TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK,..,
JILIK 2 AYAT 37
SURAH IBRAHIM,.
37. rabbanaa innii askantu min dzurriyyatii biwaadin ghayri dzii zar’in ‘inda baytika almuharrami rabbanaa liyuqiimuu alshshalaata faij’al af-idatan mina alnnaasi tahwii ilayhim waurzuqhum mina altstsamaraati la’allahum yasykuruuna
“Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)
Ini menunjukkan, bahwa do’a Ibrahim as. ini adalah yang kedua setelah do’a pertama yang diucapkannya ketika meninggalkan Hajar anaknya sebelum membangun Baitullah, sedang do’a yang kedua ini diucapkan setelah Baitullah itu dibangun sebagai penegasan dan permohonan kepada Alla
Ibnu jarir mengatakan, bahwa do’a ini berkaitan dengan al-muharram (yang dihormati). Maksudnya, aku menjadikannya dihormati agar warga Makkah dapat mendirikan shalat di Baitullah itu dengan tenang.
Ibnu `Abbas, Mujahid, Sa’id bin Jubair dan lain-lain mengatakan: “Kalau dia mengatakan hati manusia, maka orang-orang dari Persia, Romawi, Yahudi, Nasrani dan semua manusia pasti mereka berbondong-bondong datang ke Makkah.” Tetapi, dia mengatakan: minan naasi (“Sebagian hati manusia,”) maka hal itu hanya khusus untuk orang-orang Islam saja.
Allah telah mengabulkan do’a Ibrahim itu, seperti difirmankan: “Dan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah haram (tanah suci) yang aman yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) untuk menjadi rizki dari sisi Kami.” (QS. Al-Qashash: 57)
Hal ini semua karena kasih sayang, kemurahan, rahmat dan berkah dari Allah, bahwa sekalipun di tanah suci Makkah tidak ada pohon buah- buahan, tetapi didatangkan ke sana buah-buahan dari daerah lain di sekitarnya, bahkan dari seluruh dunia, karena Allah Ta’ala mengabulkan do’a Ibrahim as.
Tuesday, 12 November 2019
Sunday, 10 November 2019
AYAT 34-36 SURAH IBRAHIM,..
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK,.
JILIK 2 AYAT 35-36,.
SURAH IBRAHIM,.,.
34. waaataakum min kulli maa sa-altumuuhu wa-in ta’udduu ni’mata allaahi laa tuhsuuhaa inna al-insaana lazhaluumun kaffaarun 35. wa-idz qaala ibraahiimu rabbi ij’al haadzaa albalada aaminan waujnubnii wabaniyya an na’buda al-ashnaama 36. rabbi innahunna adhlalna katsiiran mina alnnaasi faman tabi’anii fa-innahu minnii waman ‘ashaanii fa-innaka ghafuurun rahiimun “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: ‘Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. (QS. 14:35) Ya Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku dan barangsiapa yang mendurhakaiku, maka sesungguhnya Engkau, Mahapengampun lagi Mahapenyayang. (QS. 14:36)” (QS. Ibrahim: 35-36)
Dalam kesempatan ini, Allah menyebutkan (sebagai) bantahan terhadap orang-orang musyrik Arab bahwa sebenarnya tanah suci Makkah sejak pertama kali diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah yang Mahaesa yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan bahwa Ibrahim yang menyebabkan Makkah itu menjadi kota yang ramai dan berpenduduk, telah menyatakan lepas diri dari orang-orang yang menyembah selain Allah dan dia berdo’a memohon untuk keamanan Makkah, ia berkata: rabbij’al Haadzal balada aaminan (“Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini [Makkah] negeri yang aman,”) dan Allah pun mengabulkannya. Seperti difirmankan Allah: “Belumkah mereka melihat bahwa Kami telah menjadikannya tanah suci yang aman.” (QS. Al-`Ankabuut: 67), dan firman Allah: “Sesungguhnya rumah yang mula pertama didirikan untuk (tempat beribadah) umat manusia ialah Baitullah yang ada di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan sebagai petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, di antaranya maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia.” (QS. Ali-‘Imran: 96-97)
Dalam kisah ini, dia berkata: rabbij’al Haadzal balada aaminan (“Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini [Makkah] negeri yang aman,”) dalam ayat ini digunakan kata definitife [dengan kata al-balad] karena IbraHim berdoa setelah membangunnya. Karena itu ia mengatakan: “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepadaku pada usia tua ini Isma’il dan Ishaq.” (QS. Ibrahim: 39) ,
Setiap orang yang berdo’a hendaklah ia berdo’a untuk dirinya sendiri, kedua orang tua dan anak cucu keturunannya. Kemudian ia menyebutkan, bahwa cukup banyak manusia yang terperdaya oleh berhala-berhala, tetapi ia (Ibrahim) membebaskan diri dari orang-orang yang menyembahnya dan menyerahkan urusan mereka kepada kehendak Allah, apakah Allah akan menyiksa atau mengampuni mereka. Seperti perkataan `Isa as.: “Jika Engkau mengadzab mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hambaMu. Dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Al-Maaidah: 118). Tidak ada cara lain kecuali menyerahkan hal itu kepada kehendak Allah Ta’ala, bukan berarti membolehkan hal (penyembahan berhala) itu terjadi.
Abdullah ibnu Wahb mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amr ibnul Haris, bahwa Bakr ibnu Sawwadah pernah menceritakan kepadanya, dari Abdur Rahman ibnu Jarir, dari Abdullah ibnu Amr, bahwa Rasulullah Saw. membaca firman Allah Swt. yang menceritakan doa Nabi Ibrahim, yaitu: Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia. (Ibrahim: 36), hingga akhir ayat.
Dan doa Nabi Isa a.s. yang disebutkan oleh firman-Nya: Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau. (Al-Maidah: 118), hingga akhir ayat.
Setelah itu Rasulullah Saw. mengangkat kedua tangannya (berdoa) dan mengatakan dalam doanya:
Ya Allah, (selamatkanlah) umatku, Ya Allah, (selamatkanlah) umatku, Ya Allah, (selamatkanlah) umatku. Lalu beliau Saw. menangis, dan Allah berfirman, "Hai Jibril, berangkatlah, temui Muhammad, dan tanyakanlah kepadanya apakah yang membuatnya menangis —padahal Allah lebih mengetahui—?" Malaikat Jibril a.s. datang dan menanyainya, lalu Rasulullah Saw. menjawabnya, (Malaikat Jibril kembali melapor kepada Allah), maka Allah Swt. berfirman, "Pergilah kepada Muhammad, dan katakanlah kepadanya bahwa Kami akan membuatnya puas terhadap umatnya dan Kami tidak akan mengecewakannya."
Saturday, 9 November 2019
AYAT 32-34 SURAH IBRAHIM,.
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
JILIK 2 AYAT 32-34
SURAH IBRAHIM,.
Biss Millah Hirrahman Nirrahim.,
''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''
32. allaahu alladzii khalaqa alssamaawaati waal-ardha wa-anzala mina alssamaa-i maa-an fa-akhraja bihi mina altstsamaraati rizqan lakum wasakhkhara lakumu alfulka litajriya fii albahri bi-amrihi wasakhkhara lakumu al-anhaara 33. wasakhkhara lakumu alsysyamsa waalqamara daa-ibayni wasakhkhara lakumu allayla waalnnahaara 34. waaataakum min kulli maa sa-altumuuhu wa-in ta’udduu ni’mata allaahi laa tuhsuuhaa inna al-insaana lazhaluumun kaffaarun “Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Allah mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rizki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya babtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. (QS. 14:32) dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus-menerus beredar (dalam orbitnya), dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.” (QS. 14:33) Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat dhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (QS. 14: 34)” (QS. Ibrahim: 32-34)
'''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''
Allah menjelaskan berbagai macam nikmat yang telah diberikan kepada makhluk-Nya dengan menciptakan untuk mereka langit sebagai yang terjaga agar tidak jatuh dan bumi sebagai alas. “Dan Allah menurunkan air dari langit, maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berbagai jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam,” (QS. Thaahaa: 53), dengan buah-buahan dan tanaman yang beraneka macam warna, bentuk, rasa, bau manfaatnya.
Dan Allah menundukkan kapal dengan menjadikannya terapung di atas arus air laut dan berjalan di permukaannya dengan perintah Allah Ta’ala, menundukkan lautan untuk membawa kapal yang dijadikan oleh para musafir sebagai alat transportasi dari satu daerah ke daerah lain untuk mengangkut barang-barang dari satu tempat ke tempat lain. Dan menundukkan sungai-sungai yang membelah bumi dari satu daerah sampai daerah lain, semua itu sebagai sumber rizki bagi makhluk di dunia ini dengan menggunakannya untuk minum, mengairi tanaman dan lain-lain yang bermacam-macam manfa’atnya. Wa sakhkharasy syamsa wal qamara daa-ibain (“Dan Dia telah menundukkan [pula] bagimu matahari dan bulan yang terus-menerus beredar [dalam orbitnya],”) maksudnya, keduanya berjalan terus-menerus siang dan malam silih berganti. Siang malam itu juga saling berlawanan, kadang-kadang salah satu di antaranya mengambil waktu dari yang lain selungga menjadi lebih panjang, sedang yang lain ienjadi lebih pendek. Wa aataakum min kulli maa sa-altumuuHu (“Dan Dia telah memberikan kepadamu [keperluanmu] dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya.”) Allah Ta’ala berfirman, bahwa Allah telah menyediakan untuk kalian saja yang kalian perlukan pada segala keadaan, apa yang kalian minta baik melalui perkataan maupun keadaan.
Sebagian ulama salaf mengatakan, bahwa Allah menyediakan segala apa yang diminta maupun apa yang tidak diminta. Wa in ta’udduu ni’matallaaHi laa tuhshuuHaa (“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat merighitungnya,”) Allah memberitahukan, bahwa manusia tidak akan mampu menghitung berapa banyak nikmat Allah, apalagi mensyukurinya.
Disebutkan dalam shahih al-Bukhari bahwa Rasulullah saw. bersabda:”Ya Allah, bagi-Mu segala puji yang tiada seorang pun dapat memenuhi maupun menjaganya, dan kami pun sangat memerlukannya, wahai Rabb kami.”
Dan diriwayatkan dalam sebuah atsar, bahwa Dawud as. berkata: “Ya Rabb, bagaimanakah aku dapat bersyukur kepada-Mu, sedang syukurku kepada-Mu itu adalah nikmat dari-Mu kepadaku?” Maka Allah berfirman: “Sekarang engkau telah bersyukur kepada-Ku wahai Dawud.” Maksudnya, (engkau telah bersyukur) ketika engkau mengakui bahwa engkau tidak dapat memenuhi syukur yang sepatutnya kepada Pemberi nikmat. Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Segala puji bagi Allah yang tidak dapat dipenuhi syukur atas salah satu nikmat yang telah diberikan-Nya itu, kecuali dengan nikmat baru yang harus disyukuri pula.”
JILIK 2 AYAT 32-34
SURAH IBRAHIM,.
Biss Millah Hirrahman Nirrahim.,
''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''
32. allaahu alladzii khalaqa alssamaawaati waal-ardha wa-anzala mina alssamaa-i maa-an fa-akhraja bihi mina altstsamaraati rizqan lakum wasakhkhara lakumu alfulka litajriya fii albahri bi-amrihi wasakhkhara lakumu al-anhaara 33. wasakhkhara lakumu alsysyamsa waalqamara daa-ibayni wasakhkhara lakumu allayla waalnnahaara 34. waaataakum min kulli maa sa-altumuuhu wa-in ta’udduu ni’mata allaahi laa tuhsuuhaa inna al-insaana lazhaluumun kaffaarun “Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Allah mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rizki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya babtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. (QS. 14:32) dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus-menerus beredar (dalam orbitnya), dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.” (QS. 14:33) Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat dhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (QS. 14: 34)” (QS. Ibrahim: 32-34)
'''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''
Allah menjelaskan berbagai macam nikmat yang telah diberikan kepada makhluk-Nya dengan menciptakan untuk mereka langit sebagai yang terjaga agar tidak jatuh dan bumi sebagai alas. “Dan Allah menurunkan air dari langit, maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berbagai jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam,” (QS. Thaahaa: 53), dengan buah-buahan dan tanaman yang beraneka macam warna, bentuk, rasa, bau manfaatnya.
Dan Allah menundukkan kapal dengan menjadikannya terapung di atas arus air laut dan berjalan di permukaannya dengan perintah Allah Ta’ala, menundukkan lautan untuk membawa kapal yang dijadikan oleh para musafir sebagai alat transportasi dari satu daerah ke daerah lain untuk mengangkut barang-barang dari satu tempat ke tempat lain. Dan menundukkan sungai-sungai yang membelah bumi dari satu daerah sampai daerah lain, semua itu sebagai sumber rizki bagi makhluk di dunia ini dengan menggunakannya untuk minum, mengairi tanaman dan lain-lain yang bermacam-macam manfa’atnya. Wa sakhkharasy syamsa wal qamara daa-ibain (“Dan Dia telah menundukkan [pula] bagimu matahari dan bulan yang terus-menerus beredar [dalam orbitnya],”) maksudnya, keduanya berjalan terus-menerus siang dan malam silih berganti. Siang malam itu juga saling berlawanan, kadang-kadang salah satu di antaranya mengambil waktu dari yang lain selungga menjadi lebih panjang, sedang yang lain ienjadi lebih pendek. Wa aataakum min kulli maa sa-altumuuHu (“Dan Dia telah memberikan kepadamu [keperluanmu] dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya.”) Allah Ta’ala berfirman, bahwa Allah telah menyediakan untuk kalian saja yang kalian perlukan pada segala keadaan, apa yang kalian minta baik melalui perkataan maupun keadaan.
Sebagian ulama salaf mengatakan, bahwa Allah menyediakan segala apa yang diminta maupun apa yang tidak diminta. Wa in ta’udduu ni’matallaaHi laa tuhshuuHaa (“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat merighitungnya,”) Allah memberitahukan, bahwa manusia tidak akan mampu menghitung berapa banyak nikmat Allah, apalagi mensyukurinya.
Disebutkan dalam shahih al-Bukhari bahwa Rasulullah saw. bersabda:”Ya Allah, bagi-Mu segala puji yang tiada seorang pun dapat memenuhi maupun menjaganya, dan kami pun sangat memerlukannya, wahai Rabb kami.”
Dan diriwayatkan dalam sebuah atsar, bahwa Dawud as. berkata: “Ya Rabb, bagaimanakah aku dapat bersyukur kepada-Mu, sedang syukurku kepada-Mu itu adalah nikmat dari-Mu kepadaku?” Maka Allah berfirman: “Sekarang engkau telah bersyukur kepada-Ku wahai Dawud.” Maksudnya, (engkau telah bersyukur) ketika engkau mengakui bahwa engkau tidak dapat memenuhi syukur yang sepatutnya kepada Pemberi nikmat. Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Segala puji bagi Allah yang tidak dapat dipenuhi syukur atas salah satu nikmat yang telah diberikan-Nya itu, kecuali dengan nikmat baru yang harus disyukuri pula.”
Wednesday, 6 November 2019
AYAT 31 SURAH IBRAHIM.,
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK,.
JILIK 2 AYAT 31
SURAH IBRAHIM,.
Biss millah hirrahman nirrahim,.
31. qul li’ibaadiya alladziina aamanuu yuqiimuu alshshalaata wayunfiquu mimmaa razaqnaahum sirran wa’alaaniyatan min qabli an ya/tiya yawmun laa bay’un fiihi walaa khilaalun “Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: ‘Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rizki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (Kiamat) yang pada hari itu tidak adajual-beli dan persahabatan.” (QS. Ibrahim: 31)
Allah memerintahkan kepada para hamba-Nya agar taat kepada Allah, melaksanakan hak-Nya dan berbuat baik kepada makhluk, yaitu dengan mendirikan shalat yang merupakan ibadah kepada Allah yang Mahaesa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan menafkahkan sebagian dari rizki yang diberikan Allah kepada mereka dengan membayar zakat, memberikan nafkah kepada kerabat serta berbuat baik kepada orang-orang yang lainnya. Yang dimaksud dengan mendirikan shalat adalah menjaga waktu, ketentuan-ketentuan, ruku’, sujud dan kekhusyu’annya.
Allah Ta’ala juga memerintahkan agar menafkahkan sebagian dari rizki mereka dengan cara sembunyi-sembunyi atau diam-diam maupun terang-terangan yang diketahui oleh orang lain, supaya mereka cepat-cepat melaksanakannya untuk membebaskan diri mereka; min qabli ay ya’tiya yaumun (“sebelum datang hari”) yaitu hari Kiamat. Laa bai’un fiiHi wa laa khilaal (“Yang pada hari itu tidak ada jual-beli dan persahabatan,”) maksudnya, tidak ada tebusan dari seorangpun dengan membeli dirinya, sebagaimana firman Allah yang artinya: “Maka pada hari ini tidak diambil darimu tebusan dan tidak pula dari orang- orang kafir.” (QS. Al-Hadiid: 15) Firman Allah: wa laa khilaal (“Dan tidak ada persahabatan,”) Ibnu Jarir mengatakan: “Di sana tidak ada persahabatan dengan sahabat sehingga dapat membebaskan seseorang dari hukuman yang semestinya diterima akibat pelanggarannya. Tetapi yang ada adalah keadilan.”
(Qatadah mengatakan: )“Sesungguhnya Allah mengetahui, bahwa di dunia ini terdapat jual-beli dan persahabatan yang terjalin antar manusia yang satu dengan yang lain. Maka, seseorang akan diperhatikan siapa yang dijadikannya sahabat dan berdasar atas apa dia berkawan. Bila persahabatan itu karena Allah, maka hendaknya dilanggengkan (diteruskan), bila karena hal lain, maka supaya diputuskannya.
(Ibnu Katsir) berpendapat, maksud ayat ini adalah bahwasanya Allah memberitahukan bahwa jual-beli dan tebusan itu sama sekali tidak ada gunanya bagi seseorang, walaupun tebusan itu dengan emas sepenuh bumi kalau memang ada. Demikian pula tidak berguna persahabatan dengan seseorang atau syafa’at dari seseorang, bila ia mati dalam keadan kafir.
JILIK 2 AYAT 31
SURAH IBRAHIM,.
Biss millah hirrahman nirrahim,.
31. qul li’ibaadiya alladziina aamanuu yuqiimuu alshshalaata wayunfiquu mimmaa razaqnaahum sirran wa’alaaniyatan min qabli an ya/tiya yawmun laa bay’un fiihi walaa khilaalun “Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: ‘Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rizki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (Kiamat) yang pada hari itu tidak adajual-beli dan persahabatan.” (QS. Ibrahim: 31)
Allah memerintahkan kepada para hamba-Nya agar taat kepada Allah, melaksanakan hak-Nya dan berbuat baik kepada makhluk, yaitu dengan mendirikan shalat yang merupakan ibadah kepada Allah yang Mahaesa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan menafkahkan sebagian dari rizki yang diberikan Allah kepada mereka dengan membayar zakat, memberikan nafkah kepada kerabat serta berbuat baik kepada orang-orang yang lainnya. Yang dimaksud dengan mendirikan shalat adalah menjaga waktu, ketentuan-ketentuan, ruku’, sujud dan kekhusyu’annya.
Allah Ta’ala juga memerintahkan agar menafkahkan sebagian dari rizki mereka dengan cara sembunyi-sembunyi atau diam-diam maupun terang-terangan yang diketahui oleh orang lain, supaya mereka cepat-cepat melaksanakannya untuk membebaskan diri mereka; min qabli ay ya’tiya yaumun (“sebelum datang hari”) yaitu hari Kiamat. Laa bai’un fiiHi wa laa khilaal (“Yang pada hari itu tidak ada jual-beli dan persahabatan,”) maksudnya, tidak ada tebusan dari seorangpun dengan membeli dirinya, sebagaimana firman Allah yang artinya: “Maka pada hari ini tidak diambil darimu tebusan dan tidak pula dari orang- orang kafir.” (QS. Al-Hadiid: 15) Firman Allah: wa laa khilaal (“Dan tidak ada persahabatan,”) Ibnu Jarir mengatakan: “Di sana tidak ada persahabatan dengan sahabat sehingga dapat membebaskan seseorang dari hukuman yang semestinya diterima akibat pelanggarannya. Tetapi yang ada adalah keadilan.”
(Qatadah mengatakan: )“Sesungguhnya Allah mengetahui, bahwa di dunia ini terdapat jual-beli dan persahabatan yang terjalin antar manusia yang satu dengan yang lain. Maka, seseorang akan diperhatikan siapa yang dijadikannya sahabat dan berdasar atas apa dia berkawan. Bila persahabatan itu karena Allah, maka hendaknya dilanggengkan (diteruskan), bila karena hal lain, maka supaya diputuskannya.
(Ibnu Katsir) berpendapat, maksud ayat ini adalah bahwasanya Allah memberitahukan bahwa jual-beli dan tebusan itu sama sekali tidak ada gunanya bagi seseorang, walaupun tebusan itu dengan emas sepenuh bumi kalau memang ada. Demikian pula tidak berguna persahabatan dengan seseorang atau syafa’at dari seseorang, bila ia mati dalam keadan kafir.
Sunday, 3 November 2019
AYAT 28-30 IBRAHIM,.
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
JILIK 2 SURAH IBRAHIM
AYAT 28-30
BISS MILLAH HIRRAHMAN NIRRAHIM,.
28. alam tara ilaa alladziina baddaluu ni’mata allaahi kufran wa-ahalluu qawmahum daara albawaari 29. jahannama yashlawnahaa wabi/sa alqaraaru 30. waja’aluu lillaahi andaadan liyudhilluu ‘an sabiilihi qul tamatta’uu fa-inna mashiirakum ilaa alnnaari
“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan, (QS. 14:28) yaitu neraka Jahannam, mereka masuk ke dalamnya dan itulah seburuk-buruknya tempat kediaman. (QS. 14:29) Orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah supaya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: ‘Bersenang-senanglah kamu karena sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka.’ (QS. 14:30)” (QS. Ibrahim: 28-30)
Imam al-Bukhari mengatakan: “Firman Allah: alam tara ilal ladziina baddaluu ni’matallaaHi kufran (“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran.”) artinya tidakkah kau tahu, seperti firman-Nya: alam tara kaifa (“Tidakkah kamu tahu bagaimana.”) dan: alam tara ilal ladziina kharajuu (“Tidakkah kamu tahu orang-orang yang keluar.”) Al bawaar adalah kehancuran/ kebinasaan, qaumam buuran artinya kaum yang hancur binasa. Ali bin Abdillah meriwayatkan kepada kami dari ‘Atha’ ia mendengar Ibnu `Abbas, tentang firman Allah: alam tara ilal ladziina baddaluu ni’matallaaHi kufran (“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran.”) ia berkata: “Mereka itu adalah kaum kafir Makkah.” Sedang al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu `Abbas tentang ayat ini, bahwa dia adalah Jabalah Ibnul Aiham dan orang-orang Arab yang mengikutinya yang kemudian bergabung dengan orang-orang Romawi. Pendapat Ibnu `Abbas yang masyhur dan benar adalah pendapat yang pertama, sekalipun maknanya umum yang mencakup semua orang kafir, karena Allah mengutus Muhammad sebagai rahmat bagi seluruh alam dan sebagai nikmat bagi manusia. Barangsiapa yang menerima dan mensyukurinya, dia pasti masuk surga. Dan barangsiapa menolak dan mengingkarinya, pasti masuk neraka.
Diriwayatkan pula dari `Ali seperti pendapat Ibnu `Abbas yang pertama. Adapun yang dimaksud dengan lembah kebinasaan adalah Jahannam. Firman Allah: wa ja’aluu lillaaHi andadal liyudlilluu ‘an sabiilillaaHi (“Orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah supaya mereka menyesatkan [manusia] dari jalan-Nya.”) Maksudnya, mereka menjadikan sekutu-sekutu yang mereka sembah bersama Allah dan menyeru manusia untuk berbuat seperti itu. Kemudian Allah berfirman dan mengancam mereka melalui lisan Rasulullah saw.: qul tamatta’uu fa inna mashiirakum ilan naari (“Katakanlah: ‘Bersenang-senanglah kamu karena sesungguhnya teriapat kembalimu adalah neraka.’”) Maksudnya, apa pun yang kalian mampu di dunia ini lakukanlah, karena apa pun yang kalian lakukan, maka akhirnya tempat kembali kalian adalah neraka, seperti firman Allah: “Kami beri sedikit kesenangan, kemuan Kami paksa mereka masuk kepada siksa yang keras (berat).” (QS. Luqman: 24)
JILIK 2 SURAH IBRAHIM
AYAT 28-30
BISS MILLAH HIRRAHMAN NIRRAHIM,.
