TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK..
JILIK 2 AT-TAUBAH
Surat At-Taubah Ayat 72-73-74
BISS MILLAH HIRRAHMAN NIRRAHIM
وَعَدَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ۚ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Arab-Latin:
Wa'adallāhul-mu`minīna wal-mu`mināti jannātin tajrī min taḥtihal-an-hāru khālidīna fīhā wa masākina ṭayyibatan fī jannāti 'adn, wa riḍwānum minallāhi akbar, żālika huwal-fauzul-'aẓīm
Terjemah Arti:
Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar
.يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۚ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
Arab-Latin:
Yā ayyuhan-nabiyyu jāhidil-kuffāra wal-munāfiqīna wagluẓ 'alaihim, wa ma`wāhum jahannamu wa bi`sal-maṣīr
Terjemah Arti:
Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya.
يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ مَا قَالُوا وَلَقَدْ قَالُوا كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَكَفَرُوا بَعْدَ إِسْلَامِهِمْ وَهَمُّوا بِمَا لَمْ يَنَالُوا ۚ وَمَا نَقَمُوا إِلَّا أَنْ أَغْنَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ مِنْ فَضْلِهِ ۚ فَإِنْ يَتُوبُوا يَكُ خَيْرًا لَهُمْ ۖ وَإِنْ يَتَوَلَّوْا يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ عَذَابًا أَلِيمًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَمَا لَهُمْ فِي الْأَرْضِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ
Arab-Latin:
Yaḥlifụna billāhi mā qālụ, wa laqad qālụ kalimatal-kufri wa kafarụ ba'da islāmihim wa hammụ bimā lam yanalụ, wa mā naqamū illā an agnāhumullāhu wa rasụluhụ min faḍlih, fa iy yatụbụ yaku khairal lahum, wa iy yatawallau yu'ażżib-humullāhu 'ażāban alīman fid-dun-yā wal-ākhirah, wa mā lahum fil-arḍi miw waliyyiw wa lā naṣīr
Terjemah Arti:
Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya, dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi.
Dan dalam kitab ash-shahihain juga disebutkan, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya bagi orang-orang mukmin di dalam surga sebuah rumah yang terbuat dari satu mutiara yang bulat, yang panjangnya enam puluh mil di langit. Di dalamnya ada beberapa keluarga, ia mengelilingi mereka, yang sebagian mereka tidak mengetahui sebagian lainnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Masih dalam kitab ash-shahihain juga, disebutkan dari Abu Hurairah ia menceritakan, Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, mengerjakan puasa Ramadhan, maka keharusan bagi Allah untuk memasukkannya ke dalam surga, baik ia sebagai orang yang berhijrah di jalan Allah, maupun ia tetap tinggal di tanah kelahirannya.”
Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, apakah kita tidak perlu memberitahu orang-orang?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya di dalam surga terdapat seratus derajat (tingkatan) yang disiapkan Allah bagi orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Jarak antara setiap dua derajat (tingkatan) adalah seperti jarak antara langit dan bumi. Jika kalian meminta kepada Allah, maka mintalah kepada-Nya surga Firdaus, karena ia adalah surga yang paling tinggi dan paling tengah. Dari surga Firdaus itu memancar sungai-sungai surga, dan di atasnya terdapat ‘Arsy ar-Rahman.”
