Sunday, 4 August 2019

AYAT 80-81-82 AT-TAUBAH

TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
JILIK 2 AT-TAUBAH
Surat At-Taubah Ayat 80
BISS MILLAH HIR RAHMAN NIRRAHIM,..,
        اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ إِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةً فَلَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Arab-Latin:
 Istagfir lahum au lā tastagfir lahum, in tastagfir lahum sab'īna marratan fa lay yagfirallāhu lahum, żālika bi`annahum kafarụ billāhi wa rasụlih, wallāhu lā yahdil-qaumal-fāsiqīn
           فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ ۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا ۚ لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ
Arab-Latin:
Fariḥal-mukhallafụna bimaq'adihim khilāfa rasụlillāhi wa karihū ay yujāhidụ bi`amwālihim wa anfusihim fī sabīlillāhi wa qālụ lā tanfirụ fil-ḥarr, qul nāru jahannama asyaddu ḥarrā, lau kānụ yafqahụn
           فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلًا وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Arab-Latin:
 Falyaḍ-ḥakụ qalīlaw walyabkụ kaṡīrā, jazā`am bimā kānụ yaksibụn
            TERJEMAHAN BAHASA MELAYU ASLI,..,
      “Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun kepada mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (QS. at-Taubah / al-Baraah: 80)“Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidal suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, dan mereka berkata: ‘Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.’ Katakanlah: ‘Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas(nya), jikalau mereka mengetahui. (QS. 9:81) Maka hendaklah mereka sedikit tertawa dan banyak menangis, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. 9:82)” (at-Taubah / al-Baraah: 81-82)

 Allah memberitahukan kepada Nabi-Nya, Muhammad saw. bahwa orang-orang munafik itu tidak layak untuk dimintakan ampunan. Bahkan jika beliau memintakan ampunan bagi mereka sebanyak tujuh puluh kali, maka Allah tidak akan memberikan ampunan bagi mereka. Ada yang mengatakan, bilangan tujuh puluh itu disebutkan untuk menyatakan kesungguhannya dalam memintakan ampunan bagi mereka, karena dalam ungkapan masyarakat Arab bilangan tujuh puluh itu digunakan untuk menyatakan kesungguhan ucapan mereka. Bukan digunakan untuk memberikan batasan, juga tidak berarti bila bilangannya (dari bilangan tersebut) ditambah akan mempunyai pengertian yang lain. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Malik,
            dari Abi az-Zinad, dari al-A’raj, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Api yang dimiliki oleh anak cucu Adam yang kalian nyalakan itu merupakan satu bagian saja dari tujuh puluh bagian api neraka Jahannam.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, tetapi api dunia itu sudah cukup panas.” Kemudian beliau bersabda: “Api tersebut akan bertambah lagi dengan enam puluh sembilan bagian.” Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dalam ash-Shahihain, dari Malik. Sedangkan Imam Ahmad meriwayatkan, Sufyan memberitahu kami, dari Abu az-Zinad, dari al-A’raj, dari Abu Hurairah, dari Nabi saw, beliau bersabda: “Sesungguhnya api yang ada pada kalian ini adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian dari api neraka Jahannam dan dipukulkan ke laut dua kali. Seandainya tidak demikian, niscaya Allah tidak menjadikan manfaat padanya bagi seorangpun.” (HR. Ahmad dengan isnad yang shahih.)

         Imam Abu `Isa at-Tirmidzi dan Ibnu Majah telah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas ad-Duuri, dan dari Yahya bin Abi Bukair, dari Abu Hurairah menceritakan, Rasulullah telah bersabda: “Allah telah menyalakan api itu seribu tahun hingga menjadi merah. Kemudian Allah menyalakan lagi seribu tahun sehingga menjadi putih. Selanjutnya Allah menyalakan lagi seribu tahun hingga menjadi hitam, yaitu hitam laksana malam yang gelap.” Setelah itu, Imam at-Tirmidzi mengatakan: “Aku tidak mengetahui seorang pun yang memarfu’kan (menyampaikan riwayat kepada Rasulullah saw. hadits ini kecuali Yahya.” Juga diriwayatkan oleh al-Hafizh Abu Bakar bin Mardawaih Syuraik, yaitu Ibnu `Abdillah an-Nakha’i. Ibnu Mardawaih juga meriwayatkan dari riwayat Mubarak bin Fadhalah, dari Tsabit dari Anas ia menceritakan, Rasulullah saw. pernah membaca ayat: naaraw wa quuduHan naasu wal hijaaratu (“Api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”) Kemudian beliau bersabda: “Allah menyalakan api itu selama seribu tahun hingga menjadi putih, dan seribu tahun lagi sehingga menjadi merah, dan seribu tahun lagi sehingga menjadi hitam, yakni hitam laksana malam yang tidak bercahaya.” Al-Hafizh Abul Qasim ath-Thabrani juga meriwayatkan dari hadits Tamam bin Najih, dan telah terjadi perbedaan pendapat di dalamnya, dari al-Hasan, dari Anas, dan ia memarfu’kannya [menyampaikan riwayatnya sampai pada Rasulullah],

         Rasulullah saw. bersabda: “Seandainya kilatan api itu, yaitu api dari neraka jahannam ada di belahan timur, maka panasnya (pun) akan terasa di belahan barat.” Al-Hafizd Abu Ya’la juga meriwayatkan dari Abu Hurairah menceritakan, Rasulullah bersabda, dan juga al-A’masy berkata, dari Abu Ishaq, dari an-Nu’man bin Basyir, bersabda Rasulullah saw: “Sesungguhnya penghuni neraka yang mendapatkan adzab yang paling ringan pada hari Kiamat kelak adalah orang yang mempunyai satu pasang sandal dan 2 tali sandal yang terbuat dari api neraka Jahannam, yang membakar otaknya, sebagaimana terbakarnya periuk. Ia tidak mengetahui, bahwa ada seorang dari penghuni neraka yang mendapatkan adzab yang lebih keras dari dirinya, dan sesungguhnya ia adalah orang yang mendapatkan adzab yang paling ringan di antara mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Kemudian Allah berfirman dengan nada mengancam orang-orang munafik, atas apa yang mereka perbuat tersebut: fal yadl-hakuu qaliilaw wal yabkuu katsiiran (“Maka hendaklah mereka sedikit tertawa dan banyak menangis.”) Ibnu Abi Thalhah menceritakan dari Ibnu `Abbas: “Dunia ini hanya sebentar, maka biarlah mereka tertawa sekehendak hati mereka. Jika dunia ini telah berakhir dan mereka kembali kepada Allah maka mereka akan menyambung tertawanya itu dengan tangisan yang tidak akan pernah berakhir untuk selamanya.” Demikian itulah yang dikemukakan oleh Abu Razin, al-Hasan al-Bashri, Qatadah, ar-Rabi’ bin Khutsaim, `Aun al-‘Uqaili dan Zaid bin Aslam.

No comments:

Post a Comment