28. alam tara ilaa alladziina baddaluu ni’mata allaahi kufran wa-ahalluu qawmahum daara albawaari 29. jahannama yashlawnahaa wabi/sa alqaraaru 30. waja’aluu lillaahi andaadan liyudhilluu ‘an sabiilihi qul tamatta’uu fa-inna mashiirakum ilaa alnnaari
“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan, (QS. 14:28) yaitu neraka Jahannam, mereka masuk ke dalamnya dan itulah seburuk-buruknya tempat kediaman. (QS. 14:29) Orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah supaya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: ‘Bersenang-senanglah kamu karena sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka.’ (QS. 14:30)” (QS. Ibrahim: 28-30)
Imam al-Bukhari mengatakan: “Firman Allah: alam tara ilal ladziina baddaluu ni’matallaaHi kufran (“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran.”) artinya tidakkah kau tahu, seperti firman-Nya: alam tara kaifa (“Tidakkah kamu tahu bagaimana.”) dan: alam tara ilal ladziina kharajuu (“Tidakkah kamu tahu orang-orang yang keluar.”) Al bawaar adalah kehancuran/ kebinasaan, qaumam buuran artinya kaum yang hancur binasa. Ali bin Abdillah meriwayatkan kepada kami dari ‘Atha’ ia mendengar Ibnu `Abbas, tentang firman Allah: alam tara ilal ladziina baddaluu ni’matallaaHi kufran (“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran.”) ia berkata: “Mereka itu adalah kaum kafir Makkah.” Sedang al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu `Abbas tentang ayat ini, bahwa dia adalah Jabalah Ibnul Aiham dan orang-orang Arab yang mengikutinya yang kemudian bergabung dengan orang-orang Romawi. Pendapat Ibnu `Abbas yang masyhur dan benar adalah pendapat yang pertama, sekalipun maknanya umum yang mencakup semua orang kafir, karena Allah mengutus Muhammad sebagai rahmat bagi seluruh alam dan sebagai nikmat bagi manusia. Barangsiapa yang menerima dan mensyukurinya, dia pasti masuk surga. Dan barangsiapa menolak dan mengingkarinya, pasti masuk neraka.
Diriwayatkan pula dari `Ali seperti pendapat Ibnu `Abbas yang pertama. Adapun yang dimaksud dengan lembah kebinasaan adalah Jahannam. Firman Allah: wa ja’aluu lillaaHi andadal liyudlilluu ‘an sabiilillaaHi (“Orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah supaya mereka menyesatkan [manusia] dari jalan-Nya.”) Maksudnya, mereka menjadikan sekutu-sekutu yang mereka sembah bersama Allah dan menyeru manusia untuk berbuat seperti itu. Kemudian Allah berfirman dan mengancam mereka melalui lisan Rasulullah saw.: qul tamatta’uu fa inna mashiirakum ilan naari (“Katakanlah: ‘Bersenang-senanglah kamu karena sesungguhnya teriapat kembalimu adalah neraka.’”) Maksudnya, apa pun yang kalian mampu di dunia ini lakukanlah, karena apa pun yang kalian lakukan, maka akhirnya tempat kembali kalian adalah neraka, seperti firman Allah: “Kami beri sedikit kesenangan, kemuan Kami paksa mereka masuk kepada siksa yang keras (berat).” (QS. Luqman: 24)
Saturday, 2 November 2019
AYAT 24-26 IBRAHIM.,.,
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK,.
JILIK 2 SURAH IBRAHIM.,
AYAT 24-26,,.
Biiss Millah Hirrahman Nirrahim.,
24. alam tara kayfa dharaba allaahu matsalan kalimatan thayyibatan kasyajaratin thayyibatin ashluhaa tsaabitun wafar’uhaa fii alssamaa-i 25. tu/tii ukulahaa kulla hiinin bi-idzni rabbihaa wayadhribu allaahu al-amtsaala lilnnaasi la’allahum yatadzakkaruuna 26. wamatsalu kalimatin khabiitsatin kasyajaratin khabiitsatin ijtutstsat min fawqi al-ardhi maa lahaa min qaraarin
{أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ (24) تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الأمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (25) وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الأرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ (26) }
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun. Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: perumpamaan kalimat yang baik. (Ibrahim: 24) Yakni syahadat atau persaksian yang bunyinya 'tidak ada Tuhan selain Allah'. seperti pohon yang baik. (Ibrahim: 24) Yang dimaksud ialah orang mukmin. akarnya teguh. (Ibrahim: 24) Yaitu kalimat, 'Tidak ada Tuhan selain Allah' tertanam dalam di hati orang mukmin. dan cabangnya (menjulang) ke langit. (Ibrahim: 24) Maksudnya, berkat kalimat tersebut amal orang mukmin dinaikkan ke langit. Demikianlah menurut Ad-Dahhak, Sa'id ibnu Jubair, Ikrimah, Mujahid, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang, bahwa sesungguhnya hal ini merupakan perumpamaan tentang amal perbuatan orang mukmin, ucapannya yang baik, dan amalnya yang saleh. Dan sesungguhnya orang mukmin itu seperti pohon kurma, amal salehnya terus-menerus dinaikkan (ke langit) baginya di setiap waktu, pagi dan petang. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh As-Saddi, dari Murrah, dari Ibnu Mas'ud yang mengatakan bahwa pohon yang dimaksud adalah pohon kurma. Juga menurut riwayat Syu'bah, dari Mu'awiyah ibnu Qurrah, dari Anas, bahwa pohon itu adalah pohon kurma. Hammad ibnu Salamah telah meriwayatkan dari Syu'aib ibnul Habhab, dari Anas, bahwa Rasulullah Saw. mendapat kiriman sekantong buah kurma. Maka beliau Saw. membaca firman-Nya: perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik. (Ibrahim: 24) Yakni pohon kurma.
Tetapi telah diriwayatkan melalui jalur ini dari lainnya (Syu'aib ibnul Habhab), dari Anas secara mauquf. Hal yang sama telah di-Mas-kan oleh Masruq, Mujahid, Ikrimah, Sa'id ibnu Jubair, Ad-Dahhak Qatadah, dan lain-lainnya. قَالَ الْبُخَارِيُّ: حَدَّثَنَا عُبَيدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، عَنْ أَبِي أُسَامَةَ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: "أَخْبِرُونِي عَنْ شَجَرَةٍ تُشْبِهُ -أَوْ: كَالرَّجُلِ -اَلْمُسْلِمِ، لَا يَتَحَاتُّ وَرَقُهَا [وَلَا وَلَا وَلَا] تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ". قَالَ ابْنُ عُمَرَ: فَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ، وَرَأَيْتُ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ لَا يَتَكَلَّمَانِ، فَكَرِهْتُ أَنْ أَتَكَلَّمَ، فَلَمَّا لَمْ يَقُولُوا شَيْئًا، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "هِيَ النَّخْلَةُ". فَلَمَّا قُمْنَا قُلْتُ لِعُمَرَ: يَا أَبَتَا، وَاللَّهِ لَقَدْ كَانَ وَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ. قَالَ: مَا مَنَعَكَ أَنْ تَكَلَّمَ؟ قَالَ: لَمْ أَرَكُمْ تَتَكَلَّمُونَ، فَكَرِهْتُ أَنْ أَتَكَلَّمَ أَوْ أَقُولَ شَيْئًا. قَالَ عُمَرُ: لَأَنْ تَكُونَ قُلْتَهَا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كَذَا وَكَذَا Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ubaid ibnu Ismail, dari Abu Usamah, dari Ubaidillah, dari Nafi', dari Ibnu Umar yang mengatakan, "Ketika kami sedang bersama Rasulullah Saw., beliau bersabda, 'Ceritakanlah kepadaku tentang pohon yang menyerupai seorang muslim, ia tidak pernah rontok daunnya, baik di musim panas maupun di musim dingin, dan ia mengeluarkan buahnya setiap musim dengan seizin Tuhannya'." Ibnu Umar mengatakan, "Lalu terdetik di dalam hatiku jawaban yang mengatakan bahwa pohon itu adalah pohon kurma. Tetapi aku melihat Abu Bakar dan Umar tidak bicara, maka aku merasa segan untuk mengemukakannya. Setelah mereka tidak menjawab sepatah kata pun, bersabdalah Rasulullah Saw. bahwa pohon tersebut adalah pohon kurma. Ketika kami bangkit (untuk pergi), aku berkata kepada Umar, 'Wahai ayahku, demi Allah, sesungguhnya telah terdetik di dalam hatiku jawabannya, bahwa pohon itu adalah pohon kurma.' Umar berkata, 'Apakah yang mencegahmu untuk tidak mengatakannya?'Aku menjawab, 'Aku tidak melihat kalian menjawab, maka aku segan untuk mengatakannya atau aku segan mengatakan sesuatu.'
Umar berkata, 'Sesungguhnya bila kamu katakan jawaban itu lebih aku sukai daripada anu dan anu'." قَالَ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنِ ابْنِ أَبِي نَجِيحٍ، عَنْ مُجَاهِدٍ: صَحِبْتُ ابْنَ عُمَرَ إِلَى الْمَدِينَةِ، فَلَمْ أَسْمَعْهُ يُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا حَدِيثًا وَاحِدًا -قَالَ: كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَى بِجِمَارٍ. فَقَالَ: "مِنَ الشَّجَرِ شَجَرَةٌ مَثَلُهَا مَثَلُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ". فَأَرَدْتُ أَنْ أَقُولَ: هِيَ النَّخْلَةُ، فَنَظَرَتْ فَإِذَا أَنَا أَصْغَرُ الْقَوْمِ، [فَسَكَتُّ] فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "هِيَ النَّخْلَةُ" Ahmad mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Ibnu Abu Najih, dari Mujahid, bahwa ia pernah menemani Ibnu Umar ke Madinah, dan ia tidak mendengar dari Ibnu Umar suatu hadis dari Rasulullah Saw. kecuali sebuah hadis. Ia mengatakan, "Ketika kami (para sahabat) sedang berada di hadapan Rasulullah Saw., tiba-tiba disuguhkan kepada beliau Saw. setandan buah kurma. Maka beliau Saw. bersabda: 'Di antara pohon itu ada sebuah pohon yang perumpamaannya sama dengan seorang lelaki muslim.' Aku bermaksud mengatakan bahwa pohon itu adalah pohon kurma. Tetapi aku memandang ke sekeliling, ternyata aku adalah orang yang paling muda di antara kaum yang ada (maka aku diam tidak menjawab), dan Rasulullah Saw. bersabda,
'Pohon itu adalah pohon kurma'." Hadis ini diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. قَالَ مَالِكٌ وَعَبْدُ الْعَزِيزِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا لِأَصْحَابِهِ: "إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَطْرَحُ وَرَقُهَا، مِثْلُ الْمُؤْمِنِ". قَالَ: فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي، وَوَقَعَ فِي قَلْبِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ [فَاسْتَحْيَيْتُ، حَتَّى قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "هِيَ النَّخْلَةُ] " Malik dan Abdul Aziz telah meriwayatkan dari Abdullah ibnu Dinar, dari Ibnu Umar yang menceritakan bahwa pada suatu hari Rasulullah Saw. bersabda kepada para sahabatnya: Sesungguhnya di antara pepohonan itu terdapat sebuah pohon yang tidak pernah gugur dedaunannya menjadi perumpamaan orang mukmin. Ibnu Umar melanjutkan kisahnya, "Orang-orang (yang hadir) menduganya pohon yang ada di daerah pedalaman, sedangkan di dalam hatiku terdetik bahwa pohon itu adalah pohon kurma, tetapi aku malu mengutarakannya; hingga Rasulullah Saw. bersabda bahwa pohon itu adalah pohon kurma."
Hadis ini diketengahkan oleh Imam Bukhari, juga oleh Imam Muslim. قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا أَبَانُ -يَعْنِي ابْنَ زَيْدٍ الْعَطَّارَ -حَدَّثَنَا قَتَادَةُ: أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالْأُجُورِ! فَقَالَ: "أَرَأَيْتَ لو عمد إلى متاع الدُّنْيَا، فَرَكَّبَ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ أَكَانَ يَبْلُغُ السَّمَاءَ؟ أَفَلَا أُخْبِرَكَ بِعَمَلٍ أَصْلُهُ فِي الْأَرْضِ وَفَرْعُهُ فِي السَّمَاءِ؟ ". قَالَ: مَا هُوَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: "تَقُولُ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ"، عَشْرَ مَرَّاتٍ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ، فَذَاكَ أَصْلُهُ فِي الْأَرْضِ وَفَرْعُهُ فِي السَّمَاءِ" Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Musa ibny Ismail, telah menceritakan kepada kami Aban (yakni Ibnu Zaid Al-Attar), telah menceritakan kepada kami Qatadah, bahwa seorang lelaki pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, orang-orang yang berharta telah pergi dengan memborong banyak pahala." Maka Rasulullah Saw. bersabda: "Bagaimanakah pendapatmu, seandainya dia dengan sengaja menghimpun harta kesenangan duniawi, lalu ia menumpukkan sebagian darinya di atas sebagian yang lain, apakah (tingginya) dapat mencapai langit? Maukah kamu bila kuberitahukan kepadamu suatu amal yang akarnya tertanam di dalam bumi, sedangkan cabangnya menjulang ke langit?” Lelaki itu bertanya, "Wahai Rasulullah, amal apakah itu?” Rasulullah Saw. menjawab, "Kamu ucapkan kalimah 'Tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Mahabesar. Mahasuci Allah, dan segala puji bagi Allah' sebanyak sepuluh kali seusai mengerjakan tiap-tiap salat. Maka itulah yang akarnya tertanam di bumi, sedangkan cabangnya menjulang ke langit.” Diriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: seperti pohon yang baik. (Ibrahim: 24) bahwa pohon tersebut adalah sebuah pohon yang ada di dalam surga.
******************* Firman Allah Swt.: {تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ} pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim. (Ibrahim: 25) Menurut suatu pendapat, yang dimaksud dengan kulla hinin ialah setiap pagi dan petang. Menurut pendapat lain yaitu setiap bulan, sedangkan pendapat lainnya mengatakan setiap dua bulan. Pendapat lain menyebutkan setiap enam bulan, ada yang mengatakan setiap tujuh bulan, ada pula yang mengatakan setiap tahun. Makna lahiriah konteks ayat menunjukkan bahwa perumpamaan orang mukmin sama dengan pohon yang selalu mengeluarkan buahnya setiap waktu, baik di musim panas maupun di musim dingin, siang dan malam hari. Begitu pula keadaan seorang mukmin, amal salehnya terus-menerus diangkat (ke langit) baginya, baik di tengah malam maupun di siang hari, setiap waktu. {بِإِذْنِ رَبِّهَا} dengan seizin Tuhannya. (Ibrahim: 25) Yakni mengeluarkan buahnya yang sempurna, baik, banyak, bermanfaat, lagi diberkati. {وَيَضْرِبُ اللَّهُ الأمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ} Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (Ibrahim: 25)
******************* Firman Allah Swt.: {وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ} Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk. (Ibrahim: 26) Inilah perumpamaan kekufuran orang yang kafir, tiada landasan baginya dan tiada keteguhan baginya; perihalnya sama dengan pohon hanzal atau pohon bertawali. Syu'bah telah meriwayatkannya dari Mu'awiyah ibnu Qurrah, dari Anas ibnu Malik, bahwa pohon tersebut adalah pohon hanzal (bertawali). Abu Bakar Al-Bazzar Al-Hafiz mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Muhammad As-Sakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zaid Sa'id ibnur Rabi', telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Mu'awiyah ibnu Qurrah, dari Anas, menurut dugaanku (perawi) ia membacakan firman-Nya: perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik. (Ibrahim: 24) Anas mengatakan bahwa pohon yang dimaksud ialah pohon kurma. Lalu ia membacakan firman-Nya: Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk. (Ibrahim: 26) Dan ia mengatakan bahwa pohon yang dimaksud ialah pohon syiryan (bertawali). Kemudian ia (Abu Bakar Al-Bazzar) meriwayatkannya dari Muhammad ibnul Musanna, dari Gundar, dari Syu'bah, dari Mu'awiyah, dari Anas secara mauquf. Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Syu'aib ibnul Habhab, dari Anas ibnu Malik, bahwa Nabi Saw. membacakan firman-Nya: Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk (Ibrahim: 26) Lalu beliau bersabda bahwa pohon itu adalah pohon hamalah (bertawali). Kemudian aku (perawi) menceritakan hal tersebut kepada Abul Aliyah. Ia menjawab, "Hal yang sama pernah kami dengar." Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui hadis Hammad ibnu Salamah dengan sanad yang sama. Abu Ya'la di dalam kitab Musnad-nya telah meriwayatkan hadis ini dalam bentuk yang lebih lengkap daripada riwayat di atas. Untuk itu dia mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Gassan, dari Hammad, dari Syu'aib, dari Anas, bahwa Rasulullah Saw. mendapat kiriman sekarung buah kurma, lalu beliau Saw. membacakan firman-Nya: Perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. (Ibrahim: 24-25) Maka beliau bersabda bahwa pohon itu adalah pohon kurma. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun. (Ibrahim: 26) Beliau Saw. bersabda, "Pohon yang dimaksud adalah pohon hanzal." Syu'aib mengatakan, ia menceritakan hadis ini kepada Abul Aliyah, maka Abul Aliyah menjawab bahwa hal yang sama pernah ia (dan rekan-rekannya) dengar.
******************* {اجْتُثَّتْ} yang telah dicabut. (Ibrahim: 26) Maksudnya, telah dijebol dan dicabut dengan akar-akarnya. Firman Allah Swt.: {مِنْ فَوْقِ الأرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ} dari permukaan bumi; tidak dapat tetap(tegak) sedikit pun. (Ibrahim: 26) Yakni tidak ada landasan dan tidak ada keteguhan baginya. Demikian pula halnya orang kafir, ia tidak mempunyai pokok, tidak pula cabang, tiada suatu amal pun darinya yang dinaikkan (diterima), dan tiada sesuatu pun yang diterima darinya.
JILIK 2 SURAH IBRAHIM.,
AYAT 24-26,,.
Biiss Millah Hirrahman Nirrahim.,
24. alam tara kayfa dharaba allaahu matsalan kalimatan thayyibatan kasyajaratin thayyibatin ashluhaa tsaabitun wafar’uhaa fii alssamaa-i 25. tu/tii ukulahaa kulla hiinin bi-idzni rabbihaa wayadhribu allaahu al-amtsaala lilnnaasi la’allahum yatadzakkaruuna 26. wamatsalu kalimatin khabiitsatin kasyajaratin khabiitsatin ijtutstsat min fawqi al-ardhi maa lahaa min qaraarin
{أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ (24) تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الأمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (25) وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الأرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ (26) }
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun. Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: perumpamaan kalimat yang baik. (Ibrahim: 24) Yakni syahadat atau persaksian yang bunyinya 'tidak ada Tuhan selain Allah'. seperti pohon yang baik. (Ibrahim: 24) Yang dimaksud ialah orang mukmin. akarnya teguh. (Ibrahim: 24) Yaitu kalimat, 'Tidak ada Tuhan selain Allah' tertanam dalam di hati orang mukmin. dan cabangnya (menjulang) ke langit. (Ibrahim: 24) Maksudnya, berkat kalimat tersebut amal orang mukmin dinaikkan ke langit. Demikianlah menurut Ad-Dahhak, Sa'id ibnu Jubair, Ikrimah, Mujahid, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang, bahwa sesungguhnya hal ini merupakan perumpamaan tentang amal perbuatan orang mukmin, ucapannya yang baik, dan amalnya yang saleh. Dan sesungguhnya orang mukmin itu seperti pohon kurma, amal salehnya terus-menerus dinaikkan (ke langit) baginya di setiap waktu, pagi dan petang. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh As-Saddi, dari Murrah, dari Ibnu Mas'ud yang mengatakan bahwa pohon yang dimaksud adalah pohon kurma. Juga menurut riwayat Syu'bah, dari Mu'awiyah ibnu Qurrah, dari Anas, bahwa pohon itu adalah pohon kurma. Hammad ibnu Salamah telah meriwayatkan dari Syu'aib ibnul Habhab, dari Anas, bahwa Rasulullah Saw. mendapat kiriman sekantong buah kurma. Maka beliau Saw. membaca firman-Nya: perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik. (Ibrahim: 24) Yakni pohon kurma.
Tetapi telah diriwayatkan melalui jalur ini dari lainnya (Syu'aib ibnul Habhab), dari Anas secara mauquf. Hal yang sama telah di-Mas-kan oleh Masruq, Mujahid, Ikrimah, Sa'id ibnu Jubair, Ad-Dahhak Qatadah, dan lain-lainnya. قَالَ الْبُخَارِيُّ: حَدَّثَنَا عُبَيدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، عَنْ أَبِي أُسَامَةَ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: "أَخْبِرُونِي عَنْ شَجَرَةٍ تُشْبِهُ -أَوْ: كَالرَّجُلِ -اَلْمُسْلِمِ، لَا يَتَحَاتُّ وَرَقُهَا [وَلَا وَلَا وَلَا] تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ". قَالَ ابْنُ عُمَرَ: فَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ، وَرَأَيْتُ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ لَا يَتَكَلَّمَانِ، فَكَرِهْتُ أَنْ أَتَكَلَّمَ، فَلَمَّا لَمْ يَقُولُوا شَيْئًا، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "هِيَ النَّخْلَةُ". فَلَمَّا قُمْنَا قُلْتُ لِعُمَرَ: يَا أَبَتَا، وَاللَّهِ لَقَدْ كَانَ وَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ. قَالَ: مَا مَنَعَكَ أَنْ تَكَلَّمَ؟ قَالَ: لَمْ أَرَكُمْ تَتَكَلَّمُونَ، فَكَرِهْتُ أَنْ أَتَكَلَّمَ أَوْ أَقُولَ شَيْئًا. قَالَ عُمَرُ: لَأَنْ تَكُونَ قُلْتَهَا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كَذَا وَكَذَا Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ubaid ibnu Ismail, dari Abu Usamah, dari Ubaidillah, dari Nafi', dari Ibnu Umar yang mengatakan, "Ketika kami sedang bersama Rasulullah Saw., beliau bersabda, 'Ceritakanlah kepadaku tentang pohon yang menyerupai seorang muslim, ia tidak pernah rontok daunnya, baik di musim panas maupun di musim dingin, dan ia mengeluarkan buahnya setiap musim dengan seizin Tuhannya'." Ibnu Umar mengatakan, "Lalu terdetik di dalam hatiku jawaban yang mengatakan bahwa pohon itu adalah pohon kurma. Tetapi aku melihat Abu Bakar dan Umar tidak bicara, maka aku merasa segan untuk mengemukakannya. Setelah mereka tidak menjawab sepatah kata pun, bersabdalah Rasulullah Saw. bahwa pohon tersebut adalah pohon kurma. Ketika kami bangkit (untuk pergi), aku berkata kepada Umar, 'Wahai ayahku, demi Allah, sesungguhnya telah terdetik di dalam hatiku jawabannya, bahwa pohon itu adalah pohon kurma.' Umar berkata, 'Apakah yang mencegahmu untuk tidak mengatakannya?'Aku menjawab, 'Aku tidak melihat kalian menjawab, maka aku segan untuk mengatakannya atau aku segan mengatakan sesuatu.'
Umar berkata, 'Sesungguhnya bila kamu katakan jawaban itu lebih aku sukai daripada anu dan anu'." قَالَ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنِ ابْنِ أَبِي نَجِيحٍ، عَنْ مُجَاهِدٍ: صَحِبْتُ ابْنَ عُمَرَ إِلَى الْمَدِينَةِ، فَلَمْ أَسْمَعْهُ يُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا حَدِيثًا وَاحِدًا -قَالَ: كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَى بِجِمَارٍ. فَقَالَ: "مِنَ الشَّجَرِ شَجَرَةٌ مَثَلُهَا مَثَلُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ". فَأَرَدْتُ أَنْ أَقُولَ: هِيَ النَّخْلَةُ، فَنَظَرَتْ فَإِذَا أَنَا أَصْغَرُ الْقَوْمِ، [فَسَكَتُّ] فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "هِيَ النَّخْلَةُ" Ahmad mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Ibnu Abu Najih, dari Mujahid, bahwa ia pernah menemani Ibnu Umar ke Madinah, dan ia tidak mendengar dari Ibnu Umar suatu hadis dari Rasulullah Saw. kecuali sebuah hadis. Ia mengatakan, "Ketika kami (para sahabat) sedang berada di hadapan Rasulullah Saw., tiba-tiba disuguhkan kepada beliau Saw. setandan buah kurma. Maka beliau Saw. bersabda: 'Di antara pohon itu ada sebuah pohon yang perumpamaannya sama dengan seorang lelaki muslim.' Aku bermaksud mengatakan bahwa pohon itu adalah pohon kurma. Tetapi aku memandang ke sekeliling, ternyata aku adalah orang yang paling muda di antara kaum yang ada (maka aku diam tidak menjawab), dan Rasulullah Saw. bersabda,
'Pohon itu adalah pohon kurma'." Hadis ini diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. قَالَ مَالِكٌ وَعَبْدُ الْعَزِيزِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا لِأَصْحَابِهِ: "إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَطْرَحُ وَرَقُهَا، مِثْلُ الْمُؤْمِنِ". قَالَ: فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي، وَوَقَعَ فِي قَلْبِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ [فَاسْتَحْيَيْتُ، حَتَّى قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "هِيَ النَّخْلَةُ] " Malik dan Abdul Aziz telah meriwayatkan dari Abdullah ibnu Dinar, dari Ibnu Umar yang menceritakan bahwa pada suatu hari Rasulullah Saw. bersabda kepada para sahabatnya: Sesungguhnya di antara pepohonan itu terdapat sebuah pohon yang tidak pernah gugur dedaunannya menjadi perumpamaan orang mukmin. Ibnu Umar melanjutkan kisahnya, "Orang-orang (yang hadir) menduganya pohon yang ada di daerah pedalaman, sedangkan di dalam hatiku terdetik bahwa pohon itu adalah pohon kurma, tetapi aku malu mengutarakannya; hingga Rasulullah Saw. bersabda bahwa pohon itu adalah pohon kurma."