Hal yang sama juga diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi, dari ‘Ubadah bin ash-Shamith dan dari Abu Hazim, dari Sahl bin Sa’ad, ia menceritakan, Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya para penghuni surga itu dapat melihat kamar-kamar di dalam surga, sebagaimana mereka dapat melihat bintang di langit.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam dua kitab shahih mereka, kemudian ia (penghuni surga) akan mengetahui bahwa tingkatan tertinggi di surga adalah tempat yang diberi nama al-wasilah. Diberi nama itu karena kedekatannya dari ‘Arsy. Itulah yang menjadi tempat Rasulullah di surga. Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin yang benar-benar mantap imannya, dari kalangan laki-laki dan perempuan, akan mendapatkan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan mendapat tempat yang baik di surga 'adn. Dan sesungguhnya keridaan Allah yang diperoleh di akhirat kelak itu lebih besar daripada kenikmatan surga itu sendiri. Itulah keberuntungan yang agung. Ayat ini mengajarkan bahwa tujuan hidup seorang mukmin adalah menggapai keridaan-Nya, juga keberuntungan yang hakiki adalah jika apa yang dilakukan dan dihasilkan itu bisa mengantarkannya menuju surga. Setelah Allah menjelaskan secara beriringan sifat orang-orang munafik dan orang-orang mukmin disertai balasan masing-masing, maka ayat ini menyeru kepada nabi Muhammad agar berjihad menghadapi mereka. Hal ini, disebabkan perilaku buruk mereka terhadap rasulullah dan kaum mukminin, yang sudah berulang kali menyakitinya secara fisik maupun psikis, bahkan tidak jarang tindakan mereka mengancam keselamatan beliau. Karena itu, wahai nabi dan kaum mukmin, berjihadlah melawan orang-orang kafir dan orang-orang munafik disebabkan perkataan dan perbuatan mereka yang nyata-Nyata menantang kamu, dan bersikaplah keras dan tegas terhadap mereka dalam berjihad agar mereka menghentikan perilaku buruknya sehingga tidak berani mengulanginya. Jika mereka terbunuh dan mati dalam keadaan kafir dan munafik, maka tempat mereka adalah neraka jahanam. Dan itulah seburukburuk tempat kembali. Perintah jihad itu bersifat kondisional dan bukan semata-mata tanpa sebab.
Setelah Allah menjelaskan secara beriringan sifat orang-orang munafik dan orang-orang mukmin disertai balasan masing-masing, maka ayat ini menyeru kepada nabi Muhammad agar berjihad menghadapi mereka. Hal ini, disebabkan perilaku buruk mereka terhadap rasulullah dan kaum mukminin, yang sudah berulang kali menyakitinya secara fisik maupun psikis, bahkan tidak jarang tindakan mereka mengancam keselamatan beliau. Karena itu, wahai nabi dan kaum mukmin, berjihadlah melawan orang-orang kafir dan orang-orang munafik disebabkan perkataan dan perbuatan mereka yang nyata-Nyata menantang kamu, dan bersikaplah keras dan tegas terhadap mereka dalam berjihad agar mereka menghentikan perilaku buruknya sehingga tidak berani mengulanginya. Jika mereka terbunuh dan mati dalam keadaan kafir dan munafik, maka tempat mereka adalah neraka jahanam. Dan itulah seburukburuk tempat kembali. Perintah jihad itu bersifat kondisional dan bukan semata-mata tanpa sebab. Orang-orang munafik akan melakukan apa saja demi menutupi keburukan perilaku dan ucapannyanya. Bahkan, mereka berani bersumpah dengan nama Allah di hadapan engkau, wahai nabi, bahwa mereka tidak pernah mengatakan sesuatu yang menyakiti engkau, padahal sumpah itu bohong belaka. Sungguh, mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, yaitu mencela nabi Muhammad dan agama islam, dan telah menjadi kafir dengan terkuaknya kebusukan hati mereka setelah sebelumnya mereka menutupinya dengan pura-pura mengikuti ajaran islam, dan mereka juga sangat menginginkan apa yang mereka tidak dapat mencapainya, yaitu membunuh rasulullah. Mereka tidak mencela, melainkan didorong oleh rasa iri dan dengki karena Allah dan rasul-Nya melimpahkan karunia-Nya kepada mereka dengan jumlah lebih kecil, tidak sesuai dengan yang mereka harapkan. Maka, jika mereka bertobat dari sikap kemunafikan dan menyesalinya, sehingga tobatnya akan diterima, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling dari iman serta tetap dalam kemunafikannya, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dengan berbagai bentuk dan di akhirat dengan neraka jahanam, dan mereka tidak mempunyai pelindung dan tidak pula penolong di bumi jika azab menimpa mereka.
