً عَظِيماً (73) فَلْيُقاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يَشْرُونَ الْحَياةَ الدُّنْيا بِالْآخِرَةِ وَمَنْ يُقاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيُقْتَلْ أَوْ يَغْلِبْ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْراً عَظِيماً (74) BIS-MILLAHIR-RAHMAN-NIRRAHIM;;
Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 70 Za_likal fadlu minalla_h(i), wa kafa_ billa_hi 'alima_(n). 4:71 Ayat 71 Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 71 Ya_ ayyuhal lazina a_manu_ khuzu_ hizrakum fanfiru_ suba_tin awinfiru_ jami'a_(n). 4:72 Ayat 72 Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 72 Wa inna minkum lamal layubatti'ann(a), fa in asa_batkum musibatun qa_la qad an'amalla_hu 'alayya iz lam akum ma'ahum syahida_(n). 4:73 Ayat 73 Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 73 Wala'in asa_bakum fadlum minalla_hi layaqu_lanna ka allam takum bainakum wa bainahu_ mawaddatuy ya_ laitani kuntu ma'ahum fa afu_za fauzan 'azima_(n). 4:74 Ayat 74 Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 74 Falyuqa_til fi sabililla_hil lazina yasyru_nal haya_tad dunya_ bil a_khirah(ti), wa may yuqa_til fi sabililla_hi fayuqtal au yaglib fasaufa nu'tihi ajran 'azima_(n).
DALAM SURAH YANG LEPAS ALLAH MENYATAKAN PADA ORANG ORANG YANG MELAKUKAN KESALAHAN AGAR BERTAUBATAN NASUHA DAN MEMBUNUH JIWA MEREKA DENGAN JALAN Allah JIHAT FISABILILLAH ATAU SEBAGAI MANA UMAT NABI MUSA YANG MANA MEMBUNUH JIWA MEREKA SETELAH ALLAH MENGAMPUN AKAN DOSA DOSA BESAR DAN KECIL MEREKA DAN
DALAM AYAT INI ALLAH MENJELASKAN TENTANG para hamba-Nya yang beriman untuk bersikap waspada terhadap musuh mereka. Konsekuensinya adalah mempersiapkan diri dengan persenjataan dan perlengkapan, serta memperbanyak personil untuk berjuang di jalan Allah. FISABILILLAH,.
Tsabaatin; yaitu kelompok demi kelompok, pasukan demi pasukan serta kompi demi kompi. “ats-tsabaat” adalah jamak dari “tsubbatun” yang terkadang jamaknya adalah “tsubuuna” ‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu `Abbas tentang firman Allah:
fanfiruu tsubaatin (“Pergilah dengan tsubat”.) Yaitu sekelompok, maksudnya pasukan yang terpisah-pisah, awinfiruu jamii’an (“Atau pergilah seluruhnya.”) Yaitu seluruh kalian. Demikian pula yang diriwayatkan dari Mujahid, `Ikrimah, as-Suddi, Qatadah, adh-Dhahhak, `Atha’ al-Khurasani, Muqatil bin Hayyan dan Khushaifal Jazari. Firman Allah: wa inna minkum lamal layubaththa-anna (“Dan sesungguhnya di antarakamu ada orang yang sangat berlambat-lambat [ke medan pertempuran.]”)
Mujahiddan ulama lainnya berkata:
“Ayat ini turun mengenai orang-orang munafik.” Muqatil bin Hayyan berkata: layubaththa-anna; artinya tertinggal dari jihad. Boleh jadi maknanya adalah, dia sendiri berlambat-lambat atau menghalangi orang lain dari jihad. Sebagaimana `Abdullah bin Ubay bin Salul berupaya meninggalkan jihad, serta menghalangi orang lain untuk keluar berjihad.
Inilah pendapat Ibnu Juraij dan Ibnu Jarir. Untuk itu Allah berfirman mengabarkan tentang orang munafik yang berkata apabila ia tertinggal berjihad: fa in ashaabatkum mushiibatun (“Maka jika kamu ditimpa musibah,”) yaitu terbunuh, mati syahid dan dikalahkan musuh ketika Allah menghendaki hikmah di dalamnya, Qaala qad an’amallaaHu ‘alayya idz lam akum ma’aHum syaHiidan (“la berkata: ‘Sesungguhnya Allah telah menganugerahkan nikmat kepadaku, karena aku tidak ikut berperang bersama mereka.’”)