Hadis ini diketengahkan oleh Imam Bukhari, juga oleh Imam Muslim. قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا أَبَانُ -يَعْنِي ابْنَ زَيْدٍ الْعَطَّارَ -حَدَّثَنَا قَتَادَةُ: أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالْأُجُورِ! فَقَالَ: "أَرَأَيْتَ لو عمد إلى متاع الدُّنْيَا، فَرَكَّبَ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ أَكَانَ يَبْلُغُ السَّمَاءَ؟ أَفَلَا أُخْبِرَكَ بِعَمَلٍ أَصْلُهُ فِي الْأَرْضِ وَفَرْعُهُ فِي السَّمَاءِ؟ ". قَالَ: مَا هُوَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: "تَقُولُ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ"، عَشْرَ مَرَّاتٍ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ، فَذَاكَ أَصْلُهُ فِي الْأَرْضِ وَفَرْعُهُ فِي السَّمَاءِ" Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Musa ibny Ismail, telah menceritakan kepada kami Aban (yakni Ibnu Zaid Al-Attar), telah menceritakan kepada kami Qatadah, bahwa seorang lelaki pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, orang-orang yang berharta telah pergi dengan memborong banyak pahala." Maka Rasulullah Saw. bersabda: "Bagaimanakah pendapatmu, seandainya dia dengan sengaja menghimpun harta kesenangan duniawi, lalu ia menumpukkan sebagian darinya di atas sebagian yang lain, apakah (tingginya) dapat mencapai langit? Maukah kamu bila kuberitahukan kepadamu suatu amal yang akarnya tertanam di dalam bumi, sedangkan cabangnya menjulang ke langit?” Lelaki itu bertanya, "Wahai Rasulullah, amal apakah itu?” Rasulullah Saw. menjawab, "Kamu ucapkan kalimah 'Tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Mahabesar. Mahasuci Allah, dan segala puji bagi Allah' sebanyak sepuluh kali seusai mengerjakan tiap-tiap salat. Maka itulah yang akarnya tertanam di bumi, sedangkan cabangnya menjulang ke langit.” Diriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: seperti pohon yang baik. (Ibrahim: 24) bahwa pohon tersebut adalah sebuah pohon yang ada di dalam surga.
******************* Firman Allah Swt.: {تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ} pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim. (Ibrahim: 25) Menurut suatu pendapat, yang dimaksud dengan kulla hinin ialah setiap pagi dan petang. Menurut pendapat lain yaitu setiap bulan, sedangkan pendapat lainnya mengatakan setiap dua bulan. Pendapat lain menyebutkan setiap enam bulan, ada yang mengatakan setiap tujuh bulan, ada pula yang mengatakan setiap tahun. Makna lahiriah konteks ayat menunjukkan bahwa perumpamaan orang mukmin sama dengan pohon yang selalu mengeluarkan buahnya setiap waktu, baik di musim panas maupun di musim dingin, siang dan malam hari. Begitu pula keadaan seorang mukmin, amal salehnya terus-menerus diangkat (ke langit) baginya, baik di tengah malam maupun di siang hari, setiap waktu. {بِإِذْنِ رَبِّهَا} dengan seizin Tuhannya. (Ibrahim: 25) Yakni mengeluarkan buahnya yang sempurna, baik, banyak, bermanfaat, lagi diberkati. {وَيَضْرِبُ اللَّهُ الأمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ} Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (Ibrahim: 25)
******************* Firman Allah Swt.: {وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ} Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk. (Ibrahim: 26) Inilah perumpamaan kekufuran orang yang kafir, tiada landasan baginya dan tiada keteguhan baginya; perihalnya sama dengan pohon hanzal atau pohon bertawali. Syu'bah telah meriwayatkannya dari Mu'awiyah ibnu Qurrah, dari Anas ibnu Malik, bahwa pohon tersebut adalah pohon hanzal (bertawali). Abu Bakar Al-Bazzar Al-Hafiz mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Muhammad As-Sakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zaid Sa'id ibnur Rabi', telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Mu'awiyah ibnu Qurrah, dari Anas, menurut dugaanku (perawi) ia membacakan firman-Nya: perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik. (Ibrahim: 24) Anas mengatakan bahwa pohon yang dimaksud ialah pohon kurma. Lalu ia membacakan firman-Nya: Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk. (Ibrahim: 26) Dan ia mengatakan bahwa pohon yang dimaksud ialah pohon syiryan (bertawali). Kemudian ia (Abu Bakar Al-Bazzar) meriwayatkannya dari Muhammad ibnul Musanna, dari Gundar, dari Syu'bah, dari Mu'awiyah, dari Anas secara mauquf. Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Syu'aib ibnul Habhab, dari Anas ibnu Malik, bahwa Nabi Saw. membacakan firman-Nya: Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk (Ibrahim: 26) Lalu beliau bersabda bahwa pohon itu adalah pohon hamalah (bertawali). Kemudian aku (perawi) menceritakan hal tersebut kepada Abul Aliyah. Ia menjawab, "Hal yang sama pernah kami dengar." Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui hadis Hammad ibnu Salamah dengan sanad yang sama. Abu Ya'la di dalam kitab Musnad-nya telah meriwayatkan hadis ini dalam bentuk yang lebih lengkap daripada riwayat di atas. Untuk itu dia mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Gassan, dari Hammad, dari Syu'aib, dari Anas, bahwa Rasulullah Saw. mendapat kiriman sekarung buah kurma, lalu beliau Saw. membacakan firman-Nya: Perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. (Ibrahim: 24-25) Maka beliau bersabda bahwa pohon itu adalah pohon kurma. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun. (Ibrahim: 26) Beliau Saw. bersabda, "Pohon yang dimaksud adalah pohon hanzal." Syu'aib mengatakan, ia menceritakan hadis ini kepada Abul Aliyah, maka Abul Aliyah menjawab bahwa hal yang sama pernah ia (dan rekan-rekannya) dengar.
******************* {اجْتُثَّتْ} yang telah dicabut. (Ibrahim: 26) Maksudnya, telah dijebol dan dicabut dengan akar-akarnya. Firman Allah Swt.: {مِنْ فَوْقِ الأرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ} dari permukaan bumi; tidak dapat tetap(tegak) sedikit pun. (Ibrahim: 26) Yakni tidak ada landasan dan tidak ada keteguhan baginya. Demikian pula halnya orang kafir, ia tidak mempunyai pokok, tidak pula cabang, tiada suatu amal pun darinya yang dinaikkan (diterima), dan tiada sesuatu pun yang diterima darinya.
Friday, 1 November 2019
AYAT 22-23 SURAH IBRAHIM,..,
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK,.
JILIK 2 SURAH IBRAHIM.,
BISS MILLAH HIR RAHMAN NIRRAHIM,.,.
22. waqaala alsysyaythaanu lammaa qudhiya al-amru inna allaaha wa’adakum wa’da alhaqqi wawa’adtukum fa-akhlaftukum wamaa kaana liya ‘alaykum min sulthaanin illaa an da’awtukum faistajabtum lii falaa taluumuunii waluumuu anfusakum maa anaa bimushrikhikum wamaa antum bimushrikhiyya innii kafartu bimaa asyraktumuuni min qablu inna alzhzhaalimiina lahum ‘adzaabun aliimun 23. waudkhila alladziina aamanuu wa’amiluu alshshaalihaati jannaatin tajrii min tahtihaa al-anhaaru khaalidiina fiihaa bi-idzni rabbihim tahiyyatuhum fiihaa salaamun
“Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu, tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.’ Sesungguhnya orang-orang yang dhalim itu mendapat siksaan yang pedih. (QS. 14:22) Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal shalih ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dengan izin Rabb mereka. Ucapan penghormatan mereka dalam surga itu ialah ‘salaam.’ (QS. 14:23)”
(QS. Ibrahim: 22-23)
Allah memberitahukan tentang kata-kata Iblis kepada para pengikutnya setelah Allah memutuskan nasib hamba-hamba-Nya, dengan memasukkan orang-orang yang beriman ke dalam surga dan menempatkan orang-orang kafir di dasar neraka, maka Iblis yang terlaknat itu berdiri dan berbicara untuk menambah kesusahan, penipuan dan penyesalan kepada mereka.
Sebagai mana penjelasan hadis riwayat bukhairy tentang syurga yang di janjikan allah sawt keatas orang bertakwa,..,Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Sesungguhnya syurga terdiri daripada seratus tingkat, jarak antara dua tingkatnya seperti jarak antara langit dan bumi, Allah menyediakannya untuk orang yang berjihad pada jalan-Nya.” (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim)
Rasulullah SAW juga menjelaskan mengenai syurga dalam sabdanya yang bermaksud: “Sesungguhnya roh orang Mukmin itu adalah burung yang bergantung pada pohon syurga. Hingga Allah mengembalikan roh itu ke badannya pada hari kiamat nanti.” (Hadis riwayat Ahmad)
Ia berkata: innallaaHa wa’adakum wa’dal haqqi (“Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang henar,”) melalui para Rasul-Nya dan menjanjikan keselamatan bagi siapa yang mengikuti mereka, itu adalah janji yang benar dan berita yang benar. Adapun aku (Iblis) berjanji kepada kalian, tetapi aku (Iblis) menyalahinya. Seperti firman Allah Ta’ala: “Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.” (QS. An-Nisaa’: 120)
Kemudian syaitan itu berkata: wa maa kaana liya ‘alaikum min sulthaan (“Sekali-sekali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu.”) Maksudnya, tidak ada bagiku dalil atau argumentasi apapun dalam janji yang kuberikan kepada kalian: illaa an da’autukum fastajabtum lii (“Melainkan [sekedar] aku menyerumu, lalu kamu mematuhi seruanku,”) hanya dengan cara seperti itu (saja). Sedangkan para Rasul itu telah membawa bukti, alasan dan dalil yang benar yang membuktikan kebenaran misi yang mereka bawa, tetapi kalian menyelisihi mereka sehingga kalian menerima akibat seperti ini. Falaa taluumuunii (“Oleh sebab itu janganlah kamu mencercaku,”) hari ini; Waluumuu anfusakum (“Akan tetapi, cercalah dirimu sendir.”) karena itu adalah dosa kalian sendiri akibat kalian menyelisihi Rasul, dan kalian mengikutiku begitu kuajak kalian kepada kebathilan. Maa ana bimushrikhikum (“Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu,”) tidak dapat memberi manfaat, menolong dan membebaskan kalian dari apa yang menimpa kalian. Wa maa antum bimush-rikhiy (“Dan kamu pun sekali- sekali tidak dapat menolongku.”) dengan menyelamatkanku dari penderitaan yang sedang kualami ini. Innii kafaitu bimaa asyraktumuuni min qablu (“Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku [dengan Allah] sejak dulu.”) Ibnu Jarir mengatakan: “Sesungguhnya aku mengingkari bahwa aku adalah sekutu Allah Yang Mahamulia dan Mahaagung.” Seperti firman-Nya: “Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang beribadah kepada selain Allah yang tidak dapat mengabulkan doanya pada hari kiamat, sedang mereka itu lalai dari memperhatikan do’a mereka? Dan sesungguhnya apabila manusia dikumpulkan (pada hari Kiamat), niscaya sesembahan-sesembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan pemujaan mereka.” (QS. Al-Ahqaaf: 5-6)
Firman Allah: innadh dhaalimiina (“Sesungguhnya orang-orang dhalim itu,”) yang berpaling dari kebenaran dari mengikuti kebathilan; laHum ‘adzaabun aliim (“Bagi mereka [mendapat] siksaan yang pedih.”) Setelah Allah menyebutkan nasib dan kesudahan orang-orang yang celaka berupa kehinaan dan siksa dan menyebutkan bahwa juru bicara mereka adalah Iblis, maka Allah menyeruakan pula nasib dan kesudahan dari orang-orang yang bahagia seraya berfirman: wa udkhilal ladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihaati jannaatin tajrii min tahtiHal anHaaru (“Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal shalih ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”) yakni mengalir disana, kemanapun dan dimanapun mereka berjalan; khaalidiina fiiHaa (“mereka kekal di dalamnya”) tinggal selama-lamanya di sana, mereka tidak berpindah dan tidak binasa. Bi idzni rabbiHim tahiyyatuHum fiiHaa salaamun (“Dengan izin Rabb mereka, ucapan penghormatan mereka di dalam surga itu ialah `salaam,”) artinya, sejahtera dan selamat dari segala bencana.
JILIK 2 SURAH IBRAHIM.,
BISS MILLAH HIR RAHMAN NIRRAHIM,.,.
22. waqaala alsysyaythaanu lammaa qudhiya al-amru inna allaaha wa’adakum wa’da alhaqqi wawa’adtukum fa-akhlaftukum wamaa kaana liya ‘alaykum min sulthaanin illaa an da’awtukum faistajabtum lii falaa taluumuunii waluumuu anfusakum maa anaa bimushrikhikum wamaa antum bimushrikhiyya innii kafartu bimaa asyraktumuuni min qablu inna alzhzhaalimiina lahum ‘adzaabun aliimun 23. waudkhila alladziina aamanuu wa’amiluu alshshaalihaati jannaatin tajrii min tahtihaa al-anhaaru khaalidiina fiihaa bi-idzni rabbihim tahiyyatuhum fiihaa salaamun
“Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu, tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.’ Sesungguhnya orang-orang yang dhalim itu mendapat siksaan yang pedih. (QS. 14:22) Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal shalih ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dengan izin Rabb mereka. Ucapan penghormatan mereka dalam surga itu ialah ‘salaam.’ (QS. 14:23)”
(QS. Ibrahim: 22-23)
Allah memberitahukan tentang kata-kata Iblis kepada para pengikutnya setelah Allah memutuskan nasib hamba-hamba-Nya, dengan memasukkan orang-orang yang beriman ke dalam surga dan menempatkan orang-orang kafir di dasar neraka, maka Iblis yang terlaknat itu berdiri dan berbicara untuk menambah kesusahan, penipuan dan penyesalan kepada mereka.
Sebagai mana penjelasan hadis riwayat bukhairy tentang syurga yang di janjikan allah sawt keatas orang bertakwa,..,Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Sesungguhnya syurga terdiri daripada seratus tingkat, jarak antara dua tingkatnya seperti jarak antara langit dan bumi, Allah menyediakannya untuk orang yang berjihad pada jalan-Nya.” (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim)
Rasulullah SAW juga menjelaskan mengenai syurga dalam sabdanya yang bermaksud: “Sesungguhnya roh orang Mukmin itu adalah burung yang bergantung pada pohon syurga. Hingga Allah mengembalikan roh itu ke badannya pada hari kiamat nanti.” (Hadis riwayat Ahmad)
Ia berkata: innallaaHa wa’adakum wa’dal haqqi (“Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang henar,”) melalui para Rasul-Nya dan menjanjikan keselamatan bagi siapa yang mengikuti mereka, itu adalah janji yang benar dan berita yang benar. Adapun aku (Iblis) berjanji kepada kalian, tetapi aku (Iblis) menyalahinya. Seperti firman Allah Ta’ala: “Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.” (QS. An-Nisaa’: 120)
Kemudian syaitan itu berkata: wa maa kaana liya ‘alaikum min sulthaan (“Sekali-sekali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu.”) Maksudnya, tidak ada bagiku dalil atau argumentasi apapun dalam janji yang kuberikan kepada kalian: illaa an da’autukum fastajabtum lii (“Melainkan [sekedar] aku menyerumu, lalu kamu mematuhi seruanku,”) hanya dengan cara seperti itu (saja). Sedangkan para Rasul itu telah membawa bukti, alasan dan dalil yang benar yang membuktikan kebenaran misi yang mereka bawa, tetapi kalian menyelisihi mereka sehingga kalian menerima akibat seperti ini. Falaa taluumuunii (“Oleh sebab itu janganlah kamu mencercaku,”) hari ini; Waluumuu anfusakum (“Akan tetapi, cercalah dirimu sendir.”) karena itu adalah dosa kalian sendiri akibat kalian menyelisihi Rasul, dan kalian mengikutiku begitu kuajak kalian kepada kebathilan. Maa ana bimushrikhikum (“Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu,”) tidak dapat memberi manfaat, menolong dan membebaskan kalian dari apa yang menimpa kalian. Wa maa antum bimush-rikhiy (“Dan kamu pun sekali- sekali tidak dapat menolongku.”) dengan menyelamatkanku dari penderitaan yang sedang kualami ini. Innii kafaitu bimaa asyraktumuuni min qablu (“Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku [dengan Allah] sejak dulu.”) Ibnu Jarir mengatakan: “Sesungguhnya aku mengingkari bahwa aku adalah sekutu Allah Yang Mahamulia dan Mahaagung.” Seperti firman-Nya: “Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang beribadah kepada selain Allah yang tidak dapat mengabulkan doanya pada hari kiamat, sedang mereka itu lalai dari memperhatikan do’a mereka? Dan sesungguhnya apabila manusia dikumpulkan (pada hari Kiamat), niscaya sesembahan-sesembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan pemujaan mereka.” (QS. Al-Ahqaaf: 5-6)
Firman Allah: innadh dhaalimiina (“Sesungguhnya orang-orang dhalim itu,”) yang berpaling dari kebenaran dari mengikuti kebathilan; laHum ‘adzaabun aliim (“Bagi mereka [mendapat] siksaan yang pedih.”) Setelah Allah menyebutkan nasib dan kesudahan orang-orang yang celaka berupa kehinaan dan siksa dan menyebutkan bahwa juru bicara mereka adalah Iblis, maka Allah menyeruakan pula nasib dan kesudahan dari orang-orang yang bahagia seraya berfirman: wa udkhilal ladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihaati jannaatin tajrii min tahtiHal anHaaru (“Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal shalih ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”) yakni mengalir disana, kemanapun dan dimanapun mereka berjalan; khaalidiina fiiHaa (“mereka kekal di dalamnya”) tinggal selama-lamanya di sana, mereka tidak berpindah dan tidak binasa. Bi idzni rabbiHim tahiyyatuHum fiiHaa salaamun (“Dengan izin Rabb mereka, ucapan penghormatan mereka di dalam surga itu ialah `salaam,”) artinya, sejahtera dan selamat dari segala bencana.
Thursday, 31 October 2019
AYAT 21 IBRAHIM
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
JILIK 2 SURAH IBRAHIM,.
21. wabarazuu lillaahi jamii’an faqaala aldhdhu’afaau lilladziina istakbaruu innaa kunnaa lakum taba’an fahal antum mughnuuna ‘annaa min ‘adzaabi allaahi min syay-in qaaluu law hadaanaa allaahu lahadaynaakum sawaaun ‘alaynaa ajazi’naa am shabarnaa maa lanaa min mahiishin
“Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap kehadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: ‘Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, raka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami adzab Allah [walau] sedikit saja? Mereka menjawab: ‘Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.” (QS. Ibrahim: 21)
Allah berfirman: wa barazuu lillaaHi jamii’an (“Dan mereka semuanya [di padang mahsyar] akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah.”) Maksudnya, makhluk ini semua, yang baik dan yang jahat, akan berkumpul menghadap Allah yang Mahaesa lagi Mahaperkasa. Mereka berkumpul di tempat yang lapang yang tidak ada sesuatu yang dapat menyembunyikan seorang pun di antara mereka. Faqaaladl dlu’afaa-u (“Lalu berkatalah orang-orang yang lemah.”) yaitu para pengikut pimpinan, tuan dan pembesar mereka. Lil ladziinas takbaruu (“kepada orang-orang yang sombong,”) yang tidak mau beribadah kepada Allah yang Mahaesa dan enggan mengikuti ajaran para Rasul, mereka mengatakan: innaa kunnaa lakum taba’an (“Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu,”) apa pun yang kalian perintahkan, kami tunduk dan melaksanakannya; fa Hal antum mughnuuna ‘annaa min ‘adzaabillaaHi min syai-in (“Maka dapatkah kamu menghindarkan dari kaami adzab Allah [walau] sedikit saja?”)
Maksudnya, apakah kalian dapat melindungi kami dari siksa Allah, sebagaimana yang kalian janjikan dan angan-angankan untuk kami. Maka pemimpin-pemimpin itu menjawab: lau HadaanallaaHu laHadainaakum (“Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu,”) tetapi, benarlah perkataan Rabb dan takdir-Nya terhadap kita dan benar pula bahwa siksa itu ditimpakan kepada orang-orang kafir. Sawaa-un ‘alainaa ajazi’naa am shabarnaa maa lanaa mim mahiish (“Sama saja bagi kita apakah kita mengeluh atau bersabar, sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.”) Maksudnya, kita tidak dapat lepas dan bebas dari keadaan ini, baik kita bersabar maupun mengeluh darinya.
JILIK 2 SURAH IBRAHIM,.
21. wabarazuu lillaahi jamii’an faqaala aldhdhu’afaau lilladziina istakbaruu innaa kunnaa lakum taba’an fahal antum mughnuuna ‘annaa min ‘adzaabi allaahi min syay-in qaaluu law hadaanaa allaahu lahadaynaakum sawaaun ‘alaynaa ajazi’naa am shabarnaa maa lanaa min mahiishin
“Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap kehadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: ‘Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, raka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami adzab Allah [walau] sedikit saja? Mereka menjawab: ‘Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.” (QS. Ibrahim: 21)
Allah berfirman: wa barazuu lillaaHi jamii’an (“Dan mereka semuanya [di padang mahsyar] akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah.”) Maksudnya, makhluk ini semua, yang baik dan yang jahat, akan berkumpul menghadap Allah yang Mahaesa lagi Mahaperkasa. Mereka berkumpul di tempat yang lapang yang tidak ada sesuatu yang dapat menyembunyikan seorang pun di antara mereka. Faqaaladl dlu’afaa-u (“Lalu berkatalah orang-orang yang lemah.”) yaitu para pengikut pimpinan, tuan dan pembesar mereka. Lil ladziinas takbaruu (“kepada orang-orang yang sombong,”) yang tidak mau beribadah kepada Allah yang Mahaesa dan enggan mengikuti ajaran para Rasul, mereka mengatakan: innaa kunnaa lakum taba’an (“Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu,”) apa pun yang kalian perintahkan, kami tunduk dan melaksanakannya; fa Hal antum mughnuuna ‘annaa min ‘adzaabillaaHi min syai-in (“Maka dapatkah kamu menghindarkan dari kaami adzab Allah [walau] sedikit saja?”)
Maksudnya, apakah kalian dapat melindungi kami dari siksa Allah, sebagaimana yang kalian janjikan dan angan-angankan untuk kami. Maka pemimpin-pemimpin itu menjawab: lau HadaanallaaHu laHadainaakum (“Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu,”) tetapi, benarlah perkataan Rabb dan takdir-Nya terhadap kita dan benar pula bahwa siksa itu ditimpakan kepada orang-orang kafir. Sawaa-un ‘alainaa ajazi’naa am shabarnaa maa lanaa mim mahiish (“Sama saja bagi kita apakah kita mengeluh atau bersabar, sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.”) Maksudnya, kita tidak dapat lepas dan bebas dari keadaan ini, baik kita bersabar maupun mengeluh darinya.
Wednesday, 30 October 2019
AYAT 19-20 IBRAHIM
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
JILIK 2 AYAT 19-20
Biis MILLAH Hirrahman Nirrahim,.
19. alam tara anna allaaha khalaqa alssamaawaati waal-ardha bialhaqqi in yasya/ yudzhibkum waya/ti bikhalqin jadiidin 20. wamaa dzaalika ‘alaa allaahi bi’aziizin
“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumi dengan haq. Jika Allah menghendaki, niscaya Dia membinasakanmu dan mengganti(mu) dengan makhluk yang baru, (QS. 14:19) dan yang demikian itu sekali-kali tidak sukar bagi Allah. (QS. 14:20)” (QS. Ibrahim: 19-20)
Allah Ta’ala memberitahukan tentang kekuasaan-Nya untuk mengembalikan badan-badan manusia pada hari Kiamat,sebagai mana penjelasan hadis tentang hari kiamat manusia di bangkitkan dengan berbagai rupa dan bentuk antara nya sebagai mana penjelasan hadis riwayat ar-tirmizi,.