Referensi: https://tafsirweb.com/3089-surat-at-taubah-ayat-73.htmlOrang-orang munafik akan melakukan apa saja demi menutupi keburukan perilaku dan ucapannyanya. Bahkan, mereka berani bersumpah dengan nama Allah di hadapan engkau, wahai nabi, bahwa mereka tidak pernah mengatakan sesuatu yang menyakiti engkau, padahal sumpah itu bohong belaka. Sungguh, mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, yaitu mencela nabi Muhammad dan agama islam, dan telah menjadi kafir dengan terkuaknya kebusukan hati mereka setelah sebelumnya mereka menutupinya dengan pura-pura mengikuti ajaran islam, dan mereka juga sangat menginginkan apa yang mereka tidak dapat mencapainya, yaitu membunuh rasulullah. Mereka tidak mencela, melainkan didorong oleh rasa iri dan dengki karena Allah dan rasul-Nya melimpahkan karunia-Nya kepada mereka dengan jumlah lebih kecil, tidak sesuai dengan yang mereka harapkan. Maka, jika mereka bertobat dari sikap kemunafikan dan menyesalinya, sehingga tobatnya akan diterima, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling dari iman serta tetap dalam kemunafikannya, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dengan berbagai bentuk dan di akhirat dengan neraka jahanam, dan mereka tidak mempunyai pelindung dan tidak pula penolong di bumi jika azab menimpa mereka. Ayat ini membicarakan sifat buruk lain kaum munafik. Dan di antara mereka, orang-orang munafik, ada orang yang telah berjanji kepada Allah, sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian dari karunia-Nya kepada kami, niscaya kami akan bersedekah dan niscaya kami termasuk orang-orang yang saleh dengan selalu berinfak, menjaga hubungan kekerabatan, tetap ikut serta dalam berjihad dan perbuatan-perbuatan baik lainn.
Dari Amirul Mukminin `Ali bin Abi Thalib, ia menceritakan, bahwa Rasulullah saw diutus dengan empat macam ayat saif (ayat pedang):
Pertama, ayat saif Yang ditujukan kepada orang-orang musyrik: “Apabila sudah habis bulan-bulan haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrik itu.” (at-Taubah: 5)
Kedua, ayat sair yang ditujukan kepada orang-orang kafir dari kalangan ahlul kitab: “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak pula kepada hari akhir. Dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan Allah dan Rasul-Nya serta tidak beragama dengan agama yang benar [agama Allah]. [Yaitu orang-orang] yang diberikan al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (At-Taubah: 29)
Ketiga, ayat saif yang ditujukan kepada orang-orang munafik: “Berjihadlah melawan orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu.” (QS. At-Taubah: 73)
Keempat, ayat saif yang ditujukan kepada orang-orang yang berbuat aniaya: “Maka perangilah golongan yang berbuat aniaya tersebut, sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah.” (Al-Hujuraat: 9)
Yang demikian itu menunjukkan, bahwa mereka berjihad dengan membawa pedang, jika mereka memperlihatkan kemunafikan. Pendapat ini merupakan pilihan Ibnu Jarir.
Mengenai firman Allah: JaaHidil kuffaara wal munaafiqiin (“Berjihadlah melawan orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu.”) Ibnu Mas’ud mengatakan: “Yaitu dengan menggunakan tangan, jika tidak mampu, maka dengan memperlihatkan wajah muram.”
Sedangkan Ibnu `Abbas mengatakan: “Allah telah memerintahkan kepada Rasulullah saw untuk berjihad melawan orang-orang kafir dengan menggunakan pedang dan terhadap orang-orang munafik dengan menggunakan lisan, serta tidak menampakkan kelembutan kepada mereka”.