Yaitu, aku tidak ikut bersama mereka dalam medan perang, hal itu dinilai sebagai nikmat dari Allah . Sedangkan dia tidak mengetahui tentang apa yang telah hilang dari dirinya, yaitu berupa pahala atas kesabarannya dan kesyahidannya jika ia terbunuh. Wa la-in ashaabakum fadl-lum minallaahi (“Dan sungguh jika kamu memperoleh karunia dari Allah.”) Yaitu pertolongan, kemenangan dan harta rampasan perang, layaquulanna ka-allam takum bainakum wa bainaHuu mawaddatun (“Tentulah dia mengatakan seolah-olah belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dengannya.”) Yaitu seolah-olah dia bukan penganut agama kalian. Yaa laitanii kuntu ma’aHum fa afuuza fauzan ‘adhiiman (“Wahai, kiranya aku ada bersama-sama mereka, tentu aku mendapat kemenangan yang besar [pula].”) Yaitu aku dapat satu bagian bersama mereka, lalu aku pun memperolehnya. Itulah tujuan terbesar dan juga tujuan akhirnya. Kemudian Allah berfirman: fal yuqaatil (“Maka hendaklah berperang”), Yaitu mukmin yang berangkat; fii sabiilillaaHil ladziina yasy-ruunal hayaatad dun-yaa bil aakhirati
(“Di jalan Allah, yaitu orang- rang yang menukur kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat”.) Yaitu orang yang menjual agama mereka dengan sedikit kesenangan dunia. Hal itu tidak lain karena disebabkan oleh kekufuran dan tidak adanya keimanan mereka. Kemudian Allah berfirman: wa may yuqaatil fii sabiilillaaHi fayuqtal au yaghlib fasaufa nu’tiiHi ajran ‘adhiiman (“Maka barangsiapa berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan, maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar.”) Artinya, setiap orang yang berjuang di jalan Allah, baik terbunuh atau menang, maka ia akan memperoleh ganjaran yang besar dan pahala yang melimpah.
Sebagaimana tercantum dalam kitab ash-Shahihain, bahwa Allah akan menjamin orang yang berjuang di jalan-Nya. Jika ia diwafatkan, Allah mernasukkannya ke dalam Surga atau dikembalikan ke kampung halamannya, dengan memperoleh pahala dan ghanimah (rampasan perang).
JILIK 2 AN NISAA 71-74
“Hai orang-orang yang beriman, bersiap-siagalah kamu dan majulah (ke Medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama! (QS.4:71) Dan sesungguhnya di antara kamu ada orang-orang yang sangat berlambat-lambat (ke medan pertempuran). Maka jika kamu ditimpa musibah, ia berkata: ‘Sesungguhnya Allah telah menganugerahkan nikmat kepadaku, karena aku tidak ikut berperang bersama mereka.’ (QS. 4:72) Dan sungguh, jika kamu beroleh karunia (kemenangan) dari Allah, tentulah dia mengatakan seolah-olah belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dengan-nya: ‘Wahai, kiranya aku ada bersama-sama mereka, tentu aku mendapat kemenangan yang besar (pula).’ (QS. 4:73) Karena itu, hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat, berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan, maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar. (QS. 4:74)”
(an-Nisaa’: 71-74) DENGAN NAMA ALLAH YG MAHA PEMURAH LAGI PENGASIH,.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ فَانْفِرُوا ثُباتٍ أَوِ انْفِرُوا جَمِيعاً (71) وَإِنَّ مِنْكُمْ لَمَنْ لَيُبَطِّئَنَّ فَإِنْ أَصابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قالَ قَدْ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيَّ إِذْ لَمْ أَكُنْ مَعَهُمْ شَهِيداً (72) وَلَئِنْ أَصابَكُمْ فَضْلٌ مِنَ اللَّهِ لَيَقُولَنَّ كَأَنْ لَمْ تَكُنْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ مَوَدَّةٌ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ مَعَهُمْ فَأَفُوزَ فَوْزاً عَظِيماً (73) فَلْيُقاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يَشْرُونَ الْحَياةَ الدُّنْيا بِالْآخِرَةِ وَمَنْ يُقاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيُقْتَلْ أَوْ يَغْلِبْ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْراً عَظِيماً (74) BIS-MILLAHIR-RAHMAN-NIRRAHIM;;
Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 70 Za_likal fadlu minalla_h(i), wa kafa_ billa_hi 'alima_(n). 4:71 Ayat 71 Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 71 Ya_ ayyuhal lazina a_manu_ khuzu_ hizrakum fanfiru_ suba_tin awinfiru_ jami'a_(n). 4:72 Ayat 72 Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 72 Wa inna minkum lamal layubatti'ann(a), fa in asa_batkum musibatun qa_la qad an'amalla_hu 'alayya iz lam akum ma'ahum syahida_(n). 4:73 Ayat 73 Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 73 Wala'in asa_bakum fadlum minalla_hi layaqu_lanna ka allam takum bainakum wa bainahu_ mawaddatuy ya_ laitani kuntu ma'ahum fa afu_za fauzan 'azima_(n). 4:74 Ayat 74 Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 74 Falyuqa_til fi sabililla_hil lazina yasyru_nal haya_tad dunya_ bil a_khirah(ti), wa may yuqa_til fi sabililla_hi fayuqtal au yaglib fasaufa nu'tihi ajran 'azima_(n).