Pertanyaan Di Padang Mahsyar عَنْ أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاه ُ
Dari Abu Barzah Al Aslami berkata: Rasulullah SAW bersabda: Dua kaki seorang hamba tidak akan bergerak (pada hari kiamat) sehingga dia ditanya tentang umurnya, kemana dihabiskan, tentang ilmunya apakah yang telah dilakukan dengan ilmunya, tentang hartanya dari mana diperolehi dan kemana dibelanjakan dan tentang tubuh badannya untuk apa digunakannya” HR Tirmizi No: 2341 Pengajaran: Setiap kita pada hari kiamat nanti akan dibangkitkan di Padang Mahsyar dan akan melalui pemeriksaan dan timbangan di atas amal kita semasa hidup Setiap kita akan ditanya tentang umur – kemana dihabiskan dan dimanfatkan Ilmu yang dimiliki – adakah ilmu yang bermanfaat ..adakah diamalkan….adakah disebarkan sama ada melalui lisan atau tulisan?
Jelas bahwa Allah telah menciptakan langit dan bumi yang lebih besar daripada menciptakan manusia. Bukankah Allah yang kuasa menciptakan langit yang tinggi, luas dan besar dengan segala isinya. Seperti bintang-bintang (planet) yang tetap dan bintang-bintang yang beredar, gerakan-gerakan yang berbeda-beda dan tanda-tanda kebesaran yang cemerlang, bumi ini serta isinya yang terdiri dari tanah lapang, pengunungan, daratan, padang sahara, padang terjal, lautan, serta tumbuh-tumbuhan, hewan, dengan berbagai macam jenis, faedah, bentuk dan warnanya. Firman Allah: iy yasya’ yudzHibkum wa ya’ti bikhalqin jadiid. Wamaa dzaalika ‘alallaaHi bi’aziz (“Jika Allah menghendaki, niscaya Allah membinasakanmu dan mengganti(mu) dengan makhluk yang baru. Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sukar bagi Allah.”) Maksudnya, hal itu bukanlah hal yang besar dan tidak dapat dilakukan oleh Allah, bahkan itu adalah hal yang sangat mudah bagi-Nya. Bila kalian melanggar perintah-Nya mudah pula untuk melenyapkan kalian dan mengganti dengan manusia lain yang berbeda sifatnya dengan kalian, sebagaimana firman Allah: “Dan jika kamu berpaling [dari perintah Allah], maka Allah akan menggantikanmu dengan umat lain, yang mereka itu tidak sepertimu.” (QS. Muhammad: 38)
JILIK 2 AYAT 19-20
Biis MILLAH Hirrahman Nirrahim,.
19. alam tara anna allaaha khalaqa alssamaawaati waal-ardha bialhaqqi in yasya/ yudzhibkum waya/ti bikhalqin jadiidin 20. wamaa dzaalika ‘alaa allaahi bi’aziizin
“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumi dengan haq. Jika Allah menghendaki, niscaya Dia membinasakanmu dan mengganti(mu) dengan makhluk yang baru, (QS. 14:19) dan yang demikian itu sekali-kali tidak sukar bagi Allah. (QS. 14:20)” (QS. Ibrahim: 19-20)
Allah Ta’ala memberitahukan tentang kekuasaan-Nya untuk mengembalikan badan-badan manusia pada hari Kiamat,sebagai mana penjelasan hadis tentang hari kiamat manusia di bangkitkan dengan berbagai rupa dan bentuk antara nya sebagai mana penjelasan hadis riwayat ar-tirmizi,.
Pertanyaan Di Padang Mahsyar عَنْ أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاه ُ
Dari Abu Barzah Al Aslami berkata: Rasulullah SAW bersabda: Dua kaki seorang hamba tidak akan bergerak (pada hari kiamat) sehingga dia ditanya tentang umurnya, kemana dihabiskan, tentang ilmunya apakah yang telah dilakukan dengan ilmunya, tentang hartanya dari mana diperolehi dan kemana dibelanjakan dan tentang tubuh badannya untuk apa digunakannya” HR Tirmizi No: 2341 Pengajaran: Setiap kita pada hari kiamat nanti akan dibangkitkan di Padang Mahsyar dan akan melalui pemeriksaan dan timbangan di atas amal kita semasa hidup Setiap kita akan ditanya tentang umur – kemana dihabiskan dan dimanfatkan Ilmu yang dimiliki – adakah ilmu yang bermanfaat ..adakah diamalkan….adakah disebarkan sama ada melalui lisan atau tulisan?
Jelas bahwa Allah telah menciptakan langit dan bumi yang lebih besar daripada menciptakan manusia. Bukankah Allah yang kuasa menciptakan langit yang tinggi, luas dan besar dengan segala isinya. Seperti bintang-bintang (planet) yang tetap dan bintang-bintang yang beredar, gerakan-gerakan yang berbeda-beda dan tanda-tanda kebesaran yang cemerlang, bumi ini serta isinya yang terdiri dari tanah lapang, pengunungan, daratan, padang sahara, padang terjal, lautan, serta tumbuh-tumbuhan, hewan, dengan berbagai macam jenis, faedah, bentuk dan warnanya. Firman Allah: iy yasya’ yudzHibkum wa ya’ti bikhalqin jadiid. Wamaa dzaalika ‘alallaaHi bi’aziz (“Jika Allah menghendaki, niscaya Allah membinasakanmu dan mengganti(mu) dengan makhluk yang baru. Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sukar bagi Allah.”) Maksudnya, hal itu bukanlah hal yang besar dan tidak dapat dilakukan oleh Allah, bahkan itu adalah hal yang sangat mudah bagi-Nya. Bila kalian melanggar perintah-Nya mudah pula untuk melenyapkan kalian dan mengganti dengan manusia lain yang berbeda sifatnya dengan kalian, sebagaimana firman Allah: “Dan jika kamu berpaling [dari perintah Allah], maka Allah akan menggantikanmu dengan umat lain, yang mereka itu tidak sepertimu.” (QS. Muhammad: 38)
Sunday, 27 October 2019
AYAT 18 SURAH IBRAHIM,.
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK.,
Surat Ibrahim
Ayat 18
Bissmillah Hirrahman Nirrahim
.,
مَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ ۖ أَعْمَالُهُمْ كَرَمَادٍ اشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيحُ فِي يَوْمٍ عَاصِفٍ ۖ لَا يَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُوا عَلَىٰ شَيْءٍ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الضَّلَالُ الْبَعِيدُ Arab-Latin:
Maṡalullażīna kafarụ birabbihim a'māluhum karamādinisytaddat bihir-rīḥu fī yaumin 'āṣif, lā yaqdirụna mimmā kasabụ 'alā syaī`, żālika huwaḍ-ḍalālul-ba'īd
Terjemah Arti:
Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh. Ini adalah perumpamaan yang dibuat oleh Allah bagi amal perbuatan orang-orang kafir yang beribadah kepada Allah dan juga beribadah kepada yang lain (musyrik), mendustakan para Rasul utusan Allah dan membangun amal perbuatan mereka di atas dasar yang tidak benar, maka pasti hancur dan hilang pada waktu di mana mereka sangat memerlukannya.
Makna ayat : Firman-Nya : (مَّثَلُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِرَبِّهِمۡۖ أَعۡمَٰلُهُمۡ كَرَمَادٍ ٱشۡتَدَّتۡ بِهِ ٱلرِّيحُ فِي يَوۡمٍ عَاصِفٖۖ) “Perumpamaan orang-orang yang kafir kepada Rabb mereka, sebagai mana hdis tentang morang kafir .Sesiapa yang tidak mengkafirkan orang yang kafir, maka ia kafir. Bermaksud seseorang boleh tergelincir akidahnya jika tidak memperakui bahawa golongan yang dikafirkan dengan nas syarak seperti penganut agama Kristian, Yahudi, Ateisme dan lain-lain itu kafir. (Lihat Al-Ibtal li Nazariyyah al-Khalt Bayn Din al-Islam wa Ghayrih min al-Adyan, 94) Dan amalan-amalan mereka bagaikan debu yang ditiup angin pada hari yang berangin kencang” bertiup dengan kencang pada hari itu (لَّا يَقۡدِرُونَ مِمَّا كَسَبُواْ) “mereka tidak mendapatkan dari yang telah mereka kerjakan” dari amalan-amalan mereka ketika di dunia (عَلَىٰ شَيۡءٖۚ) “sedikit pun” berupa pahala dan balasan yang baik atasnya. Ini adalah perkerjaan mereka yang baik seperti perbuatan baik dan luhur, dan perbuatang mereka yang buruk; syirik, kufur, dan penyembahan kepada selain Allah yang mereka harapkan darinya kebaikan, seluruhnya hilang bagai debu yang beterbangan karena angin dan terbang bersamanya di hari yang berangin kencang..sebagai mana ayatquran tentang amalan orang kafir,.Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan ) mereka pada hari kiamat. (Al Kahfi 105)
Seperti itulah Allah menyiksa orang kafir, meski mereka selalu berbuat baik dan berjasa bagi kemanusiaan sepanjang hidupnya. Yang demikian itu karena perumpamaan orang yang ingkar kepada tuhannya, perbuatan yang telah mereka lakukan di dunia yang dipandang baik dan berjasa bagi kemanusiaan seperti abu yang ditiup oleh angin keras pada suatu hari yang berangin kencang. Angin itu menghamburkan abu tersebut hingga tidak tersisa. Demikianlah, mereka tidak kuasa mengambil pahala sama sekali di sisi Allah dari apa yang telah mereka usahakan di dunia karena kekufuran mereka telah menghapus semua amal baik itu. Yang demikian itu, yakni berbuat baik tanpa dilandasi keimanan, adalah bentuk kesesatan yang sangat jauh dari kebenaran. Melaksanakan ancaman-Nya kepada orang kafir adalah suatu hal yang mudah bagi Allah, seperti mudahnya dia menciptakan langit dan bumi. Wahai manusia, tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumi dengan hak' Allah menciptakan kedunya beserta pernik-perniknya dengan benar, harmonis, dan penuh keteraturan agar menjadi bukti keesaan dan kekuasaan-Nya bagi kamu. Janganlah kalian mengingkari dan menyekutukan-Nya, karena jika dia menghendaki, niscaya dia dapat membinasakan kamu dan mendatangkan sebagai penggantimu makhluk yang baru dan lebih baik, lebih sempurna, serta lebih taat daripada kamu.
Saturday, 26 October 2019
AYAT 13-17 IBRAHIM
HADSIE QURAN DAN HADIS TABARUK
JILIK 2 AYAT 13-17
BISS MILLAH HIRRAHMAN NIRRAHIM
13. waqaala alladziina kafaruu lirusulihim lanukhrijannakum min ardhinaa aw lata’uudunna fii millatinaa fa-awhaa ilayhim rabbuhum lanuhlikanna alzhzhaalimiina 14. walanuskinannakumu al-ardha min ba’dihim dzaalika liman khaafa maqaamii wakhaafa wa’iidi 15. waistaftahuu wakhaaba kullu jabbaarin ‘aniidin 16. min waraa-ihii jahannamu wayusqaa min maa-in shadiidin 17. yatajarra’uhu walaa yakaadu yusiighuhu waya/tiihi almawtu min kulli makaanin wamaa huwa bimayyitin wamin waraa-ihi ‘adzaabun ghaliizhun
“Orang-orang kafir berkata kepada para Rasul mereka: ‘Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami, atau kamu kembali kepada agama kami.’ Maka Rabb mereka mewahyukan kepada mereka: ‘Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang dhalim itu, (QS. 14:13) dan Kami pasti akan menempatkanmu di negeri-negeri itu sesudah mereka. Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) kehadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku.’ (QS. 14:14) Dan mereka memohon kemenangan (atas musuh-musuh mereka), dan binasalah semua orang-orang yang berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala, (QS. 14:15) di hadapannya ada Jahannam dan dia akan diberi minuman dengan air nanah (QS. 14:16) diminumnya air nanah itu dan hampir dia tidak bisa menelannya dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati, dan di hadapannya masih ada adzab yang berat. (QS. 14:17)” (QS. Ibrahim: 13-17)
Allah memberitakan tentang ancaman orang-orang kafir terhadap para Rasul dengan mengusir mereka dari negeri mereka dan menjauhkan mereka dari masyarakat mereka, seperti ancaman kaum Syu’aib kepada Nabi Syu’aib dan orang-orang yang beriman kepadanya: “Kami pasti akan mengusirmu wahai Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kampung kami.” (al-A’raaf: 88) Allah berfirman memberitahukan tentang orang-orang musyrik dari kaum Quraisy: “Ingatlah tatkala orang-orang kafir (Quraisy) berbuat makar (tipudaya) terhadap untuk menangkap dan memenjarakanmu, membunuh atau mengusirmu. Mereka berbuat makar (tipudaya), dan Allah pun berbuat demikian, sedang Allah adalah sebaik-baik pembuat tipudaya.” (QS. Al-Anfaal: 30)
Di antara yang dilakukan Allah Ta’ala adalah memenangkan dan menolong Rasul-Nya dan menjadikan baginya banyak penolong dan pendukung karena terusir dari Makkah sehingga akhirnya dapat menundukkan Makkah yang dulu (musuh-musuhnya) pemah mengusirnya keluar dari kota ini, kemudian menguasainya dan memaksa musuh-musuh mereka dari seluruh dunia untuk tunduk kepadanya. Mujahid dan `Ikrimah berkata: “Shadiid merupakan cairan yang berasal dari nanah dan bercampur dengan darah.” Sedang menurut Qatadah: “Ia adalah cairan yang mengalir dari daging dan kulitnya.” Dalam riwayat yang lain, Qatadah berkata: “Shadid adalah cairan yang keluar dari perut orang kafir yang sudah bercampur dengan nanah dan darah.” Dalam hadits yang diriwayatkan Syahr bin Hausyab, dari Asma’ binti Yazid bin as-Sakan berkata, aku bertanya kepada Rasulullah: “Apakah thinatul khabal itu?” Beliau menjawab: “Nanahnya penduduk neraka.” (HR Imam Ahmad)
Dalam riwayat lain disebutkan: “Cairan penduduk neraka.” (HR Imam Ahmad dari Abu Dzar) Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Umamah dari Nabi saw. tentang firman Allah: Wa yusqaa mim maa-in shadiid. Yatajarra’uHuu (“Dan dia akan diberi minuman dengan air nanah, diminumnya air nanah itu”) beliau berkata: “Ia mendekatinya tetapi membencinya, bila ia sudah dekat darinya maka terbakarlah wajahnya yang terkelupas kulit kepalanya, dan jika meminumnya usus mereka terpotong-potong sampai keluar dari duburnya.” Sebagaimana firman Allah: “Dan mereka diberi minum air yang mendidih sehingga memotong-motong usunya.” (QS. Muhammad: 15) Dan firman-Nya: “Dan bila mereka minta minum, maka mereka diberi minum air yang seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka….” (al-Kahfi: 29). Demikian pula diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim. Sedang firman Allah: yatajarra’uHuu (“diminumnya air nanah itu”) artinya meminumnya dengan terpaksa, begitu sampai di mulutnya Malaikat memukulnya dengan palu besi; wa laa yakaadu yusiighuHu (“Dan hampir dia tidak dapat menelannya”) karena tidak enak rasa, warna dan baunya, disamping sangat panas atau sangat dingin yang tidak kuat menahannya. Ibnu Jarir berkata tentang: wa ya’tiiHil mautu min kulli makaanin (“Dan datanglah [bahaya] maut kepadanya dari segenap penjuru,”) dari muka dan dari belakang.
Dalam riwayat lain disebutkan: “Dari kanan dan kiri, dari atas, dari bawah kaki dan dari semua anggota badannya.” Adh-Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu `Abbas tentang: wa ya’tiiHil mautu min kulli makaanin (“Dan datanglah [bahaya] maut kepadanya dari segenap penjuru,”) berkata: “Macam-macam adzab yang Allah siksakan kepadanya pada hari Kiamat di neraka, setiap macamnya pasti mematikan jikalau ia dapat mati, tetapi ia tidak dapat mati karena Allah berfirman: “Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati, dan adzab pun tidak diringankan untuk mereka.” (Fathir: 36) Dan juga ayat-ayat lain yang menunjukkan berbagai macam adzab, ditimpakan kepada mereka dengan berulang kali, bermacam-macam jenis bentuknya, yang hanya dapat dihitung oleh Allah saja, hal itu sebagai balasan yang setimpal atas perbuatan mereka di dunia ini. Wamaa rabbuka bidlallaamil lil ‘abiid (“Dan Rabbmu sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Nya.” (QS. Fushshilat: 46)
JILIK 2 AYAT 13-17
BISS MILLAH HIRRAHMAN NIRRAHIM
13. waqaala alladziina kafaruu lirusulihim lanukhrijannakum min ardhinaa aw lata’uudunna fii millatinaa fa-awhaa ilayhim rabbuhum lanuhlikanna alzhzhaalimiina 14. walanuskinannakumu al-ardha min ba’dihim dzaalika liman khaafa maqaamii wakhaafa wa’iidi 15. waistaftahuu wakhaaba kullu jabbaarin ‘aniidin 16. min waraa-ihii jahannamu wayusqaa min maa-in shadiidin 17. yatajarra’uhu walaa yakaadu yusiighuhu waya/tiihi almawtu min kulli makaanin wamaa huwa bimayyitin wamin waraa-ihi ‘adzaabun ghaliizhun
“Orang-orang kafir berkata kepada para Rasul mereka: ‘Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami, atau kamu kembali kepada agama kami.’ Maka Rabb mereka mewahyukan kepada mereka: ‘Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang dhalim itu, (QS. 14:13) dan Kami pasti akan menempatkanmu di negeri-negeri itu sesudah mereka. Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) kehadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku.’ (QS. 14:14) Dan mereka memohon kemenangan (atas musuh-musuh mereka), dan binasalah semua orang-orang yang berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala, (QS. 14:15) di hadapannya ada Jahannam dan dia akan diberi minuman dengan air nanah (QS. 14:16) diminumnya air nanah itu dan hampir dia tidak bisa menelannya dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati, dan di hadapannya masih ada adzab yang berat. (QS. 14:17)” (QS. Ibrahim: 13-17)
Allah memberitakan tentang ancaman orang-orang kafir terhadap para Rasul dengan mengusir mereka dari negeri mereka dan menjauhkan mereka dari masyarakat mereka, seperti ancaman kaum Syu’aib kepada Nabi Syu’aib dan orang-orang yang beriman kepadanya: “Kami pasti akan mengusirmu wahai Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kampung kami.” (al-A’raaf: 88) Allah berfirman memberitahukan tentang orang-orang musyrik dari kaum Quraisy: “Ingatlah tatkala orang-orang kafir (Quraisy) berbuat makar (tipudaya) terhadap untuk menangkap dan memenjarakanmu, membunuh atau mengusirmu. Mereka berbuat makar (tipudaya), dan Allah pun berbuat demikian, sedang Allah adalah sebaik-baik pembuat tipudaya.” (QS. Al-Anfaal: 30)
Di antara yang dilakukan Allah Ta’ala adalah memenangkan dan menolong Rasul-Nya dan menjadikan baginya banyak penolong dan pendukung karena terusir dari Makkah sehingga akhirnya dapat menundukkan Makkah yang dulu (musuh-musuhnya) pemah mengusirnya keluar dari kota ini, kemudian menguasainya dan memaksa musuh-musuh mereka dari seluruh dunia untuk tunduk kepadanya. Mujahid dan `Ikrimah berkata: “Shadiid merupakan cairan yang berasal dari nanah dan bercampur dengan darah.” Sedang menurut Qatadah: “Ia adalah cairan yang mengalir dari daging dan kulitnya.” Dalam riwayat yang lain, Qatadah berkata: “Shadid adalah cairan yang keluar dari perut orang kafir yang sudah bercampur dengan nanah dan darah.” Dalam hadits yang diriwayatkan Syahr bin Hausyab, dari Asma’ binti Yazid bin as-Sakan berkata, aku bertanya kepada Rasulullah: “Apakah thinatul khabal itu?” Beliau menjawab: “Nanahnya penduduk neraka.” (HR Imam Ahmad)
Dalam riwayat lain disebutkan: “Cairan penduduk neraka.” (HR Imam Ahmad dari Abu Dzar) Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Umamah dari Nabi saw. tentang firman Allah: Wa yusqaa mim maa-in shadiid. Yatajarra’uHuu (“Dan dia akan diberi minuman dengan air nanah, diminumnya air nanah itu”) beliau berkata: “Ia mendekatinya tetapi membencinya, bila ia sudah dekat darinya maka terbakarlah wajahnya yang terkelupas kulit kepalanya, dan jika meminumnya usus mereka terpotong-potong sampai keluar dari duburnya.” Sebagaimana firman Allah: “Dan mereka diberi minum air yang mendidih sehingga memotong-motong usunya.” (QS. Muhammad: 15) Dan firman-Nya: “Dan bila mereka minta minum, maka mereka diberi minum air yang seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka….” (al-Kahfi: 29). Demikian pula diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim. Sedang firman Allah: yatajarra’uHuu (“diminumnya air nanah itu”) artinya meminumnya dengan terpaksa, begitu sampai di mulutnya Malaikat memukulnya dengan palu besi; wa laa yakaadu yusiighuHu (“Dan hampir dia tidak dapat menelannya”) karena tidak enak rasa, warna dan baunya, disamping sangat panas atau sangat dingin yang tidak kuat menahannya. Ibnu Jarir berkata tentang: wa ya’tiiHil mautu min kulli makaanin (“Dan datanglah [bahaya] maut kepadanya dari segenap penjuru,”) dari muka dan dari belakang.