Adh-Dhahhak mengatakan: “Perangilah orang-orang kafir dengan menggunakan pedang dan bersikap keraslah terhadap orang-orang munafik melalui ucapan, yang demikian itu merupakan jihad melawan mereka.”
Hal yang senada juga diceritakan dari Muqatil dan ar-Rabi’ bin Anas.
Al-Hasan al-Bashri, Qatadah dan Mujahid mengatakan: “Jihad melawan mereka itu berwujud pemberlakuan hudud [hukum] kepada mereka.”
Ada yang mengatakan, bahwa di antara semua pendapat di atas terclapat pertentangan satu dengan yang lainnya, karena terkadang sekali waktu mereka memang diberi hukuman yang satu dan pada kesempatan lain diberi hukuman yang selain dari itu, semuanya bergantung pada keadaan. Wallahu a’lam.
As-Suddi mengatakan: “Ayat ini turun berkenaan dengan beberapa orang yang hendak mendatangi `Abdullah bin Ubay, meskipun Rasulullah saw. tidak meridhai”.
Disebutkan bahwa, ada beberapa orang munafik yang berkeinginan keras untuk membunuh Nabi ketika dalam perang Tabuk pada malam hari ketika dalam perjalanan. Mereka berjumlah belasan orang. Adh-Dhahhak mengatakan: “Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang tersebut.”
Yang demikian itu telah dijelaskan melalui hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad rahimahullah, dari Abu ath-Thufail, ia menceritakan: “Ketika Rasulullah pulang dari perang Tabuk, beliau menyuruh seorang penyeru. Maka ia pun menyerukan: ‘Sesungguhnya Rasulullah hendak mengambil jalan bukit, maka tidak seorang pun diperbolehkan ke sana.’
Ketika Rasulullah saw dikawal oleh Hudzaifah dan untanya ditarik oleh `Ammar tiba-tiba sekumpulan orang yang memakai topeng dengan berkendaraan, mendatangi mereka. Kemudian mereka merintangi `Ammar yang sedang dalam keadaan menarik unta Rasulullah saw. Lalu `Ammar menghadapi mereka dan memukul bagian muka unta-unta mereka. Maka Rasulullah bertutur kepada Hudzaifah: qad, qad (“Sudah, sudah.”)
Sehingga menelusuri jalan turun, dan setelah turun dari bukit, beliau turun dari unta. Setelah beliau turun, `Ammar menghampiri beliau. Lalu beliau berkata: “Hai `Ammar, apakah engkau mengenal orang-orang itu?”
`Ammar menjawab: “Aku mengenal seluruh binatang tunggangan mereka itu, sedangkan orang-orang itu semuanya bertopeng.”
Rasulullah bertanya: “Apakah engkau mengetahui apa yang mereka inginkan?”
“Allah dan kasul-Nya yang lebih tahu,” jawab ‘Ammar.
Beliau bertutur: “Mereka bermaksud mengagetkan hewan tunggangan Rasulullah saw, sehingga
mereka dapat melemparkannya ke jurang.”
Lebih lanjut Abu ath-Thufail bercerita, lalu `Ammar bertanya kepada salah seorang sahabat Rasulullah saw. berapakah jumlah Ashabul Aqabah (orang-orang yang berada di jalan pendakian bukit itu) yang engkau ketahui?” Ia menjawab: “Empat belas orang.” Lebih lanjut `Ammar mengatakan: “Jika engkau termasuk salah satu dari mereka, berarti mereka berjumlah lima belas orang.”
Maka Rasulullah menghitung tiga orang dari mereka, yang mengatakan: “Demi Allah, kami tidak mendengar penyeru Rasulullah saw dan kami tidak mengetahui apa yang diinginkan orang-orang tersebut (orang-orang yang mendaki jalan bukit itu).”