DALAM SURAH YANG LEPAS ALLAH MENYATAKAN PADA ORANG ORANG YANG MELAKUKAN KESALAHAN AGAR BERTAUBATAN NASUHA DAN MEMBUNUH JIWA MEREKA DENGAN JALAN Allah JIHAT FISABILILLAH ATAU SEBAGAI MANA UMAT NABI MUSA YANG MANA MEMBUNUH JIWA MEREKA SETELAH ALLAH MENGAMPUN AKAN DOSA DOSA BESAR DAN KECIL MEREKA DAN
DALAM AYAT INI ALLAH MENJELASKAN TENTANG para hamba-Nya yang beriman untuk bersikap waspada terhadap musuh mereka. Konsekuensinya adalah mempersiapkan diri dengan persenjataan dan perlengkapan, serta memperbanyak personil untuk berjuang di jalan Allah. FISABILILLAH,.
Tsabaatin; yaitu kelompok demi kelompok, pasukan demi pasukan serta kompi demi kompi. “ats-tsabaat” adalah jamak dari “tsubbatun” yang terkadang jamaknya adalah “tsubuuna” ‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu `Abbas tentang firman Allah:
fanfiruu tsubaatin (“Pergilah dengan tsubat”.) Yaitu sekelompok, maksudnya pasukan yang terpisah-pisah, awinfiruu jamii’an (“Atau pergilah seluruhnya.”) Yaitu seluruh kalian. Demikian pula yang diriwayatkan dari Mujahid, `Ikrimah, as-Suddi, Qatadah, adh-Dhahhak, `Atha’ al-Khurasani, Muqatil bin Hayyan dan Khushaifal Jazari. Firman Allah: wa inna minkum lamal layubaththa-anna (“Dan sesungguhnya di antarakamu ada orang yang sangat berlambat-lambat [ke medan pertempuran.]”)
Mujahiddan ulama lainnya berkata:
“Ayat ini turun mengenai orang-orang munafik.” Muqatil bin Hayyan berkata: layubaththa-anna; artinya tertinggal dari jihad. Boleh jadi maknanya adalah, dia sendiri berlambat-lambat atau menghalangi orang lain dari jihad. Sebagaimana `Abdullah bin Ubay bin Salul berupaya meninggalkan jihad, serta menghalangi orang lain untuk keluar berjihad.
Inilah pendapat Ibnu Juraij dan Ibnu Jarir. Untuk itu Allah berfirman mengabarkan tentang orang munafik yang berkata apabila ia tertinggal berjihad: fa in ashaabatkum mushiibatun (“Maka jika kamu ditimpa musibah,”) yaitu terbunuh, mati syahid dan dikalahkan musuh ketika Allah menghendaki hikmah di dalamnya, Qaala qad an’amallaaHu ‘alayya idz lam akum ma’aHum syaHiidan (“la berkata: ‘Sesungguhnya Allah telah menganugerahkan nikmat kepadaku, karena aku tidak ikut berperang bersama mereka.’”)