Dalam riwayat lain disebutkan: “Dari kanan dan kiri, dari atas, dari bawah kaki dan dari semua anggota badannya.” Adh-Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu `Abbas tentang: wa ya’tiiHil mautu min kulli makaanin (“Dan datanglah [bahaya] maut kepadanya dari segenap penjuru,”) berkata: “Macam-macam adzab yang Allah siksakan kepadanya pada hari Kiamat di neraka, setiap macamnya pasti mematikan jikalau ia dapat mati, tetapi ia tidak dapat mati karena Allah berfirman: “Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati, dan adzab pun tidak diringankan untuk mereka.” (Fathir: 36) Dan juga ayat-ayat lain yang menunjukkan berbagai macam adzab, ditimpakan kepada mereka dengan berulang kali, bermacam-macam jenis bentuknya, yang hanya dapat dihitung oleh Allah saja, hal itu sebagai balasan yang setimpal atas perbuatan mereka di dunia ini. Wamaa rabbuka bidlallaamil lil ‘abiid (“Dan Rabbmu sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Nya.” (QS. Fushshilat: 46)
Thursday, 24 October 2019
AYAT 10-12 IBRAHIM
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
JILIK 2 IBRAHIM
AYAT 10-12
BISS MILLAH HIRRAHMAN NIRRAHIM,
10. qaalat rusuluhum afii allaahi syakkun faathiri alssamaawaati waal-ardhi yad’uukum liyaghfira lakum min dzunuubikum wayu-akhkhirakum ilaa ajalin musamman qaaluu in antum illaa basyarun mitslunaa turiiduuna an tashudduunaa ‘ammaa kaana ya’budu aabaaunaa fa/tuunaa bisulthaanin mubiinin 11. qaalat lahum rusuluhum in nahnu illaa basyarun mitslukum walaakinna allaaha yamunnu ‘alaa man yasyaau min ‘ibaadihi wamaa kaana lanaa an na/tiyakum bisulthaanin illaa bi-idzni allaahi wa’alaa allaahi falyatawakkali almu/minuuna 12. wamaa lanaa allaa natawakkala ‘alaa allaahi waqad hadaanaa subulanaa walanashbiranna ‘alaa maa aadzaytumuunaa wa’alaa allaahi falyatawakkali almutawakkiluuna
“Para Rasul mereka berkata: ‘Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu untuk memberi ampunan kepadamu dari dosa-dosamu dan menangguhkan (siksaan)mu sampai masa yang ditentukan.’ Mereka berkata: ‘Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga. Kamu menghendaki untuk menghalang-halangi (membelokkan) kami dari apa yang selalu diibadahi nenek moyang kami, karena itu datangkanlah kepada kami bukti yang nyata.’ (QS. 14: 10) Para Rasul mereka berkata kepada mereka: ‘Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberikan karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepadamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang yang mukmin itu bertawakkal. (QS. 14:11) Mengapa kami tidak bertawakkal kepada Allah, padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang yang bertawakkal itu berserah diri” (QS. 14:12)” (QS. Ibrahim: 10-12)
Allah memberitakan tentang perdebatan yang terjadi antara orang-orang kafir dan para Rasul mereka, karena ketika umat mereka menghadapi para Rasul itu dengan keraguan terhadap apa yang disampaikan kepada mereka, yaitu supaya mereka beribadah kepada Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya, para Rasul itu berkata: a fillaaHi syakkun (“Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah?”) Dari sini, terdapat dua kemungkinan makna: Pertama, apakah masih ada keraguan tentang adanya Allah, karena fitrah manusia menyaksikan adanya Allah dan cenderung mengakuinya. Pengakuan terhadap wujud Allah itu pasti ada dalam fitrah yang sehat, tetapi kadangkala terjadi keraguan dan keterpaksaan pada sebagiannya. Maka ia perlu melihat dalil untuk sampai kepada keyakinan adanya Allah. Oleh karena itu, untuk menunjukkan mereka kepada jalan untuk mengenal Allah, para Rasul itu berkata kepada mereka: faathiris samaawaati wal ardli (“Pencipta langit dan bumi,”) yang telah membuat dan menciptakan keduanya tanpa contoh yang sudah ada sebelumnya, karena bukti-bukti bahwa langit dan bumi itu adalah makhluk baru, diciptakan dan dikendalikan itu sudah nampak jelas. Jadi, pasti ada yang membuat (menciptakan)nya yaitu Allah, tidak ada Ilah selain Allah, Pencipta, Pemilik dan Penguasa segala sesuatu. Menurut ulama tafsir adalah, apakah masih ada keragu-raguan tentang ke-Ilahiyyahan-Nya dan sebagai satu-satunya Rabb yang berhak diibadahi, sedang Allah adalah Pencipta semua makhluk yang ada ini dan tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, karena mayoritas umat mengakui Rabb Pencipta ini, tetapi mereka beribadah juga kepada selain-Nya, yang dianggap sebagai perantara yang berguna atau dapat mendekatkan mereka kepada Allah? Seperti firman Allah: “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya.” (QS. Huud: 3)
"Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kalian.” (Ibrahim: 11) Artinya, memang benar kami adalah manusia biasa seperti kalian. {وَلَكِنَّ اللَّهَ يَمُنُّ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ} akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. (Ibrahim: 11) Yakni kerasulan dan kenabian. {وَمَا كَانَ لَنَا أَنْ نَأْتِيَكُمْ بِسُلْطَانٍ} Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kalian. (Ibrahim: 11) sesuai dengan apa yang kalian minta, {إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ} melainkan dengan izin Allah. (Ibrahim: 11) Yakni sesudah kami minta kepada-Nya dan Dia mengizinkan kepada kami untuk mengeluarkannya. {وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ} Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal. (Ibrahim: 11) Yaitu dalam semua urusan mereka. Kemudian para rasul berkata: {وَمَا لَنَا أَلا نَتَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ} Mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Allah. (Ibrahim: 12) Maksudnya, apakah yang mencegah kami untuk bertawakal kepada Allah, padahal Dia telah menunjuki kami jalan yang paling lurus, paling jelas, dan paling gamblang. {وَلَنَصْبِرَنَّ عَلَى مَا آذَيْتُمُونَا} dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kalian lakukan kepada kami. (Ibrahim: 12) seperti perkataan yang buruk dan perbuatan-perbuatan yang rendah. {وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ}
Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal itu berserah diri. (Ibrahim: 12)Dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma pula, katanya: “Lafaz: Hasbunallah wa ni’mal wakil,ertinya: Cukuplah Allah itu sebagai penolong kita dan Dia adalah sebaik-baiknya yang diserahi, itu pernah diucapkan oleh Ibrahim a.s. ketika beliau dilemparkan ke dalam api, Juga pernah diucapkan oleh Nabi Muhammad s.a.w. ketika orang-orang sama berkata: “Sesungguhnya orang-orang banyak telah berkumpul-bersatu-untuk memerangi engkau,maka takutilah mereka itu,” tetapi ucapan sedemikian itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang beriman melainkan keimanan belaka dan mereka berkata: Hasbunallah wa ni’mal wakil.(Riwayat Bukhari)
JILIK 2 IBRAHIM
AYAT 10-12
BISS MILLAH HIRRAHMAN NIRRAHIM,
10. qaalat rusuluhum afii allaahi syakkun faathiri alssamaawaati waal-ardhi yad’uukum liyaghfira lakum min dzunuubikum wayu-akhkhirakum ilaa ajalin musamman qaaluu in antum illaa basyarun mitslunaa turiiduuna an tashudduunaa ‘ammaa kaana ya’budu aabaaunaa fa/tuunaa bisulthaanin mubiinin 11. qaalat lahum rusuluhum in nahnu illaa basyarun mitslukum walaakinna allaaha yamunnu ‘alaa man yasyaau min ‘ibaadihi wamaa kaana lanaa an na/tiyakum bisulthaanin illaa bi-idzni allaahi wa’alaa allaahi falyatawakkali almu/minuuna 12. wamaa lanaa allaa natawakkala ‘alaa allaahi waqad hadaanaa subulanaa walanashbiranna ‘alaa maa aadzaytumuunaa wa’alaa allaahi falyatawakkali almutawakkiluuna
“Para Rasul mereka berkata: ‘Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu untuk memberi ampunan kepadamu dari dosa-dosamu dan menangguhkan (siksaan)mu sampai masa yang ditentukan.’ Mereka berkata: ‘Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga. Kamu menghendaki untuk menghalang-halangi (membelokkan) kami dari apa yang selalu diibadahi nenek moyang kami, karena itu datangkanlah kepada kami bukti yang nyata.’ (QS. 14: 10) Para Rasul mereka berkata kepada mereka: ‘Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberikan karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepadamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang yang mukmin itu bertawakkal. (QS. 14:11) Mengapa kami tidak bertawakkal kepada Allah, padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang yang bertawakkal itu berserah diri” (QS. 14:12)” (QS. Ibrahim: 10-12)
Allah memberitakan tentang perdebatan yang terjadi antara orang-orang kafir dan para Rasul mereka, karena ketika umat mereka menghadapi para Rasul itu dengan keraguan terhadap apa yang disampaikan kepada mereka, yaitu supaya mereka beribadah kepada Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya, para Rasul itu berkata: a fillaaHi syakkun (“Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah?”) Dari sini, terdapat dua kemungkinan makna: Pertama, apakah masih ada keraguan tentang adanya Allah, karena fitrah manusia menyaksikan adanya Allah dan cenderung mengakuinya. Pengakuan terhadap wujud Allah itu pasti ada dalam fitrah yang sehat, tetapi kadangkala terjadi keraguan dan keterpaksaan pada sebagiannya. Maka ia perlu melihat dalil untuk sampai kepada keyakinan adanya Allah. Oleh karena itu, untuk menunjukkan mereka kepada jalan untuk mengenal Allah, para Rasul itu berkata kepada mereka: faathiris samaawaati wal ardli (“Pencipta langit dan bumi,”) yang telah membuat dan menciptakan keduanya tanpa contoh yang sudah ada sebelumnya, karena bukti-bukti bahwa langit dan bumi itu adalah makhluk baru, diciptakan dan dikendalikan itu sudah nampak jelas. Jadi, pasti ada yang membuat (menciptakan)nya yaitu Allah, tidak ada Ilah selain Allah, Pencipta, Pemilik dan Penguasa segala sesuatu. Menurut ulama tafsir adalah, apakah masih ada keragu-raguan tentang ke-Ilahiyyahan-Nya dan sebagai satu-satunya Rabb yang berhak diibadahi, sedang Allah adalah Pencipta semua makhluk yang ada ini dan tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, karena mayoritas umat mengakui Rabb Pencipta ini, tetapi mereka beribadah juga kepada selain-Nya, yang dianggap sebagai perantara yang berguna atau dapat mendekatkan mereka kepada Allah? Seperti firman Allah: “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya.” (QS. Huud: 3)
"Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kalian.” (Ibrahim: 11) Artinya, memang benar kami adalah manusia biasa seperti kalian. {وَلَكِنَّ اللَّهَ يَمُنُّ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ} akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. (Ibrahim: 11) Yakni kerasulan dan kenabian. {وَمَا كَانَ لَنَا أَنْ نَأْتِيَكُمْ بِسُلْطَانٍ} Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kalian. (Ibrahim: 11) sesuai dengan apa yang kalian minta, {إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ} melainkan dengan izin Allah. (Ibrahim: 11) Yakni sesudah kami minta kepada-Nya dan Dia mengizinkan kepada kami untuk mengeluarkannya. {وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ} Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal. (Ibrahim: 11) Yaitu dalam semua urusan mereka. Kemudian para rasul berkata: {وَمَا لَنَا أَلا نَتَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ} Mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Allah. (Ibrahim: 12) Maksudnya, apakah yang mencegah kami untuk bertawakal kepada Allah, padahal Dia telah menunjuki kami jalan yang paling lurus, paling jelas, dan paling gamblang. {وَلَنَصْبِرَنَّ عَلَى مَا آذَيْتُمُونَا} dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kalian lakukan kepada kami. (Ibrahim: 12) seperti perkataan yang buruk dan perbuatan-perbuatan yang rendah. {وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ}
Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal itu berserah diri. (Ibrahim: 12)Dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma pula, katanya: “Lafaz: Hasbunallah wa ni’mal wakil,ertinya: Cukuplah Allah itu sebagai penolong kita dan Dia adalah sebaik-baiknya yang diserahi, itu pernah diucapkan oleh Ibrahim a.s. ketika beliau dilemparkan ke dalam api, Juga pernah diucapkan oleh Nabi Muhammad s.a.w. ketika orang-orang sama berkata: “Sesungguhnya orang-orang banyak telah berkumpul-bersatu-untuk memerangi engkau,maka takutilah mereka itu,” tetapi ucapan sedemikian itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang beriman melainkan keimanan belaka dan mereka berkata: Hasbunallah wa ni’mal wakil.(Riwayat Bukhari)
AYAT 9 IBRAHIM
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
JILIK 2 SURAH IBRAHIM
AYAT 9 BISS MILLAH HIRRAHMAN NIRRAHIM.,
Alam yaatikum naba'ul lazeena min qablikum qawmi Noohinw wa 'Aadinw wa Samood, wallazeena mim ba'dihim; laa ya'lamuhum illallaah; jaaa'at hum Rusuluhum bilbaiyinaati faraddooo aydiyahum feee afwaahihim wa qaalooo innaa kafarnaa bimaaa ursiltum bihee wa innaa lafee shakkim mimmaa tad'oonanaaa ilaihi mureeb
Belumkah sampai kepadamu berita orang-orang sebelum kamu (yaitu) kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud, dan orang-orang sesudah mereka. Tidak ada yang mengetabui mereka selain Allah. Telah datang para Rasul kepada mereka (membawa) bukti-bukti yang nyata lalu mereka menutupkan tangannya mulutnya (karena kebencian) dan berkata: ‘Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diperintahkan (untuk) menyampaikannya (kepada kami), dan sesungguhnya kami benar-benar dalam keragu-raguan yang menggelisahkan terhadap apa yang kamu ajak kami kepadanya.’” (QS. Ibrahim: 9)
Ibnu Jarir mengatakan, ayat ini merupakan lanjutan dari perkataan Musa kepada kaumnya, yakni peringatannya kepada mereka terhadap nikmat-nikmat Allah, dengan siksaan Allah terhadap umat-umat terdahulu yang mendustakan para Rasul. Pendapat Ibnu Jarir ini perlu dipertimbangkan kembali, karena nampaknya ayat ini adalah berita baru dari Allah Ta’ala untuk umat ini karena ada yang mengatakan bahwa kisah `Aad dan Tsamud ini tidak ada dalam Taurat. Kalau hal ini termasuk perkataan dan kisah-kisah Musa kepada kauninya, pasti kedua kisah itu terdapat pula dalam Taurat, wallahu a’lam. Namun pada pokoknya, Allah Ta’ala telah menceritakan kepada kita kisah kaum Nuh, `Aad, Tsamud dan umat-umat lain yang mendustakan para Rasul yang jumlahnya banyak sekali sehingga hanya diketahui oleh Allah saja.Ada pula yang berpendapat lain bahwa yang dimaksud adalah mereka diam saja, tidak memenuhi panggilan para Rasul.
Dalam hal ini Sufyan atsauri meriwayatkan pendapat dari `Abdullah, ia mengatakan: faradduu aidiyaHum fii afwaaHiHim (“Lalu mereka menutupkan tangan mereka ke mulut mereka [karena kebencian].”) ialah, menggigit tangan mereka karena geram. Pendapat ini dipilih oleh `Aburrahman bin Zaid bin Aslam, demikian juga Ibnu Jarir dengan alasan firman Allah tentang orang-orang munafik: “Apabila mereka telah berlalu, mereka gigit jari mereka karena marah.” (QS. Ali-‘Imran: 119) Al-`Aufi meriwayatkan dari Ibnu `Abbas, bahwa setelah mendengar kalam Allah, mereka sangat heran dan menutupkan tangan mereka ke mulut mereka sambil berkata: “Kami kafir terhadap apa yang kalian sampaikan kepada kami.” Maksudnya, mereka mengatakan: “Kami tidak percaya terhadap apa yang kalian sampaikan, karena kami sangat meragukannya.”
JILIK 2 SURAH IBRAHIM
AYAT 9 BISS MILLAH HIRRAHMAN NIRRAHIM.,
Alam yaatikum naba'ul lazeena min qablikum qawmi Noohinw wa 'Aadinw wa Samood, wallazeena mim ba'dihim; laa ya'lamuhum illallaah; jaaa'at hum Rusuluhum bilbaiyinaati faraddooo aydiyahum feee afwaahihim wa qaalooo innaa kafarnaa bimaaa ursiltum bihee wa innaa lafee shakkim mimmaa tad'oonanaaa ilaihi mureeb
Belumkah sampai kepadamu berita orang-orang sebelum kamu (yaitu) kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud, dan orang-orang sesudah mereka. Tidak ada yang mengetabui mereka selain Allah. Telah datang para Rasul kepada mereka (membawa) bukti-bukti yang nyata lalu mereka menutupkan tangannya mulutnya (karena kebencian) dan berkata: ‘Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diperintahkan (untuk) menyampaikannya (kepada kami), dan sesungguhnya kami benar-benar dalam keragu-raguan yang menggelisahkan terhadap apa yang kamu ajak kami kepadanya.’” (QS. Ibrahim: 9)
Ibnu Jarir mengatakan, ayat ini merupakan lanjutan dari perkataan Musa kepada kaumnya, yakni peringatannya kepada mereka terhadap nikmat-nikmat Allah, dengan siksaan Allah terhadap umat-umat terdahulu yang mendustakan para Rasul. Pendapat Ibnu Jarir ini perlu dipertimbangkan kembali, karena nampaknya ayat ini adalah berita baru dari Allah Ta’ala untuk umat ini karena ada yang mengatakan bahwa kisah `Aad dan Tsamud ini tidak ada dalam Taurat. Kalau hal ini termasuk perkataan dan kisah-kisah Musa kepada kauninya, pasti kedua kisah itu terdapat pula dalam Taurat, wallahu a’lam. Namun pada pokoknya, Allah Ta’ala telah menceritakan kepada kita kisah kaum Nuh, `Aad, Tsamud dan umat-umat lain yang mendustakan para Rasul yang jumlahnya banyak sekali sehingga hanya diketahui oleh Allah saja.Ada pula yang berpendapat lain bahwa yang dimaksud adalah mereka diam saja, tidak memenuhi panggilan para Rasul.
Dalam hal ini Sufyan atsauri meriwayatkan pendapat dari `Abdullah, ia mengatakan: faradduu aidiyaHum fii afwaaHiHim (“Lalu mereka menutupkan tangan mereka ke mulut mereka [karena kebencian].”) ialah, menggigit tangan mereka karena geram. Pendapat ini dipilih oleh `Aburrahman bin Zaid bin Aslam, demikian juga Ibnu Jarir dengan alasan firman Allah tentang orang-orang munafik: “Apabila mereka telah berlalu, mereka gigit jari mereka karena marah.” (QS. Ali-‘Imran: 119) Al-`Aufi meriwayatkan dari Ibnu `Abbas, bahwa setelah mendengar kalam Allah, mereka sangat heran dan menutupkan tangan mereka ke mulut mereka sambil berkata: “Kami kafir terhadap apa yang kalian sampaikan kepada kami.” Maksudnya, mereka mengatakan: “Kami tidak percaya terhadap apa yang kalian sampaikan, karena kami sangat meragukannya.”
Wednesday, 23 October 2019
AYAT 6-8 IBRAHIM,.
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
JILIK 2 IBRAHIM
AYAT 6-8
Biss Millah Hirrahman Nirrahim,.
Wa iz qaala Moosaa liqawmihiz kuroo ni'matal laahi 'alaikum iz anjaakum min Aali Fir'awna yasoomoo nakum sooo'al 'azaabi wa yuzabbihoona abnaaa'akum wa yastahyoona nisaaa'akum; wa fee zaalikum balaaa'um mir Rabbikum 'azeem (section 1) Wa iz ta azzana Rabbukum la'in shakartum la azeedannakum wa la'in kafartum inn'azaabee lashadeed Wa qaala Moosaaa in takfurooo antum wa man fil ardi jamee'an fa innal laaha la Ghaniyyun Hameed
“Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: ‘Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Allah menyelamatkanmu dari (Fir’aun dan) pengikut-pengikutnya, mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak-anak perempuanmu dan pada yang demikian itu ada cobaan yang besar dari Rabbmu.’ (QS. 14:6) Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.’ (QS. 14:7) Dan Musa berkata: ‘Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Mahaterpuji.’ (QS. 14:8)” (Ibrahim: 6-8)
Allah memberitakan tentang Musa tatkala mengingatkan kaumnya tentang hari-hari Allah dan nikmat-nikmat yang telah dikaruniakan-Nya kepada mereka ketika Allah menyelamatkan mereka dari Fir’aun dan para pengikutnya dan dari siksaan serta penghinaan mereka, yaitu dengan membunuh anak-anak laki-laki mereka dan membiarkan anak-anak perempuan mereka hidup. Maka, Allah menyelamatkan mereka dari adzab seperti itu. Hal ini merupakan nikmat yang besar bagi mereka.Seperti firman-Nya yang artinya: “Dan Kami coba mereka dengan nikmat [yang baik-baik] dan bencana [yang buruk-buru] agar mereka kembali [kepada kebenaran].” (al-A’raaf: 168)
Dia Mahaterpuji dan dipuji, walaupun orang-orang yang kafir kepada-Nya mengingkari nikmat-Nya, seperti firman-Nya: “Jika kamu kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu.” (QS. Az-Zumar:7) Disebutkan dalam shahih Muslim, dari Abu Dzar, dari Rasulullah, sebuah hadits qudsi, Allah swt. berfirman: “Wahai hamba-hamba-Ku, kalaupun orang-orang terdahulu sampai terakhir di antara kalian, baik manusia maupun jin memiliki takwanya seorang yang paling takwa di antara kalian, maka hal itu tidak akan menambah kerajaan-Ku sedikitpun. Wahai hamba-hamba-Ku, kalaupun orang-orang terdahulu sampai terakhir di antara kalian, baik manusia maupun jin itu memiliki kejahatan (kekafirannya) seorang yang paling jahat (kafir) di antara kalian, maka hal itu tidak akan mengurangi kerajaan-Ku sedikitpun. Wahai hamba-hamba-Ku, kalaupun orang-orang terdahulu sampai terakhir di antara kalian, baik manusia maupun jin itu berdiri pada satu bukit dan mereka memohon kepada-Ku, kemudian Aku beri masing-masing apa yang dimintanya, maka hal itu tidak akan mengurangi kerajaan-Ku sedikit pun, melainkan seperti (menguranginya) sebuah jarum, ketika dimasukkan ke dalam laut.” Mahasuci Allah Ta’ala yang Mahakaya lagi Terpuji.
JILIK 2 IBRAHIM
AYAT 6-8
Biss Millah Hirrahman Nirrahim,.
Wa iz qaala Moosaa liqawmihiz kuroo ni'matal laahi 'alaikum iz anjaakum min Aali Fir'awna yasoomoo nakum sooo'al 'azaabi wa yuzabbihoona abnaaa'akum wa yastahyoona nisaaa'akum; wa fee zaalikum balaaa'um mir Rabbikum 'azeem (section 1) Wa iz ta azzana Rabbukum la'in shakartum la azeedannakum wa la'in kafartum inn'azaabee lashadeed Wa qaala Moosaaa in takfurooo antum wa man fil ardi jamee'an fa innal laaha la Ghaniyyun Hameed
“Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: ‘Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Allah menyelamatkanmu dari (Fir’aun dan) pengikut-pengikutnya, mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak-anak perempuanmu dan pada yang demikian itu ada cobaan yang besar dari Rabbmu.’ (QS. 14:6) Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.’ (QS. 14:7) Dan Musa berkata: ‘Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Mahaterpuji.’ (QS. 14:8)” (Ibrahim: 6-8)
Allah memberitakan tentang Musa tatkala mengingatkan kaumnya tentang hari-hari Allah dan nikmat-nikmat yang telah dikaruniakan-Nya kepada mereka ketika Allah menyelamatkan mereka dari Fir’aun dan para pengikutnya dan dari siksaan serta penghinaan mereka, yaitu dengan membunuh anak-anak laki-laki mereka dan membiarkan anak-anak perempuan mereka hidup. Maka, Allah menyelamatkan mereka dari adzab seperti itu. Hal ini merupakan nikmat yang besar bagi mereka.Seperti firman-Nya yang artinya: “Dan Kami coba mereka dengan nikmat [yang baik-baik] dan bencana [yang buruk-buru] agar mereka kembali [kepada kebenaran].” (al-A’raaf: 168)
Dia Mahaterpuji dan dipuji, walaupun orang-orang yang kafir kepada-Nya mengingkari nikmat-Nya, seperti firman-Nya: “Jika kamu kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu.” (QS. Az-Zumar:7) Disebutkan dalam shahih Muslim, dari Abu Dzar, dari Rasulullah, sebuah hadits qudsi, Allah swt. berfirman: “Wahai hamba-hamba-Ku, kalaupun orang-orang terdahulu sampai terakhir di antara kalian, baik manusia maupun jin memiliki takwanya seorang yang paling takwa di antara kalian, maka hal itu tidak akan menambah kerajaan-Ku sedikitpun. Wahai hamba-hamba-Ku, kalaupun orang-orang terdahulu sampai terakhir di antara kalian, baik manusia maupun jin itu memiliki kejahatan (kekafirannya) seorang yang paling jahat (kafir) di antara kalian, maka hal itu tidak akan mengurangi kerajaan-Ku sedikitpun. Wahai hamba-hamba-Ku, kalaupun orang-orang terdahulu sampai terakhir di antara kalian, baik manusia maupun jin itu berdiri pada satu bukit dan mereka memohon kepada-Ku, kemudian Aku beri masing-masing apa yang dimintanya, maka hal itu tidak akan mengurangi kerajaan-Ku sedikit pun, melainkan seperti (menguranginya) sebuah jarum, ketika dimasukkan ke dalam laut.” Mahasuci Allah Ta’ala yang Mahakaya lagi Terpuji.
Sunday, 20 October 2019
AYAT 5 AURAH IBRHIM,.
TAFSIR QURAN DN HDIS TBRUK,.
JILIK 2
AYAT 5 SURH IBRAHIM,.
Biss Millah Hirrahman Nirrahim,.
Wa laqad arsalnaa Moosaa bi Aayaatinaa an akhrij qawmaka minaz zulumaati ilan noori wa zak kirhum bi ayyaamil laah; inna fee zaalika la aayaatil likulli sabbaarin shakoor
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, dan Kami perintahkan kepadanya: ‘Keluarkanlah kaummu gelap-gulita kepada cahaya terang-benderang, dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah.’ Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap prang penyabar dan banyak bersyukur,” (QS. Ibrahim: 5)
Allah berfirman, sebagaimana Kami mengutusmu wahai Muhammad dan Kami menurunkan Kitab kepadamu untuk mengeluarkan manusia semua dan mengajak mereka untuk keluar dari kegelapan menuju cahaya yang terang-benderang, demikian pula Kami telah mengutus Musa kepada Bani Israil dengan membawa ayat-ayat Kami. Mujahid mengatakan, yaitu sembilan ayat.
Disebutkan dalam hadits marfu’
yang diriwayatkan oleh `Abdullah bin Imam Ahmad bin Hanbal
dalam Musnad Ahmad dari Abu Ka’b, dari
Nabi Muhammad mengenai firman Allah:
Wa dzakkirHum bi ayaamillaaH (“Dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah,”) (beliau) bersabda, maksudnya, adalah nikmat-nikmat Allah. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari Muhammad bin Abban, dan diriwayatkan pula oleh `Abdullah bin Imam Ahmad hadits serupa, tetapi mauquf dan inilah yang lebih sesuai. Firman Allah: inna fii dzaalika la-aayaatil likulli shabbaarin syakuur (“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda [kekuasaan Allah] bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.”)
Maksudnya, sesungguhnya apa yang telah Kami perbuat untuk Bani Israil tatkala Kami selamatkan mereka dari tangan Fir’aun dan Kami selamatkan mereka dari adzab yang hina yang mereka alami merupakan
contoh bagi setiap orang yang sabar dalam mendapatkan musibah dan banyak bersyukur dalam memperoleh kenikmatan. Seperti dikatakan Qatadah: “Sebaik-baik hamba adalah seorang hamba yang jika tertimpa cobaan ia bersabar dan jika diberi nikmat ia bersyukur. Demikian diriwayatkan.
JILIK 2
AYAT 5 SURH IBRAHIM,.
Biss Millah Hirrahman Nirrahim,.
