Saturday, 24 August 2019

AYAT 100-101 AT TAUBAH.,

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
JILIK 2 AT TAUBAH,.
BISS MILLAH HIR RAHMAN NIR RAHIM.,.,
AYAT 100-101
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Arab-Latin:
Was-sābiqụnal-awwalụna minal-muhājirīna wal-anṣāri wallażīnattaba'ụhum bi`iḥsānir raḍiyallāhu 'an-hum wa raḍụ 'an-hu wa a'adda lahum jannātin tajrī taḥtahal-an-hāru khālidīna fīhā abadā, żālikal-fauzul-'aẓīm
 وَمِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ الْأَعْرَابِ مُنَافِقُونَ ۖ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ ۖ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ لَا تَعْلَمُهُمْ ۖ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ ۚ سَنُعَذِّبُهُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَىٰ عَذَابٍ عَظِيمٍ
Arab-Latin:
Wa mim man ḥaulakum minal-a'rābi munāfiqụn, wa min ahlil-madīnati maradụ 'alan-nifāq, lā ta'lamuhum, naḥnu na'lamuhum, sanu'ażżibuhum marrataini ṡumma yuraddụna ilā 'ażābin 'aẓīm


“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. at-Taubah / al-Baraah: 100)“Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafkannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada adzab yang besar.” (QS. at-Taubah / al-Baraah: 101)

       Allah memberitahukan tentang keridhaan-Nya terhadap orang-orang terdahulu dari kalangan kaum Muhajirin, kaum Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, serta keridhaan mereka kepada Allah atas apa yang Allah telah sediakan untuk mereka berupa surga-surga yang penuh kenikmatan dan kenikmatan yang abadi. Asy-Sya’bi mengatakan: “Yang disebut dengan as-sabiqun al-awwalun (orang-orang terdahulu lagi yang paling pertama) adalah kaum Muhajirin dan kaum Anshar, yang mendapatkan peristiwa perjanjian Bai’atur Ridwan pada tahun Hudaibiyyah.” Abu Musa al-Asy’ari, Said bin al-Musayyib, Muhammad bin Sirin, al-Hasan dan Qatadah mengatakan: “Mereka adalah orang-orang yang pernah mengerjakan shalat dengan menghadap ke dua kiblat bersama Rasulullah saw.” Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi pernah menceritakan, ‘Umar bin al-Khaththab pernah melewati seseorang yang tengah membaca ayat: was saabiquunal awwaluuna minal muHaajiriina wal anshaari (“Orang-orang yang terdahu lagi yang pertama-tama [masuk Islam] di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar.”) Kemudian `Umar menarik tangan orang itu seraya berucap: “Siapakah yang membacakan ayat ini kepadamu?” Orang itu menjawab: “Ubay bin Ka’ab.” “Jangan pergi dariku sebelum aku membawamu kepadanya,” papar ‘Umar bin al-Khaththab. Setelah mendatangi Ubay bin Ka’ab, `Umar berkata: “Apakah benar kamu yang membacakan ayat ini demikian kepada orang ini?” Ubay bin Ka’ab menjawab: “Benar.” “Apakah engkau mendengarnya dari Rasulullah ?” tanya `Umar. “Ya,” jawabnya. `Umar berkata: “Aku melihat bahwa kami telah ditinggikan pada ketinggian yang tidak yang tidak dapat dicapai oleh seorang sepeninggal kami.”
                Ubay berkata: “Ayat yang memberikan peneguhan ayat tersebut terletak pada awal surat al Jumu’ah: ‘Dan kepada kaum yang lain dari mereka yang belunI berhubungan dengan mereka. Dan Allahlah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.’ Dan juga ayat yang terdapat pada surat al-Hasyr: ‘Dan orang-orang yang datang sesudah mereka [Muhajirin dan anshar].’” Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Ibnu Jarir. Allah memberitahukan, bahwa Dia telah meridhai orang-orang dari kalangan kaum Muhajirin dan kaum Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Maka, alangkah celakanya orang-orang yang membenci dan mencela mereka atau sebagian saja dari mereka. Apalagi terhadap pemuka sahabat setelah Rasulullah saw, yaitu sahabat pilihan dan Khalifah paling agung, ash-Shiddiq al-Akbar yaitu, Abu Bakar bin Abi Quhafah ra. Ada sebuah kelompok terhina dari kalangan kaum Rafidhah yang memusuhi, membenci, mencaci dan mencela para sahabat yang paling mulia. Na’udzu billaaHi min dzalik. Yang demikian itu menunjukkan, bahwa akal mereka telah terbalik dan hati mereka pun telah linglung. Lalu dimanakah posisi keimanan orang-orang tersebut terhadap al-Qur’an, di mana mereka telah mencela orang-orang yang telah diridhai oleh Allah oleh-Nya dan oleh Rasul-Nya ?
               sedangkan ahlus sunnah senantiasa meridlai orang-orang yang diridlai Allah, mencela orang-orang yang dicela Allah dan Rasul-Nya, mendukung orang-orang yang didukung oleh-Nya, memusuhi orang-orang yang dimusuhi oleh-Nya. Ahlus sunnah adalah muttabi’un (yang mengikuti Rasulullah) dan bukan mubtadi’un (pembuat bid’ah), kaum yang taat dan bukan kaum yang membangkang. Mereka ini adalah golongan Allah jalla wa ‘ala yang beruntung dan merupakan hamba-hamba-Nya yang beriman. Allah memberitahu Rasul-Nya, Muhammad saw, bahwa di antara masyarakat Arab yang tinggal di sekitar Madinah terdapat orang-orang munafik. Demikian halnya di tengah-tengah masyarakat Madinah, juga terdapat orang-orang munafik. Maradduu ‘alan nifaaqi (“Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya.”) Yaitu, secara berkelanjutan dan terns menerus dalam melakukan kemunafikan tersebut. Dari kata marad itu pula syaitan itu disebutkan sebagai mariid dan maarid. Tamarrada fulan yang berarti si fulan itu melampui batas dan sombong. Diceritakan kepada kami, bahwa `Umar bin al-Khaththab ra, jika ada orang yang meninggal dunia dari kalangan mereka (orang-orang munafik), maka ia melihat Hudzaifah, jika Hudzaifah menshalatkannya, maka ia akan menshalatkannya, dan jika tidak ia akan meninggalkannya. Diceritakan pula kepada kami, bahwasanya `Umar bin al-Khaththab pernah bertanya kepada Hudzaifah: “Apakah aku termasuk dari mereka?” “Tidak, dan aku tidak akan percaya seorang pun dari mereka sepeninggalmu.”

No comments:

Post a Comment