Yaitu, aku tidak ikut bersama mereka dalam medan perang, hal itu dinilai sebagai nikmat dari Allah . Sedangkan dia tidak mengetahui tentang apa yang telah hilang dari dirinya, yaitu berupa pahala atas kesabarannya dan kesyahidannya jika ia terbunuh. Wa la-in ashaabakum fadl-lum minallaahi (“Dan sungguh jika kamu memperoleh karunia dari Allah.”) Yaitu pertolongan, kemenangan dan harta rampasan perang, layaquulanna ka-allam takum bainakum wa bainaHuu mawaddatun (“Tentulah dia mengatakan seolah-olah belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dengannya.”) Yaitu seolah-olah dia bukan penganut agama kalian. Yaa laitanii kuntu ma’aHum fa afuuza fauzan ‘adhiiman (“Wahai, kiranya aku ada bersama-sama mereka, tentu aku mendapat kemenangan yang besar [pula].”) Yaitu aku dapat satu bagian bersama mereka, lalu aku pun memperolehnya. Itulah tujuan terbesar dan juga tujuan akhirnya. Kemudian Allah berfirman: fal yuqaatil (“Maka hendaklah berperang”), Yaitu mukmin yang berangkat; fii sabiilillaaHil ladziina yasy-ruunal hayaatad dun-yaa bil aakhirati
(“Di jalan Allah, yaitu orang- rang yang menukur kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat”.) Yaitu orang yang menjual agama mereka dengan sedikit kesenangan dunia. Hal itu tidak lain karena disebabkan oleh kekufuran dan tidak adanya keimanan mereka. Kemudian Allah berfirman: wa may yuqaatil fii sabiilillaaHi fayuqtal au yaghlib fasaufa nu’tiiHi ajran ‘adhiiman (“Maka barangsiapa berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan, maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar.”) Artinya, setiap orang yang berjuang di jalan Allah, baik terbunuh atau menang, maka ia akan memperoleh ganjaran yang besar dan pahala yang melimpah.
Sebagaimana tercantum dalam kitab ash-Shahihain, bahwa Allah akan menjamin orang yang berjuang di jalan-Nya. Jika ia diwafatkan, Allah mernasukkannya ke dalam Surga atau dikembalikan ke kampung halamannya, dengan memperoleh pahala dan ghanimah (rampasan perang).
Thursday, 21 February 2019
AYAT 66-70 AN NISAA
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK,
AYAT 66-70 AN NISAA
BIS,MILLAHIR,RAHMAN,NIR,RAHIM,.
Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 66 Wa lau anna_ katabna_ 'alaihim aniqtulu_ anfusakum awikhruju_ min diya_rikum ma_ fa'alu_hu illa_ qalilum minhum, wa lau annahum fa'ala_ ma_ yu_'azu_na bihi laka_na khairal lahum wa asyadda tasbita_(w), 4:67 Ayat 67 Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 67 Wa izal la'a_taina_hum mil ladunna_ ajran 'zima_(w), 4:68 Ayat 68 Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 68 Wa lahadaina_hum sira_tam mustaqima_(n). 4:69 Ayat 69 Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 69 Wa may yuti'illa_ha war rasu_la fa ula_'ika ma'al lazina an'amalla_hu 'alaihim minan nabiyyina was siddiqina wasy syuhada_'i was sa_lihin(a), wa hasuna ula_'ika rafiqa_(n). 4:70 Ayat 70 Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 70 Za_likal fadlu minalla_h(i), wa kafa_ billa_hi 'alima_(n).