Wa laqad arsalnaa Moosaa bi Aayaatinaa an akhrij qawmaka minaz zulumaati ilan noori wa zak kirhum bi ayyaamil laah; inna fee zaalika la aayaatil likulli sabbaarin shakoor
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, dan Kami perintahkan kepadanya: ‘Keluarkanlah kaummu gelap-gulita kepada cahaya terang-benderang, dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah.’ Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap prang penyabar dan banyak bersyukur,” (QS. Ibrahim: 5)
Allah berfirman, sebagaimana Kami mengutusmu wahai Muhammad dan Kami menurunkan Kitab kepadamu untuk mengeluarkan manusia semua dan mengajak mereka untuk keluar dari kegelapan menuju cahaya yang terang-benderang, demikian pula Kami telah mengutus Musa kepada Bani Israil dengan membawa ayat-ayat Kami. Mujahid mengatakan, yaitu sembilan ayat.
Disebutkan dalam hadits marfu’
yang diriwayatkan oleh `Abdullah bin Imam Ahmad bin Hanbal
dalam Musnad Ahmad dari Abu Ka’b, dari
Nabi Muhammad mengenai firman Allah:
Wa dzakkirHum bi ayaamillaaH (“Dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah,”) (beliau) bersabda, maksudnya, adalah nikmat-nikmat Allah. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari Muhammad bin Abban, dan diriwayatkan pula oleh `Abdullah bin Imam Ahmad hadits serupa, tetapi mauquf dan inilah yang lebih sesuai. Firman Allah: inna fii dzaalika la-aayaatil likulli shabbaarin syakuur (“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda [kekuasaan Allah] bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.”)
Maksudnya, sesungguhnya apa yang telah Kami perbuat untuk Bani Israil tatkala Kami selamatkan mereka dari tangan Fir’aun dan Kami selamatkan mereka dari adzab yang hina yang mereka alami merupakan
contoh bagi setiap orang yang sabar dalam mendapatkan musibah dan banyak bersyukur dalam memperoleh kenikmatan. Seperti dikatakan Qatadah: “Sebaik-baik hamba adalah seorang hamba yang jika tertimpa cobaan ia bersabar dan jika diberi nikmat ia bersyukur. Demikian diriwayatkan.
Friday, 18 October 2019
AYAT 4 SURAH IBRAHIM,.
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK,.
JILIK 2
AYAT 4 SURAH IBRAHIM,.
Biss millah hirrahman nir rahim,.
Wa maaa arsalnaa mir Rasoolin illaa bilisaani qawmihee liyubaiyina lahum faiudillul laahu mai yashaaa'u wa yahde mai yashaaa'; wa Huwal 'Azeezul Hakeem
“4. Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. dan Dia-lah Tuhan yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (Ibrahim: 4) Hal ini termasuk kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya, bahwa Allah mengutus para Rasul dari kalangan mereka dan dengan bahasa mereka supaya mereka memahami apa yang dikehendaki dari mereka dan apa yang disampaikan kepada mereka, seperti yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Dzarr ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Allah tidak mengutus seorang Nabi pun melainkan dengan bahasa kaumnya.”
Dalam ayat ini
Allah membahasakan dirinya dengan kami(yakni allah berserta dzat bergantung sifat dan asmak nya)Wa Huwal ‘aziizu (“Dan Dialah Rabb yang Mahakuasa.”) apa yang Dia kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki pasti tidak terjadi. Al hakiim (“lagi Mahabijaksana.”) dalam perbuatan-Nya, maka Dia menyesatkan siapa yang memang berhak dengan kesesatan dan menunjuki siapa yang memang layak akan hal itu. Memang, hal itu merupakan sunnah atau ketentuan Allah yang berkenaan dengan makhluk-Nya bahwa Allah tidak mengutus seorang Nabi kepada suatu umat melainkan dengan bahasa mereka dan setiap nabi itu diutus untuk menyampaikan risalah kenabian kepada ummat mereka masing-masing, tidak kepada umat lain, kecuali Nabi Muhammad bin Abdillah yang khusus diperintahkan supaya menyampaikan risalah kepada semua manusia.
Sebagaimana dijelaskan dalam hadits shahih
yang tertera dalam kitab shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Jabir berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Aku diberi lima hal yang tidak diberikan kepada seorang Nabipun sebelumku; aku diberi kemenangan oleh karena rasa takut [dalam hati musuh] selama perjalanan satu bulan dan bumi [tanah] ini dijadikan untukku sebagai tempat shalat [masjid] dan untuk bersuci. Dihalalkan untukku harta rampasan perang yang mana hal tersebut tidak dihalalkan bagi seorang rasul pun sebelumku. Aku diberi syafa’at dan setiap Nabi diutus khusus kepada umatnya masing-masing, sedang akut diutus kepada semua manusia.” Hadits ini didukung berbagai macam bukti dan Allah juga berfirman yang artinya; “Katakanlah: ‘Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku ini adalah Rasul [utusan] Allah kepadamu semua.” (al-A’raaf: 158)
JILIK 2
AYAT 4 SURAH IBRAHIM,.
Biss millah hirrahman nir rahim,.
Wa maaa arsalnaa mir Rasoolin illaa bilisaani qawmihee liyubaiyina lahum faiudillul laahu mai yashaaa'u wa yahde mai yashaaa'; wa Huwal 'Azeezul Hakeem
“4. Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. dan Dia-lah Tuhan yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (Ibrahim: 4) Hal ini termasuk kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya, bahwa Allah mengutus para Rasul dari kalangan mereka dan dengan bahasa mereka supaya mereka memahami apa yang dikehendaki dari mereka dan apa yang disampaikan kepada mereka, seperti yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Dzarr ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Allah tidak mengutus seorang Nabi pun melainkan dengan bahasa kaumnya.”
Dalam ayat ini
Allah membahasakan dirinya dengan kami(yakni allah berserta dzat bergantung sifat dan asmak nya)Wa Huwal ‘aziizu (“Dan Dialah Rabb yang Mahakuasa.”) apa yang Dia kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki pasti tidak terjadi. Al hakiim (“lagi Mahabijaksana.”) dalam perbuatan-Nya, maka Dia menyesatkan siapa yang memang berhak dengan kesesatan dan menunjuki siapa yang memang layak akan hal itu. Memang, hal itu merupakan sunnah atau ketentuan Allah yang berkenaan dengan makhluk-Nya bahwa Allah tidak mengutus seorang Nabi kepada suatu umat melainkan dengan bahasa mereka dan setiap nabi itu diutus untuk menyampaikan risalah kenabian kepada ummat mereka masing-masing, tidak kepada umat lain, kecuali Nabi Muhammad bin Abdillah yang khusus diperintahkan supaya menyampaikan risalah kepada semua manusia.
Sebagaimana dijelaskan dalam hadits shahih
yang tertera dalam kitab shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Jabir berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Aku diberi lima hal yang tidak diberikan kepada seorang Nabipun sebelumku; aku diberi kemenangan oleh karena rasa takut [dalam hati musuh] selama perjalanan satu bulan dan bumi [tanah] ini dijadikan untukku sebagai tempat shalat [masjid] dan untuk bersuci. Dihalalkan untukku harta rampasan perang yang mana hal tersebut tidak dihalalkan bagi seorang rasul pun sebelumku. Aku diberi syafa’at dan setiap Nabi diutus khusus kepada umatnya masing-masing, sedang akut diutus kepada semua manusia.” Hadits ini didukung berbagai macam bukti dan Allah juga berfirman yang artinya; “Katakanlah: ‘Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku ini adalah Rasul [utusan] Allah kepadamu semua.” (al-A’raaf: 158)
AYAT 1-3 SURAH IBRAHIM,.
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
JILIK 2 AYAT 1-3
SURAH IBRAHIM..,
Bismillaahir Rahmaanir Raheem Alif-Laaam-Raa;
Kitaabun anzalnaahu ilaika litukhrijan-naasa minaz zulumaati ilan noori bi-izni
Rabbihim ilaa siraatil 'Azeezil Hameed Allaahil lazee lahoo maa fis samaawaati wa maa fill ard;
wa wailul lilkaafireena min 'azaabin shadeed Allazeena yastahibboo nal hayaatad dunyaa 'alal aakhirati wa yasuddoona 'ansabeelil laahi wa yabghoonahaa 'iwajaa; ulaaa 'ika fee dalaalim ba'eed
{الر كِتَابٌ أَنزلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ (1) اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَوَيْلٌ لِلْكَافِرِينَ مِنْ عَذَابٍ شَدِيدٍ (2) الَّذِينَ يَسْتَحِبُّونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الآخِرَةِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا أُولَئِكَ فِي ضَلالٍ بَعِيدٍ (3) }
Alif Lam Ra. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji. Allah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi. Dan celakalah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih, (yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.
Dalam pembahasan terdahulu telah disebutkan tafsir mengenai huruf-huruf terpisah yang terdapat dalam permulaan banyak surat. {كِتَابٌ أَنزلْنَاهُ إِلَيْكَ} (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu. (Ibrahim: 1) Maksudnya, ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu, Muhammad. Yang dimaksud ialah Al-Qur'an yang merupakan Kitab yang paling mulia, yang diturunkan Allah Swt. dari langit kepada rasul yang paling mulia. Allah telah mengutusnya di bumi ini kepada semua penduduknya, baik yang berbangsa Arab maupun 'Ajam (non-Arab). {لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ} supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang. (Ibrahim: l) Dengan kata lain, sesungguhnya Kami mengutusmu —hai Muhammad— dengan membawa Kitab (Al-Qur'an) ini tiada lain untuk mengeluarkan manusia dari kesesatan menuju jalan petunjuk dan kebenaran, seperti yang diungkapkan oleh Allah Swt. dalam ayat lain melalui firman-Nya: {اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ} Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). (Al-Baqarah: 257), hingga akhir ayat. {هُوَ الَّذِي يُنزلُ عَلَى عَبْدِهِ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ} Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (Al-Qur'an) supaya Dia mengeluarkan kalian dari kegelapan kepada cahaya. (Al-Hadid: 9)
Adapun firman Allah Swt.: {بِإِذْنِ رَبِّهِمْ} dengan izin Tuhan mereka. (Ibrahim: 1) Artinya, Dialah yang memberi petunjuk kepada orang yang telah ditakdirkan-Nya mendapat petunjuk melalui Rasul-Nya yang diutus untuk membawa perintah-Nya. Rasul memberi mereka petunjuk: {إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ} menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa. (Ibrahim: 1) Yakni Yang Mahaperkasa, tiada yang dapat menandingi dan tiada yang dapat mengalahkan-Nya, bahkan Dia Maha Mengalahkan semuanya. "الْحَمِيدُ" lagi Maha Terpuji. (Ibrahim: 1) Allah Maha Terpuji dalam semua perbuatan, perkataan, syariat, perintah, dan larangan-Nya; lagi Mahabenar dalam berita-Nya. ******************* Firman Allah Swt.: {اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ} Allah Yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi. (Ibrahim: 2) Sebagian ulama tafsir membacanya dengan bacaan rafa' dianggap sebagai kalimat baru, sedangkan ulama lainnya membacanya dengan bacaan jar karena mengikuti sifat Allah, yaitu lafaz Al-Hamid. Perihalnya sama dengan firman Allah Swt. dalam ayat lain, yaitu: {قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ} Katakanlah, "Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi.” (Al-A'raf: 158),
hingga akhir ayat. Mengenai firman Allah Swt.: {وَوَيْلٌ لِلْكَافِرِينَ مِنْ عَذَابٍ شَدِيدٍ} Dan celakalah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih. (Ibrahim: 2) Maksudnya, kecelakaanlah bagi mereka pada hari kiamat nanti sebab mereka menentangmu dan mendustakanmu, hai Muhammad. Kemudian Allah menyebutkan bahwa mereka lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, yakni mereka mendahulukan kepentingan dunia dan menjadikannya di atas segalanya. Mereka bekerja untuk kehidupan duniawinya dan melupakan akhirat mereka, dan mereka meninggalkan urusan akhiratnya di belakang mereka. {وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ} dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. (Ibrahim: 3). Yang dimaksud dengan jalan Allah ialah mengikuti rasul-rasul. {وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا} dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. (Ibrahim: 3) Yakni mereka menghendaki agar jalan Allah bengkok, tidak lurus, dan terhambat; padahal jalan Allah itu lurus, tiada membahayakannya sikap orang-orang yang menentangnya, tidak pula orang-orang yang menghinanya. Mereka yang menginginkan demikian berada dalam kebodohan dan kesesatan yang jauh dari kebenaran. Tiada kebaikan yang diharapkan bagi mereka selama mereka bersikap demikian.
JILIK 2 AYAT 1-3
SURAH IBRAHIM..,
Bismillaahir Rahmaanir Raheem Alif-Laaam-Raa;
Kitaabun anzalnaahu ilaika litukhrijan-naasa minaz zulumaati ilan noori bi-izni
Rabbihim ilaa siraatil 'Azeezil Hameed Allaahil lazee lahoo maa fis samaawaati wa maa fill ard;
wa wailul lilkaafireena min 'azaabin shadeed Allazeena yastahibboo nal hayaatad dunyaa 'alal aakhirati wa yasuddoona 'ansabeelil laahi wa yabghoonahaa 'iwajaa; ulaaa 'ika fee dalaalim ba'eed
{الر كِتَابٌ أَنزلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ (1) اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَوَيْلٌ لِلْكَافِرِينَ مِنْ عَذَابٍ شَدِيدٍ (2) الَّذِينَ يَسْتَحِبُّونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الآخِرَةِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا أُولَئِكَ فِي ضَلالٍ بَعِيدٍ (3) }
Alif Lam Ra. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji. Allah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi. Dan celakalah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih, (yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.
Dalam pembahasan terdahulu telah disebutkan tafsir mengenai huruf-huruf terpisah yang terdapat dalam permulaan banyak surat. {كِتَابٌ أَنزلْنَاهُ إِلَيْكَ} (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu. (Ibrahim: 1) Maksudnya, ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu, Muhammad. Yang dimaksud ialah Al-Qur'an yang merupakan Kitab yang paling mulia, yang diturunkan Allah Swt. dari langit kepada rasul yang paling mulia. Allah telah mengutusnya di bumi ini kepada semua penduduknya, baik yang berbangsa Arab maupun 'Ajam (non-Arab). {لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ} supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang. (Ibrahim: l) Dengan kata lain, sesungguhnya Kami mengutusmu —hai Muhammad— dengan membawa Kitab (Al-Qur'an) ini tiada lain untuk mengeluarkan manusia dari kesesatan menuju jalan petunjuk dan kebenaran, seperti yang diungkapkan oleh Allah Swt. dalam ayat lain melalui firman-Nya: {اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ} Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). (Al-Baqarah: 257), hingga akhir ayat. {هُوَ الَّذِي يُنزلُ عَلَى عَبْدِهِ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ} Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (Al-Qur'an) supaya Dia mengeluarkan kalian dari kegelapan kepada cahaya. (Al-Hadid: 9)
Adapun firman Allah Swt.: {بِإِذْنِ رَبِّهِمْ} dengan izin Tuhan mereka. (Ibrahim: 1) Artinya, Dialah yang memberi petunjuk kepada orang yang telah ditakdirkan-Nya mendapat petunjuk melalui Rasul-Nya yang diutus untuk membawa perintah-Nya. Rasul memberi mereka petunjuk: {إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ} menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa. (Ibrahim: 1) Yakni Yang Mahaperkasa, tiada yang dapat menandingi dan tiada yang dapat mengalahkan-Nya, bahkan Dia Maha Mengalahkan semuanya. "الْحَمِيدُ" lagi Maha Terpuji. (Ibrahim: 1) Allah Maha Terpuji dalam semua perbuatan, perkataan, syariat, perintah, dan larangan-Nya; lagi Mahabenar dalam berita-Nya. ******************* Firman Allah Swt.: {اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ} Allah Yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi. (Ibrahim: 2) Sebagian ulama tafsir membacanya dengan bacaan rafa' dianggap sebagai kalimat baru, sedangkan ulama lainnya membacanya dengan bacaan jar karena mengikuti sifat Allah, yaitu lafaz Al-Hamid. Perihalnya sama dengan firman Allah Swt. dalam ayat lain, yaitu: {قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ} Katakanlah, "Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi.” (Al-A'raf: 158),
hingga akhir ayat. Mengenai firman Allah Swt.: {وَوَيْلٌ لِلْكَافِرِينَ مِنْ عَذَابٍ شَدِيدٍ} Dan celakalah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih. (Ibrahim: 2) Maksudnya, kecelakaanlah bagi mereka pada hari kiamat nanti sebab mereka menentangmu dan mendustakanmu, hai Muhammad. Kemudian Allah menyebutkan bahwa mereka lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, yakni mereka mendahulukan kepentingan dunia dan menjadikannya di atas segalanya. Mereka bekerja untuk kehidupan duniawinya dan melupakan akhirat mereka, dan mereka meninggalkan urusan akhiratnya di belakang mereka. {وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ} dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. (Ibrahim: 3). Yang dimaksud dengan jalan Allah ialah mengikuti rasul-rasul. {وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا} dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. (Ibrahim: 3) Yakni mereka menghendaki agar jalan Allah bengkok, tidak lurus, dan terhambat; padahal jalan Allah itu lurus, tiada membahayakannya sikap orang-orang yang menentangnya, tidak pula orang-orang yang menghinanya. Mereka yang menginginkan demikian berada dalam kebodohan dan kesesatan yang jauh dari kebenaran. Tiada kebaikan yang diharapkan bagi mereka selama mereka bersikap demikian.
Tuesday, 15 October 2019
SURAH IBRAHIM,.
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK
JILIK 2 ,.
PENCERAHAN DAN HURAIAN TENTANG
Surah Ibrahim Daripada
Sebahagian daripada siri berkaitan Allah- Islam Rukun Iman Allah • Kitab • Malaikat • Nabi Hari Akhirat • Qada dan Qadar Rukun Islam Syahadah • Solat • Puasa Zakat • Haji Kota Suci Makkah • Madinah Baitulmuqaddis Hari Raya Aidilfitri • Aidiladha Hukum Al-Quran • Sunnah • Hadis Sejarah Garis Masa Sejarah Islam Khulafa al-Rasyidin Khalifah • Khilafah Tokoh Islam Muhammad Ahlul Bait • Sahabat Nabi Mazhab Ahli Sunah Waljamaah Hanafi • Syafie Maliki • Hanbali Budaya Dan Masyarakat Akademik • Haiwan • Seni Takwim • Kanak-kanak Demografi • Perayaan Masjid • Dakwah • Falsafah Sains • Wanita • Politik Lihat juga Kritikan •
Islamofobia Glosari Portal Islam pbs Surah Ibrahim (سورة إبراهيم)
adalah surah ke-14 dalam Al-Quran. Surah ini terdiri atas 52 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyyah kerana diturunkan di Makkah sebelum Hijrah. Dinamakan Ibrahim kerana surah ini mengandungi doa Nabi Ibrahim a.s. iaitu ayat 35 sampai dengan 41.
Isi doa ini ialah : permohonan agar keturunannya mendirikan solat, dijauhkan dari menyembah berhala-berhala dan agar Makkah dan daerah sekitarnya menjadi daerah yang aman dan makmur. Doa Nabi Ibrahim AS ini telah diperkenankan oleh Allah SWT sebagaimana telah terbukti keamanannya sejak dahulu sampai sekarang. Doa tersebut dipanjatkan beliau ke hadirat Allah SWT sesudah selesai membina Kaabah bersama puteranya Ismail, di dataran tanah Makkah yang tandus. Isi kandungan Keimanan: Al Quran adalah pembimbing manusia ke jalan Allah; segala sesuatu dalam alam ini kepunyaan Allah; keingkaran manusia terhadap Allah tidaklah mengurangi kesempurnaan-Nya; nabi-nabi membawa mukjizat atas keizinan Allah semata-mata;
Allah kuasa mematikan manusia dan membangkitkannya kembali dalam bentuk baru; ilmu Allah meliputi yang lahir dan yang batin. Hukum-hukum: Perintah mendirikan solat dan menafkahkan sebahagian harta baik secara rahasia maupun secara terang-terangan. Kisah-kisah: Kisah Nabi Musa a.s. dengan kaumnya, serta kisah para rasul zaman dahulu. Dan lain-lain: Sebabnya rasul-rasul diutuskan dengan bahasa kaumnya sendiri; perumpamaan tentang perbuatan dan perkataan yang hak dengan yang batil; kejadian langit dan bumi mengandungi hikmah-hikmah; pelbagai nikmat Allah kepada manusia dan janji Allah kepada hamba-hamba yang mensyukuriNya.
JILIK 2 ,.
PENCERAHAN DAN HURAIAN TENTANG
Surah Ibrahim Daripada
Sebahagian daripada siri berkaitan Allah- Islam Rukun Iman Allah • Kitab • Malaikat • Nabi Hari Akhirat • Qada dan Qadar Rukun Islam Syahadah • Solat • Puasa Zakat • Haji Kota Suci Makkah • Madinah Baitulmuqaddis Hari Raya Aidilfitri • Aidiladha Hukum Al-Quran • Sunnah • Hadis Sejarah Garis Masa Sejarah Islam Khulafa al-Rasyidin Khalifah • Khilafah Tokoh Islam Muhammad Ahlul Bait • Sahabat Nabi Mazhab Ahli Sunah Waljamaah Hanafi • Syafie Maliki • Hanbali Budaya Dan Masyarakat Akademik • Haiwan • Seni Takwim • Kanak-kanak Demografi • Perayaan Masjid • Dakwah • Falsafah Sains • Wanita • Politik Lihat juga Kritikan •
Islamofobia Glosari Portal Islam pbs Surah Ibrahim (سورة إبراهيم)
adalah surah ke-14 dalam Al-Quran. Surah ini terdiri atas 52 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyyah kerana diturunkan di Makkah sebelum Hijrah. Dinamakan Ibrahim kerana surah ini mengandungi doa Nabi Ibrahim a.s. iaitu ayat 35 sampai dengan 41.
Isi doa ini ialah : permohonan agar keturunannya mendirikan solat, dijauhkan dari menyembah berhala-berhala dan agar Makkah dan daerah sekitarnya menjadi daerah yang aman dan makmur. Doa Nabi Ibrahim AS ini telah diperkenankan oleh Allah SWT sebagaimana telah terbukti keamanannya sejak dahulu sampai sekarang. Doa tersebut dipanjatkan beliau ke hadirat Allah SWT sesudah selesai membina Kaabah bersama puteranya Ismail, di dataran tanah Makkah yang tandus. Isi kandungan Keimanan: Al Quran adalah pembimbing manusia ke jalan Allah; segala sesuatu dalam alam ini kepunyaan Allah; keingkaran manusia terhadap Allah tidaklah mengurangi kesempurnaan-Nya; nabi-nabi membawa mukjizat atas keizinan Allah semata-mata;
Allah kuasa mematikan manusia dan membangkitkannya kembali dalam bentuk baru; ilmu Allah meliputi yang lahir dan yang batin. Hukum-hukum: Perintah mendirikan solat dan menafkahkan sebahagian harta baik secara rahasia maupun secara terang-terangan. Kisah-kisah: Kisah Nabi Musa a.s. dengan kaumnya, serta kisah para rasul zaman dahulu. Dan lain-lain: Sebabnya rasul-rasul diutuskan dengan bahasa kaumnya sendiri; perumpamaan tentang perbuatan dan perkataan yang hak dengan yang batil; kejadian langit dan bumi mengandungi hikmah-hikmah; pelbagai nikmat Allah kepada manusia dan janji Allah kepada hamba-hamba yang mensyukuriNya.
Thursday, 3 October 2019
AYAT 36-44 MA'ARIJ
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK.,.,
JILIK 2 AYAT 36-44
SURAH MA'ARIJ
Biss Millah Hirrahman Nirrahim,.., 36. famaali alladziina kafaruu qibalaka muhthi’iina 37. ‘ani alyamiini wa’ani alsysyimaali ‘iziina 38. ayathma’u kullu imri-in minhum an yudkhala jannata na’iimin 39. kallaa innaa khalaqnaahum mimmaa ya’lamuuna 40. falaa uqsimu birabbi almasyaariqi waalmaghaaribi innaa laqaadiruuna 41. ‘alaa an nubaddila khayran minhum wamaa nahnu bimasbuuqiina 42. fadzarhum yakhuudhuu wayal’abuu hattaa yulaaquu yawmahumu alladzii yuu’aduuna 43. yawma yakhrujuuna mina al-ajdaatsi siraa’an ka-annahum ilaa nushubin yuufidhuuna 44. khaasyi’atan abshaaruhum tarhaquhum dzillatun dzaalika alyawmu alladzii kaanuu yuu’aduuna
فَمَالِ الَّذِينَ كَفَرُوا قِبَلَكَ مُهْطِعِينَ (36) عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ عِزِينَ (37) أَيَطْمَعُ كُلُّ امْرِئٍ مِنْهُمْ أَنْ يُدْخَلَ جَنَّةَ نَعِيمٍ (38) كَلَّا إِنَّا خَلَقْنَاهُمْ مِمَّا يَعْلَمُونَ (39) فَلَا أُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبِ إِنَّا لَقَادِرُونَ (40) عَلَى أَنْ نُبَدِّلَ خَيْرًا مِنْهُمْ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ (41) فَذَرْهُمْ يَخُوضُوا وَيَلْعَبُوا حَتَّى يُلَاقُوا يَوْمَهُمُ الَّذِي يُوعَدُونَ (42) يَوْمَ يَخْرُجُونَ مِنَ الْأَجْدَاثِ سِرَاعًا كَأَنَّهُمْ إِلَى نُصُبٍ يُوفِضُونَ (43) خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ذَلِكَ الْيَوْمُ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ (44)
Mengapa orang-orang kafir itu bersegera bubar dari arahmu. Dari kanan dan kiri dengan berkelompok-kelompok. Adakah setiap orang dari orang-orang kafir itu ingin masuk ke dalam surga yang penuh kenikmatan? Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Kami ciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui (air mani). Maka Aku bersumpah dengan Tuhan Yang Maha Mengatur tempat terbit dan terbenamnya matahari, bulan, dan bintang; sesungguhnya Kami benar-benar Mahakuasa. Untuk mengganti (mereka) dengan kaum yang lebih baik daripada mereka, dan Kami sekali-kali tidak dapat dikalahkan. Maka biarkanlah mereka tenggelam (dalam kebatilan) dan bermain-main sampai mereka menjumpai hari yang diancamkan kepada mereka, (yaitu) pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia), dalam keadaan mereka menekurkan pandangannya (serta) diliputi kehinaan. Itulah hari yang dahulunya diancamkan kepada mereka.