Lalu `Ammar pun berkata: “Aku bersaksi, bahwa dua belas orang lainnya (selain tiga orang di atas) memerangi Allah dan Rasul-Nya dalam kehidupan dunia dan pada hari dibangkitkannya para saksi.
Keshahihan kisah ini diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan sanadnya kepada Abu ath-Thufail, ia menceritakan: Abu ath-Thufail memberitahu kami, ia mengatakan, antara seseorang dari kelompok ‘Aqabah dan Hudzaifah, terjadi peristiwa yang dialami itu. Kemudian ia bertanya: “Berapakah jumlah Ashabul Aqabah (yang berada di jalan pendakian bukit)?”
Kemudian ada suatu kaum yang mengatakan kepadanya: “Beritahukan kepadanya apa yang ditanyakan kepadamu.” Ia pun menjawab: “Kami beritahukan bahwa mereka berjumlah empat belas orang, jika engkau termasuk mereka, maka mereka berjumlah lima belas orang. Dan aku bersaksi dengan nama Allah, bahwa dua belas orang lainnya memerangi Allah dan Rasul-Nya dalam kehidupan dunia dan pada hari dibangkitkannya para saksi. Sedangkan yang tiga orang lainnya beralasan dengan mengatakan: “Kami tidak mendengar penyeru Rasulullah dan kami tidak mengetahui mengenai apa yang diinginkan oleh orang-orang tersebut (orang-orang yang melalui jalan ‘aqabah).”
Beliau berjalan di bawah terik matahari yang sangat panas, lalu berkata: “Sesungguhnya air sangat sedikit, sehingga tidak seorang pun boleh mendahuluiku ke sana.” Ternyata beliau mendapatkan suatu kaum yang telah mendahuluinya dan pada hari itu juga beliau melaknat mereka.
Firman-Nya: wa maa naqamuu illaa an aghnaa HumullaaHu wa rasuuluHuu min fadl-liHi (“Dan mereka tidak mencela [Allah dan Rasul-Nya], kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka.”) Maksudnya, Rasulullah saw tidak bersalah kepada mereka, melainkan Allah membuat mereka kaya dengan berkah-Nya dan menganugerahkan kebahagiaan-Nya. Jika telah sempurna kebahagiaan atas mereka, niscaya Allah Ta’ala akan menunjukkan mereka kepada apa yang dibawa oleh Nabi saw.
Shighah (pengutaraan) ini dikemukakan, di mana tidak ada kesalahan Rasulullah saw. Yang demikian itu seperti firman-Nya yang artinya: “Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu, melainkan hanya karena orang-orang itu beriman kepada Allah.” (QS. Al-Buruuj: 8)
Selanjutnya, Allah Tabaraka wa Ta ala menyeru mereka supaya bertaubat. Di mana Allah berfirman: fa iy yatuubuu yaku khairal laHum wa iy yatawallau yu’adz-dzibu HumullaaHu ‘adzaaban aliiman fid dun-yaa wal aakhirati (“Jika mereka bertaubat, maka yang demikian itu adalah lebih baik bagi mereka. Dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengadzab mereka dengan adzab yang pedih di dunia dan di akhirat.”) Maksudnya, jika mereka masih terus menempuh jalan mereka [orang-orang munafik] niscaya Allah akan mengadzab mereka dengan adzab yang sangat pedih di dunia, yaitu berupa pembunuhan, kegoncangan dan kesusahan. Sedangkan di akhirat berupa adzab, siksaan, kehinaan dan kenistaan.
Wa maa laHum fil ardli miw waliyyiw wa laa nashiir (“Dan mereka sekali-sekali tidak mempunyai pelindung dan tidak pula penolong di muka bumi.”) Yakni, mereka tidak mendapatkan seorang pun yang bisa menolong dan menyelamatkan mereka, tidak dapat memberikan kebaikan, serta tidak dapat menghindarkan mereka dari bahaya dan keburukan.
No comments:
Post a Comment