“Dan sesungguhnya, kalau Kami perintahkan kepada mereka: ‘Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu, niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka). (QS. 4:66) Dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami. (QS. 4:67) Dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus. (QS. 4:68) Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu Nabi-Nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. 4:69) Yang demikian itu adalah karunia dari Allah dan Allah cukup mengetahui. (QS. 4:70)”
(an-Nisaa’: 66-70) Allah memberitahukan INSAN YANG MELAKUKAN DOSA DAN INGGIN KEMBALI KEPADA ALLAH DAN MEMOHON KEMAPUAN ALLAH DAN DI AMPUN SEGALA DOSA DOSA NYA YANG LALU TIADA TERTINGGAL SEBERAT ZARAH SEKALI PUN YAKNI TAUBATAN NASUHA DAN KELUAR BERJIHAT DIATAS JALAN FISABILILLAH DENGAN MEMBUNUH DIRI SENDIRI DI MEDAN PERANG BERTEMUR DEMI DZAT YANG MAHA ILLAH ,HINGGA TERBUH DAN MATI SYAHID DEMI.. NUR MUHAMAT CAHAYA DI BAWAH CAHAYA ALLAH.,., DAN JUA tentang kebanyakan manusia, bahwa mereka seandainya diperintahkan untuk melaksanakan larangan-larangan yang mereka langgar, niscaya mereka pun tidak akan melakukannya. Karena tabi’at buruk mereka terbina untuk menentang perintah. Hal ini merupakan ilmu Allah tentang sesuatu yang belum dan sudah terjadi. Maka bagaimana pula dengan apa yang sudah terjadi? Untuk itu Allah berfirman kepada mereka: wa lau annaa katabnaa ‘alaiHim aniqtuluu anfusakum (“Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: ‘Bunuhlah dirimu,’”) Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa ketika turun ayat: wa lau annaa katabnaa ‘alaiHim aniqtuluu anfusakum (“Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: ‘Bunuhlah dirimu,’”)seseorang berkata: “Seandainya kami diperintah, niscaya kami akan lakukan. Dan segala puji hanya bagi Allah yang telah memberikan `afiat kepada kami.” Berita itu pun sampai kepada Nabi saw., lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya di antara umatku ada orang-orang yang keimanan di dalam hati mereka lebih mantap (kuat) daripada gunung yang kokoh”. (HR. Ibnu Abi Hatim).
Untuk itu Allah berfirman: walau annaHum fa’aluu maa yuu’adhuuna biHii (“Dan se-sungguhnya, kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka.”) Artinya, seandainya mereka melakukan apa yang telah diperintahkan, serta meninggalkan apa yang dilarang. La kaana khairal laHum (“Niscaya itu lebih baik bagi mereka,”) daripada melanggar perintah dan melakukan larangan. Wa asyadda tatsbiitan (“Dan lebih menguatkan iman mereka.”) As-Suddi berkata: “Yaitu lebih kuat pengakuannya, wa idzal la aatainaaHum mil ladunnaa (“Dan kalau demikian pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar”.) Yaitu, dari sisi Kami; ajran ‘adhiiman (“pahala yang besar.”) Yaitu Surga. Wa laHadainaaHum shiraatham mustaqiiman (“Dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus,”) di dunia dan di akhirat. Kemudian Allah berfirman: wa may yuthi’illaaHa wa rasuula fa-ulaa-ika ma’al ladziina an’amallaaHu ‘alaiHim minan nabiyyiina wash shaddiqiina wasy syuHadaa-i wash shaalihiin wa hasuna ulaa-ika rafiiqan (“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-Nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan merekaitulah teman yang sebaik-baiknya.”) Artinya, barangsiapa melakukan apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, serta meninggalkan apa yang dilarang Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya Allah akan menempatkannya di tempat kehormatan-Nya (Surga) dan menjadikannya pendamping para Nabi, kemudian orang-orang yang derajatnya di bawah mereka. Yaitu; para shiddiq (orang-orang yang jujur dalam imannya), para syuhada’ (orang-orang yang mati syahid), lalu kaum mukminin secara umum, yaitu orang-orang shalih yang baik (benar) pada apa-apa yang tersembunyi dan tampak pada mereka. KemudianAllah memuji mereka dengan firman-Nya: wa hasuna ulaa-ika rafiiqan (“Dan itulah teman yang sebaik-baiknya.”) Al-Bukhari meriwayatkan dari `Aisyah ra, Rasulullah bersabda: “Tidak ada seorang Nabi pun yang menderita sakit, kecuali akan diberi pilihan baginya, dunia atau akhirat.” Dan pada sakit beliau, di saat menjelang wafatnya terdengar beliau bersabda: “Bersama orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah yaitu; para Nabi, shiddiqin, syuhada’, dan shalihin.” Maka aku tahu, bahwasanya beliau telah diberi pilihan. (Demikian pula Muslim meriwayatkan). Inilah makna sabda Rasulullah saw. di dalam hadits yang lain: “Ya Allah, (aku memilih bersama) ar-rafiiqul a’la.” Beliau mengucapkannya tiga kali, kemudian beliau wafat, atasnyalah shalawat dan salam yang paling utama. Sebab-sebab turunnya ayat yang mulia ini: Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ibnu `Abbas, bahwa seorang laki-laki mendatangi Nabi saw. dan berkata: “Ya Rasulullah! Sesungguhnya aku mencintaimu, hingga aku selalu mengingatmu di rumah. Cinta itu terasa berat bagiku dan aku sangat senang jika sederajat bersamamu.” Nabi tidak menjawab sepatah katapun, lalu Allah menurunkan ayat ini.