Allah Swt. mengingkari sikap orang-orang kafir yang semasa dengan Nabi Saw., padahal mereka menyaksikan Nabi Saw. dan juga petunjuk yang diamanatkan oleh Allah kepadanya untuk menyampaikannya, dan mukjizat-mukjizat yang jelas lagi cemerlang yang diberikan oleh Allah kepadanya untuk menguatkan kerasulannya. Kemudian dengan adanya semua itu mereka masih juga lari darinya dan bubar meninggalkannya, ada yang ke arah kanan dan ada yang ke arah kiri dengan berkelompok-kelompok, semakna dengan apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat lain melalui firman-Nya: فَما لَهُمْ عَنِ التَّذْكِرَةِ مُعْرِضِينَ كَأَنَّهُمْ حُمُرٌ مُسْتَنْفِرَةٌ فَرَّتْ مِنْ قَسْوَرَةٍ Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)? Seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa. (Al-Muddatstsir: 49-51) Ayat-ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan dalam surat ini, karena Allah Swt. berfirman: {فَمَالِ الَّذِينَ كَفَرُوا قِبَلَكَ مُهْطِعِينَ} Mengapa orang-orang kafir itu bersegera bubar dari arahmu. (Al-Ma'arij: 36) Yakni mengapa orang-orang kafir itu bersegera meninggalkanmu, hai Muhammad. Sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri, bahwa muhti'in artinya pergi. {عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ عِزِينَ} Dari kanan dan dari kiri dengan berkelompok-kelompok. (Al-Ma'arij: 37) Bentuk tunggalnya ialah 'izah, yakni berkelompok-kelompok. Ini merupakan kata keterangan keadaan dari lafaz muhti'in, yakni saat mereka bubar darinya berkelompok-kelompok karena tidak setuju dan menentangnya. Imam Ahmad telah mengatakan sehubungan dengan para penghamba nafsu, bahwa mereka selalu menyimpang dari Al-Qur'an, dan menentangnya serta sepakat untuk menentangnya. Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Mengapa orang-orang kafir itu bersegera bubar dari arahmu. (Al-Ma'arij: 36) Yakni mereka mengarahkan pandangannya ke arahmu. Dari kanan dan dari kiri dengan berkelompok-kelompok, (Al-Ma'arij: 37) Bahwa 'iz'in artinya berkelompok-kelompok, ada yang dari arah kanan dan ada yang dari arah kiri, berpaling darinya seraya memperolok-olok dia. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abu Amir alias Qurrah, dari Al-Hasan sehubungan dengan makna firman-Nya: dari kanan dan dari kiri membubarkan dirinya (Al-Ma'arij: 37) Yaitu bubar meninggalkan dia, ada yang ke arah kanan dan ada yang ke arah kiri seraya mengatakan, "Apa yang dikatakan lelaki ini?" dengan nada mencemoohkan. Qatadah mengatakan bahwa muhti'in artinya sengaja datang. Dari kanan dan dari kiri dengan berkelompok-kelompok. (Al-Ma'arij: 37) Yakni membuat kelompok-kelompok di sekeliling Nabi Saw., tetapi bukan kerena menyukai Kitabullah dan bukan pula Nabi-Nya. As-Sauri, Syu'bah, Absar ibnul Qasim, Aisy ibnu Yunus, Muhammad ibnu Fudail, Waki', Yahya Al-Qattan, dan Abu Mu'awiyah, semuanya telah meriwayatkan dari Al-A'masy, dari Al-Musayyab ibnu Rati', dari Tamim ibnu Tarfah, dari Jabir ibnu Samurah, bahwa Rasulullah Saw. keluar menemui para sahabat, sedangkan para sahabat saat itu sedang duduk berkelompok-kelompok. Maka beliau bertanya, "Mengapa kalian kulihat berkelompok-kelompok?" Imam Ahmad, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Nasai, dan Ibnu Jarir telah meriwayatkannya melalui hadis Al-A'masy dengan sanad yang sama. قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا مُؤَمَّل، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى أَصْحَابِهِ وَهُمْ حِلَق حِلق، فَقَالَ: "مَا لِي أَرَاكُمْ عِزِينَ؟ " Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Mu'ammal, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abdul Malik ibnu Umair, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah Saw. Keluar menemui para sahabatnya, sedangkan mereka dalam keadaan berkelompok-kelompok membentuk lingkaran-lingkaran, maka beliau Saw. bertanya, "Mengapa kulihat kalian berkelompok-kelompok?" Sanad hadis ini jayyid (baik), tetapi kami tidak menemukan pada suatu kitab-pun dari kitab Sittah yang meriwayatkannya dari jalur ini. ******************* Firman Allah Swt.: {أَيَطْمَعُ كُلُّ امْرِئٍ مِنْهُمْ أَنْ يُدْخَلَ جَنَّةَ نَعِيمٍ} كَلَّا Adakah setiap orang dari orang-orang kafir itu ingin masuk ke dalam surga yang penuh kenikmatan? Sekali-kali tidak! (Al-Ma'arij: 38-39) Maksudnya, apakah mereka yang keadaannya seperti itu, yakni lari dari Rasul dan anti pati terhadap perkara hak, dapat memasuki surga-surga yang penuh dengan kenikmatan? Sekali-kali tidak, bahkan tempat kembali mereka adalah neraka Jahanam. Selanjutnya Allah Swt. berfirman, menyatakan bahwa hari kiamat itu pasti terjadi dan azab akan menimpa mereka yang mengingkari kejadiannya dan menganggapnya sebagai kejadian yang mustahil. Hal ini diungkapkan oleh Allah Swt. dengan membuktikan terhadap mereka bahwa Dialah Yang Menciptakan mereka dari semula; maka mengembalikan penciptaan itu jauh lebih mudah bagi-Nya daripada memulainya, padahal mereka mengakui hal ini. Untuk itu Allah Swt. berfirman: {إِنَّا خَلَقْنَاهُمْ مِمَّا يَعْلَمُونَ} Sesungguhnya Kami ciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui (air mani). (Al-Ma'arij: 39) Yaitu dari air mani yang lemah, seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: أَلَمْ نَخْلُقْكُمْ مِنْ ماءٍ مَهِينٍ Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina. (Al-Mursalat: 20) Dan firman Allah Swt.: فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسانُ مِمَّ خُلِقَ خُلِقَ مِنْ ماءٍ دافِقٍ يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرائِبِ إِنَّهُ عَلى رَجْعِهِ لَقادِرٌ يَوْمَ تُبْلَى السَّرائِرُ فَما لَهُ مِنْ قُوَّةٍ وَلا ناصِرٍ Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada. Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup sesudah mati). Pada hari ditampakkan segala rahasia, maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatan pun dan tidak (pula) seorang penolong. (At-Tariq: 5-10) ******************* Kemudian Allah Swt. berfirman: {فَلا أُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبِ} Maka Aku bersumpah dengan Tuhan Yang Maha Mengatur tempat terbit dan terbenamnya matahari, bulan, dan bintang. (Al-Ma'arij: 40) Yakni Tuhan Yang telah menciptakan langit dan bumi, menciptakan arah timur dan arah barat, serta menundukkan bintang-bintang yang terbit dari arah timur dan tenggelam di arah barat. Kesimpulan pembicaraan menunjukkan bahwa duduk perkaranya tidaklah seperti yang kamu duga, bahwa tidak ada hari kiamat, tidak ada hari hisab, tidak ada hari berbangkit, dan tidak ada hari kemudian, bahkan semuanya itu pasti terjadi dan tidak dapat dielakkan lagi. Karena itulah maka dipakai huruf la dalam permulaan qasam (sumpah), untuk menunjukkan bahwa objek sumpah yang terkandung dalam makna kalimat dinafikan. Yaitu menyanggah dugaan mereka yang tidak benar, yang menyatakan bahwa hari kiamat itu tidak ada. Padahal mereka telah menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri akan kekuasaan Allah Swt. Yang jauh lebih besar dari pada hari kiamat: Yaitu penciptaan langit, bumi, dan ditundukkan-Nya semua makhluk yang ada pada keduanya, baik yang hidup maupun yang tidak bernyawa dan berbagai jenis makhluk lainnya. Karena itulah disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: لَخَلْقُ السَّماواتِ وَالْأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ وَلكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Al-Mu’min: 57) أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَ السَّماواتِ وَالْأَرْضَ وَلَمْ يَعْيَ بِخَلْقِهِنَّ بِقادِرٍ عَلى أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتى بَلى إِنَّهُ عَلى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya, kuasa menghidupkan orang-orang mati? Ya (bahkan) sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. (Al-Ahqaf: 33) Dan dalam ayat lainnya lagi disebutkan oleh firman-Nya: أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّماواتِ وَالْأَرْضَ بِقادِرٍ عَلى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ بَلى وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ إِنَّما أَمْرُهُ إِذا أَرادَ شَيْئاً أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ Dan Tidakkah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka yang sudah hancur itu? Benar. Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, "Jadilah!" Maka terjadilah ia (Yasin:81-82) Dalam surat ini disebutkan pula oleh firman-Nya: {فَلا أُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبِ إِنَّا لَقَادِرُونَ عَلَى أَنْ نُبَدِّلَ خَيْرًا مِنْهُمْ} Maka Aku bersumpah dengan Tuhan Yang Mengatur tempat terbit dan terbenamnya matahari, bulan, dan bintang; sesungguhnya Kami benar-benar Mahakuasa, untuk mengganti (mereka) dengan kaum yang lebih baik daripada mereka. (Al-Ma'arij: 40-41) Yaitu kelak di hari kiamat Kami akan mengembalikan mereka hidup kembali dengan tubuh yang lebih baik daripada sekarang, karena sesungguhnya kekuasaan Allah Swt. mampu berbuat demikian, {وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ} dan Kami sekali-kali tidak dapat dikalahkan. (Al-Ma'arij: 41) Artinya, tiada seorang pun yang dapat mengalahkan-Nya. Semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat Lain melalui firman-Nya: أَيَحْسَبُ الْإِنْسانُ أَلَّنْ نَجْمَعَ عِظامَهُ بَلى قادِرِينَ عَلى أَنْ نُسَوِّيَ بَنانَهُ Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya? Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna. (Al-Qiyamah: 3-4) Dan firman Allah Swt.: نَحْنُ قَدَّرْنا بَيْنَكُمُ الْمَوْتَ وَما نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ عَلى أَنْ نُبَدِّلَ أَمْثالَكُمْ وَنُنْشِئَكُمْ فِي مَا لَا تَعْلَمُونَ Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-kali tidak dapat dikalahkan, untuk menggantikan kamu dengan orang-orang yang seperti kamu (dalam dunia) dan menciptakan kamu kelak (di akhirat) dalam keadaan yang tidak kamu ketahui. (Al-Waqi'ah: 60-61) Ibnu Jarir sehubungan dengan makna firman-Nya: Untuk mengganti (mereka) dengan kaum yang lebih balk daripada mereka. (Al-Ma'arij: 41) Yakni umat yang taat kepada Kami dan tidak mendurhakai Kami, ia menjadikan ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya: وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْماً غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثالَكُمْ dan jika kamu berpaling, niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini). (Muhammad: 38) Akan-tetapi, makna yang pertama lebih jelas karena konteks pembicaraan berkaitan erat dengannya; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui. ******************* Selanjutnya Allah Swt. berfirman: {فَذَرْهُمْ} Maka biarkanlah mereka. (Al-Ma'arij: 42) Yaitu biarkanlah mereka, hai Muhammad. {يَخُوضُوا وَيَلْعَبُوا} tenggelam (dalam kebatilan) dan bermain-main. (Al-Ma'arij: 42) Maksudnya, biarkanlah mereka dalam kedustaan, kekafiran, dan keingkarannya. {حَتَّى يُلاقُوا يَوْمَهُمُ الَّذِي يُوعَدُونَ} sampai mereka menjumpai hari yang diancamkan kepada mereka. (Al-Ma'arij: 42) Yakni kelak mereka akan mengetahui akibat dari perbuatannya dan akan merasakan buah dari sepak terjangnya. {يَوْمَ يَخْرُجُونَ مِنَ الأجْدَاثِ سِرَاعًا كَأَنَّهُمْ إِلَى نُصُبٍ يُوفِضُونَ} (yaitu) pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia).(Al-Ma'arij:43) Yaitu mereka bangkit dari kuburnya masing-masing, apabila Tuhan Yang Mahasuci lagi Mahatinggi memanggil mereka untuk menjalani hisab di mauqif (tempat pemberhentian). Mereka bangkit dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala sembahannya. Ibnu Abbas, Mujahid, Ad-Dahhak mengatakan bahwa makna nusuh ialah 'alam alias berhala-berhala. Abul Aliyah dan Yahya ibnu Abu Kasir mengatakan, makna yang dimaksud ialah sebagaimana mereka pergi dengan segera ke tujuannya. Jumhur ulama ada yang membacanya nasbin yang bermakna mansub, artinya berhala yang dipancangkan. Sedangkan Al-Hasan AL-Basri membacanya nusub yang artinya berhala sembahan mereka. Seakan-akan langkah mereka yang cepat menuju ke mauqif sama dengan langkah mereka saat di dunia bila menuju ke tempat sembahan-sembahan mereka, mereka pergi bergegas untuk mencapainya, siapa yang paling dahulu dari mereka yang mengusapnya. Pendapat ini diriwayatkan dari Mujahid, Yahya ibnu Abu Kasir, Muslim Al-Batin, Qatadah, Ad-Dahhak, Ar-Rabi' ibnu Anas, Abu Saleh, Asim ibnu Bahdalah, Ibnu Zaid, dan lain-lainnya. Firman Allah Swt.: {خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ} dalam keadaan mereka menekurkan pandangannya. (Al-Ma'arij: 44) Yakni menundukkan pandangan mata mereka. {تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ} (serta) diliputi kehinaan. (Al-Ma'arij: 44) Hal ini sebagai pembalasan atas kesombongan mereka sewaktu di dunia, karena mereka tidak mau taat kepada Allah Swt. {ذَلِكَ الْيَوْمُ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ} Itulah hari yang dahulunya diancamkan kepada mereka. (Al-Ma'arij: 44) آخِرُ تَفْسِيرِ سُورَةِ "سَأَلَ سَائِلٌ" وَلِلَّهِ الْحَمْدُ والمنة.
JILIK 2 AYAT 36-44
SURAH MA'ARIJ
Biss Millah Hirrahman Nirrahim,.., 36. famaali alladziina kafaruu qibalaka muhthi’iina 37. ‘ani alyamiini wa’ani alsysyimaali ‘iziina 38. ayathma’u kullu imri-in minhum an yudkhala jannata na’iimin 39. kallaa innaa khalaqnaahum mimmaa ya’lamuuna 40. falaa uqsimu birabbi almasyaariqi waalmaghaaribi innaa laqaadiruuna 41. ‘alaa an nubaddila khayran minhum wamaa nahnu bimasbuuqiina 42. fadzarhum yakhuudhuu wayal’abuu hattaa yulaaquu yawmahumu alladzii yuu’aduuna 43. yawma yakhrujuuna mina al-ajdaatsi siraa’an ka-annahum ilaa nushubin yuufidhuuna 44. khaasyi’atan abshaaruhum tarhaquhum dzillatun dzaalika alyawmu alladzii kaanuu yuu’aduuna
فَمَالِ الَّذِينَ كَفَرُوا قِبَلَكَ مُهْطِعِينَ (36) عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ عِزِينَ (37) أَيَطْمَعُ كُلُّ امْرِئٍ مِنْهُمْ أَنْ يُدْخَلَ جَنَّةَ نَعِيمٍ (38) كَلَّا إِنَّا خَلَقْنَاهُمْ مِمَّا يَعْلَمُونَ (39) فَلَا أُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبِ إِنَّا لَقَادِرُونَ (40) عَلَى أَنْ نُبَدِّلَ خَيْرًا مِنْهُمْ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ (41) فَذَرْهُمْ يَخُوضُوا وَيَلْعَبُوا حَتَّى يُلَاقُوا يَوْمَهُمُ الَّذِي يُوعَدُونَ (42) يَوْمَ يَخْرُجُونَ مِنَ الْأَجْدَاثِ سِرَاعًا كَأَنَّهُمْ إِلَى نُصُبٍ يُوفِضُونَ (43) خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ذَلِكَ الْيَوْمُ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ (44)
Mengapa orang-orang kafir itu bersegera bubar dari arahmu. Dari kanan dan kiri dengan berkelompok-kelompok. Adakah setiap orang dari orang-orang kafir itu ingin masuk ke dalam surga yang penuh kenikmatan? Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Kami ciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui (air mani). Maka Aku bersumpah dengan Tuhan Yang Maha Mengatur tempat terbit dan terbenamnya matahari, bulan, dan bintang; sesungguhnya Kami benar-benar Mahakuasa. Untuk mengganti (mereka) dengan kaum yang lebih baik daripada mereka, dan Kami sekali-kali tidak dapat dikalahkan. Maka biarkanlah mereka tenggelam (dalam kebatilan) dan bermain-main sampai mereka menjumpai hari yang diancamkan kepada mereka, (yaitu) pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia), dalam keadaan mereka menekurkan pandangannya (serta) diliputi kehinaan. Itulah hari yang dahulunya diancamkan kepada mereka.
