TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK,
JILIK 2 AT-TAUBAH,
BISS MILLAH HIRRAHMAN NIRRAHIM,
Surat At-Taubah Ayat 97-98-99,
الْأَعْرَابُ أَشَدُّ كُفْرًا وَنِفَاقًا وَأَجْدَرُ أَلَّا يَعْلَمُوا حُدُودَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
Arab-Latin:
Al-a'rābu asyaddu kufraw wa nifāqaw
wa ajdaru allā ya'lamụ ḥudụda mā anzalallāhu 'alā rasụlih, wallāhu 'alīmun ḥakīm
وَمِنَ الْأَعْرَابِ مَنْ يَتَّخِذُ مَا يُنْفِقُ مَغْرَمًا وَيَتَرَبَّصُ بِكُمُ الدَّوَائِرَ ۚ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Arab-Latin:
Wa minal-a'rābi may yattakhiżu mā yunfiqu magramaw
wa yatarabbaṣu bikumud-dawā`ir, 'alaihim dā`iratus-saụ`, wallāhu samī'un 'alīm
وَمِنَ الْأَعْرَابِ مَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَيَتَّخِذُ مَا يُنْفِقُ قُرُبَاتٍ عِنْدَ اللَّهِ وَصَلَوَاتِ الرَّسُولِ ۚ أَلَا إِنَّهَا قُرْبَةٌ لَهُمْ ۚ سَيُدْخِلُهُمُ اللَّهُ فِي رَحْمَتِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Arab-Latin:
Wa minal-a'rābi may yu`minu billāhi wal-yaumil-ākhiri wa yattakhiżu mā yunfiqu qurubātin 'indallāhi wa ṣalawātir-rasụl, alā innahā qurbatul lahum, sayudkhiluhumullāhu fī raḥmatih, innallāha gafụrur raḥīm
“Orang-orang Arab Badui itu, lebih sangat kekafiran dan kemunafikannya, dan lebih wajar jika tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya. Dan Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana. (9:97) Di antara orang-orang Arab Badui itu, ada orang yang memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) sebagai suatu kerugian dan menanti-nanti marabahaya menimpamu; merekalah yang akan ditimpa marabahaya. Dan Allah Mahamendengar lagi Mahamengetahui. (QS. 9:98) Dan di antara orang-orang Badui itu, ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian dan memandang apa yang dinafkahkannya (dijalan Allah) itu sebagai jalan untuk mendekatkannya kepada Allah, dan sebagai jalan untuk memperoleh do’a Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat (surga)-Nya; sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang. (QS. 9:99)” (at-Taubah / al-Baraah: 97-99)
Allah memberitahukan, bahwa di antara orang-orang Arab Badui itu terdapat orang-orang kafir, orang-orang munafik dan orang-orang yang beriman. Tetapi, kekufuran dan kemunafikan mereka lebih parah dan lebih keras daripada masyarakat lainnya. Dan mereka lebih layak jika tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu `Abbas, dari Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa bertempat tinggal di dusun (pedalaman), maka ia akan menjadi kasar. Barangsiapa berburu, maka ia akan menjadi lengah. Dan barangsiapa mendekati penguasa, maka ia akan tergoda (terfitnah).” (HR. Ahmad)
Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, at-Tirmidzi dan an-Nasa’i. Imam at-Tirmidzi mengatakan: “Hadits tersebut derajatnya hasan gharib, di mana kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits ats-Tsauri.
Ada sebuah hadits tentang masyarakat Arab Badui dalam mencium anak, diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari `Aisyah radhiyallahu ‘anha, bercerita: “Ada beberapa orang Arab Badui yang datang kepada Rasulullah saw. lalu mereka bertanya: `Apakah kalian suka mencium anak-anak kalian? Para sahabat Rasulullah menjawab: `Ya.’ Kemudian mereka berkata: `Demi Allah, kami ini tidak suka mencium mereka.’ Maka Rasulullah saw. pun bersabda: “Apakah aku berkuasa jika Allah telah mencabut rasa kasih sayang dari kalian.”
Sedangkan Ibnu Numair mengatakan: “Mencabut kasih sayang dari hatimu.”
Sedangkan menurut riwayat Imam al-Bukhari adalah sebagai berikut: “Apakah aku berkuasa
Allah telah mencabut kasih sayang dari hati kalian.”
Firman Allah: wallaaHu ‘aliimun hakiim (“Dan Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana.”) Maksudnya, Allah Ta’ala mengetahui siapa orang yang berhak mendapatkan pengajaran tentang keimanan dan ilmu. Allah bijaksana dalam membagikan ilmu, kebodohan, keimanan, kekufuran dan kemunafikan di antara hamba-hamba-Nya. Dan Allah tidak akan dimintai pertanggunganjawab atas apa yang Allah perbuat berdasarkan pengetahuan dan kebijaksanaan.
Sayudkhilu HumullaaHu fii rahmatiHii innallaaHa ghafuurur rahiim (“Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya. Sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”)
&
No comments:
Post a Comment