Di dalam Shahih Muslim, diriwayatkan dari Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami bahwa ia berkata: “Dahulu aku bermalam di sisi Rasulullah saw, lalu aku menyiapkan air wudhu dan keperluannya. Beliau berkata padaku: “Mintalah.” Aku menjawab: “Ya Rasulullah, aku minta bersamamu di dalam Surga.” Beliau berkata lagi: “Selain itu.” Aku menjawab: “Itulah yang aku minta.” Beliau menjawab: “Bantulah aku untuk dirimu dengan memperbanyak sujud.” Imam Ahmad meriwayatkan, dari Sahl bin Mu’adz bin Anas, dari ayahnya, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang membaca seribu ayat di jalan Allah, niscaya Allah akan mencatatnya pada hari Kiamat bersama Para Nabi, shiddiqin, syuhada’ dan shalihin. Itulah sebaik-baik teman, insya Allah.” At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Sa’id, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Pedagang yang jujur lagi amanah akan bersama Para Nabi, shiddiiqiin dan syuhada’.” (Kemudian dia berkata: “Hadits ini hasan yang kami tidak ketahui kecuali dari jalan ini.”) Kabar yang lebih menggembirakan dari itu semua adalah hadits yang terdapat dalam kitab shahih, kitab musnad dan lain lain dari jalan yang mutawatir dari jama’ah Para Sahabat, bahwa Rasulullah saw. pernah ditanya tentang seseorang yang mencintai suatu kaum dan apa yang ada pada mereka, beliau bersabda: “Seseorang akan bersama orang yang dicintainya.” Anas berkata: “Tidak ada sesuatu yang menggembirakan kaum muslimin daripada kegembiraan mereka dengan hadits ini.” Imam Malik bin Anas meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri, ia ber-kata, Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya penghuni Surga akan saling melihat penghuni kamar yang berada di atasnya, sebagaimana kalian melihat bintang bersinar terang yang bertebaran di ufuk timur dan barat, karena saling berbeda dalam derajat di antara mereka.” Mereka bertanya: “Ya Rasulullah! Itu adalah kedudukan para Nabi, yang tidak dapat dicapai oleh selain mereka.” Beliau saw. bersabda: “Betul, tapi dapat di capai oleh yang lain. Demi Rabb yang jiwaku ada di tangan-Nya, mereka yang dapat mencapainya adalah orang-orang yang beriman dan membenarkan para Rasul.” (Dikeluarkan oleh al-Bukhari dan Muslim di dalam ash-Shahihain). Dzaalika fadl-lu minallaaHi (“Itu adalah keutamaan dari Allah.”) Yaitu dari sisi Allah dengan rahmat-Nya dan Allah-lah yang menjadikan mereka menikmati hal itu dan yang menempatkan mereka di situ, bukan karena amal-amal mereka. Wa kafaa billaaHi ‘aliiman (“Cukuplah Allah yang Mahamengetahui.”) Yaitu, Allah Maha-mengetahui siapa yang berhak mendapatkan hidayah dan taufiq
AYAT 66-70 AN NISAA
BIS,MILLAHIR,RAHMAN,NIR,RAHIM,.
Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 66 Wa lau anna_ katabna_ 'alaihim aniqtulu_ anfusakum awikhruju_ min diya_rikum ma_ fa'alu_hu illa_ qalilum minhum, wa lau annahum fa'ala_ ma_ yu_'azu_na bihi laka_na khairal lahum wa asyadda tasbita_(w), 4:67 Ayat 67 Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 67 Wa izal la'a_taina_hum mil ladunna_ ajran 'zima_(w), 4:68 Ayat 68 Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 68 Wa lahadaina_hum sira_tam mustaqima_(n). 4:69 Ayat 69 Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 69 Wa may yuti'illa_ha war rasu_la fa ula_'ika ma'al lazina an'amalla_hu 'alaihim minan nabiyyina was siddiqina wasy syuhada_'i was sa_lihin(a), wa hasuna ula_'ika rafiqa_(n). 4:70 Ayat 70 Quran, Surah An-Nisaa, Ayat 70 Za_likal fadlu minalla_h(i), wa kafa_ billa_hi 'alima_(n).