Allah Swt. mengingkari sikap orang-orang kafir yang semasa dengan Nabi Saw., padahal mereka menyaksikan Nabi Saw. dan juga petunjuk yang diamanatkan oleh Allah kepadanya untuk menyampaikannya, dan mukjizat-mukjizat yang jelas lagi cemerlang yang diberikan oleh Allah kepadanya untuk menguatkan kerasulannya. Kemudian dengan adanya semua itu mereka masih juga lari darinya dan bubar meninggalkannya, ada yang ke arah kanan dan ada yang ke arah kiri dengan berkelompok-kelompok, semakna dengan apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat lain melalui firman-Nya: فَما لَهُمْ عَنِ التَّذْكِرَةِ مُعْرِضِينَ كَأَنَّهُمْ حُمُرٌ مُسْتَنْفِرَةٌ فَرَّتْ مِنْ قَسْوَرَةٍ Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)? Seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa. (Al-Muddatstsir: 49-51) Ayat-ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan dalam surat ini, karena Allah Swt. berfirman: {فَمَالِ الَّذِينَ كَفَرُوا قِبَلَكَ مُهْطِعِينَ} Mengapa orang-orang kafir itu bersegera bubar dari arahmu. (Al-Ma'arij: 36) Yakni mengapa orang-orang kafir itu bersegera meninggalkanmu, hai Muhammad. Sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri, bahwa muhti'in artinya pergi. {عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ عِزِينَ} Dari kanan dan dari kiri dengan berkelompok-kelompok. (Al-Ma'arij: 37) Bentuk tunggalnya ialah 'izah, yakni berkelompok-kelompok. Ini merupakan kata keterangan keadaan dari lafaz muhti'in, yakni saat mereka bubar darinya berkelompok-kelompok karena tidak setuju dan menentangnya. Imam Ahmad telah mengatakan sehubungan dengan para penghamba nafsu, bahwa mereka selalu menyimpang dari Al-Qur'an, dan menentangnya serta sepakat untuk menentangnya. Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Mengapa orang-orang kafir itu bersegera bubar dari arahmu. (Al-Ma'arij: 36) Yakni mereka mengarahkan pandangannya ke arahmu. Dari kanan dan dari kiri dengan berkelompok-kelompok, (Al-Ma'arij: 37) Bahwa 'iz'in artinya berkelompok-kelompok, ada yang dari arah kanan dan ada yang dari arah kiri, berpaling darinya seraya memperolok-olok dia. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abu Amir alias Qurrah, dari Al-Hasan sehubungan dengan makna firman-Nya: dari kanan dan dari kiri membubarkan dirinya (Al-Ma'arij: 37) Yaitu bubar meninggalkan dia, ada yang ke arah kanan dan ada yang ke arah kiri seraya mengatakan, "Apa yang dikatakan lelaki ini?" dengan nada mencemoohkan. Qatadah mengatakan bahwa muhti'in artinya sengaja datang. Dari kanan dan dari kiri dengan berkelompok-kelompok. (Al-Ma'arij: 37) Yakni membuat kelompok-kelompok di sekeliling Nabi Saw., tetapi bukan kerena menyukai Kitabullah dan bukan pula Nabi-Nya. As-Sauri, Syu'bah, Absar ibnul Qasim, Aisy ibnu Yunus, Muhammad ibnu Fudail, Waki', Yahya Al-Qattan, dan Abu Mu'awiyah, semuanya telah meriwayatkan dari Al-A'masy, dari Al-Musayyab ibnu Rati', dari Tamim ibnu Tarfah, dari Jabir ibnu Samurah, bahwa Rasulullah Saw. keluar menemui para sahabat, sedangkan para sahabat saat itu sedang duduk berkelompok-kelompok. Maka beliau bertanya, "Mengapa kalian kulihat berkelompok-kelompok?" Imam Ahmad, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Nasai, dan Ibnu Jarir telah meriwayatkannya melalui hadis Al-A'masy dengan sanad yang sama. قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا مُؤَمَّل، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى أَصْحَابِهِ وَهُمْ حِلَق حِلق، فَقَالَ: "مَا لِي أَرَاكُمْ عِزِينَ؟ " Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Mu'ammal, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abdul Malik ibnu Umair, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah Saw. Keluar menemui para sahabatnya, sedangkan mereka dalam keadaan berkelompok-kelompok membentuk lingkaran-lingkaran, maka beliau Saw. bertanya, "Mengapa kulihat kalian berkelompok-kelompok?" Sanad hadis ini jayyid (baik), tetapi kami tidak menemukan pada suatu kitab-pun dari kitab Sittah yang meriwayatkannya dari jalur ini. ******************* Firman Allah Swt.: {أَيَطْمَعُ كُلُّ امْرِئٍ مِنْهُمْ أَنْ يُدْخَلَ جَنَّةَ نَعِيمٍ} كَلَّا Adakah setiap orang dari orang-orang kafir itu ingin masuk ke dalam surga yang penuh kenikmatan? Sekali-kali tidak! (Al-Ma'arij: 38-39) Maksudnya, apakah mereka yang keadaannya seperti itu, yakni lari dari Rasul dan anti pati terhadap perkara hak, dapat memasuki surga-surga yang penuh dengan kenikmatan? Sekali-kali tidak, bahkan tempat kembali mereka adalah neraka Jahanam. Selanjutnya Allah Swt. berfirman, menyatakan bahwa hari kiamat itu pasti terjadi dan azab akan menimpa mereka yang mengingkari kejadiannya dan menganggapnya sebagai kejadian yang mustahil. Hal ini diungkapkan oleh Allah Swt. dengan membuktikan terhadap mereka bahwa Dialah Yang Menciptakan mereka dari semula; maka mengembalikan penciptaan itu jauh lebih mudah bagi-Nya daripada memulainya, padahal mereka mengakui hal ini. Untuk itu Allah Swt. berfirman: {إِنَّا خَلَقْنَاهُمْ مِمَّا يَعْلَمُونَ} Sesungguhnya Kami ciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui (air mani). (Al-Ma'arij: 39) Yaitu dari air mani yang lemah, seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: أَلَمْ نَخْلُقْكُمْ مِنْ ماءٍ مَهِينٍ Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina. (Al-Mursalat: 20) Dan firman Allah Swt.: فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسانُ مِمَّ خُلِقَ خُلِقَ مِنْ ماءٍ دافِقٍ يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرائِبِ إِنَّهُ عَلى رَجْعِهِ لَقادِرٌ يَوْمَ تُبْلَى السَّرائِرُ فَما لَهُ مِنْ قُوَّةٍ وَلا ناصِرٍ Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada. Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup sesudah mati). Pada hari ditampakkan segala rahasia, maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatan pun dan tidak (pula) seorang penolong. (At-Tariq: 5-10) ******************* Kemudian Allah Swt. berfirman: {فَلا أُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبِ} Maka Aku bersumpah dengan Tuhan Yang Maha Mengatur tempat terbit dan terbenamnya matahari, bulan, dan bintang. (Al-Ma'arij: 40) Yakni Tuhan Yang telah menciptakan langit dan bumi, menciptakan arah timur dan arah barat, serta menundukkan bintang-bintang yang terbit dari arah timur dan tenggelam di arah barat. Kesimpulan pembicaraan menunjukkan bahwa duduk perkaranya tidaklah seperti yang kamu duga, bahwa tidak ada hari kiamat, tidak ada hari hisab, tidak ada hari berbangkit, dan tidak ada hari kemudian, bahkan semuanya itu pasti terjadi dan tidak dapat dielakkan lagi. Karena itulah maka dipakai huruf la dalam permulaan qasam (sumpah), untuk menunjukkan bahwa objek sumpah yang terkandung dalam makna kalimat dinafikan. Yaitu menyanggah dugaan mereka yang tidak benar, yang menyatakan bahwa hari kiamat itu tidak ada. Padahal mereka telah menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri akan kekuasaan Allah Swt. Yang jauh lebih besar dari pada hari kiamat: Yaitu penciptaan langit, bumi, dan ditundukkan-Nya semua makhluk yang ada pada keduanya, baik yang hidup maupun yang tidak bernyawa dan berbagai jenis makhluk lainnya. Karena itulah disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: لَخَلْقُ السَّماواتِ وَالْأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ وَلكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Al-Mu’min: 57) أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَ السَّماواتِ وَالْأَرْضَ وَلَمْ يَعْيَ بِخَلْقِهِنَّ بِقادِرٍ عَلى أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتى بَلى إِنَّهُ عَلى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya, kuasa menghidupkan orang-orang mati? Ya (bahkan) sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. (Al-Ahqaf: 33) Dan dalam ayat lainnya lagi disebutkan oleh firman-Nya: أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّماواتِ وَالْأَرْضَ بِقادِرٍ عَلى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ بَلى وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ إِنَّما أَمْرُهُ إِذا أَرادَ شَيْئاً أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ Dan Tidakkah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka yang sudah hancur itu? Benar. Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, "Jadilah!" Maka terjadilah ia (Yasin:81-82) Dalam surat ini disebutkan pula oleh firman-Nya: {فَلا أُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبِ إِنَّا لَقَادِرُونَ عَلَى أَنْ نُبَدِّلَ خَيْرًا مِنْهُمْ} Maka Aku bersumpah dengan Tuhan Yang Mengatur tempat terbit dan terbenamnya matahari, bulan, dan bintang; sesungguhnya Kami benar-benar Mahakuasa, untuk mengganti (mereka) dengan kaum yang lebih baik daripada mereka. (Al-Ma'arij: 40-41) Yaitu kelak di hari kiamat Kami akan mengembalikan mereka hidup kembali dengan tubuh yang lebih baik daripada sekarang, karena sesungguhnya kekuasaan Allah Swt. mampu berbuat demikian, {وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ} dan Kami sekali-kali tidak dapat dikalahkan. (Al-Ma'arij: 41) Artinya, tiada seorang pun yang dapat mengalahkan-Nya. Semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat Lain melalui firman-Nya: أَيَحْسَبُ الْإِنْسانُ أَلَّنْ نَجْمَعَ عِظامَهُ بَلى قادِرِينَ عَلى أَنْ نُسَوِّيَ بَنانَهُ Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya? Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna. (Al-Qiyamah: 3-4) Dan firman Allah Swt.: نَحْنُ قَدَّرْنا بَيْنَكُمُ الْمَوْتَ وَما نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ عَلى أَنْ نُبَدِّلَ أَمْثالَكُمْ وَنُنْشِئَكُمْ فِي مَا لَا تَعْلَمُونَ Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-kali tidak dapat dikalahkan, untuk menggantikan kamu dengan orang-orang yang seperti kamu (dalam dunia) dan menciptakan kamu kelak (di akhirat) dalam keadaan yang tidak kamu ketahui. (Al-Waqi'ah: 60-61) Ibnu Jarir sehubungan dengan makna firman-Nya: Untuk mengganti (mereka) dengan kaum yang lebih balk daripada mereka. (Al-Ma'arij: 41) Yakni umat yang taat kepada Kami dan tidak mendurhakai Kami, ia menjadikan ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya: وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْماً غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثالَكُمْ dan jika kamu berpaling, niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini). (Muhammad: 38) Akan-tetapi, makna yang pertama lebih jelas karena konteks pembicaraan berkaitan erat dengannya; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui. ******************* Selanjutnya Allah Swt. berfirman: {فَذَرْهُمْ} Maka biarkanlah mereka. (Al-Ma'arij: 42) Yaitu biarkanlah mereka, hai Muhammad. {يَخُوضُوا وَيَلْعَبُوا} tenggelam (dalam kebatilan) dan bermain-main. (Al-Ma'arij: 42) Maksudnya, biarkanlah mereka dalam kedustaan, kekafiran, dan keingkarannya. {حَتَّى يُلاقُوا يَوْمَهُمُ الَّذِي يُوعَدُونَ} sampai mereka menjumpai hari yang diancamkan kepada mereka. (Al-Ma'arij: 42) Yakni kelak mereka akan mengetahui akibat dari perbuatannya dan akan merasakan buah dari sepak terjangnya. {يَوْمَ يَخْرُجُونَ مِنَ الأجْدَاثِ سِرَاعًا كَأَنَّهُمْ إِلَى نُصُبٍ يُوفِضُونَ} (yaitu) pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia).(Al-Ma'arij:43) Yaitu mereka bangkit dari kuburnya masing-masing, apabila Tuhan Yang Mahasuci lagi Mahatinggi memanggil mereka untuk menjalani hisab di mauqif (tempat pemberhentian). Mereka bangkit dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala sembahannya. Ibnu Abbas, Mujahid, Ad-Dahhak mengatakan bahwa makna nusuh ialah 'alam alias berhala-berhala. Abul Aliyah dan Yahya ibnu Abu Kasir mengatakan, makna yang dimaksud ialah sebagaimana mereka pergi dengan segera ke tujuannya. Jumhur ulama ada yang membacanya nasbin yang bermakna mansub, artinya berhala yang dipancangkan. Sedangkan Al-Hasan AL-Basri membacanya nusub yang artinya berhala sembahan mereka. Seakan-akan langkah mereka yang cepat menuju ke mauqif sama dengan langkah mereka saat di dunia bila menuju ke tempat sembahan-sembahan mereka, mereka pergi bergegas untuk mencapainya, siapa yang paling dahulu dari mereka yang mengusapnya. Pendapat ini diriwayatkan dari Mujahid, Yahya ibnu Abu Kasir, Muslim Al-Batin, Qatadah, Ad-Dahhak, Ar-Rabi' ibnu Anas, Abu Saleh, Asim ibnu Bahdalah, Ibnu Zaid, dan lain-lainnya. Firman Allah Swt.: {خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ} dalam keadaan mereka menekurkan pandangannya. (Al-Ma'arij: 44) Yakni menundukkan pandangan mata mereka. {تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ} (serta) diliputi kehinaan. (Al-Ma'arij: 44) Hal ini sebagai pembalasan atas kesombongan mereka sewaktu di dunia, karena mereka tidak mau taat kepada Allah Swt. {ذَلِكَ الْيَوْمُ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ} Itulah hari yang dahulunya diancamkan kepada mereka. (Al-Ma'arij: 44) آخِرُ تَفْسِيرِ سُورَةِ "سَأَلَ سَائِلٌ" وَلِلَّهِ الْحَمْدُ والمنة.
Wednesday, 2 October 2019
AYAT 23-35 MA'ARIJ .,.,
TAFSIR QURAN DAN HADIS TABARUK.
JILIK 2 AYAT 23-35
SURAH AL-MA'ARIJ
Biss Millah Hirrahman Nirrahim.
23. illaa almushalliina 24. waalladziina fii amwaalihim haqqun ma’luumun 25. lilssaa-ili waalmahruumi 26. waalladziina yushaddiquuna biyawmi alddiini 27. waalladziina hum min ‘adzaabi rabbihim musyfiquuna 28. inna ‘adzaaba rabbihim ghayru ma/muunin 29. waalladziina hum lifuruujihim haafizhuuna 30. illaa ‘alaa azwaajihim aw maa malakat aymaanuhum fa-innahum ghayru maluumiina 31. famani ibtaghaa waraa-a dzaalika faulaa-ika humu al’aaduuna 32. waalladziina hum li-amaanaatihim wa’ahdihim raa’uuna 33. waalladziina hum bisyahaadaatihim qaa-imuuna 34. waalladziina hum ‘alaa shalaatihim yuhaafizhuuna 35. ulaa-ika fii jannaatin mukramuuna
.'
الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ (23) وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ (24) لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ (25) وَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ (26) وَالَّذِينَ هُمْ مِنْ عَذَابِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ (27) إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ (28) وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (29) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (30) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (31) وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (32) وَالَّذِينَ هُمْ بِشَهَادَاتِهِمْ قَائِمُونَ (33) وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (34) أُولَئِكَ فِي جَنَّاتٍ مُكْرَمُونَ (35)
yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya). Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya. Dan orang-orang yang memelihara salatnya. Mereka itu (kekal) di surga lagi dimuliakan. yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya. (Al-Ma'arij: 23)
Menurut suatu pendapat, makna yang dimaksud ialah orang-orang yang memelihara salat dengan menunaikannya di waktunya masing-masing dan mengerjakan yang wajib-wajibnya. Demikianlah menurut Ibnu Mas'ud, Masruq, dan Ibrahim An-Nakha'i. Menurut pendapat yang lain, yang dimaksud dengan tetap dalam ayat ini ialah orang yang mengerjakan salatnya dengan tenang dan khusyuk, semakna dengan apa yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya: قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خاشِعُونَ Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya. (Al-Mu’minun: 1-2) Demikianlah menurut Uqbah ibnu Amir. Dan termasuk ke dalam pengertian ini kalimat al-ma-ud da-im, artinya air yang tenang dan diam, tidak beriak dan tidak bergelombang serta tidak pula mengalir. Makna ini menunjukkan wajib tuma-ninah dalam salat, karena orang yang tidak tuma-ninah dalam rukuk dan sujudnya bukan dinamakan orang yang tenang dalam salatnya, bukan pula sebagai orang yang menetapinya, bahkan dia mengerjakannya dengan cepat bagaikan burung gagak yang mematuk, maka ia tidak beroleh keberuntungan dalam salatnya. Menurut pendapat yang lain, apabila mereka mengerjakan suatu amal kebaikan, maka mereka menetapinya dan mengukuhkannya,
Sebagaimana yang disebutkan dalam hadis sahih diriwayatkan melalui Siti Aisyah r.a., dari Rasulullah Saw. yang telah bersabda: "أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلّ" Amal yang paling disukai oleh Allah ialah yang paling tetap, sekalipun sedikit. Menurut lafaz yang lain disebutkan: «مَا دَاوَمَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ» yang paling tetap diamalkan oleh pelakunya Selanjutnya Aisyah r.a. mengatakan, Rasulullah Saw. adalah seorang yang apabila mengamalkan suatu amalan selalu menetapinya. Menurut lafaz yang lain disebutkan selalu mengukuhkannya. Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya. (Al-Ma'arij: 23), Telah diceritakan kepada kami bahwa Nabi Danial a.s. menyebutkan sifat umat Muhammad Saw. Maka ia mengatakan bahwa mereka selalu mengerjakan salat yang seandainya kaum Nuh mengerjakannya, niscaya mereka tidak ditenggelamkan; dan seandainya kaum 'Ad mengerjakannya, niscaya mereka tidak tertimpa angin yang membinasakan mereka; atau kaum Samud, niscaya mereka tidak akan tertimpa pekikan yang mengguntur. Maka kerjakanlah salat, karena sesungguhnya salat itu merupakan akhlak orang-orang mukmin yang baik.
Firman Allah Swt.: {وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ} dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta). (Al-Ma'arij: 24-25) Yakni orang-orang yang di dalam harta mereka terdapat bagian tertentu bagi orang-orang yang memerlukan pertolongan. Masalah ini telah diterangkan di dalam tafsir surat Az-Zariyat. Firman Allah Swt.: {وَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ} Dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan. (Al-Ma'arij: 26) Yaitu meyakini adanya hari kiamat, hari penghisaban, dan pembalasan; maka mereka mengerjakan amalnya sebagaimana orang yang mengharapkan pahala dan takut akan siksaan. Karena itulah dalam firman berikutnya disebutkan: {وَالَّذِينَ هُمْ مِنْ عَذَابِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ} dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. (Al-Ma'arij:27) Maksudnya, takut dan ngeri terhadap azab Allah Swt.: {إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ} Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya). (Al-Ma'arij: 28) Yakni tiada seorang pun yang merasa aman dari azab-Nya dari kalangan orang yang mengetahui akan perintah Allah Swt. kecuali hanya bila mendapat jaminan keamanan dari Allah Swt.
Firman Allah Swt.: {وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ} Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, (Al-Ma'arij: 29) Yaitu mengekangnya dari melakukan hal yang diharamkan baginya dan menjaganya dari meletakkannya bukan pada tempat yang diizinkan oleh Allah Swt. Karena itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya: {إِلا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ} kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki. (Al-Ma'arij: 30) Maksudnya, budak-budak perempuan yang dimiliki oleh mereka. {فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ} maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampauibatas. (Al-Ma'arij: 30-31) Tafsir ayat ini telah disebutkan di dalam permulaan surat Al-Mu’minun, yaitu pada firman-Nya: {قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ} Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Al-Mu’minun: 1), hingga beberapa ayat berikutnya. sehingga tidak perlu diulangi lagi dalam surat ini.
Firman Allah Swt.: {وَالَّذِينَ هُمْ لأمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ} Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. (Al-Ma'arij: 32) Yakni apabila mereka dipercaya, mereka tidak khianat; dan apabila berjanji, tidak menyalahinya. Demikianlah sifat orang-orang mukmin dan kebalikannya adalah sifat-sifat orang-orang munafik, sebagaimana yang disebutkan di dalam sebuah hadis sahih yang mengatakan: «آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ» Pertanda orang munqfik itu ada tiga, yaitu apabila berbicara, dusta; apabila berjanji, menyalahi; dan apabila dipercaya, khianat. Menurut riwayat yang lain disebutkan: «إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خاصم فجر» Apabila berbicara, dusta; dan apabila berjanji, melanggar; dan apabila bertengkar, melampaui batas. ******************* Firman Allah Swt: {وَالَّذِينَ هُمْ بِشَهَادَاتِهِمْ قَائِمُونَ} Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya. (Al-Ma'arij: 33) Yakni bersikap hati-hati dalam bersaksi, tidak menambahi dan tidak mengurangi, tidak pula menyembunyikan sesuatu. وَمَنْ يَكْتُمْها فَإِنَّهُ آثِمٌ قَلْبُهُ Dan barang siapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya. (Al-Baqarah: 283) Kemudian Allah Swt. berfirman: {وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلاتِهِمْ يُحَافِظُونَ} Dan orang-orang yang memelihara salatnya. (Al-Ma'arij: 34) Yakni waktu-waktunya, rukun-rukunnya, wajib-wajibnya, dan sunat-sunatnya. Pembicaraan dimulai dengan menyebutkan salat dan diakhiri dengan menyebutkannya pula, hal ini menunjukkan perhatian yang besar terhadap masalah salat dan mengisyaratkan tentang kemuliaannya.
Sebagaimana yang telah disebutkan dalam permulaan surat Al-Mu’minun melalui firman-Nya: {قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ} Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Al-Mu’minun: 1) Maka di penghujung pembahasannya disebutkan hal yang sama dengan di sini, yaitu firman-Nya: أُولئِكَ هُمُ الْوارِثُونَ الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيها خالِدُونَ Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni ) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. (Al-Mu’minun: 10-11) Dan dalam surat Al-Ma'arij ini disebutkan oleh firman-Nya: {أُولَئِكَ فِي جَنَّاتٍ مُكْرَمُونَ} Mereka itu (kekal) di surga lagi dimuliakan. (Al-Ma'arij: 35) Yakni dimuliakan dengan berbagai macam kenikmatan dan kesenangan surgawi.
JILIK 2 AYAT 23-35
SURAH AL-MA'ARIJ
Biss Millah Hirrahman Nirrahim.
23. illaa almushalliina 24. waalladziina fii amwaalihim haqqun ma’luumun 25. lilssaa-ili waalmahruumi 26. waalladziina yushaddiquuna biyawmi alddiini 27. waalladziina hum min ‘adzaabi rabbihim musyfiquuna 28. inna ‘adzaaba rabbihim ghayru ma/muunin 29. waalladziina hum lifuruujihim haafizhuuna 30. illaa ‘alaa azwaajihim aw maa malakat aymaanuhum fa-innahum ghayru maluumiina 31. famani ibtaghaa waraa-a dzaalika faulaa-ika humu al’aaduuna 32. waalladziina hum li-amaanaatihim wa’ahdihim raa’uuna 33. waalladziina hum bisyahaadaatihim qaa-imuuna 34. waalladziina hum ‘alaa shalaatihim yuhaafizhuuna 35. ulaa-ika fii jannaatin mukramuuna
.'
الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ (23) وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ (24) لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ (25) وَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ (26) وَالَّذِينَ هُمْ مِنْ عَذَابِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ (27) إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ (28) وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (29) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (30) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (31) وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (32) وَالَّذِينَ هُمْ بِشَهَادَاتِهِمْ قَائِمُونَ (33) وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (34) أُولَئِكَ فِي جَنَّاتٍ مُكْرَمُونَ (35)
yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya). Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya. Dan orang-orang yang memelihara salatnya. Mereka itu (kekal) di surga lagi dimuliakan. yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya. (Al-Ma'arij: 23)
Menurut suatu pendapat, makna yang dimaksud ialah orang-orang yang memelihara salat dengan menunaikannya di waktunya masing-masing dan mengerjakan yang wajib-wajibnya. Demikianlah menurut Ibnu Mas'ud, Masruq, dan Ibrahim An-Nakha'i. Menurut pendapat yang lain, yang dimaksud dengan tetap dalam ayat ini ialah orang yang mengerjakan salatnya dengan tenang dan khusyuk, semakna dengan apa yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya: قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خاشِعُونَ Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya. (Al-Mu’minun: 1-2) Demikianlah menurut Uqbah ibnu Amir. Dan termasuk ke dalam pengertian ini kalimat al-ma-ud da-im, artinya air yang tenang dan diam, tidak beriak dan tidak bergelombang serta tidak pula mengalir. Makna ini menunjukkan wajib tuma-ninah dalam salat, karena orang yang tidak tuma-ninah dalam rukuk dan sujudnya bukan dinamakan orang yang tenang dalam salatnya, bukan pula sebagai orang yang menetapinya, bahkan dia mengerjakannya dengan cepat bagaikan burung gagak yang mematuk, maka ia tidak beroleh keberuntungan dalam salatnya. Menurut pendapat yang lain, apabila mereka mengerjakan suatu amal kebaikan, maka mereka menetapinya dan mengukuhkannya,
Sebagaimana yang disebutkan dalam hadis sahih diriwayatkan melalui Siti Aisyah r.a., dari Rasulullah Saw. yang telah bersabda: "أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلّ" Amal yang paling disukai oleh Allah ialah yang paling tetap, sekalipun sedikit. Menurut lafaz yang lain disebutkan: «مَا دَاوَمَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ» yang paling tetap diamalkan oleh pelakunya Selanjutnya Aisyah r.a. mengatakan, Rasulullah Saw. adalah seorang yang apabila mengamalkan suatu amalan selalu menetapinya. Menurut lafaz yang lain disebutkan selalu mengukuhkannya. Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya. (Al-Ma'arij: 23), Telah diceritakan kepada kami bahwa Nabi Danial a.s. menyebutkan sifat umat Muhammad Saw. Maka ia mengatakan bahwa mereka selalu mengerjakan salat yang seandainya kaum Nuh mengerjakannya, niscaya mereka tidak ditenggelamkan; dan seandainya kaum 'Ad mengerjakannya, niscaya mereka tidak tertimpa angin yang membinasakan mereka; atau kaum Samud, niscaya mereka tidak akan tertimpa pekikan yang mengguntur. Maka kerjakanlah salat, karena sesungguhnya salat itu merupakan akhlak orang-orang mukmin yang baik.
Firman Allah Swt.: {وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ} dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta). (Al-Ma'arij: 24-25) Yakni orang-orang yang di dalam harta mereka terdapat bagian tertentu bagi orang-orang yang memerlukan pertolongan. Masalah ini telah diterangkan di dalam tafsir surat Az-Zariyat. Firman Allah Swt.: {وَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ} Dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan. (Al-Ma'arij: 26) Yaitu meyakini adanya hari kiamat, hari penghisaban, dan pembalasan; maka mereka mengerjakan amalnya sebagaimana orang yang mengharapkan pahala dan takut akan siksaan. Karena itulah dalam firman berikutnya disebutkan: {وَالَّذِينَ هُمْ مِنْ عَذَابِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ} dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. (Al-Ma'arij:27) Maksudnya, takut dan ngeri terhadap azab Allah Swt.: {إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ} Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya). (Al-Ma'arij: 28) Yakni tiada seorang pun yang merasa aman dari azab-Nya dari kalangan orang yang mengetahui akan perintah Allah Swt. kecuali hanya bila mendapat jaminan keamanan dari Allah Swt.
Firman Allah Swt.: {وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ} Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, (Al-Ma'arij: 29) Yaitu mengekangnya dari melakukan hal yang diharamkan baginya dan menjaganya dari meletakkannya bukan pada tempat yang diizinkan oleh Allah Swt. Karena itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya: {إِلا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ} kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki. (Al-Ma'arij: 30) Maksudnya, budak-budak perempuan yang dimiliki oleh mereka. {فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ} maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampauibatas. (Al-Ma'arij: 30-31) Tafsir ayat ini telah disebutkan di dalam permulaan surat Al-Mu’minun, yaitu pada firman-Nya: {قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ} Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Al-Mu’minun: 1), hingga beberapa ayat berikutnya. sehingga tidak perlu diulangi lagi dalam surat ini.
Firman Allah Swt.: {وَالَّذِينَ هُمْ لأمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ} Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. (Al-Ma'arij: 32) Yakni apabila mereka dipercaya, mereka tidak khianat; dan apabila berjanji, tidak menyalahinya. Demikianlah sifat orang-orang mukmin dan kebalikannya adalah sifat-sifat orang-orang munafik, sebagaimana yang disebutkan di dalam sebuah hadis sahih yang mengatakan: «آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ» Pertanda orang munqfik itu ada tiga, yaitu apabila berbicara, dusta; apabila berjanji, menyalahi; dan apabila dipercaya, khianat. Menurut riwayat yang lain disebutkan: «إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خاصم فجر» Apabila berbicara, dusta; dan apabila berjanji, melanggar; dan apabila bertengkar, melampaui batas. ******************* Firman Allah Swt: {وَالَّذِينَ هُمْ بِشَهَادَاتِهِمْ قَائِمُونَ} Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya. (Al-Ma'arij: 33) Yakni bersikap hati-hati dalam bersaksi, tidak menambahi dan tidak mengurangi, tidak pula menyembunyikan sesuatu. وَمَنْ يَكْتُمْها فَإِنَّهُ آثِمٌ قَلْبُهُ Dan barang siapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya. (Al-Baqarah: 283) Kemudian Allah Swt. berfirman: {وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلاتِهِمْ يُحَافِظُونَ} Dan orang-orang yang memelihara salatnya. (Al-Ma'arij: 34) Yakni waktu-waktunya, rukun-rukunnya, wajib-wajibnya, dan sunat-sunatnya. Pembicaraan dimulai dengan menyebutkan salat dan diakhiri dengan menyebutkannya pula, hal ini menunjukkan perhatian yang besar terhadap masalah salat dan mengisyaratkan tentang kemuliaannya.
Sebagaimana yang telah disebutkan dalam permulaan surat Al-Mu’minun melalui firman-Nya: {قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ} Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Al-Mu’minun: 1) Maka di penghujung pembahasannya disebutkan hal yang sama dengan di sini, yaitu firman-Nya: أُولئِكَ هُمُ الْوارِثُونَ الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيها خالِدُونَ Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni ) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. (Al-Mu’minun: 10-11) Dan dalam surat Al-Ma'arij ini disebutkan oleh firman-Nya: {أُولَئِكَ فِي جَنَّاتٍ مُكْرَمُونَ} Mereka itu (kekal) di surga lagi dimuliakan. (Al-Ma'arij: 35) Yakni dimuliakan dengan berbagai macam kenikmatan dan kesenangan surgawi.
Subscribe to:
Comments (Atom)