“Dan sesungguhnya, kalau Kami perintahkan kepada mereka: ‘Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu, niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka). (QS. 4:66) Dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami. (QS. 4:67) Dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus. (QS. 4:68) Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu Nabi-Nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. 4:69) Yang demikian itu adalah karunia dari Allah dan Allah cukup mengetahui. (QS. 4:70)”
(an-Nisaa’: 66-70) Allah memberitahukan INSAN YANG MELAKUKAN DOSA DAN INGGIN KEMBALI KEPADA ALLAH DAN MEMOHON KEMAPUAN ALLAH DAN DI AMPUN SEGALA DOSA DOSA NYA YANG LALU TIADA TERTINGGAL SEBERAT ZARAH SEKALI PUN YAKNI TAUBATAN NASUHA DAN KELUAR BERJIHAT DIATAS JALAN FISABILILLAH DENGAN MEMBUNUH DIRI SENDIRI DI MEDAN PERANG BERTEMUR DEMI DZAT YANG MAHA ILLAH ,HINGGA TERBUH DAN MATI SYAHID DEMI.. NUR MUHAMAT CAHAYA DI BAWAH CAHAYA ALLAH.,., DAN JUA tentang kebanyakan manusia, bahwa mereka seandainya diperintahkan untuk melaksanakan larangan-larangan yang mereka langgar, niscaya mereka pun tidak akan melakukannya. Karena tabi’at buruk mereka terbina untuk menentang perintah. Hal ini merupakan ilmu Allah tentang sesuatu yang belum dan sudah terjadi. Maka bagaimana pula dengan apa yang sudah terjadi? Untuk itu Allah berfirman kepada mereka: wa lau annaa katabnaa ‘alaiHim aniqtuluu anfusakum (“Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: ‘Bunuhlah dirimu,’”) Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa ketika turun ayat: wa lau annaa katabnaa ‘alaiHim aniqtuluu anfusakum (“Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: ‘Bunuhlah dirimu,’”)seseorang berkata: “Seandainya kami diperintah, niscaya kami akan lakukan. Dan segala puji hanya bagi Allah yang telah memberikan `afiat kepada kami.” Berita itu pun sampai kepada Nabi saw., lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya di antara umatku ada orang-orang yang keimanan di dalam hati mereka lebih mantap (kuat) daripada gunung yang kokoh”. (HR. Ibnu Abi Hatim).
Untuk itu Allah berfirman: walau annaHum fa’aluu maa yuu’adhuuna biHii (“Dan se-sungguhnya, kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka.”) Artinya, seandainya mereka melakukan apa yang telah diperintahkan, serta meninggalkan apa yang dilarang. La kaana khairal laHum (“Niscaya itu lebih baik bagi mereka,”) daripada melanggar perintah dan melakukan larangan. Wa asyadda tatsbiitan (“Dan lebih menguatkan iman mereka.”) As-Suddi berkata: “Yaitu lebih kuat pengakuannya, wa idzal la aatainaaHum mil ladunnaa (“Dan kalau demikian pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar”.) Yaitu, dari sisi Kami; ajran ‘adhiiman (“pahala yang besar.”) Yaitu Surga. Wa laHadainaaHum shiraatham mustaqiiman (“Dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus,”) di dunia dan di akhirat. Kemudian Allah berfirman: wa may yuthi’illaaHa wa rasuula fa-ulaa-ika ma’al ladziina an’amallaaHu ‘alaiHim minan nabiyyiina wash shaddiqiina wasy syuHadaa-i wash shaalihiin wa hasuna ulaa-ika rafiiqan (“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-Nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan merekaitulah teman yang sebaik-baiknya.”) Artinya, barangsiapa melakukan apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, serta meninggalkan apa yang dilarang Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya Allah akan menempatkannya di tempat kehormatan-Nya (Surga) dan menjadikannya pendamping para Nabi, kemudian orang-orang yang derajatnya di bawah mereka. Yaitu; para shiddiq (orang-orang yang jujur dalam imannya), para syuhada’ (orang-orang yang mati syahid), lalu kaum mukminin secara umum, yaitu orang-orang shalih yang baik (benar) pada apa-apa yang tersembunyi dan tampak pada mereka. KemudianAllah memuji mereka dengan firman-Nya: wa hasuna ulaa-ika rafiiqan (“Dan itulah teman yang sebaik-baiknya.”) Al-Bukhari meriwayatkan dari `Aisyah ra, Rasulullah bersabda: “Tidak ada seorang Nabi pun yang menderita sakit, kecuali akan diberi pilihan baginya, dunia atau akhirat.” Dan pada sakit beliau, di saat menjelang wafatnya terdengar beliau bersabda: “Bersama orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah yaitu; para Nabi, shiddiqin, syuhada’, dan shalihin.” Maka aku tahu, bahwasanya beliau telah diberi pilihan. (Demikian pula Muslim meriwayatkan). Inilah makna sabda Rasulullah saw. di dalam hadits yang lain: “Ya Allah, (aku memilih bersama) ar-rafiiqul a’la.” Beliau mengucapkannya tiga kali, kemudian beliau wafat, atasnyalah shalawat dan salam yang paling utama. Sebab-sebab turunnya ayat yang mulia ini: Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ibnu `Abbas, bahwa seorang laki-laki mendatangi Nabi saw. dan berkata: “Ya Rasulullah! Sesungguhnya aku mencintaimu, hingga aku selalu mengingatmu di rumah. Cinta itu terasa berat bagiku dan aku sangat senang jika sederajat bersamamu.” Nabi tidak menjawab sepatah katapun, lalu Allah menurunkan ayat ini.
Di dalam Shahih Muslim, diriwayatkan dari Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami bahwa ia berkata: “Dahulu aku bermalam di sisi Rasulullah saw, lalu aku menyiapkan air wudhu dan keperluannya. Beliau berkata padaku: “Mintalah.” Aku menjawab: “Ya Rasulullah, aku minta bersamamu di dalam Surga.” Beliau berkata lagi: “Selain itu.” Aku menjawab: “Itulah yang aku minta.” Beliau menjawab: “Bantulah aku untuk dirimu dengan memperbanyak sujud.” Imam Ahmad meriwayatkan, dari Sahl bin Mu’adz bin Anas, dari ayahnya, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang membaca seribu ayat di jalan Allah, niscaya Allah akan mencatatnya pada hari Kiamat bersama Para Nabi, shiddiqin, syuhada’ dan shalihin. Itulah sebaik-baik teman, insya Allah.” At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Sa’id, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Pedagang yang jujur lagi amanah akan bersama Para Nabi, shiddiiqiin dan syuhada’.” (Kemudian dia berkata: “Hadits ini hasan yang kami tidak ketahui kecuali dari jalan ini.”) Kabar yang lebih menggembirakan dari itu semua adalah hadits yang terdapat dalam kitab shahih, kitab musnad dan lain lain dari jalan yang mutawatir dari jama’ah Para Sahabat, bahwa Rasulullah saw. pernah ditanya tentang seseorang yang mencintai suatu kaum dan apa yang ada pada mereka, beliau bersabda: “Seseorang akan bersama orang yang dicintainya.” Anas berkata: “Tidak ada sesuatu yang menggembirakan kaum muslimin daripada kegembiraan mereka dengan hadits ini.” Imam Malik bin Anas meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri, ia ber-kata, Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya penghuni Surga akan saling melihat penghuni kamar yang berada di atasnya, sebagaimana kalian melihat bintang bersinar terang yang bertebaran di ufuk timur dan barat, karena saling berbeda dalam derajat di antara mereka.” Mereka bertanya: “Ya Rasulullah! Itu adalah kedudukan para Nabi, yang tidak dapat dicapai oleh selain mereka.” Beliau saw. bersabda: “Betul, tapi dapat di capai oleh yang lain. Demi Rabb yang jiwaku ada di tangan-Nya, mereka yang dapat mencapainya adalah orang-orang yang beriman dan membenarkan para Rasul.” (Dikeluarkan oleh al-Bukhari dan Muslim di dalam ash-Shahihain). Dzaalika fadl-lu minallaaHi (“Itu adalah keutamaan dari Allah.”) Yaitu dari sisi Allah dengan rahmat-Nya dan Allah-lah yang menjadikan mereka menikmati hal itu dan yang menempatkan mereka di situ, bukan karena amal-amal mereka. Wa kafaa billaaHi ‘aliiman (“Cukuplah Allah yang Mahamengetahui.”) Yaitu, Allah Maha-mengetahui siapa yang berhak mendapatkan hidayah dan taufiq
Subscribe to:
Posts (Atom)